
Anna yang sedang berbincang dengan Melisa dan Michelle dimeja Anna pun terinterupsi karena Michelle yang sedang berbicara itu tiba-tiba diam dan melihat kebelakang membuat Anna dan Melisa pun ikut melihat kearah tatapan Michelle dan mendapati Azriel yang baru saja datang dan langsung duduk dikursinya begitu saja.
Masih memerhatikan laki-laki itu Anna tiba-tiba langsung berbalik karena merasa bertukar tatap dengan Azriel yang melirik kearahnya.
Anna merasa ngeri sendiri dengan tatapan Azriel pagi ini, kenapa ya, apa Anna punya salah sama Azriel tapi apa ya perasaan dirinya tidak punya salah dengan Azriel.
"Thanks ya kemarin Azriel beneran nganterin gue lho"mata Michelle tiba-tiba pada Anna.
Anna mengangguk saja sedangkan Melisa menaikkan sebelah alisnya merasa tertinggal sesuatu disini.
Ah jadi ini alasan Anna kemarin ada di parkiran padahal gak pake kendaraan pribadi, batin Melisa.
Dirinya jadi ingat dengan obrolan kemarin bersama Milan saat mereka mengunjungi cafe yang diinginkan Melisa.
"Jadi kapan Lo mau bicara benernya, gue udah dapet egg tartnya jadi banyak waktu nih"kata Melisa tiba-tiba pada Milan yang sedang menikmati praffucinonya langsung mendelik pada Melisa.
Gadis itu benar-benar kukuh dan masih ingat saja dengan yang diparkiran tadi.
"Apa? Gue lupa"kata Milan cuek sambil mencomot satu egg tart milik Melisa.
Geplak.
"Gak usah sok lupa ya, itu soal Lo yang pake motor Azriel padahal tuh cowok bawa motor sendiri"kata Melisa menggeplak sebal tangan Milan yang mengambil egg tartnya.
Milan mendelik sebal sambil melahap egg tart itu satu suapan mengusap tangannya yang sedikit kebas karena pukulan Melisa itu.
Menghela nafas sebenarnya dirinya malas membicarakan ini namun karena Melisa ini masih memelototinya meminta penjelasan mau tak mau ia pun menceritakannya saja.
"Intinya, Jiel tadinya mau pulang bareng Anna nganterin Anna ke tempat lesnya, tapi tiba-tiba pas udah diparkiran Jiel tiba-tiba minta tuker motor yang taunya ternyata cewek yang bakal pulang sama dia juga beda"kata Milan.
Melisa mendengar mengangguk mengerti. "Kok Azriel mau aja sih? Kan bisa aja kayak ke si Vanessa yang langsung dia usir"kata Melisa tidak mengerti.
Milan mendengus mendengarnya seraya kembali melahap egg tartnya Melisa untuk kedua kalinya.
"Lo gak tau aja, gitu-gitu Jiel tuh gak bisa nolak Anna, lagian si Michelle 'kakinya kan sakit' jadi Jiel make tuh perikemanusiaannya karena biasanya kan kagak dia mah kalo sama cewek yang nyebelin"kata Milan mentanda kutip kalimat kaki Michelle yang sakit dengan gerakan tangannya.
Melisa terkejut mendengar kalimat yang dijabarkan Milan jika Azriel bisa dibilang perhatian pada Anna.
Weh gue gak tau, gue baru sadar baru-baru ini kalo Azriel emang keliatan care sama Anna, batin Melisa.
"Azriel suka sama Anna?"tanya Melisa terkejut.
Milan terkekeh mendengarnya. "Ya gak tau juga gue"kata Milan santai.
Melisa memanyunkan bibir tidak puas dengan jawaban Milan itu.
"Yang bisa gue pastikan bener adanya itu pasti si Jiel nurunin si Michelle ditengah jalan gak bener-bener nganterin sampe rumah"kekeh Milan tertawa kecil meyakini jika sahabatnya itu pasti melakukan hal tersebut karena Milan sangat hapal bagaimana sahabatnya dari orok itu.
Melisa juga pasti yakin jika Michelle akan diturunkan ditengah jalan oleh Azriel karena dirinya pun sedikit tidak percaya jika kaki cewek itu luka parah.
Memperhatikan Milan yang mengambil dan memakan egg tart terakhir miliknya, laki-laki menyebalkan itu.
Milan yang menyadari tatapan tajam Melisa dan piring berisi egg tart itu telah habis membuatnya sontak berdiri.
"Masih ada gak ya egg tartnya? Pesen lagi kali ya sekalian buat bawa pulang gak sih"kilah Milan yang langsung melesat untuk kembali memesan egg tart dengan tujuan menghindari amukan Melisa.
Melisa mendengus terkekeh kala mengingatnya, sedikit merasa terhibur walau gondok juga karena Milan memakan habis egg tart miliknya walau laki-laki itu menggantinya dan memberikan beberapa untuk dibawa pulang juga.
Teet teet teeet.
Bel masuk telah berbunyi, Melisa pamit kembali ke mejanya. "Nanti istirahat ke kantin oke"kata Melisa sebelum pergi ke mejanya.
Michelle mengangguk dengan antusias dan Anna terlihat menggeleng ragu membuat Melisa tahu jika gadis itu pasti akan memilih berada dikelas lagi untuk belajar karena olimpiade sebentar lagi.
***
Melisa dan Michelle sepakat untuk membeli batagor karena mereka sama-sama tidak terlalu lapar.
Selesai mendapatkan makanan dan minuman mereka keduanya mematai meja-meja di kantin yang terlihat penuh, sulit mencari kursi kosong untuk mereka.
"Wah enak nih batagor"kata Milan yang tiba-tiba muncul mencomot dan memakan sepotong tahu aci dipiring batagor Melisa.
"Lo–"
"Lo mau kemana?"tanya Michelle memotong perkataan Melisa yang hendak memarahi Milan.
Milan menatap cewek itu lantas tersenyum mengedikkan bahu seraya memperlihatkan sekresek berisi gorengan dan lontong. "Istirahat pastinya, dan kalo gak dapet meja pake aja tuh meja, gue istirahat ditempat lain"kata Milan santai pergi setelah kembali mencomot pangsit dipiring milik Melisa.
"Woy!!"kesal Melisa, Milan selalu saja bertingkah menyebalkan.
Melisa pun berjalan menuju meja khusus Azriel Milan itu karena yang punya sudah memperbolehkan dan dirinya males untuk mencari yang sulit dicari.
Meminum jus jeruk nya Melisa siap memakan batagornya.
"Azriel sama Milan sering barengan kan, itu Milan Lo tau biasanya dia istirahat dimana selain dikantin?"tanya Michelle menginterupsi acara makan batagor Melisa yang bahkan baru saja akan memasukan suapan pertamanya.
Menghela panjang ditatapnya Michelle sebal. "Iya dan gak tau"jawab Melisa jujur dan sangat singkat.
Michelle yang mendapati jawaban kelewat cuek Melisa itu hanya bisa memberengut kesal.
***
"Yo bro, gue bawa gorengan sama lontong, simpen dulu permen Lo kita makan gorengan dulu"kata Milan yang muncul setelah membuka pintu loteng rooftop sekolah berjalan menghampiri Azriel disana yang bersender pada pagar pembatas rooftop menatap ke kedepan.
Azriel tidak menjawab bahkan tidak bereaksi membuat Milan menghela pasrah dan memilih duduk bersila disisi Azriel mulai membuka satu lontong dan gorengan, memakannya sendiri karena saat ini Azriel memang sulit untuk diapa-apakan.
Menggerakkan pandangannya ikut melihat kearea sekolah dibawah yang menjadi fokus perhatian Azriel dan menemukan sosok Anna yang duduk dikursi taman sedang belajar disana.
"Makan dulu lah Jiel, makan permen doang gak bikin Lo kenyang"kata Milan merasa khawatir jika Azriel hanya mengisi tubuhnya dengan sebuah permen tongkat.
Masih tak ada reaksi membuat Milan hanya bisa menghela dan menyenderkan tubuhnya ke pagar pembatas berharap nanti dirumah Azriel bisa dibujuk orang rumah untuk bisa makan.
***
Dirumahnya Anna masih mencoba untuk belajar karena besok adalah tes untuk terpilihnya ia mengikuti olimpiade atau tidak.
Karena wali kelasnya bilang, sekolah ingin mencoba hal baru seperti melakukan sebuah tes ujian untuk olimpiade kali ini dan dua orang dengan nilai tertinggi dalam tes tersebut yang akan menjadi siswa yang terpilih untuk ikut olimpiade.
Anna jadi benar-benar habis-habisan untuk belajar karena dirinya merasa jika aturannya seperti itu bisa saja posisinya sebagai siswa yang biasanya membawa nama sekolahnya saat olimpiade akan tergeser.
Karena bisa saja dari kelas lain ada yang lebih pintar darinya. Maka dari itu dirinya belajar habis-habisan dan mempertahankan kepercayaan dirinya dan percaya dirinya kali ini benar-benar akan berhasil.
Usahanya selama ini harus menghasilkan yang terbaik karena dirinya pun sudah bekerja keras dengan sangat baik.
Disela menyemangati dirinya Anna jadi kepikiran, untuk sekelas Azriel pasti laki-laki itu tidak perlu sampai sekerja kerasnya ini.
Laki-laki itu pastinya tidak perlu sampai sepertinya seperti ini karena laki-laki itu sempurna.
Anna jadi mendadak down memikirkan betapa mudahnya Azriel mendapatkan peringkat nomor satu sedangkan dirinya harus bekerja keras banting tulang untuk mengejar sosok yang bahkan sangat sulit untuk dikejar yang bahkan sangat tidak mungkin dapat melewatinya dan menjadi yang terbaik.
Menghela nafas bangkit dari duduknya dimeja belajar berjalan menuju lemarinya dan mengambil dua buah jaket milik Azriel yang ada padanya selama ini, satu jaket yang dipinjamkan Azriel saat kemah dan satu lagi jaket yang dipinjamkan Azriel saat dirinya hampir dijambret.
Menaruhnya diatas ranjang menatapnya lama dirinya berpikir apa bisa dirinya mengejar atau mungkin saja setara dengan laki-laki itu karena rasanya mustahil untuknya, Azriel benar-benar tidak teraih.
Bagaimana jika dirinya tidak bisa sampai kapanpun menjadi yang terbaik dan mengalahkan Azriel? Apa hidupnya akan seperti ini terus? Apa orangtuanya terlebih ibunya akan tetap membencinya?
Anna benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjadi yang terbaik dan mengalahkan Azriel, Azriel terlalu sempurna dan Anna tidak beruntung karena harus hidup disekitar si sempurna.