
Anna menatap sosok laki-laki yang tidak dikenalnya itu, tapi laki-laki itu sepertinya mengenalnya. Dan juga kenapa laki-laki itu ingin meminta maaf padanya?
"Maaf tapi saya tidak mengenal anda"kata Anna berharap perkataannya itu tidak melukai si laki-laki karena hanya itu yang bisa Anna katakan.
Ravi berkedip sekali sebelum tersenyum mengangguk, mewajari reaksi yang diberikan Anna itu karena memang bagi mereka ini adalah pertemuan saling pandang pertama untuk mereka walau Ravi sendiri sudah dari dulu kenal siapa itu Anna dan untuk Anna pastinya gadis itu tidak mengenalnya tentu saja.
"Kalau begitu, jika aku memperkenalkan diri sebagai sekretaris nya Azriel apa kau mau mendengar perkataan ku dan menerima maafku?"kata Ravi.
Anna sedikit terkejut mendengar jika Ravi ini ternyata berhubungan dengan Azriel, bahkan mungkin lebih dekat mengingat Ravi tadi mengatakan jika dirinya adalah sekretarisnya Azriel.
Anna pun mengangguk ragu, dirinya akan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Ravi.
Ravi tersenyum melihatnya. "Sejujurnya aku adalah tangan kanannya tuan Azriel, khusus untuk Azriel. Sudah sejak Azriel masuk SMP aku sudah bersamanya mendampinginya dan suatu hari disaat tuanku duduk dikelas 2 SMA semester kedua awal Azriel menyuruhku untuk menjemput seorang gadis bernama Millisanna"kata Ravi.
Anna yang mendengarkan mendadak merasa tegang, sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan Ravi ini.
"Namun aku gagal, bahkan sejak awal aku sudah gagal karena telat menjemput gadis bernama Millisanna itu dan berakhir segala kekacauan yang mengerikan yang menimpa tuanku dan gadis itu terjadi, dan itu salahku, jika saja aku tidak terlambat menjemput gadis itu atau jika saja aku bisa menyelamatkannya merebutnya dari orang-orang jahat itu pasti kau dan tuanku tidak akan menderita"kata Ravi benar-benar merasa bersalah.
"Semuanya salah ku, kau yang selalu dirundung setiap hari bahkan setiap saat entah disekolah atau dijalan bahkan sampai kau berada di universitas pun kau tetap dirundung bahkan hampir kehilangan nyawamu beberapa kali karena ulah perundung mu itu aku benar-benar minta maaf"
"Salahku juga tuanku jadi koma selama 6 bulan dan bahkan beberapa kali mengalami henti jantung dan berakhir menderita tumor membuatnya saat bangun sangat kesakitan dan juga yang paling mengerikan tuanku menderita amnesia, separuh ingatannya benar-benar hilang"kata Ravi menunduk menahan tangisnya dan mengepalkan kedua tangannya disisi benar-benar merasa bersalah dan benci pada dirinya sendiri yang benar-benar tidak berguna ini.
Tes.
Segaris air mata mengalir dan menetes ke lantai saat Anna mendengar perkataan Ravi yang dari nada bicaranya laki-laki itu benar-benar merasa sangat menyesal dan bersalah.
Mengusak garis air matanya dengan kasar Anna maju selangkah untuk menepuk pundak Ravi yang membungkuk penuh itu.
"Bukan salahmu, tidak ada yang harus disalahkan dari kejadian itu, kejadian itu murni musibah untuk ku dan juga Azriel, bahkan beberapa orang terdekat kami, jadi bukan salahmu, berhenti menyalahkan dirimu, semuanya sudah baik-baik saja"kata Anna menyuruh Ravi untuk menegakkan kembali tubuhnya.
"Ya kau benar, semuanya telah baik-baik saja, berkatmu Azriel kembali sehat, aku benar-benar berterimakasih padamu"kata Ravi dengan penuh rasa syukur.
Anna mengangguk saja mengatakan sama-sama. Sepertinya semuanya telah selesai, tidak ada lagi sisa-sisa dari kejadian masa lalu yang menyeramkan itu.
"Ngomong-ngomong soal amnesia yang dialami Azriel–"cicit Ravi meragu akan mengatakannya pada Anna.
Anna menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum lebar mempersilahkan Ravi melanjutkan perkataannya.
"Azriel benar-benar melupakan tentang mu sepenuhnya, bahkan dia melupakan kejadian waktu kecil dulu yang pernah disekap bersamamu"
***
Anna berjalan melamun menuju ruangannya setelah selesai berbicara dengan Ravi. Mengingat perkataan Ravi yang mengatakan jika Azriel sepenuhnya melupakannya entah kenapa Anna merasa lega.
Ya dirinya lega karena jika Azriel melupakannya, dendam yang dimiliki Anna yang muncul saat mendapati Azriel masih hidup yang dimana dirinya merasa tidak terima menerima segala rundungan orang-orang selama bertahun-tahun yang bahkan beberapa kali hampir merenggut nyawanya yang ia hadapi seorang diri karena berpikir dirinya memang pantas mendapatkannya karena telah membunuh Azriel benar-benar membuatnya muak pada Azriel.
Disaat dirinya menderita karena diduga membunuh Azriel dan dirinya mengakuinya juga dilain sisi nyatanya Azriel masih hidup membuat Anna merasa marah pada orang-orang yang telah merundungnya itu, juga pada Azriel, dirinya merasa tidak adil.
Namun setelah dirinya mendengar cerita Ravi tadi, tentang bagaimana kondisi Azriel paska kejadian mengerikan itu tidak jauh berbeda darinya walau dalam konteks yang berbeda namun mereka sama-sama menderita.
Maka dari itu Anna mengurungkan rasa marah dan dendamnya pada Azriel dan berpikir tentang perundungan yang ia alami selama bertahun-tahun itu sepadan dengan kondisi Azriel yang nyatanya cukup mengkhawatirkan dan beberapa kali juga hampir kehilangan nyawanya.
"Benar, hentikan saja rasa marah dan dendam mu yang tidak berguna itu"gumam Anna saat sampai pada kesimpulannya.
"Apa dokter hebat harus berjalan dalam kondisi tak sadar dan sembari bergumam?"
Langkah Anna terhenti dan mengangkat wajahnya terjengit terkejut kala mendapati Azriel telah berdiri didepan pintu ruangannya dengan kedua tangan terlipat didepan dada menatapnya dengan datar.
Anna mendadak gugup dan tanpa sadar mundur satu langkah saat melihat kedua lipatan tangan Azriel yang diturunkan itu melangkah maju satu langkah kearahnya.
Mendapati Anna yang mundur kala dirinya maju dan gadis dokter itu terlihat enggan dekat dengannya sedikit terasa nyeri didadanya dan Azriel pun memilih untuk diam dan menyampaikan sesuatu yang ingin ia sampaikan pada gadis dokter itu.
"Aku datang untuk berterimakasih padamu"kata Azriel singkat.
"Ya?"bingung Anna.
Azriel berdecak. "Aku mau berterimakasih padamu karena sudah menghilangkan tumor yang ada padaku"kata Azriel sedikit kesal.
Anna yang mendengarnya mengangguk saja dengan takut-takut dan tersenyum kikuk saat berkata sama-sama menerima terimakasih Azriel.
"Sama-sama. Itu sudah tugasku sebagai seorang dokter, kalau begitu sampai–"
"Ada satu hal lagi"
Anna terhenti canggung ditengah-tengah percobaannya untuk menghindar dan kabur dari Azriel itu kala Azriel kembali berkata.
Azriel menaikkan sebelah alisnya merasa aneh dengan tingkah gadis dokter itu yang bertingkah seolah dirinya ini kuman yang harus segera dijauhi, sedikit menyakiti perasaannya dan membuatnya kesal.
"Kau, mencoba menghindariku? Kau benci padaku?"tanya Azriel merasa kesal.
Anna sontak menggeleng, bukan maksudnya untuk membuat Azriel kesal, dirinya hanya sedikit canggung dengan mantan teman sekolahnya itu.
"Jika kau membenciku karena aku menuntut rasa terimakasihmu karena aku telah menyelamatkanmu dari ledakan waktu kecelakaan lalu lintas itu aku akan menariknya sialan!"kesal Azriel benar-benar merasa kesal pada si gadis dokter yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
Anna terlonjak kaget dan buru-buru menggeleng, dirinya benar-benar tidak membenci Azriel dan mungkin memang salahnya saat itu tidak menyempatkan dirinya berterimakasih karena fokus menolong para korban kecelakaan lalulintas saat itu.
"Tidak tidak, Anna gak benci Azriel dan Anna juga berterimakasih karena Azriel udah nolong Anna waktu itu"kata Anna buru-buru.
Azriel terlihat tidak sekesal tadi membuat Anna merasa lega.
"Jadi ada hal lain yang ingin Azriel obrolin sama Anna?"tanya Anna selanjutnya karena tidak mau Azriel kembali kesal.
Azriel sepenuhnya tenang saat ini, maka sekali hembusan nafas dirinya bertanya sesuatu pada gadis dokter itu.
"Kau ini mengenal ku kan?"