Millisanna

Millisanna
Bab 57



Michelle sangat bersemangat karena hari ini adalah waktunya dirinya bisa berduaan dengan Azriel, karena besok adalah hari olimpiade diadakan yang berarti istirahat kali ini laki-laki itu akan ikut bimbingan olimpiade.


Tett tett teettt.


Bel istirahat berbunyi sontak membuat Michelle langsung bangkit dan berbalik berjalan menuju meja Azriel dengan semangat.


"Mau ke perpustakaan kan? Bareng yuk"senang Michelle.


Azriel tidak menjawab dan hanya bangkit dari duduknya berjalan keluar kelas terkesan mengabaikan namun Michelle tak masalah.


"Michelle semangat ya bimbingannya"beberapa teman sekelas bahkan menyemangati dirinya membuat Michelle semakin kesenangan.


Azriel sendiri memutar matanya malas, perlakuan murid-murid disekolah terlebih anak-anak kelasnya begitu berbeda saat Anna yang mewakili sekolah.


Gadis itu bukannya mendapat ucapan selamat dan semangat gadis itu malah mendapat cibiran dan hinaan kalau Anna pasti akan juara kedua lagi.


Azriel mendengus mengingatnya, dirinya jadi ingin menghajar semua orang-orang yang menyepelekan Anna.


Melirik Michelle yang berjalan disebelahnya yang cengengesan karena diliriknya membuat Azriel tersenyum tipis lebih ke menyeringai.


Michelle yang disenyumi Azriel itu semakin kesenangan bahkan kegirangan apalagi saat menyadari para siswi yang dilewati mereka melongo tak percaya dan menampilkan ekspresi iri dan kesal padanya karena disenyumi Azriel.


Haha para loser hanya bisa membenci, batin Michelle merasa sangat bangga.


Azriel tidak tahu apa yang membuat Michelle yang terlihat kegirangan disampingnya itu, namun yang bisa ia pastikan adalah cewek disampingnya itu tidak akan pernah setara dengan Anna.


Dirinya jadi penasaran akan seburuk apa hasil yang didapatkan gadis disebelahnya ini.


***


Anna menghela nafas panjang di kursi taman samping sekolah itu, olimpiade dimulai besok namun menyadari dirinya yang tidak belajar untuk olimpiade benar-benar membuatnya kecewa.


Tak menyangka jika kepercayaan dirinya saat mengerjakan latihan soal olimpiade kala itu nyatanya hanya kepercayaan diri semu karena semua yang ia kira benar nyatanya salah semua.


Bruk.


"Ada yang galau nih gara-gara gak ikut olimpiade"


Anna menatap Milan yang dengan santainya duduk disebelahnya sambil berbicara seperti itu. Apa laki-laki itu menghinanya?


Milan menatap balik Anna yang terlihat kesal dengan mengernyitkan dahinya dan memelototinya dengan imut membuat Milan jadi terkekeh dan meminta maaf setelahnya.


"Canda doang"kata Milan merasa bersalah telah menggoda Anna dengan hal yang sangat sensitif bagi si gadis.


Anna menghela nafas lagi. "Anna emang lagi galau"keluh Anna jujur.


Milan tidak tahu seberapa penting olimpiade itu bagi Anna namun melihat gadis itu yang benar-benar kelihatan sedih membuat Milan semakin menyesal karena menggoda Anna yang tidak jadi wakil sekolah untuk olimpiade besok itu.


Mengambil sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya pada Anna. "Ambil ini, bisa bikin Lo tenang, Jiel aja makanin ini kalo lagi mood nya jelek"kata Milan menyerahkan sebuah permen tongkat rasa susu dan buah itu.


Anna menatap kedua permen bergagang itu dengan ragu. "Boleh yang cokelat gak?"cicit Anna merasa malu karena dirinya seperti ngelunjak.


Milan sendiri terbahak karenanya, mentertawakan betapa polosnya Anna, dirinya pun dengan senang hati memberikan rasa cokelat untuk Anna dan dirinya akan memakan yang tersisa rasa melon.


"Makasih"malu Anna menerimanya dan memakan permen itu setelah membuka bungkusnya.


Milan mengangguk saja dan ikut memakan permen miliknya bersender pada sandaran kursi menyamankan duduknya disebelah Anna yang mulai serius dengan bukunya, mengalihkan pandangan mematai sekitar sampai dirinya mendapati dua orang disana yang tak sengaja bertukar tatap dengannya yang kemudian mereka langsung berbalik pergi setelahnya.


Menaikkan satu alisnya merasa bingung dan penasaran dengan kedua laki-laki tadi yang setahunya kakak kelas itu, dilihat dari arah mereka tadi mereka terlihat mengarah ke Anna namun sepertinya tidak jadi karena ada dirinya.


Mengedikkan bahu tidak peduli karena berpikir mungkin para siswa disini sudah menyadari betapa manis dan menggemaskannya Anna membuat mereka mulai mendekati gadis disebelahnya ini.


***


Rio sendiri pun baru mengetahuinya. "Ya gue juga gak tau ******, kalo tau juga gue gak akan bikin taruhan agar Lo deketin si Anna"keluh Rio.


Mereka tahu bagaimana mengerikannya Azriel dan Milan itu. Saat kedua laki-laki itu masih murid baru saja mereka -terlebih Milan- bahkan sudah sangat berani menghajar sampai babak belur beberapa orang kakak kelas 12 waktu itu yang menganggu mereka.


Bisma dan Rio yang masih kelas 11 waktu itu menyaksikannya sendiri bagaimana brutalnya Milan kala itu menghajar para kakak kelas 12 yang mencari masalah dengannya itu.


Membuat Milan jadi murid paling ditakuti si SMA Arya namun walau begitu, walau Azriel yang terlihat tenang tidak seanarkis Milan saat marah tapi Azriel tetap lebih tinggi diatas Milan entah karena apa tapi seluruh penghuni SMA Arya berpikir jika Azriel berkali-kali lipat lebih mengerikan dari Milan.


Rio dibuat terkejut saat Bisma menarik tangannya dan memberikan kunci motor laki-laki itu padanya. Rio dibuat terkekeh melihat Bisma yang langsung menyerah itu saat mereka mengetahui fakta tentang Anna yang cukup membuat mereka menciut.


"Ah elah sama adik kelas doang takut Lo"kekeh Rio memanas-manasi walau dalam hati dirinya menyetujui sikap Bisma yang memilih menyerah karena menurutnya tindakan ini adalah benar jika temannya itu tidak ingin dihajar oleh Milan.


Pastinya mereka babak belur kan dihajar Milan jika tahu Anna dijadikan alat taruhan mereka mengingat betapa dekatnya keduanya di taman samping sekolah tadi.


"Gue emang takut sama tuh adik kelas tapi sejak kemarin gue udah berpikir buat nyerah karena alasan lain"kata Bisma serius.


Rio dibuat bingung dengan sahabatnya itu. "Alasannya?"


"Gue gak tega anjir! Tuh cewek udah menderita hidupnya karena di bully masa kita jadiin alat taruhan juga?!"kata Bisma sangat merasa bersalah.


Rio terkejut mendengarnya namun dirinya terkekeh karena melihat sahabatnya itu benar-benar tidak pernah berubah dari dulu. Bisma masih tidak bisa menahan rasa kasihannya pada seseorang yang kesulitan.


"Oke kalo gitu motor Lo buat gue nih?"kekeh Rio.


Bisma mengangguk yakin mempersilahkan. "Sok sok ambil gue ikhlas"kata Bisma tak keberatan.


Rio terkekeh saja melihat tingkah Bisma. "Terus gimana kedepannya? Lo keliatan mulai akrab sama Anna"kata Rio.


Bisma terkekeh mendengar perkataan sahabatnya itu. "Gak gimana-gimana, tujuan gue sekarang ngebuat tuh cewek juara di pertandingan nanti"semangat Bisma.


Rio mengangguk saja mendukung ambisi sahabatnya itu, lagipula kapan lagi melihat Bisma yang ogah-ogahan latihan karena merasa sudah master menjadi sangat bersemangat dalam latihan.


***


Tett tett teettt.


Bel pulang sekolah berbunyi membuat Anna bersemangat untuk pergi ke gymnasium untuk latihan, karena Bisma kemarin berjanji akan memberikan tips rahasia. Tips untuk meraih kemenangan.


Berjalan tergesa-gesa bahkan sampai tak menyadari jika tali sepatunya lepas dan berakhir terinjak dan membuat Anna kehilangan keseimbangannya yang hampir menghantam pintu jika seseorang tak menariknya.


"Hati-hati"kata Azriel yang menarik Anna agar tidak jatuh.


Anna sontak langsung berbalik berterimakasih juga meminta maaf karena membuat laki-laki itu repot karena membantunya yang ceroboh itu.


Pintu kelas belakang yang belum begitu terbuka itu mendadak terbuka lebar dan menghasilkan suara keras karena Bisma si pelaku membukanya dengan tidak santai sambil meneriakkan nama Anna tak kalah kerasnya dengan suara pintu yang terbanting tadi.


"Y-yo Anna! Lo siap untuk tips and trik meraih kemenangan?!"antusias Bisma disana.


Sedikit gugup saat menyadari siapa dibelakang gadis itu, namun dirinya sudah kepalang muncul dengan heboh jika tiba-tiba dirinya ciut bisa-bisa jadi aneh.


Anna mengangguk tak kalah antusias dan dirinya pun keluar kelas dengan Bisma yang menjemputnya itu.


Keduanya pergi dengan mengabaikan orang-orang yang masih berada dalam kelas yang terkejut melihat kehebohan tadi.


Dan keduanya atau mungkin hanya Anna seorang yang tidak menyadari betapa tajamnya tatapan Azriel saat memperhatikan keduanya berinteraksi dan pergi itu.


-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-


haha bab kemarin salah nulis ya? harusnya kemarin 56 bukan 57, sekarang baru 57 yang bener maaf ya