Millisanna

Millisanna
Bab 95



Anna perlahan membuka matanya dilihat dirinya seperti berada disebuah ruangan yang mungkin saja ia tahu, mengingat dirinya yang mungkin saja terluka saat melindungi teman sekelasnya tidak kaget jika dirinya sekarang berada dirumah sakit.


Ceklek.


Pintu ruangan yang ditempati Anna itu terbuka dan memperlihatkan ibu Aldres yang terkejut dan juga terlihat sangat lega sampai mengucapkan syukur.


"Alhamdulillah Mili, gimana keadaan kamu? Leher kamu sakit?"tanya ibu Aldres langsung menghampiri Anna dan berdiri disebelah brangkar Anna.


Anna mengangguk saja, lehernya yang terasa ditempeli sesuatu dan sepertinya sudah diobati itu sedikit terasa nyeri namun tidak sakit yang teramat sakit.


Ibu Aldres kembali tersenyum menghela lega mengetahui Anna yang baik-baik saja.


Tak lama pintu kembali terbuka dan memperlihatkan beberapa orang yang masuk yang juga memasang ekspresi seperti ibu Aldres tadi.


Ada Aldres, Gio, ayah Aldres, kak Kiara dan teman sekelas perempuannya yang ia lindungi dari serangan Michelle saat dikelas.


"Mili Lo oke? Lo bisa ngomong kan?"kata Aldres gelagapan begitu khawatir jika luka yang didapatkan oleh Anna membuatnya jadi tidak bisa berbicara.


"Anna masih bisa ngomong ini"kata Anna santai bahkan mendudukkan dirinya diatas ranjang karena luka dilehernya tidak terlalu parah walau rasanya sakit.


"Dokter bilang lukanya enggak terlalu dalem, cuma ya banyak keluar darah jadinya keliatan mengerikan"kata Kiara entah harus terkekeh atau ngeri saat mengatakannya.


"Anna sorry karena gue Lo jadi kayak gini, salah gue si Michelle jadi kalap dan menggila"kata Mutia benar-benar merasa bersalah pada teman sekelasnya itu.


Anna yang mendengarnya tersenyum saja menggeleng tidak marah atau emosi.


Sepertinya ini murni kecelakaan dan Anna merasa lega saat mengetahui dirinya baik-baik saja begitu juga dengan Mutia.


"Udah gak apa-apa, namanya juga kecelakaan"kata Anna merasa tidak marah dengan apa yang telah ia alami.


***


Aldres keluar dari kamar mandi karena sedari tadi dirinya sudah sangat menahannya karena dirinya memastikan kondisi Anna.


Berbelok kearah kanan dan berjalan untuk kembali ke ruangan tempat Anna dirawat namun dirinya terhenti saat tidak sengaja mendengar obrolan arah kirinya disana dan bisa ia lihat seorang pria dengan jasnya sedang berbicara dengan dua dokter disana.


Dan salah satu dari dua dokter itu dirinya seperti pernah melihatnya dan ia ingat jika dokter wanita itu dokter yang sama yang datang bersama dengan kakaknya dan juga kak Kiara yang langsung pergi ke Azriel memastikan kondisi laki-laki itu.


Benar juga, bukan kah tadi kondisi laki-laki itu terlihat aneh dan juga beberapa perawat yang langsung membawa laki-laki itu yang terlihat tak sadarkan diri.


Aldres jadi bertanya-tanya apa Azriel selemah itu sampai ditonjok sekali olehnya laki-laki itu langsung gawat kondisinya.


"Saya tidak tahu tuan, tapi sepertinya trauma Azriel kembali muncul dan itu semakin parah"kata dokter wanita disana.


Aldres memutuskan untuk bersembunyi dan mendengarkan obrolan mereka karena dirinya penasaran, mengetahui fakta jika Azriel memiliki suatu trauma saja sudah membuatnya terkejut dan tak percaya apalagi dengan fakta yang selanjutnya yang dibicarakan oleh ketiga orang itu.


Aryan yang mendengar perkataan dokter psikis anaknya itu hanya bisa menghela.


"Mungkin karena orang itu kembali mencoba memunculkan dirinya, beberapa kali bahkan orang itu mulai mengirimkan beberapa barang pada Azriel"kata Aryan merasa telah gagal menjadi seorang ayah karena melindungi anaknya dari seorang penguntit dirinya pun tidak bisa.


"Bukankah orang itu di penjara?"tanya dokter lain yang bernama Deri yang merupakan dokter pribadi keluarga Aryanzha.


"Benar dan sudah keluar 2 tahun yang lalu"kata Aryan menghela panjang.


Dokter Dinda melotot mendengarnya. "Jika begitu berarti si pelaku belum jera dan kembali meneror Azriel begitu?"tanyanya tidak menyangka, pantas saja beberapa belakangan Azriel sering mengalami gejala-gejala traumanya dan juga sering memintanya untuk menyiapkan obat untuknya.


"Sejujurnya sebelum ada teror-teror itu anakku sudah mulai kembali bermasalah dengan traumanya setelah kemah yang diadakan di sekolahnya"kata Aryan.


"Apa Azriel bertemu dengan gadis kecil yang dulu sering ia tanyakan keberadaannya?"tanya dokter Deri karena dokter itu yang pertama menangani Azriel yang saat kecil hilang dan ditemukan dengan kondisi parah sampai harus menderita koma dan saat terbangun mengalami trauma parah yang hebat membuatnya harus meminta bantuan kepada dokter Dinda yang seorang psikiater ahli.


"Entahlah, saat pemeriksaan dulu tidak ada tanda-tanda orang lain yang bersama dengan Azriel saat itu dan berakhir pihak polisi menyatakan hanya Azriel seorang yang menjadi korban penculikan saat itu"kata Aryan menjelaskan sesuai dengan yang dijelaskan Amar sang ipar yang merupakan ketua tim yang menangani kasus Azriel saat itu.


"Jadi itu hanya halusinasinya saja?"gumam dokter Dinda sedikit meragu namun dirinya tidak tahu apa yang membuatnya meragu.


Aryan menatap dokter wanita itu dengan serius. "Sejujurnya aku menginginkan metode hipnotis untuk anakku Azriel agar bisa melupakan masa lalu nya saat itu secara permanen"kata Aryan tiba-tiba.


Kedua dokter itu yang mendengarnya terkejut bukan main namun mereka paham bagaimana perasaan Aryan yang menjadi ayahnya Azriel itu, pastinya sangat sedih mengetahui anak semata wayangnya memiliki kehidupan yang tidak mudah karena sebuah trauma.


"Lalu bagaimana dengan si pelaku yang kembali? Apa tidak masalah?"tanya dokter Dinda dirinya tidak keberatan melakukan penghapusan memori pada Azriel agar anak itu menghilangkan traumanya.


"Tentu saja aku tidak akan tinggal diam, aku senantiasa siap untuk menghabisi di penguntit gila itu"kata Aryan begitu serius dan dingin disetiap perkataannya.


Aldres dalam sembunyi nya hanya bisa menahan nafas merasa sangat tidak menyangka dengan apa yang didengar nya itu dan gila nya lagi dirinya entah kenapa menyangkut pautkan pada Anna yang merupakan anak hilang dan ditemukan ditolong oleh kedua orangtuanya.


Tidak mungkin, pasti berbeda, ya benar pasti tidak ada hubungannya sama sekali, batin Aldres meyakinkan dirinya sendiri dan berpikir sudah cukup dirinya menguping pembicaraan orang dirinya memilih untuk pergi.


Dan tidak menyadari jika dirinya yang pergi itu terlihat oleh Aryan yang menatap tajam sosoknya yang pergi menjauh.


***


Anna diantar pulang oleh Gio dengan mobilnya sampai kedepan rumah membuat Anna mulai merasa gugup dan takut-takut.


"Makasih kak udah nganterin Anna"kata Anna sangat berterimakasih pada Gio.


Gio mengangguk saja memperhatikan Anna yang membuka pintu disebelahnya dan turun dari mobil.


"Besok kau izin saja ya, jangan sekolah dulu, kalo udah merasa mendingan baru sekolah lagi ya"kata Gio mengingatkan pada Anna yang terlihat mengangguk mengiyakan ucapannya.


Gio pun pamit untuk pulang dengan Anna yang menungguinya melambaikan tangan sampai mobil Gio tidak terlihat lagi.


Berbalik Anna terkejut bukan main saat mendapati kedua orang tuanya sudah menungguinya di teras depan rumah dengan ekspresi nyalang.


Anna pun dengar takut-takut mengucapkan salam sangat kecil dan berjalan menunduk menghampiri keduanya.


"Benar-benar anak gak guna!!"umpat ibu langsung pada Anna.


"Buat malu saja kamu itu! Berkelahi di kelas apa kau gila?!"tambah ayah yang ikut memarahi Anna.


"Mama sama ayah besok jadi harus pergi ke sekolah gara-gara kamu membuat masalah!"kesal ibu.


Anna hanya bisa menunduk bergumam meminta maaf karena dirinya kembali membuat orangtuanya marah dan kembali mempermalukan keluarganya.


"Setidaknya jika tidak berguna jangan buat masalah! Apa masalahmu sebenarnya?!"kata ayah benar-benar tidak harus bagaimana lagi agar anak keduanya itu bisa diatur dan tidak membuat masalah terus.


"Ini terakhir kalinya kau membuat masalah! Jika kau kembali berulah kau benar-benar akan dibuang sialan!"murka ibu dan berbalik begitu saja diikuti ayah yang sudah puas memarahi Anna.


Anna menunduk dalam dirinya sampai gemetar ketakutan membayangkan dirinya yang dibuang keluarganya membuat Anna sangat ketakutan, jika dibuang apa yang akan ia lakukan? Bagaimana dirinya bisa hidup?


"Ckckck Lo itu beneran gak guna banget jadi manusia hahaha"kekeh Sarah yang muncul membuka pintu kamarnya dan kembali menutupnya hanya untuk mengatakan hal itu pada Anna yang hendak masuk ke kamar itu.


Anna mematung ditempatnya, dirinya sudah sejak lama menyadari jika dirinya adalah manusia yang paling tidak berguna diingatkan lagi membuatnya jadi murung dan hanya bisa menerimanya.