
Anna bergegas menuju UGD kala dirinya mendapatkan pesan jika ada sesuatu yang gawat terjadi yang dikirimkan oleh Maria.
Brakk.
"Apa yang terjadi?! Apa? Kebakaran? Kecelakaan? Operasi sekarang?!"seru Anna yang muncul di UGD.
Mereka yang berkumpul sontak melihat pada Anna dan Anna sendiri terdiam kala merasa tidak ada yang gawat karena sepertinya para staff bahkan sedang tidak sibuk-sibuk amat.
Namun pandangan Anna tertuju pada dua orang bocah diantara para staff perawat yang terlihat memegangi mereka dengan si bocah kecil perempuan yang sesegukan dan si bocah laki-laki yang lebih tua itu berontak meminta dilepaskan dan langsung berlari kearah Anna.
"Dokter! Dokter Anna kan?!"seru anak laki-laki itu pada Anna sempat melihat nama yang terbordir dijas dokter Anna dan anak itu benar jika dokter wanita yang muncul itu adalah dokter Anna yang sedang dicarinya.
Anna mengangguk saja karena dirinya disini seorang yang bernama Anna.
"Tolong bantu ibuku! Ibuku sakit! Harus dioperasi!"kata bocah laki-laki itu mulai menangis.
Anna terkejut dan kebingungan kala melihat kedua bocah itu malah menangis bersamaan. Melirik pada Maria meminta penjelasan, kepala perawat itu hanya bisa menghela seraya melepaskan si bocah laki-laki dari Anna.
"Mereka dari kampung yang jauh digunung belakang rumah sakit ini, mereka bilang ibu mereka sakit harus dioperasi tapi mereka tidak punya uang dan menurut aturan walaupun mereka tidak punya uang setidaknya mereka harus membayar biaya pendaftaran namun mereka benar-benar tidak memiliki uang sepeser pun"jelas Maria.
"Ibu mereka saja tidak punya kartu kesehatan yang bisa saja membantu mereka tapi mereka bilang tidak punya, jadi ya mau bagaimana lagi"tambah Sisilia angkat tangan tidak mau mengurus hal merepotkan seperti ini.
Anna terdiam berpikir, mengingat-ingat sepertinya dirinya memiliki uang simpanan direkeningnya dan harap-harap cukup untuk pengobatan ibu mereka. Dirinya akan mencari tahu karena takutnya ibu mereka sakit yang sangat parah yang membutuhkan biaya yang lebih besar dari uang yang dimilikinya.
"Memangnya rumah mu dimana? Ibumu tidak ikut? Katanya mau diobati"
Anna terkejut begitu juga yang lain kala Azriel tiba-tiba muncul dan sudah berjongkok dihadapan bocah laki-laki yang masih terisak itu.
"Heh kamu bukannya Anna suruh pulang ya?"tanya Anna sedikit membentak Azriel karena saking terkejutnya.
Azriel hanya melirik Anna tidak peduli dan kembali menatap si bocah laki-laki seraya menyodorkan sebuah permen tongkat.
"Ini, jadi kenapa ibumu tidak kesini?"tanya Azriel lagi.
Melihat kakaknya yang diberikan permen si gadis kecil pun mendekati si kakak dan Azriel pun memberikan gadis kecil itu juga permen yang sama.
Permen yang Anna tahu jika laki-laki itu pasti mengambilnya dari toples kaca diatas lemari gupet yang ada di ruangannya.
"Aku tidak bisa membawanya, aku pikir lebih baik dokter yang datang kerumah karena jalanan kerumah kami sangat sulit dilewati karena berada digunung dan banyak sekali jalan sempit yang sisiannya adalah jurang yang dalam"jelas bocah laki-laki itu.
Pantas saja kedua bocah itu nekat kemari untuk meminta bantuan pada Anna.
"Ibu kalian sakit apa?"tanya Azriel.
"Tidak tahu, ibu perutnya menjadi sangat besar setelah jatuh ke jurang saat mencari kayu bakar"kata si gadis kecil.
"Sudah diurut sama tukang urut yang ada di desa karena ibu mengeluh kakinya keseleo patah, tapi beberapa Minggu setelahnya ibu hanya bisa tiduran dan perutnya semakin membesar berwarna ungu"lanjut si bocah laki-laki.
Anna terkejut mendengarnya sepertinya ada yang salah dengan organ dalam ibu mereka itu, dan seharusnya jika mengalami kecelakaan sepatutnya tidak main urut-urut saja tapi lebih baik dibawa kerumah sakit atau puskesmas terdekat.
"Kenapa tidak dibawa ke puskesmas? Bukannya dikaki gunung ada puskesmas?"tanya Maria pada anak-anak itu.
"Sudah lama tutup karena jarang ada yang datang kesana"kata si bocah laki-laki.
"Ey tenaga medis payah"cibir Azriel seraya berdiri.
Plak.
"Kau mengejek ku dan kami?"tanya Anna.
Azriel mendelik pada Anna yang menggeplak lengannya itu. "Bukanlah, yakali"kata Azriel santai.
"Ngomong-ngomong bocah, apa jalanan kerumahmu bisa dilewati oleh sebuah motor?"tanya Azriel tiba-tiba.
Azriel mengangguk mengerti seraya mengeluarkan ponselnya dari saku. "Lalu apa didekat rumah mu ada lapangan yang sangat luas seluas, mungkin lapangan disebelah gedung rumah sakit ini"tanya Azriel lagi.
Kedua bocah itu saling lihat lantas si gadis kecil berseru. "Ada om! Kebun pak kepala desa baru aja selesai panen dan tanahnya masih kering"
Azriel menyeringai, itu sudah cukup.
"Hei mau ngapain kamu?"tanya Anna karena merasa Azriel sedang merencanakan sesuatu.
Menatap Anna berkedip Azriel lantas tersenyum lebar. "Ya mau apa lagi? Bawa ibu mereka kesini lah"
Mereka yang mendengar perkataan Azriel itu pun sontak sangat terkejut.
"Gimana caranya? Mereka bilang medan menuju rumah mereka bahkan sangat berbahaya dari sini!"kata Maria tidak percaya.
Brakk.
"Tuan! Apa maksudmu menyuruhku menyiapkan sebuah helikopter dan motor trail untuk ke gunung?!"seru Ravi yang muncul di bagian UGD itu.
"Ah aku akan membawa ibu mereka kesini, ada orang sakit yang harus ditolong"kata Azriel santai ke Ravi.
Ravi syok sendiri tapi tetap saja dirinya menuruti apa keinginan tuannya itu.
Triing.
"Motornya sudah siap digunakan"kata Ravi kala menerima pesan diponselnya.
"Oke, ayo bocah kita jemput ibumu, disana ada sinyal kan?"kata Azriel pada si bocah laki-laki.
Si bocah laki-laki sangat girang mengangguk semangat. "Iya ada"
"Bagus, aku akan pergi dan mengirimkan titik lokasinya untuk pendaratan helikopter nya jadi tunggu lah"kata Azriel yang berjalan pergi dengan si bocah laki-laki.
Anna diam saja melihat bagaimana tingkah Azriel itu, yang menurutnya tidak berubah, selalu membantu siapapun yang sedang membutuhkan.
Tap.
"Lo, dia beneran Azriel?!"tanya Sisilia begitu serius pada Anna menghentikan pergerakan Anna yang hendak menyusul Azriel.
Anna menatap rekan kerja nya itu. "Iya, memang siapa lagi?"balas Anna dan langsung mengikuti Azriel yang pergi.
***
"Kakak"gumam si bocah kecil yang merasa khawatir melihat kakaknya akan pergi.
"Kamu disini aja tungguin, kakak bakal bawa ibu kesini"kata si bocah laki-laki yakin.
"Hm Lo disini aja tuh sama dokter cewek itu tuh"tambah Azriel menunjuk Anna yang muncul.
Anna tidak menyangka laki-laki itu benar-benar akan pergi membawa ibu kedua anak itu untuk dirawat disini.
Azriel selesai memakai perlengkapan keamanan untuk menggunakan motor trail itu menghampiri Anna seraya menunggu si bocah laki-laki yang sedang dibantu oleh Ravi memasang perlengkapan keamanannya.
"Kalo gue berhasil bawa ibu mereka kesini dan Lo nyembuhin ibu mereka Lo harus mau bantuin gue buat dapetin ingatan gue yang hilang, setuju?"kata Azriel serius.
Anna sedikit keberatan namun mau bagaimana lagi hanya Azriel yang bisa membawa ibu mereka kemari agar bisa mendapatkan pengobatan, maka dari itu Anna mengangguk dan menyetujuinya.
"Gak masalah, Anna setuju"kata Anna yakin.
Azriel tersenyum tipis mendengarnya, entah kenapa dirinya benar-benar merasa seperti sedang dejavu saat ini, setiap dirinya bersama si gadis dokter dirinya selalu merasakan kenyamanan yang seperti telah kembali.
"Kalo gitu gue berangkat"