Millisanna

Millisanna
Bab 51



Anna pulang ke rumahnya dengan perasaan sangat ketakutan. Padahal dirinya pulang ke rumah seperti biasa sampai jam setengah 1 malam yang dipastikan semua anggota keluarganya telah tertidur pulas.


Yang Anna khawatirkan adalah keesokan harinya. Besok libur dan Bu Erna sangat gerak cepat jika memberitahukan mengenai tentang dirinya pada sang ibu, terlebih soal olimpiade karena ibunya sendiri yang meminta wali kelasnya itu agar sering memberikan update-an mengenai dirinya disekolah.


Anna sedikit merasa senang mengetahui sang ibu yang begitu perhatian sampai melakukan hal seperti itu, yang seperti itu perhatian kan disebutnya, mengawasi anak secara tidak langsung bukan kah itu sangat perhatian.


Namun kali ini Anna benar-benar merutuki perhatian yang dilakukan oleh sang ibu karena kali ini rasanya dirinya tidak ingin ibunya tahu apa yang terjadi di sekolah, Anna takut setengah mati hanya membayangkannya juga.


Selesai membersihkan diri Anna merebahkan tubuhnya diatas ranjang menatap langit-langit kamarnya lantas melirik kesamping dan mengambil Mr. Whale si paus besar berwarna ungu.


"Tuan Anna takut pada hari esok"kekeh Anna curhat pada Mr. Whale.


Anna benar-benar takut dengan hari besok. Besok adalah hari Sabtu, sekolah libur dan Anna sebelum berangkat les dirinya dipastikan dapat dengan mudah dihampiri sang ibu karena Anna yang harus membersihkan rumah terlebih dahulu.


Berpikir akan langsung pergi les tanpa membersihkan rumah terlebih dahulu dirinya malah semakin takut karena ibu pasti akan benar-benar murka.


"Anna takut tapi gak bisa kabur"kata Anna berbicara pada Mr. Whale.


"Tolong beri Anna keberanian untuk besok dan Anna ikhlas jika mama marah karena Anna telah membuat mama kecewa lagi"kata Anna berdoa pada Tuhan dan memilih untuk tidur dengan memeluk Mr. Whale.


***


Paginya Anna bangun pagi, sebelum keluar kamar dirinya melihat pantulan dirinya dicermin mengangguk saat merasa dirinya telah siap.


"Oke aku siap"kata Anna serius seraya melangkah keluar kamar untuk mulai membersihkan rumah.


Menyapu, mengepel dan mencuci piring semua dikerjakan Anna.


Keluarganya sarapan Anna sedang menyapu halaman depan. Selalu seperti itu dihari Sabtu atau Minggu, keluarganya sarapan Anna bekerja membersihkan rumah.


Selesai menyapu halaman depan Anna bersiap untuk mengepel semua lantai yang ada dirumahnya.


"Anna kamu gagal kepilih buat ngewakilin sekolah di olimpiade nanti kan?"tanya ibunya saat Anna melewati mereka yang sedang sarapan.


Anna mematung ketakutan, dirinya kira saat pertama kali bertemu tatap dengan sang ibu dihari ini dirinya akan langsung dimarahi namun tidak membuat Anna berpikir ibunya merasa tidak peduli dan mungkin saja telah lelah memarahi dirinya yang tidak kompeten ini, namun nyatanya ia salah, ibunya menunggu waktu saat mereka berkumpul seperti ini.


Yang membuat Anna merasa semakin malu juga takut.


Memainkan tautan jarinya tidak nyaman Anna mengangguk pelan dan samar mengiyakan juga meminta maaf.


"Maaf"


Sang ibu menghela gusar, sang ayah geleng-geleng, Aris dan si bungsu terkesan tidak peduli dan sedangkan Sarah adik perempuannya itu menahan ketawanya yang hampir saja mentertawakan Anna.


"Bukannya makin baik, ini kok makin buruk?! Kebanyakan main sih kamu akhir-akhir ini!"kesal ibu.


Anna hanya menunduk menerima semua marah sang ibu.


"Jangan main-main lagi kamu, udah tau kamu bodoh berani-beraninya kamu leha-leha memilih bermain daripada belajar!"kesal sang ibu membentak.


"Mama gak tau harus apa lagi agar kamu itu berguna! Sudahlah mama menyerah, mulai sekarang terserah kamu mau apa!"kesal ibu terkahir.


Anna yang mendengarnya merasa ketakutan, perkataan ibunya itu terdengar seperti dirinya dibuang.


Ting tong.


Ingin mengatakan sesuatu namun terinterupsi oleh suara bel dari pintu depan membuat Anna urung berbicara dan berjalan menuju pintu depan karena sang ibu memberikan isyarat agar dirinya memeriksa siapa yang datang cukup pagi ini.


Ceklek. Pintu dibuka dan Anna mendapati seorang laki-laki dengan seragam yang memiliki sebuah logo yang menjadi salah satu perusahaan otomotif yang terkenal.


"Permisi benar ini rumah pak Hartoyo?"tanya pria itu.


"Siapa?"tanya ibu saat Anna kembali.


"Laki-laki dengan pakaian pegawai Ya***a"kata Anna.


Dan itu membuat mereka terlihat kesenangan terlebih Sarah gadis itu langsung berdiri kegirangan menatap sang ayah yang mengangguk, mereka semua pun pergi ke halaman depan dengan Anna yang mengikuti dari belakang ragu-ragu.


"Woah ayah makasih!!"senang Sarah saat seperti dugaannya yang datang adalah sebuah motor matic yang pernah ia pilih atas perintah sang ayah yang berjanji akan membelikannya sepeda motor.


"Sama-sama. Keluaran tahun depan juga limited edition benar?"kata ayah pada pegawai yang mengantarkan motor anaknya itu.


Pegawai itu mengangguk dan mulai menjelaskan beberapa hal untuk pemilik motor yang ia dengan rekannya antarkan itu.


Anna hanya diam diambang pintu melihat keluarganya yang terlihat bahagia melihat Sarah yang kegirangan dengan motornya.


Woah, apa aku juga bisa– tidak tidak, sebaiknya aku mulai mengepel saja, batin Anna bergegas masuk kedalam rumah dan bersiap mengepel untuk mengenyahkan pikirannya yang mulai tidak tahu diri. Padahal dirinya harus senantiasa tahu diri agar dirinya tidak keluar jalur yang telah ditentukan.


***


Anna berjalan-jalan tak tentu arah dan merasa bodoh juga karena tidak membaca pesan dari guru lesnya yang berkata hari ini libur karena gurunya itu ada urusan mendadak. Baru dibaca saat Anna telah setengah jalan menuju tempat lesnya.


Dan Anna yang tidak ingin pulang dan berpikir mungkin dirinya bisa mencuri waktu untuk jalan-jalan karena lesnya yang libur ini.


Berjalan-jalan tanpa tujuan, Anna hanya tak ingin pulang dan melihat kegembiraan keluarganya yang terlihat bahagia saat melihat Sarah senang dengan motor barunya.


Hari Sabtu nyatanya cukup ramai juga, atau memang Anna tidak tahu jika setiap hari Sabtu seperti ini memang cukup ramai?


Berjalan menuju sebuah taman Anna berpikir akan menghabiskan waktunya disana hanya untuk duduk-duduk sampai dirinya merasa lapar dan akan mencari makanan nanti.


Memperhatikan banyak orang disekitarnya yang begitu beragam. Ada keluarga kecil dengan orangtua dan anak kecil yang terlihat bahagia berjalan bersama ayah dan ibunya.


Lalu ada beberapa pasangan yang terlihat sedang menikmati hari dengan bercanda atau berjalan sambil berpegangan tangan.


Anak-anak kecil yang berlarian dengan riang, seseorang yang berolahraga, dan juga seorang yang berjalan-jalan dengan peliharaannya.


Anna tidak menyangka bisa menjadi bagian di hari yang begitu indah ini, tak pernah mengalaminya karena 80% kehidupannya selama ini adalah belajar.


Disini menyenangkan, batin Anna merasa tenang juga iri melihat mereka yang terlihat sangat bersenang-senang dengan cara mereka sendiri disana.


Pluk.


Anna teralihkan karena mendengar sesuatu yang jatuh dan ternyata sebuah dompet dari seorang pria yang melewatinya tadi.


Bergegas Anna memungut dompet tersebut dan akan ia segera kembalikan pada si pemilik dengan mengejarnya.


"Permisi tuan"cicit Anna mendadak kehilangan keberanian karena baru sadar jika dirinya mengajak bicara orang asing.


"Ya?"laki-laki itu berbalik dan mendapati seorang gadis cantik nan manis disana yang menyodorkan dompetnya.


Gadis cantik nan manis yang terasa seperti gadis cilik yang ada dimasa lalunya namun yang dihadapannya ini terkesan si gadis cilik telah tumbuh dengan baik.


"Mili?"tanpa sadar laki-laki itu menyebutkan panggilan yang sering ia gunakan pada gadis cilik dimasa lalunya.


Anna sedikit merasa tidak asing dengan panggilan itu karena nyatanya itu panggilan untuk dirinya dari beberapa orang di waktu dulu walau dirinya tidak ingat siapa saja yang memanggilnya seperti itu.


"Nama saya memang Millisanna"kata Anna sedikit bingung tak menyadari perubahan raut wajah laki-laki dihadapannya itu.


Laki-laki itu terlihat sangat bahagia terharu juga lega secara bersamaan. "Mili!! Ini kak Geo! Masih ingat sama kakak?"