
Anna sedang berdiri santai bersender pada meja perawat penjaga, memperhatikan UGD yang cukup ramai tapi semua pasien telah ditangani.
Dirinya nganggur saat ini.
"Lumayan sepi–"
"Sttooopp!!!"
Anna terjengit karena kepala perawat memberhentikannya untuk melanjutkan bicaranya, dan Anna hanya bisa tersenyum kikuk menyadari jika dirinya akan mendapatkan masalah yang besar jika dirinya melanjutkan perkataannya tadi.
"Dokter Anna sepertinya kau punya jadwal memeriksa pasien di bangsal-bangsal benar?"kata kepala perawat itu disetiap katanya yang ditekankan.
Anna mengangguk mengiyakan dengan segera langsung melesat pergi ke ruang rawat yang ditempati para pasien, dirinya harus melakukan pemeriksaan rutin untuk beberapa pasien yang sedang dalam masa perawatan.
Kepala perawat itu merasa lega melihat Anna yang pergi, untung saja dokter muda itu tidak mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan oleh tenaga medis seperti mereka itu.
'Sepi', 'tidak ada pasien', dan lainnya yang bisa menyebabkan tiba-tiba mereka akan langsung mendapatkan banyak pasien datang yang menggunung.
"Bu Maria, anda melihat Anna?"tanya Sisilia yang muncul langsung bertanya pada kepala perawat itu karena terkahir kali dokter muda itu masih ada berdiri santai disini mengobrol dengan kepala perawat.
"Dokter Anna sedang memeriksa pasien di bangsal"kata Maria si kepala perawat.
Sisilia yang mendengarnya menghela saja mungkin dirinya akan mencari Anna nanti dan mengatakan sesuatu padanya nanti.
"Kenapa kau mencari Anna? Oh kau dan Anna satu sekolah kan dulu? Bisa kau ceritakan bagaimana Anna saat sekolah dulu? Aku sangat penasaran bagaimana jenius seperti Anna di masa lalunya"kata Maria bersemangat karena dokter muda yang jenius dan penuh talenta itu nyatanya tidak banyak menceritakan tentang kehidupan pribadinya.
Sisilia tertawa kaku mendengar keinginan Maria itu. "Agak sulit untuk menceritakannya, aku saja yang tidak kenal dekat dan tidak saling menyapa saat sekolah dulu karena tidak pernah satu kelas saja menurutku kehidupan sekolah Anna seperti neraka"kikuk Sisilia.
Maria yang mendengarnya berkedip bingung tidak menyangka jika masa lalu Anna cukup mengerikan.
"Kenapa tidak kau coba ceritakan pada kami? Aku ingin join"kata Ray yang tiba-tiba muncul ikut bergabung dengan kepala perawat dan para perawat lainnya yang menunggu cerita Sisilia.
Sisilia menatap Ray merasa segan karena laki-laki itu menatapnya seolah dirinya termasuk orang yang membully Anna saat dulu.
"Anna dibully selama SMA hanya karena dekat dengan cowok yang paling disukai satu sekolahan, dan semakin gila bully-an mereka kala orang-orang mengetahui cowok itu dibikin mati oleh Anna"kata Sisilia cepat.
Orang-orang yang mendengarnya terkejut bukan main, tidak menyangka kehidupan Anna begitu mengerikannya.
"Tiap hari pasti Anna bakal dalam kondisi basah kuyup karena dibanjur air bahkan air comberan, didorong dari tangga sampe luka-luka berdarah, dikunci dikamar mandi, dipukulin, semuanya pokoknya serem banget"kata Sisilia ngeri sendiri kala mengingat bagaimana Anna melewati satu tahun SMA terakhirnya dengan siksaan dunia itu.
"Lo bukan salah satu dari mereka yang ngebully Anna kan?"tanya Ray tajam.
Sisilia kesal menatap Ray. "Bukan! Gue cuma jadi penonton doang!"kesal Sisilia.
"Gue juga kesel dulu tau Azriel mati gara-gara Anna tapi gue gak sampe ngebully Anna"lanjut Sisilia.
"Oh pantas saja kau hanya menjadi penonton bukan menolongnya saat itu"
Mereka yang sedang dalam perbincangan mereka itu terkejut karena seorang laki-laki tiba-tiba muncul dan mengatakan itu pada Sisilia yang syok melihat siapa yang berkata-kata itu.
"Lo–"Sisilia tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena lidahnya kelu karena saking terkejutnya melihat seseorang yang benar-benar tidak terduga.
"Ah dokter Anna sedang memeriksa pasien di bangsal"kata Maria.
"Terimakasih, aku akan mencarinya"kata laki-laki itu mengangguk mengerti dan akan mencari Anna sendiri.
Brakk.
Pintu masuk bagian UGD di pintu yang terhubung ke arah bagian bangsal muncul Anna yang terlihat terengah-engah dan terkejut melihat sosok laki-laki dihadapannya itu.
Si laki-laki itu pun tersenyum lebar merasa senang melihat Anna lagi setelah sekian lama.
"Mili!!"seru laki-laki itu bersemangat merentangkan kedua tangannya menunggu gadis itu memeluknya.
Anna pun sedikit berlari menghampiri laki-laki itu, bukan untuk memeluk melainkan mencubit kecil lengan berotot itu karena telah membuat gaduh.
"Ini rumah sakit, harus tenang"peringat Anna yang langsung menarik laki-laki itu untuk ikut bersamanya keruangannya.
Si laki-laki yang mengaduh karena dicubit itu hanya terkekeh dan menerima saja jika dirinya dibawa dan ditarik seperti ini oleh Anna.
Perkumpulan yang tadi melakukan pembicaraan itu menatap Anna dan laki-laki asing itu dengan bingung dan sontak mereka melihat Sisilia meminta kejelasan karena seperti nya wanita itu mengetahui sesuatu.
Sisilia menghela nafas lelah. "Laki-laki tadi temen kecilnya Anna, namanya Aldres"
***
Aldres menatap ruangan Anna itu setiap sudut dan tersenyum kala Anna menyuguhkan secangkir teh dan camilan untuknya.
"Lihatlah, gadis kecil ku sudah menjadi orang yang hebat"bangga Aldres.
"Kayak kamu gak aja, tuan pengacara Aldres"balas Anna.
Aldres terkekeh saja dan meminum tehnya. Setelah bertahun-tahun lulus dari SMA dan masuk ke universitas mengambil jurusan hukum dan lulus dengan cepat juga hebat akhirnya Aldres menjadi seorang pengacara hebat dan berharap memiliki firma nya sendiri karena saat ini dirinya masih berada di firma hukum orang hebat yang menjadi panutannya.
"Jadi kamu kesini ada pengadilan yang harus dihadiri?"tanya Anna sambil membuka bungkusan camilannya.
"Iya, mumpung di kota yang sama dengan kamu ya aku mampir"kata Aldres senang membuka mulutnya memberikan kode jika dirinya ingin disuapi camilan oleh Anna.
Anna terkekeh tak habis pikir dengan tingkah teman masa kecil nya itu namun tetap ia suapi Aldres yang sangat senang.
"Kamu itu, nanti pacar kamu marah lagi sama Anna"keluh Anna tertawa. Mengingat kekasih Aldres cukup protektif pada Aldres.
"Gak usah dipikirin aku kan manja sama gadis yang sudah ku anggap adikku sendiri ini"kata Aldres gemas menguyel pipi chubby Anna yang sudah bertahun-tahun tidak pernah hilang.
Anna mengenyahkan tangan Aldres itu meringis kesakitan karena ulah si laki-laki.
Aldres sendiri hanya terkekeh saja menikmati reaksi Anna yang selalu ia usili itu.
Sudah lama rasanya tidak melihat Anna memperlihatkan senyuman yang begitu lepas seperti ini.