Millisanna

Millisanna
Bab 153



Sraakk sraakk.


Renata sekuat tenaga menggeret Anna yang masih terikat dikursi itu.


"Argh sialan! Menyusahkan saja!"keluh Renata melepaskan begitu saja pegangannya pada Anna membuat tubuh Anna yang masih dikursi itu jatuh begitu saja.


Bruk.


"Hah dasar sampah! Untuk membunuhmu saja benar-benar merepotkan!"


Sraatt. Sraat.


Renata memutus ikatan Anna dengan pisau lipatnya tidak peduli jika pisau itu melukai Anna.


Greett. Bruk.


"Akh!"ringis Anna saat rambutnya dijambak oleh Renata membuatnya gagal untuk kabur, sontak meminta tenaga melepaskan jambakan wanita itu dengan mencengkram tangan Renata dengan kedua tangannya.


"Berani sekali kau ya pura-pura seperti sudah mati taunya mencoba untuk kabur!"kesal Renata dibuat murka oleh tingkah Anna.


Jleb.


"Argh!! Sakiitt! Akh!!"jerit Anna nak kesetanan karena tenaga menusuk kedua tangannya dengan pisau yang menembus kedua tangannya yang membuat cengkraman kedua tangannya terlepas dari tangan Renata.


"Akh!! Ahh!! Sakit!!"


"Berisik! Hentikan teriakan mu itu!"kesal Renata pada Anna yang tetap saja menjerit kesakitan bahkan menangis membuat telinga pengang saja.


"Kau memang minta ingin cepat dihabisi"kesal Renata menggeret Anna dengan menarik rambutnya membiarkan tubuh Anna itu tergeret terluka karena gesekan dengan kerikil-kerikil tajam sekitar bangunan pabrik bekas itu dan semak-semak tajam didalam hutan sekitar pabrik bekas itu.


Renata tidak asal pilih memilih tempat ini sebagai tempat menculik Anna. Karena selain tempatnya sangat terbengkalai, dibelakang bangunan pabrik bekas itu ada sebuah hutan yang rindang dan jika semakin dalam masuk kedalam hutan dirinya menemukan sebuah tebing tinggi dengan dasarnya sebuah sungai yang sisian sungai berupa batu-batu besar.


Tempat yang pas untuk membunuh Anna dengan mendorong nya dan membiarkan tubuhnya hancur karena menghantam batu dengan kepala pecah.


"Tenanglah, sebentar lagi kau akan mati. Aku tau kehidupanmu sangat berat kau tidak perlu berterimakasih karena aku menghilangkan kesulitanmu itu dengan membunuhmu"kata Renata.


"Tidak perlu takut, aku yakin rasanya tidak akan sakit. Bukankah aku sangat baik?"kekeh Renata melanjutkan perkataannya.


Menyusuri hutan dan semakin kedalam dan akhirnya Renata sampai ke tempat yang ia tuju. Melepaskan Anna dan melihat kebawah tebing dan menyeringai puas dilihat sepertinya sungai disana terlihat mengering.


Drap drap drap.


Berbalik menatap datar pada Anna yang terlihat berlari kepayahan kabur darinya membuat Renata mendengus sebal.


Mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan menembak kaki Anna membuat Anna ambruk terjerembab.


Dor. Bruk.


"Akh hiks hiks"Anna hanya bisa meringis kesakitan dijatuhnya menangis merasakan sakit disekujur tubuhnya terlebih kedua tangannya yang masih tertusuk pisau dan salah satu kakinya yang tertanam peluru yang terasa sangat panas.


"Tidak pernah belajar dari pengalaman ya kau ini"kata Renata tak habis pikir kembali menggeret Anna kembali membawanya ke sisian tebing.


Sraakk.


"Lihatlah kita punya penonton spesial"kekeh Renata melihat Azriel yang sepertinya telah selesai menghabisi orang-orang nya karena laki-laki itu datang bersama para bawahannya mengepungnya.


Azriel sendiri menatap ngeri kondisi Anna yang benar-benar sangat mengerikan. Renata benar-benar menyiksanya.


Menatap geram Renata Azriel mengacungkan katananya mengarah pada Renata. "Lepaskan dia, aku akan membunuhmu sialan!"geram Azriel seraya berjalan mendekat namun terhenti mematung karena wanita gila itu mendorong tubuh Anna begitu saja.


Duk.


"Bangsat!"geram Azriel sontak berlari dan ikut melompat ke tebing untuk menyelamatkan Anna.


"Tuan!!!"seru orang-orang nya terkejut bukan main melihat Azriel yang tiba-tiba melompat ke tebing itu.


"Hahahaha mati saja kau dasar laki-laki tidak berguna! Kau menolak ku yang jelas-jelas sempurna ini! Hiduplah bahagia kalian di neraka bajingan!"kata Renata menggila.


Dor.


Renata dengan mata melotot menatap dendam pada Ravi yang berani sekali laki-laki itu menembak dirinya.


Renata bersumpah akan membalas perbuatan bawahan Azriel itu dikehidupan selanjutnya.


Srukk.


Tubuh Renata jatuh ke tebing dengan kepala yang berlubang karena ditembak oleh Ravi yang menembaknya.


"Bajingan hiks hiks"kesal Ravi benar-benar merasa kesal merasa sia-sia dirinya membunuh Renata karena sang tuan bahkan Anna mungkin saja tidak selamat.


"Argh!!! Sialan!!!"teriak Ravi menggila menangisi jika semua ini sia-sia karena sang tuan yang bahkan meregang nyawanya.


Para bawahan hanya bisa menunduk dan menahan tangis mereka merasa semakin sakit melihat ketua mereka begitu terpukul. Mereka pun sama terpukulnya karena kehilangan tuan mereka.


Tap.


Satu orang bawahan berjalan ke sisia tebing memeriksa kondisi tiga orang yang terjatuh tadi dan melihat mayat Renata dengan kepalanya yang pecah hancur lebur karena menghantam batu besar dibawah sana.


Hanya Renata membuat membuat bawahan itu sontak terkejut. "Ketua! Tuan muda dan nona Anna tidak ada!!"serunya sontak.


Mereka begitu juga dengan Ravi pun sontak ikut melihat kesisian tebing dan memeriksa jika benar saja hanya ada tubuh hancur Renata disana.


Ravi sontak melihat kearah aliran sungai yang tidak terlalu kencang itu terlihat sedikit berwarna keruh dan terlihat mengalir tidak menggenang disatu tempat membuat Ravi kembali mendapatkan harapannya.


"Mereka jatuh ke sungai! Mungkin saja mereka selamat! Cepat cari!"suruh Ravi pada para bawahannya menyuruh mereka untuk mencari Azriel dan Anna.