
Anna membuka matanya dan melihat langit-langit kamarnya lantas melihat kearah jam yang menunjukan pukul setengah 6 pagi.
Dirinya harus segera bersiap untuk pergi ke sekolah, namun Anna tidak ingin pergi.
Sekolah bahkan menjadi tempat yang lebih mengerikan dari tempat-tempat yang menurutnya sangat mengerikan.
Bahkan mungkin saja sekarang rumahnya lebih baik dari pada sekolah.
Tok tok.
"Anna kau sudah bangun? Ayo bersiap, kau harus sekolah"
Mendengar suara ibunya yang mengetuk pintu membuat Anna menghela nafas, dirinya harus menuruti perkataan ibunya.
"Iya ma Anna udah bangun"kata Anna seraya bangkit dari tempat tidurnya melangkah untuk pergi ke kamar mandi namun terhenti kala dirinya melewati cermin.
Anna berhenti menatap pantulan dirinya didalam cermin yang memperlihatkan sosoknya dari atas sampai bawah.
Memegang lehernya yang disana masih ada bekas cakaran dari kuku yang menancap kala orang itu mencekiknya. Lalu meraih bawahan piyamanya yang ia angkat dan memperlihatkan luka jahitan diperutnya.
Semua kejadian yang ia alami beberapa bulan yang lalu nyata karena bekas lukanya pun nyata, dan kenyataan akan terjadinya kejadian itu adalah situasinya saat ini.
Anna telah naik ke kelas 12 dan saat ujian kenaikan kelas Anna menempati peringkat pertama, dan bisa ditebak kenapa Anna bisa menempati peringkat pertama, karena si peringkat pertama telah tiada.
Karena Azriel yang sudah tidak ada Anna dengan mudah mengambil semua tempat pertama yang biasanya laki-laki itu tempati.
Rangking satu dikelas, rangking satu seangkatan, bahkan disetiap olimpiade yang Anna ikuti semuanya mendapatkan peringkat satu.
Keinginan Anna, juga keinginan sang ibu akhirnya terkabulkan dengan Anna yang menempati peringkat pertama.
Ibunya bahkan merubah sikapnya kala Anna menduduki peringkat pertama, ibunya jadi lebih perhatian dan sayang padanya.
Ya Anna menyukainya, tapi Anna menyayangkan sikap ibunya yang benar-benar akan bersikap baik jika Anna mendapat peringkat pertama.
Tapi usaha Anna untuk mendapatkan rangking satu nyatanya cukup ekstrim, atau mungkin sangat gila, karena untuk mendapatkan peringkat pertama Anna harus membunuh Azriel terlebih dahulu.
Azriel meninggal kan karena Anna jadi apa yang dikatakan oleh orang-orang disekolah itu benar adanya jika Anna benar-benar seorang pembunuh hanya untuk mendapatkan rangking satu.
Anna adalah gadis yang mengerikan.
***
"Benar tidak mau diantar?"tanya ibu pada Anna yang akan pergi sekolah itu.
Anna menggeleng jika dirinya tidak perlu diantar untuk pergi ke sekolah karena biasanya juga kau pergi sendiri.
"Atau mau nebeng sama Sarah? Lumayan kan"kata ibu melihat pada Sarah.
Sarah sendiri yang sedang memakan sarapannya terkekeh sarkas melihat ibunya yang sekarang ini benar-benar perhatian pada Anna, dirinya sendiri sih menikmatinya karena Sarah yakin kakaknya itu tetap saja menderita.
Bagaimana tidak menderita Anna menjadi peringkat pertama sekarang karena telah membunuh orang yang dulunya selalu peringkat pertama.
Bukan hanya disekolah Anna saja disekolah sekitar begitu juga sekolah Sarah berita tentang Anna yang membunuh Azriel itu sudah menjadi pembicaraan umum yang selalu dibicarakan.
"Bahagia banget ya hidup Lo sekarang"kekeh Sarah sarkas pada Anna.
"Ya bahagia lah orang kakakmu itu peringkat pertama disekolah, kamu sendiri kok bahagia-bahagia aja gak rangking sama sekali? Belajar lebih rajin Sarah, biar kamu bisa masuk perguruan tinggi yang bagus"kata ibu menyahuti perkataan Sarah itu.
Sarah mendelik sebal pada sang ibu yang malah membandingkannya dengan Anna.
Lantas masih dengan kekehan sarkas nya Sarah merasa dirinya bisa membalas perkataan sang ibu yang sekarang-sekarang ini sering kali membanding-bandingkan dirinya dan Anna.
"Iya aku bahagia walaupun aku bodoh, daripada pintar tapi gara-gara bunuh orang"kata Sarah dengan suara keras karena Anna yang sudah mulai berangkat sekolah itu berjalan keluar rumah.
***
"Astaga dia benar-benar tidak punya muka"
"Jauh jauh, jaga jarak ada pembunuh"
Anna hanya menunduk menatap langkahnya menuju kelas mengabaikan orang-orang yang selalu membicarakan dan menghinanya setiap dirinya muncul itu.
Yah sudah sejak akhir kelas 11 Anna seperti ini, dan dirinya harus bertahan hidup disekolah dari caci maki orang-orang selama satu semester lagi sebelum ia lulus.
Tak melawan dan hanya bisa menunduk dan menerima semua omongan dan perlakuan jahat orang-orang karena Anna berpikir dirinya memanglah seorang pembunuh.
Sraakk. Bruk. Byuurr.
Anna terjatuh dengan tubuh bagian depannya menghantam lantai duluan dan setelahnya bisa Anna rasakan tubuhnya diguyur air yang sangat banyak membuat koridor itu pun banjir
Suara gelak tawa dan juga makian muncul seraya Anna mencoba untuk bangkit dalam keadaan basah kuyup itu.
Srett.
"Akh!"Anna menjerit kala rambut ekor kudanya ditarik keras oleh Vanessa sampai Anna menanggah meringis kesakitan.
"Heh Lo beneran gak punya malu dan rasa bersalah banget ya?!"bentak Vanessa pada Anna.
"Lo itu ngebunuh Azriel sialan! Lo penyebab Azriel meninggal! Kenapa Lo setembok ini hah?!"murka Vanessa dengan aliran air mata karena dirinya benar-benar kelewat kesal dan juga tidak terima jika laki-laki yang disukainya meninggal dengan cara yang mengerikan.
Ditabrak oleh mobil yang dikendarai oleh wanita psikopat penguntit gila yang bertahun-tahun mengincar Azriel dengan mentargetkan Anna dan Azriel mengorbankan nyawa nya untuk menyelamatkan cewek gak tau diri dan kurang ajar seperti Anna.
Anna sendiri hanya bisa menggigit bibirnya kuat dirinya juga sejujurnya tidak mau diselamatkan Azriel, malah dirinya ingin menyelamatkan laki-laki itu namun dirinya gagal.
"Akh!" Bruk.
Anna terjatuh karena didorong keras oleh Vanessa.
"Gue beneran udah muak sama Lo, saking muaknya gue berharap Lo cepet mati sialan!"kesal Vanessa menginjak tangan Anna dan berlalu begitu saja diikuti oleh kedua temannya.
***
Anna sedang berada di rooftop duduk bersimpuh membiarkan dirinya kering karena panasnya matahari dan juga angin sepoi-sepoi yang menerpanya.
Melamun menatap kedepan melihat pada pagar pembatas rooftop yang biasanya disana ada sosok Azriel disana namun sekarang kosong karena laki-laki sudah tiada.
Menggigit bibir kuat Anna benar-benar merasa bersalah pada Azriel. Ia benar-benar tidak berguna, hanya orang pembawa bencana untuk orang-orang disekitarnya apalagi untuk Azriel.
Anna baru sadar jika Azriel sering direpotkan karena menolongnya yang selalu dibully dan puncaknya adalah Azriel bahkan harus kehilangan nyawanya karena lagi-lagi menolongnya.
Menanggahkan wajahnya Anna membiarkan aliran air matanya mengalir menuruni wajah dan berakhir menetes dari rahangnya.
Menatap langit biru disana Anna benar-benar merasa bersalah.
"Maaf, maafin Anna. Anna emang gak berguna"tangis Anna pecah kala mengatakan hal tersebut.
Tidak tahu harus bagaimana lagi Anna benar-benar merasa sangat bersalah dan berdosa. Apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahan dan dosanya ini, tidak ada yang bisa ia lakukan karena untuk menebus dosanya Anna memerlukan Azriel yang hidup namun laki-laki itu sudah tiada.
Anna hanya bisa menangis dan senantiasa meminta maaf tapi semua itu tidak pernah membuatnya lega, rasa bersalahnya ini selalu akan ada sampai ia mati karena ini adalah karma akibat dari perbuatan kejinya.
***
Triing triing.
Anna terbangun dan melihat ponselnya berbunyi yang mendapatkan pesan jika dirinya harus segera ke ruang operasi.
Menghapus air matanya yang mungkin saja muncul saat dirinya tertidur tadi.
Sudah menjadi kebiasaannya setiap tidur Anna selalu memimpikan hal-hal dimasa lalunya, tidak bisa hilang dan berubah karena ini adalah karma untuk nya.
Menghela nafas seraya menyenderkan punggungnya disenderan kursi, mengangkat tangan kirinya yang dihiasi oleh sebuah gelang, Anna menatap sendu gelang tersebut.
"Maafkan aku, aku benar-benar pecundang"gumam Anna seraya mengusap gelang tersebut dan bangkit dari duduknya, ia harus segera ke ruang operasi.