
Anna melangkah masuk kedalam rumahnya seraya mengucapkan salam namun salamnya tak selesai karena terkejut dengan sosok ibu yang sudah berdiri disana menunggunya dengan tangan terlipat didada memelototinya kentara sekali jika sedang marah.
Anna hanya bisa menunduk, dirinya sudah bertekad akan menerima semua kemarahan sang ibu bahkan sejak dirinya memilih untuk menonton pertandingan basket dan bertemu Al.
Tadi sebenarnya dirinya akan berjalan-jalan menghabiskan waktu sampai seharusnya ia pulang ke rumah, karena sudah berbohong kenapa tanggung-tanggung tapi Anna tidak jadi melakukannya karena dirinya tidak tahu harus melakukan apa untuk menghabiskan waktu sampai jam 11 malam nanti.
Jika hanya jalan-jalan kosong saja dirinya seperti orang aneh tanpa tujuan walau dirinya melakukannya pun karena tak ada tujuan.
Plak.
Ibu memukul Anna sekeras yang ia bisa, dirinya terlalu merasa kesal dengan anak tidak berguna nya.
Apa sebenarnya yang dipikirkan anak bodohnya itu?! Bagaimana bisa anak itu berani sekali melakukan bolos disaat dirinya tak pernah mendapatkan rangking 1 dan bisa-bisanya anak itu bolos, apa dia sudah gila?
"Apa kamu terima aja hah ibunya direndahkan terus karenamu?!"teriak sang ibu benar-benar tak habis pikir dan tidak terima anak bodohnya ini semakin kurang ajar.
Anna hanya menunduk, sedikit menyesal namun perasaan senang dan merasa dirinya berpikir ini adalah pilihan yang tepat karena Anna tidak tahu kapan lagi dirinya akan bisa bertemu Al.
Dirinya sudah bertemu Al dan mengetahui laki-laki itu tidak membencinya membuat Anna berpikir dirinya sudah merasa lega.
"Maaf ma, gak akan Anna lakuin lagi"cicit Anna meminta maaf.
"Harusnya sejak awal jangan pernah kamu lakuin sialan! Sudah tau bodoh tidak berguna tapi berani-beraninya membolos! Memangnya kau sudah bisa mengalahkan anak laki-laki yang selalu diatas mu itu hah?!"kesal sang ibu saking kesalnya sampai memaki-maki Anna.
Anna merasa hatinya sakit menatap sang ibu yang mengumpatinya tak percaya. Sepertinya Anna sudah sangat membuat ibunya marah.
"Denger! Kalo kamu bolos lagi udah gak usah les sekalian, jadi orang bodoh aja sekalian toh kamu gak akan pernah juara satu kecuali anak laki-laki itu mati dan biarin aja mama direndahkan sama kakak-kakak mama yang anaknya sering rangking satu itu!!"kesal ibu mengeluarkan kekesalannya dan pergi begitu saja meninggalkan Anna disana.
Anna menatap kepergian ibunya dengan tatapan yang mengabur karena air mata sudah menggenang sejak Anna dipukul oleh sang ibu.
Satu tetes air mata terjatuh saat Anna mengingat perkataan ibunya. Dirinya akan menjadi juara satu jika Azriel mati atau dari awal laki-laki itu tidak ada dan hidupnya akan sangat bahagia karena ibunya yang bangga padanya.
Apa dirinya harus membunuh Azriel?
***
Gubrak.
Azriel menjatuhkan diri diatas ranjangnya setelah membersihkan diri menatap langit-langit kamarnya melamun, memikirkan pemandangan yang terjadi saat pertandingan berakhir.
Anna yang dipeluk oleh Aldres dan kedekatan mereka yang terlihat sangat akrab.
Azriel tidak menyangka dan tidak menduganya jika Anna akrab dengan Aldres, memangnya ada hubungan apa mereka berdua.
Merubah posisinya menjadi tiduran miring menatap jendela yang terbuka menatap langit malam yang terang karena ada bulan juga banyak bintang disana.
Yang membuat Azriel tidak nyaman bagaimana cara Anna melihat Aldres dan juga panggilan Aldres untuk Anna.
Laki-laki itu memanggil Anna dengan penggalan nama depannya, tidak biasa karena setahunya Anna selalu dipanggil dengan Anna.
"Mili"gumam Azriel tanpa sadar.
'Aku ii' kamu siapa? Kenapa keiket gini?'
Azriel mendengus terkekeh geli, apa-apaan dengan pikirannya ini, jelas-jelas nama mereka berbeda kenapa juga dirinya berpikir jika mereka adalah sama?
Tersenyum tak habis pikir Azriel berpikir dirinya akan pergi tidur saja, sepertinya dirinya mulai mengkhayal yang tidak-tidak.
"Gue harap Anna bukan gadis itu karena gue gak mau ngebenci Anna"gumamnya seraya menutup mata.
***
Anna berjalan masuk ke sekolahnya dengan pikiran berkecamuk, otaknya senantiasa memikirkan perkataan ibunya mengenai jika Azriel mati dirinya akan menjadi juara satu dan tak ada yang mencegahnya untuk kebahagiaannya yaitu menjadi juara satu dan membuat bangga ibunya.
Apa Anna harus menjadi seorang pembunuh hanya untuk meraih juara satu?
Langkahnya terhenti saat mendapati sosok Azriel di parkiran sana terlihat seperti baru tiba karena laki-laki itu baru saja melepas helmnya dan balas menatapnya dari sana.
Anna membunuh Azriel? Ayolah Anna hanya anak payah nan bodoh yang bahkan tak bisa membuat ibunya senang yang selalu mendambakan dirinya menjadi juara satu.
Juara satu saja tidak bisa apalagi membunuh, itu tidak masuk akal.
Lagian Anna berpikir sejujurnya Azriel tidak bersalah disini, bahkan laki-laki itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kehidupannya, hanya saja Anna yang terlalu menjijikan dengan menyalahkan Azriel untuk semua kegagalan yang dialaminya.
Padahal jika Anna pindah sekolah tidak satu sekolah dengan Azriel, Anna yakin dirinya akan menjadi juara satu seperti yang diinginkan ibunya.
Daripada membunuh Azriel lebih baik dirinya pergi dan tidak berhubungan dengan Azriel, pindah sekolah contohnya.
Menghela nafas dan kembali melanjutkan langkahnya Anna putus asa karena meminta untuk pindah sekolah terdengar sangat mudah namun nyatanya tidak mungkin, karena jika sangat mudah dilakukan Anna dari kelas sepuluh mungkin sudah pindah sekolah.
Pada akhirnya Anna hanya bisa meratapi nasibnya yang malang dan berpikir setidaknya dirinya tidak boleh melakukan kesalahan yang akan membuat sang ibu kembali murka.
Dilain sisi Azriel yang memperhatikan Anna disana yang terlihat menatapnya dengan tatapan kosong dan putus asa itu membuat Azriel bingung sendiri.
Bukannya kemarin gadis itu terlihat sangat riang dan senang bersama Aldres kenapa pagi ini gadis itu mendadak seperti kehilangan semangat hidup seperti itu, dan pergi begitu saja seperti tidak ada yang terjadi.
"Cewek itu mood-an apa?"tanya Azriel pada sahabatnya disebelahnya.
Milan menaikkan sebelah alisnya tidak menyangka Azriel tiba-tiba bertanya seperti itu namun oleh Milan diangguki sangat serius.
"Mood-an parah pokoknya"kata Milan serius dari hati yang terdalam.
"Cewek itu detik ini seneng banget tapi detik berikutnya bisa aja melow banget atau enggak galak beringas gitu, contohnya aja nyokap gue, semalem keliatan melow gitu, terus pas pagi keliatan seneng banget dan pas sarapan mendadak galaknya nauzubillah cuma karena bokap komplen kopinya kemanisan padahal biasanya mah enggak gitu!"kata Milan berapi-api curhat tentang paginya yang begitu drama.
Azriel yang mendengar cerita Milan jadi ikut merasakan ngerinya juga, karena Azriel sendiri tahu jika ibu Milan jika marah benar-benar sangat mengerikan.
***
Anna berbelok dibelokan terakhir menuju kelasnya namun pergerakannya tiba-tiba terhenti karena seseorang menarik tasnya kuat sampai Anna yang terkejut terjatuh terjerembab ke belakang menatap Vanessa cs dan Melisa mencegatnya menatapnya rendah.
"Lo itu ternyata emang cewek murahan ya, udah kegatelan sama Azriel sekarang sama si Aldres anak SMAN 13 itu lagi sampe pelukan segala, pick me girl banget ya Lo"kata Vanessa tak habis pikir.
Benar saja jangan menilai buku dari covernya itu. Lihatlah Anna cewek yang kelihatan kutu buku dan polos itu ternyata hanya gimick seperti yang ia duga selama ini sejak cewek itu menjadi cewek pertama yang dibonceng Azriel. Pantas saja Vanessa sangat tidak suka dengan Anna.
Anna tidak tahu apa yang dimaksud oleh Vanessa itu, namun yang pasti semua tindakannya memang selalu salah dimata gadis itu.
"Lo merasa paling cantik hah makanya kegatelan sama cowok-cowok? Kurang belaian apa hah?!"kesal Michelle sudah kelewat kesal.
Bagaimana tidak kesal, Azriel cowok yang disukainya dan diincarnya malah terlihat akrab dengan Anna. Dan juga Aldres, cowok yang menjadi incaran barunya juga ternyata akrab juga dengan Anna membuat Michelle benar-benar muak dan ingin sekali membasmi Anna.
Anna lagi Anna lagi, terus aja Anna dirinya sangat muak.
"Kasih pelajaran aja nih cewek sampah"kata Michelle memprovokasi Vanessa.
"Emang itu rencana gue"kata Vanessa memberikan isyarat pada kedua temannya untuk membawa Anna.