Millisanna

Millisanna
Bab 87



"Besok beneran libur kan lesnya?"tanya Aldres pada Anna yang turun dari motornya itu.


Anna mengangguk saja mengiyakan. "Sekarang juga udah libur"kata Anna santai.


Aldres melotot lebar. "Terus ngapain ke sini?!"tanya Aldres tak menyangka Anna memintanya untuk mengantar gadis itu ke tempat lesnya bukan untuk ke rumahnya, Aldres pikir Anna memang akan pergi les seperti biasa tapi ternyata libur lalu untuk apa gadis itu kemari.


"Ada sedikit urusan, cuma sebentar"kata Anna.


"Kalo gitu Al tungguin"kata Aldres santai turun dari motornya.


"Gak usah Al pulang aja takutnya lama"kata Anna merasa tak enak.


"Kalo Mili cepet-cepet nanti bakal cepet sana cepetan"kata Aldres menyuruh Anna untuk bergegas.


Anna mengangguk saja kalau begitu dirinya tidak akan membiarkan Aldres menunggu lama.


Aldres melihat Anna yang masuk ke gedung tempatnya les itu dengan berlari membuatnya terkekeh sendiri karena melihat tingkah Anna yang lucu, tak ingin membuatnya menunggu gadis itu bahkan sampai berlari.


"Jangan terlalu gemesin nanti gue makin suka"kekeh Aldres.


***


Azriel pulang kerumahnya dan dilihat sepertinya orangtuanya sudah pulang dari dinas luar negeri mereka.


Melangkah masuk ke rumah seraya mengucap salam Azriel mendapati kedua orangtuanya sedang membongkar barang-barang bawaan mereka yang kebanyakan adalah oleh-oleh dari negara yang mereka kunjungi.


Azriel jadi curiga keduanya itu bukannya pergi bekerja tapi malah pergi liburan.


"Ah anak bunda udah pulang"kata bunda saat Azriel menyalaminya kemudian menyalami sang ayah.


"Gimana UTS nya lancar?"tanya ayah pada Azriel.


Azriel mengangguk saja seraya memberikan selembaran tentang hasil keseluruhan ujiannya yang tentu saja diujung kanan atas ada peringkatnya yang menempati peringkat pertama dari keseluruhan siswa kelas 11.


Ayah tersenyum bangga pada Azriel yang lagi-lagi juara satu dari keseluruhan murid-murid yang ada.


"Hadiah karena peringkat satu"kata ayah memberikan beberapa paper bag pada Azriel.


"Makasih yah"kata Azriel menerimanya dengan senang.


Azriel pun izin ke kamar untuk bersih-bersih.


Menaruh oleh-oleh dari orangtuanya Azriel melepas tasnya dan menaruhnya diatas kursi belajarnya berpikir dirinya ingin melihat apa yang dibawakan oleh orangtuanya itu.


Jaket, sepatu, dan barang-barang khas dari negara yang orangtuanya datangi adalah barang-barang yang diberikan oleh mereka pada Azriel.


Azriel bingung melihat jaket dan sepatu brand yang padalah bisa dibeli di situs web brand tersebut tanpa harus pergi ke negara dari mana brand tersebut berasal, ah entahlah Azriel mah gimana orangtuanya saja asal mereka bahagia.


Sisa satu paper bag Azriel jadi penasaran dengan paper bag tersebut karena ada label namanya disitu.


Membuka paper bag itu dengan antusias namun sedetik kemudian badannya gemetar menggigil keringat dingin mulai bermunculan dan nafasnya mulai sesak melihat isi dari paper bag tersebut.


Sontak saja dengan sedikit tenaga yang tersisa Azriel mengambil paper bag tersebut dan langsung melemparnya keluar kearah pintu kaca balkon yang terbuka lebar.


Syung. Psyarr.


"Kyaaaaa!!!"


Orang-orang dirumah tersebut terkejut bukan main saat salah satu maid berteriak membuat mereka panik dan langsung menghampiri sang maid yang berada dipinggir kolam renang disana sedang membersihkan kolam.


"Ada apa?"tanya ayah ketakutan dan khawatir pada maid tersebut.


"Maaf tuan saya terkejut karena itu tiba-tiba jatuh"kata maid itu merasa malu dan bersalah karena membuat orang-orang dirumah heboh karena ulahnya, menunjuk pada sesuatu yang mengapung diatas kolam.


Semuanya pun melihat ke sesuatu yang ditunjuk si maid dan dengan cekatan salah satu butler mengambil alih jaring yang digunakan si maid membersihkan kolam untuk mengambil benda tersebut.


Pluk.


Benda asing yang basah kuyup itu ditaruh didepan ayah Azriel yang langsung memeriksa benda apa itu.


"Sayang itu–"kata ibu ragu-ragu dan tidak menyangka dengan sesuatu tersebut.


Sebuah gaun berwarna biru dengan motif mawar biru beserta setangkai mawar biru yang basah kuyup karena jatuh kedalam kolam.


Sontak ayah berdiri berlari ke sebrang kolam untuk melihat keatas ke arah balkon kamar anaknya yang ternyata terbuka lebar.


"Jiel?! Jiel gak apa-apa?!"teriak ayah mencoba memastikan anaknya baik-baik saja jika anaknya itu menjawab seruannya.


Tok tok tok.


"Jiel Jiel!!"panggil panggil ayah sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Azriel namun tak ada sahutan bahkan kamar sang anak terdengar sangat hening.


Tak menunggu lama ayah langsung membuka pintu kamar Azriel yang untung saja tidak dikunci membuatnya tidak perlu mendobrak.


"Jiel! Sayang?!"seru ayah begitu kahwatir saat melihat Azriel tergeletak dilantai kamarnya tak sadarkan diri dengan nafas yang samar.


"Cepat bawa anakku ke dokter!!!"perintah ayah mutlak pada para bawahannya yang berada disekitar.


***


Anna turun dari motor Aldres, laki-laki itu menungguinya sampai urusannya selesai dan mengantarnya pulang sampai kerumah.


Tidak tepat didepan rumah karena Anna takut dimarahi sang ibu.


"Makasih Al"seperti biasa Anna berterimakasih karena telah diantarkan.


"Sama-sama. Jangan lupa besok karena udah janji kamu"kata Aldres memastikan Anna tidak lupa dengan janjinya untuk jalan-jalan dengannya setelah UTS selesai.


"Enggak akan lupa"kata Anna tersenyum.


Aldres jadi ikut tersenyum. "Nanti Al jemput ya, dandan yang cantik"kekeh Aldres sambil mengusap-usap puncak kepala Anna yang terhiasi jepit rambut.


Ah dia masih menyimpannya.


Anna mengangguk saja mengiyakan perkataan Aldres itu. "Hati-hati pulangnya"


Aldres mengangguk patuh dan tersenyum.


Melihat Aldres yang sudah tidak terlihat lagi Anna mulai melangkahkan kakinya menuju rumah dan masuk seraya mengucapkan salam.


Melihat ada ibunya yang duduk-duduk di sofa membaca sebuah majalah disana.


Dengan ragu dan gugup Anna mengeluarkan lembar hasil UTS nya dan akan memberikannya pada sang ibu.


"Untuk apa? Kau pastinya tetap ranking kedua, tidak berguna"kata ibu bahkan tidak melihat Anna dan menerima lembar hasil UTS nya.


Kegugupan Anna semakin menjadi-jadi dan menjadi takut. "Tapi di kimia nilai Anna paling besar ngalahin Azriel"cicit Anna.


Sang ibu akhirnya mengalihkan pandangannya menatap Anna dengan pandangan tak habis pikir.


"Kau kira mama akan senang mendengar hal itu? Tentu saja tidak dasar bodoh! Mau nilaimu semuanya diatas anak itu tapi tetap peringkat dua sama saja tidak berguna! Peringkat adalah bukti kau itu pintar! Peringkat adalah segalanya dasar bodoh!"


Anna hanya diam menunduk, nyatanya ekspektasi nya perihal sang ibu akan bangga padanya nyatanya hanya angan-angan belaka.


Bagaimana bisa dirinya percaya pada perkataan Azriel yang mengatakan ibunya akan bangga padanya saat tahu nilainya lebih tinggi dari Azriel?


Anna kau benar-benar tidak berguna.


***


Brak.


"Ya Tuhan Al kamu ngapain?"kaget wanita paruh baya saat melihat anak bungsunya mengacak-acak kamar tidur membuatnya seperti kapal pecah.


"Ah mama, mama liat jepit punya Mili gak? Perasaan Al simpen di laci sini tapi kok gak ada?"tanya Aldres saat melihat sang ibu muncul diambang pintu kamarnya.


Sang ibu hanya bisa menghela nafas dan berjalan memasuki kamar anaknya itu yang seperti kapal pecah dan berjongkok untuk memungut sesuatu yang dicari oleh anaknya itu sampai membuat berantakan seperti ini.


"Ini"kata ibu lelah sendiri.


Aldres menatap takjub sang ibu yang langsung menemukan apa yang dicarinya sejak tadi. "Wow ibu ibu emang luar biasa"Aldres takjub sendiri dengan kemampuan khusus yang dimiliki para ibu diseluruh dunia itu.


Menemukan barang yang katanya tidak ada namun begitu ibu turun tangan mencarinya langsung ketemu.


Sang ibu mengangguk saja walau sedikit kesal disebut ibu ibu walau nyatanya ia memang seorang ibu dan memiliki dua anak laki-laki.


"Sekarang beresin kamar kamu, pokoknya harus beres seperti semula"kata ibu tak mau tahu dan berlalu pergi merasa lelah dengan tingkah anaknya yang selalu ada saja tingkah nya.


"Siap komandan"seru Aldres semangat.


Menatap jepit rambut ditangannya dengan tersenyum, Aldres jadi mengingat masa lalu karena benda tersebut.