
"Tolong jemput Millisanna"
***
Anna mematung ditempatnya air matanya tidak ada tanda untuk berhenti entah karena apa dirinya tidak tahu.
Azriel hanya berbicara seperti biasa tidak memarahinya bahkan membentaknya tapi air matanya tidak mau berhenti.
Anna tidak mengerti ia kebingungan tapi hati nya sangat sakit, tidak tahu kenapa mendengar perkataan Azriel tadi sangat menyakitkan hatinya padahal ia tidak tahu apa-apa.
"Berhenti menangis kau ini kenapa sih?!"sebal Anna pada matanya tapi matanya tetap mengeluarkan air matanya tidak mau mendengarkan dirinya yang menyuruh untuk berhenti.
"Aku membencimu"
Kalimat itu senantiasa terngiang-ngiang dikepala Anna, kata-kata yang sama tapi banyak sekali sosok yang mengatakan hal itu padanya.
Dari sosok bocah laki-laki yang wajahnya buram, lalu sosok kecil Aldres, lalu terakhir Azriel yang tadi mengatakannya dengan tatapan datarnya namun kedua matanya kentara sekali jika memperlihatkan sorot mata kebencian dan marah.
"Aku membencimu"
"Aku membencimu"
"Aku–"
Anna berhenti mengusak air matanya dan membiarkannya mengalir tidak lagi menahan dan memberhentikan air mata itu karena Anna mengingat sesuatu.
Bocah laki-laki dengan wajah yang buram itu perlahan terlihat jelas dan berubah menjadi sosok Azriel yang dikenalnya.
"Aku membencimu"
Anna sontak berbalik berlari mengejar Azriel, dirinya harus meminta maaf pada Azriel.
Dirinya yang salah, dirinya yang jahat, dirinya memang pantas dibenci tapi Anna tidak mau dibenci oleh Azriel karena Anna–
"Mau kemana kau?"
"Huh?"
Anna sontak berbalik namun dirinya langsung dihantam oleh sesuatu yang sangat keras dikepalanya sampai rasanya kepalanya hancur dan ambruk.
Bruk.
Pandangan Anna perlahan memburam dan tidak jelas kepalanya sangat nyeri dan bisa ia rasakan sesuatu mengalir disana.
Melihat ada sepasang kaki dengan heels berwarna biru terlihat sebelum semuanya gelap.
Sebenarnya siapa itu dan kenapa dia menyerang Anna dan lagi Anna bahkan belum meminta maaf pada Azriel.
***
Azriel melangkah menaiki tangga rumahnya untuk pergi ke kamarnya namun terhenti kala sang bunda mengehentikannya.
"Kamu habis dari mana? Bukannya kamu gak enak badan kok keluar?"tanya Andari pada anak semata wayangnya itu yang mengatakan tidak enak badan sampai tidak berangkat sekolah tapi anaknya itu pergi keluar dan baru kembali malam-malam seperti ini.
"Jalan-jalan bunda, cari angin"kata Azriel sekenanya dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga dan pergi ke kamarnya menutup pintu dan menguncinya.
Apalagi suaminya mengatakan sampai sekarang orang jahat itu belum kembali ditemukan dan juga mereka semua tidak menyangka jika orang jahat itu masih belum kapok dan masih mencoba untuk mendekati Azriel.
"Ya Tuhan tolong lindungi Jiel"gumam Andari memohon pada Tuhan agar selalu melindungi sang anak.
***
Azriel merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya setelah membersihkan diri, meraih ponselnya setelah menelpon bawahannya itu ia matikan dan begitu ponsel itu aktif banyak sekali notifikasi yang masuk dan kebanyakan dari Aldres membuat Azriel mendengus.
Triingg triingg.
Bahkan laki-laki itu kali ini pun menelponnya.
Menerima panggilan itu Azriel mendekatkan ponselnya ke telinga dengan tidak minat, ia malas berhubungan dengan apa saja yang berhubungan dengan gadis itu.
"Apa?"sewot Azriel.
"Lo! Bawa kemana Mili sialan?!"teriak Aldres begitu panggilannya diangkat oleh Azriel.
"Berisik sialan! Paling juga udah pulang! Tanya ke orangnya bukan ke gue!!"kesal Azriel.
"Sialan Lo kalo ada apa-apa sama Mili Lo mati di tangan gue sialan!"kesal Aldres.
"Terserah gue gak peduli"kata Azriel cuek.
"Lo–"
Klik.
Azriel mematikan panggilannya dengan Aldres dan melempar ponselnya sembarang. Membalikkan posisi tubuhnya menjadi miring dan membuatnya mengarah ke arah jendela balkonnya.
Menatap bulan purnama disana Azriel menghela nafas seraya menutup matanya. Ia muak dengan bulan purnama.
Karena saat bulan purnama gadis itu meninggalkannya dulu dan tidak pernah kembali.
"Dan begitu kembali dia benar-benar menyebalkan"kekeh Azriel merutuki kenapa takdirnya ini cukup melelahkan.
Tidak menyangka jika gadis kecil itu saat ini sangat dekat namun mereka berdua tak saling menyadari jika mereka bahkan lebih dari teman sekelas di SMA.
Mereka lebih dari itu namun dari sisi keduanya mereka sama-sama tak ingat karena mereka sama-sama memiliki trauma yang membuat mereka melupakan atau mungkin ingatan mereka tentang satu sama lain tercampur dengan sesuatu yang dibuat-buat oleh psikiater masing-masing yang merawat mereka kala itu.
Tidak menyalahkan psikiater yang membuat ini semakin rumit karena psikiater hanya ingin membantu mereka lebih baik walau nyatanya malah membuat mereka melupakan satu sama lain.
Mau menyalahkan pun mau menyalahkan siapa, tidak ada yang salah disini, hanya saja takdir yang senantiasa mempermainkan mereka.
***
Didalam sebuah ruangan begitu gelap hanya ada cahaya minim yang masuk dari jendela kecil tanpa kaca dan hanya tiga besi yang menjadi jendela disana sekaligus menjadi ventilasi udara membuat ruangan itu sedikit sumpek dan sangat lembab karena tidak pernah tersorot cahaya apapun.
Disana sesosok gadis yang tak sadarkan diri dengan luka di kepala dan juga luka gesekan parah disepanjang kakinya didudukkan sambil diikat kencang dikursi itu.
Gadis itu dalam tak sadarkan dirinya terlihat sesuatu yang berkilau yang terkena sinar bulan disana turun menuruni pipinya dan berakhir menghilang di kegelapan.
Gadis itu benar-benar merasa sangat bersalah.