
Anna terdiam tidak menyangka jika laki-laki yang ia sangka Azriel itu sedang berada ditempat yang ia tuju. Kenapa laki-laki itu ada disini?
Namun diabaikan nya alasan si laki-laki yang Anna tidak ketahui itu dan malas mencari tahu, Anna melangkah semakin kedepan sejajar dengan si laki-laki namun Anna membuat jarak yang cukup jauh dan memandang jauh ke depan sana yang memperlihatkan pemandangan indah dari lampu-lampu perkotaan yang bersinar terang disana.
Anna tidak tahu hanya melihat hal seperti ini membuatnya merasa tenang. Ternyata healing untuknya tidak terlalu muluk-muluk, hanya diam menatap pemandangan indah ditambah dengan terpaan angin lembut sudah sangat menenangkannya.
"Kau mau bunuh diri? Tempat ini memang bagus untuk bunuh diri"kata laki-laki itu datar tanpa menatap Anna.
Anna melirik dan menatap lekat laki-laki disampingnya yang benar-benar persis dengan teman sekolahnya itu, tapi tidak mungkin karena Azriel sudah meninggalkan, maka dari itu dipastikan laki-laki disampingnya ini bukanlah Azriel.
Dan sepertinya si laki-laki tidak nyaman ditatap begitu intens oleh gadis disebelahnya yang ia ketahui adalah seorang dokter.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"tajam laki-laki itu mengalihkan pandangannya menatap Anna tajam.
Anna berkedip lantas menggeleng lemah. "Tidak, maaf hanya saja– siapa namamu? Berapa umurmu?"kata Anna mengatakan yang bukan merupakan yang ia pikirkan.
Karena yang ia pikirkan 'kamu Azriel? Kamu masih hidup?' tapi Anna berpikir untuk tidak bertanya seperti itu karena takutnya Anna salah.
Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya merasa bingung dengan pertanyaan gadis dokter itu. "Bukannya kau sudah menyebutkan namaku saat kecelakaan kemarin?"
Anna menegang jadi laki-laki didepannya ini benar-benar adalah Azriel? Laki-laki itu baik-baik saja? Entah kenapa Anna merasa sangat lega dan kedua matanya memanas saking merasa senang dan lega nya mengetahui jika Azriel masih hidup dan baik-baik saja.
"Tapi siapa kau bisa tahu namaku?"tanya Azriel.
Anna yang menunduk untuk menyembunyikan sesuatu yang hendak keluar, menetes begitu saja kala Azriel sepertinya tidak mengenalnya.
Anna merasa sakit hati karena disaat bertahun-tahun dirinya selalu dikatakan sebagai mengambil kesempatan atas meninggalnya Azriel, dan bahkan dirinya mendapatkan julukan pembunuh jenius.
Terdengar sedikit keren namun jika tahu arti yang sesungguhnya pasti akan berhenti berpikiran jika sebutan itu keren dan luar biasa karena nyatanya dua kata itu memiliki arti yang memang sesungguhnya bukan sebuah kiasan.
Pembunuh disitu berarti Anna adalah seseorang yang menghilangkan nyawa alias membunuh orang lain. Dan jenius nya adalah memiliki arti yang memang sangat pintar dan berbakat, dan kedua kata itu digabungkan menjadi memiliki arti 'seseorang yang sangat pintar karena membunuh seseorang'.
Selama satu tahun 3 bulan di masa SMA Anna selalu mendapatkan bully yang bahkan sangat diluar akal sehat karena Anna telah membunuh Azriel, Anna menerimanya.
Lalu di universitas pun tidak jauh berbeda karena alumni seangkatannya yang masuk ke universitas yang sama dengannya pun mereka tidak ketinggalan menyebarkan hal tersebut ke orang-orang yang ada di universitas membuat Anna begitu diasingkan dan sesekali atau mungkin sering kali dihakimi oleh orang yang bahkan tidak ia kenal, Anna menerimanya karena Anna memang telah membunuh Azriel.
Anna menganggap semua itu adalah balasan untuknya karena dirinya memang telah membuat Azriel kehilangan nyawanya maka Anna menerimanya saja.
Tapi saat ini laki-laki yang disangka telah meninggal nyata nya selama ini hidup dengan baik, terlihat dari laki-laki itu yang tumbuh dengan seperti ini.
Apa ini? Jadi semua balasan yang menurutnya pantas didapatkannya dan membuat hidupnya menderita seperti dalam neraka itu kenapa sekarang seolah tidak masuk akal?
Jelas-jelas laki-laki yang menjadi alasannya mendapatkan semua perlakuan mengerikan dari orang-orang itu karena dirinya dan orang-orang berpikir Azriel telah tiada.
Hah. Menghela nafas seraya mengusak air mata yang menggenang dimatanya Anna tersenyum.
Mengangkat wajahnya menatap Azriel yang menatapnya bingung terlihat jelas dari sorot mata laki-laki itu walau disini gelap dan wajah laki-laki itu begitu datar namun kedua bola mata sehitam jelaga itu terlihat jelas olehnya.
"Karena kau cukup terkenal, jadi aku mengenalmu, atau mungkin tidak"kata Anna tersenyum.
Azriel mengernyit aneh menatap gadis dokter itu yang menurutnya aneh itu.
"Kalau begitu agar kau mengenali ku, namaku Millisanna, orang-orang biasa memanggilku Anna. Salam kenal"kata Anna memperkenalkan diri pada Azriel.
Azriel sendiri semakin merasa bingung kenapa gadis itu memperkenalkan dirinya lagi, bukannya mereka sudah saling kenal–
Hah?
Azriel mendadak sangat bingung, kenapa otaknya berpikir jika mereka saling mengenal? Dirinya kan tidak kenal dengan gadis dokter dihadapannya ini.
Ini pertemuan mereka yang ketiga kalinya dan kali ini mereka baru saling memperkenalkan diri masing-masing tapi kenapa dirinya mendadak merasa telah mengenal gadis dihadapannya ini.
"Kau baik-baik saja? Hidungmu mengeluarkan darah"
"Hah?"
Azriel sontak mengangkat wajahnya dirinya juga tidak sadar jika sedari tadi dirinya menunduk dan dirinya bisa merasakan sesuatu mengalir dibawah hidung nya.
Ngiiiinngg. Sraakk.
Anna terkejut bukan main melihat Azriel yang mendadak ambruk itu.
"Azriel? Hey kau baik-baik saja?"tanya Anna seraya memastikan ada apa dengan Azriel.
"Jauhkan tanganmu"kata Anna menyuruh Azriel menyingkirkan tangan laki-laki itu yang mencoba menghentikan mimisannya dengan tangannya.
Anna merasa merinding melihat banyak sekali darah yang keluar. Mencari sesuatu didalam tasnya Anna harus menghentikan darah yang senantiasa mengalir.
Azriel yang sedari tadi mengernyit karena kepala nya sangat sakit perlahan membuka matanya dan membuatnya dapat melihat sosok Anna dihadapannya.
Gadis dokter yang terlihat serius itu membuatnya mengingat sesuatu, sesuatu yang samar dan tidak asing.
Sesosok gadis yang terlihat memiliki beberapa luka diwajahnya menangis sesegukan terlihat memohon sesuatu padanya.
"Ugh!"ringis Azriel kala kepalanya semakin merasa nyeri.
Anna semakin khawatir melihat kondisi Azriel, laki-laki itu harus mendapatkan penanganan lanjutan karena sepertinya ada sesuatu yang aneh dengan kepala Azriel.
Anna yang masih mencoba menghentikan mimisannya Azriel satu tangannya yang lain mencari ponselnya dirinya harus memanggil ambulan.
"Sial"keluh Anna saat melihat tidak ada sinyal disini.
Melihat kondisi Azriel emosinya semakin memuncak, ia marah pada keadaan yang seperti ini.
Ayo berpikir. Tidak mungkin Anna membawa Azriel dengan jalan kaki, itu sangat tidak mungkin, meninggalkan Azriel disini dan dirinya mencari bantuan itu juga tidak mungkin.
Semakin merasa khawatir kala melihat kondisi Azriel yang hampir diambang batas kesadaran itu, darahnya tidak berhenti keluar membuat Anna mulai ketakutan karena jika begini terus Azriel akan kehabisan darah.
"Azriel kau kesini pakai apa? Motor? mobil?"tanya Anna kala dirinya menyadari sesuatu.
Tidak mungkinkan Azriel datang kesini jalan kaki atau menggunakan kendaraan umum, karena rasanya sejak masih sekolah Azriel selalu menggunakan kendaraan pribadinya sebuah motor sport dan berharap saat ini Azriel menggunakan mobil.
Diambang kesadarannya Azriel yang lemah menggerakkan pelan tangannya ke saku depan celananya.
Anna yang menyadarinya sontak mengambil sesuatu yang ingin Azriel ambil itu dan berharap itu adalah kunci mobil.
Benar saja itu adalah kunci mobil membuat Anna begitu sangat senang dan langsung memencet tombol kunci dan mencari tahu dimana Azriel memarkirkan mobilnya.
"Disana, tidak terlalu jauh"kata Anna merasa senang.
Maka dengan sepenuh kekuatannya Anna menggendong Azriel dipunggungnya karena laki-laki itu benar-benar lemas tidak memiliki tenaga.
Tidak terlalu kesusahan karena dirinya sudah biasa setelah sering kali dirinya pun harus menggendong pasiennya.
"Bertahanlah Azriel, kali ini Anna benar-benar akan menyelamatkanmu"
Azriel yang kesadarannya sudah diambang batas itu tersenyum tipis dan perlahan matanya mulai tertutup penuh.