
Azriel menunggu Anna diruangan gadis dokter itu. Duduk di kursi milik si gadis dokter bersender sambil memakan permen tongkat yang tentu saja ia dapatkan dari toples kaca yang ada disana yang isinya selalu penuh dengan permen tongkat itu.
Menikmati rasa manis dari susu strawberry yang menjadi rasa permen yang sedang dimakannya itu sembari pikirannya menerawang ke belakang.
Lagi-lagi Azriel merasa rindu, ya rindu karena merasa dulu dirinya sering kali memakan permen tongkat bahkan rasanya ia memiliki flavour kesukaan tersendiri, bukan susu strawberry tapi yang berasa susu melon.
Melihat pada toples tidak ada flavour yang menjadi kesukaannya, satu pun tidak ada karena didalam toples hanya ada dua flavour, susu strawberry dan cokelat saja.
"Benar Anna hanya menyukai rasa cokelat"gumam Azriel tiba-tiba membuat dirinya terkejut sendiri dan kebingungan.
Kenapa dirinya tahu? Sontak saja duduknya menjadi tegak karena keterjutannya dengan dirinya sendiri itu, apa yang barusan? Kenapa dirinya bisa berkata seperti itu?
Memegangi kepalanya yang mendadak nyeri sampai matanya tertutup mengernyit Azriel tidak mengerti, bahkan saat ini sesuatu yang buram sedikit muncul namun Azriel tidak tahu apa itu karena sangat buram.
Sedikit terlihat sebuah tangan kecil yang menyodorkan sesuatu dan sesuatu itu diterima oleh tangan kecil lainnya yang terlihat terikat kencang sampai menyebabkan luka.
Semakin meringis kala penglihatan buram itu mendadak berubah menjadi sesuatu yang mengerikan, sepasang mata biru yang membuat Azriel tersentak ketakutan.
"Azriel!"
Sontak kegelapan dengan hal-hal buram tersebut menghilang dan digantikan dengan sosok Anna dan juga Aldres dihadapannya terlihat si gadis dokter menatapnya dengan khawatir.
"Kamu gak apa-apa?"tanya Anna begitu khawatir kala masuk ke ruangannya mendapati Azriel yang membungkuk penuh diatas kursi terlihat kesakitan sembari memegangi kepalanya.
Azriel sontak menghela nafas dan menyenderkan penuh tubuhnya pada senderan kursi mengatur nafasnya yang entah kenapa mendadak tersengal-sengal.
"Lo beneran oke?"tanya Aldres pada Azriel.
Dan Azriel mendelik sebal pada laki-laki itu, apa laki-laki itu sok akrab dengannya. "Apa masalah Lo?"sewot Azriel.
Aldres berdecak saja, sulit memang untuk akrab dengan bocah songong yang tidak pernah berubah seperti Azriel itu.
"Gue tulus khawatir tapi tanggapan Lo begitu? Sia-sia kekhawatiran gue"sungut Aldres benar-benar kesal dan menjatuhkan dirinya duduk di sofa yang ada diruangan Anna itu.
Anna hanya bisa menghela sabar melihat kedua laki-laki yang ia kira sudah saling berteman itu namun sepertinya mereka sampai sekarang belum berteman.
"Kamu beneran gak apa-apa?"tanya Anna pada Azriel seraya memberikan secangkir teh begitu juga untuk Aldres dan duduk disofa sebelah Aldres.
Azriel mengernyit tidak suka melihat Anna yang dengan santainya duduk disebelah laki-laki itu. "Harus banget Lo duduk disebelah tuh orang?"tanya Azriel tajam pada Anna.
Anna berkedip bingung tidak mengerti sedangkan Aldres menaikkan sebelah alisnya mendapati reaksi Azriel itu lantas ia menyeringai dan dengan sengaja merangkul pundak Anna dan mendekatkan kedua tubuhnya padanya.
"Kenapa? Iri Lo?"kata Aldres memanasi.
Anna mendorong tubuh Aldres dan melepaskan diri bangkit untuk berpindah duduk di kursi depan meja kerjanya kala melihat ekspresi Azriel yang siap untuk baku hantam dengan Aldres itu.
Hah susah memang jika sudah jadi musuh bebuyutan mah, keluh Anna dalam hati.
Lantas ruangan hening karena ketiganya saling diam membuat Anna kembali mengejar nafas, melihat pada Azriel yang terjengit karena dari tadi dia menatap tak suka pada Aldres terkejut karena Anna tiba-tiba menatapnya.
"Jujur padaku, apa kau tadi kesakitan karena mengingat sesuatu?"tanya Anna tiba-tiba pada Azriel.
Azriel berkedip sekali menatap Anna polos karena sedikit takjub dengan gadis dokter itu yang sepertinya mengetahui segalanya, namun dirinya mendelik tajam pada Aldres kala menyadari laki-laki itu terlihat antusias mendengarkan.
"Gue gak akan bilang apa-apa kalo ada dia"kata Azriel melirik Aldres.
Aldres yang mendengarnya merasa tersinggung, Azriel ini benar-benar memaksanya untuk menghajarnya.
"Sebenarnya apa sih masalah Lo sama gue sialan?!"kesal Aldres benar-benar sudah muak dengan Azriel bangkit akan menghajar laki-laki itu.
Azriel pun bangkit dan akan juga menghajar Aldres karena dirinya sudah menunggu untuk menghajar laki-laki itu.
Anna ditempatnya hanya bisa menghela nafas panjang dan bangkit dari duduknya hendak mencegah kedua laki-laki itu bertengkar dan menghancurkan ruangannya itu.
"Tenanglah kalian berdua–"
Tok tok. Ceklek.
Mereka semua sontak terdiam, entah Aldres dan Azriel yang tidak jadi baku hantam, juga Anna yang terdiam menatap seseorang yang membuka pintu ruangannya itu, dan bahkan seseorang yang mengetuk dan membuka pintu itu yang merupakan Ravi ikut terdiam menatap ketiga orang yang berada didalam ruangan itu dengan syok.
Karena dari pandangan Ravi, tuannya dengan satu laki-laki lainnya terlihat hendak menyerang Anna yang terlihat mungil diantara keduanya yang memepet gadis dokter itu.
"Maaf mengganggu, tolong jangan berlebihan"kata Ravi kembali menutup pintu urung masuk.
"Apa maksudmu?!/Apaan sialan?!"seru Azriel dan Aldres yang kesal sekali dengan tingkah Ravi itu seolah membuat mereka terlihat seperti laki-laki bajingan.
Anna menghela lelah berjalan untuk kembali membuka pintu ruangannya itu menatap Ravi yang hanya tersenyum saja disana.
"Ada apa?"tanya Anna langsung.
"Ku dengar dari Maria jika tuan ku ada disini, aku akan menjemputnya, sudah waktunya pulang"jelas Ravi.
Anna mengangguk saja mengerti, melihat pada kedua laki-laki yang berdiri bersisian menatapnya polos.
"Waktunya untuk kalian pulang, sana pergi"usir Anna pada mereka.
"He?!!"seru keduanya merasa keberatan.
Mereka memang tidak terima harus pulang namun tetap saja menurut karena Anna memaksa mereka untuk pulang dan juga kedua laki-laki memang harus pulang karena pekerjaan mereka sudah menunggu.
Anna mengantar mereka sampai ke area parkir rumah sakit. Yang diantar pertama adalah Aldres karena laki-laki itu sepertinya sudah mendapat panggilan untuk pekerjaan selanjutnya dan itu terdengar sangat serius.
Aldres menghela nafas panjang, melihat Anna sedih padahal sudah lama tidak bertemu tapi sekalinya bertemu sangat sebentar dan lagi harus bersamaan dengan si sialan Azriel lagi, benar-benar menyebalkan.
Mendelik sebal pada Azriel, Aldres benar-benar mendendam pada laki-laki yang merusak suasana itu.
Kembali menatap Anna Aldres langsung memeluk gadis itu erat merasa sangat kurang sekali waktunya ini dalam menghabiskan waktu bersama Anna.
Azriel yang melihat Aldres memeluk Anna itu sangat terkejut dan entah kenapa emosinya mendadak memuncak akan ia pisahkan keduanya jika Ravi disebelahnya tidak menahannya, yang berakhir Ravi yang mendapatkan pelototan dari tuannya itu.
"Sering-sering pulang lah, ibu sama ayah kangen banget tau"kata Aldres pada Anna seraya mengurai pelukannya.
Anna mengangguk saja walau tidak janji akan sering pulang karena dirinya cukup sibuk disini. "Iya, tapi gak janji"kekeh Anna sedikit merasa bersalah.
Aldres mengangguk saja mengerti kondisi Anna saat ini. "Kalo gitu aku pulang ya, sehat-sehat disini, jangan berlebihan bekerja"kata Aldres berpesan pada Anna.
Anna mengangguk saja tersenyum seraya mengangkat jempolnya.
Aldres tersenyum melihatnya lantas berjalan ke arah pintu mobilnya membukanya tak langsung masuk, Aldres menatap Azriel serius.
"Sebaiknya Lo cepet-cepet dapetin ingatan Lo sialan! Lo itu benar-benar membuat Anna menderita!"kata Aldres lantang dan masuk kedalam mobilnya membuat Azriel kebingungan dan Anna hanya bisa merutuki sikap Aldres itu, sudah diperingati tapi tetap saja laki-laki itu melakukan hal yang tidak perlu seperti ini.
Mobil yang dikendarai Aldres pun pergi meninggalkan Anna yang hanya bisa merutuk dan Azriel yang menatap bingung pada Anna.
"Gue bikin Lo menderita? Dimasa lalu?"tanya Azriel langsung.
Anna menghela nafas kasar sebelum dirinya menghadap pada Azriel tersenyum seraya menggeleng. "Enggak, itu cuma bercanda. Azriel baik kok, walau gak terlalu kenal tapi Azriel baik"kata Anna jujur.
Azriel sedikit tidak puas dengan jawabannya Anna, karena mendengar dan melihat ekspresi Aldres tadi yang terlihat benar-benar dendam sekali padanya membuat Azriel jadi merasa ada sesuatu yang salah dengan jawaban Anna.
"Beneran itu cuma bercanda, Azriel orang yang baik banget, tanya aja Ravi, dia kan orang terdekatnya Azriel sejak awal"kata Anna sedikit membawa nama Ravi karena dirinya membutuhkan bantuan disini.
Ravi yang namanya dibawa-bawa pun sedikit terkejut dan semakin terjengit kala tuannya jadi menatapnya dengan tatapan masih tidak percaya.
"Kau harus segera kembali kan? Cepat kembali sana, dan untuk soal ingatan mu, cobalah untuk menanyakannya pada orang-orang terdekatmu itu, itu mungkin akan sangat membantu"kata Anna pada Azriel.
Azriel menatap Anna, si gadis dokter terlihat kikuk dan seolah menyuruhnya untuk pergi untuk kabur. Walau begitu Azriel menurut saja dan berbalik begitu saja berjalan menuju mobilnya dan masuk kedalamnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Anna yang melihatnya sedikit merasa nyeri namun itu yang terbaik, menatap Ravi yang juga melihatnya gadis itu pun tersenyum dan mempersilahkan Ravi yang pamit itu.
Anna memperhatikan mobil yang dikendarai keduanya dengan diam sampai mobil itu melewatinya dan pergi meninggalkan area rumah sakit dan juga dirinya yang hanya bisa menghela nafas karena rasanya cukup melelahkan beberapa hari ini.