Millisanna

Millisanna
Bab 77



Azriel dan Milan memarkirkan motor mereka di parkiran yang mungkin akan menjadi spot khusus untuk mereka.


Hari ini adalah hari pertama mereka menjadi siswa SMA, dan mereka sudah menjadi pusat perhatian oleh para murid lain.


Mungkin untuk orang-orang seangkatan mereka, mereka sudah tidak terkejut karena mereka semua sudah terkejut duluan saat mendapati dua sosok pangeran diantara mereka yang sedang orientasi saat itu.


Namun untuk para kakak kelas pastinya mereka pertama kalinya melihat langsung mereka. Mungkin beberapa sudah ada yang mendengar rumornya tapi rumor tersebut sekarang menjadi kenyataan.


"Gak sekelas nih kita?"tanya Milan sambil memandang bangunan besar sekolah baru mereka itu.


Sangat disayangkan dirinya dan Azriel tidak satu kelas, padahal saat masa orientasi mereka satu kelas.


Azriel 10-1 dan Milan 10-4, kelas mereka bahkan cukup jauh satu sama lain.


Azirel tidak menjawab dan mulai melangkah diikuti Milan yang tentu saja tidak sakit hati karena dirinya sudah terbiasa dengan sikap Azriel yang irit bicara itu sejak mereka kecil.


Berjalan beriringan dengan Milan berjalan dibelakang karena laki-laki itu sedang mematai keseluruhan bangunan sekolahnya itu karena saat MOS dirinya tidak memperhatikan dengan benar-benar karena tuntutan harus cepat dan bergegas, telat sedikit atau tidak fokus sedikit bisa berakhir hukuman.


"Papa sama om Aryan emang terbaik bangun ni sekolah, keren"gumam Milan kecil memuji kehebatan kedua orangtua mereka yang juga sahabat sejak kecil itu yang memiliki kelebihan dalam bidang arsitektur.


"Jangan keras-keras"peringat Azriel yang mendengar gumaman Milan itu yang ternyata terdengar oleh Azriel.


Milan mengangguk saja seraya terkekeh, dirinya tentu saja akan mengunci rapat mulutnya mengenai latar belakang mereka yang berhubungan erat dengan SMA Arya ini.


Tap.


Milan mendadak berhenti saat melihat Azriel yang juga mendadak berhenti itu, memiringkan tubuhnya untuk mengintip apa yang membuat sahabatnya itu berhenti berjalan.


Dan Milan bisa mendapati sesosok gadis berdiri didepa mading sana, bukan sembarang gadis karena gadis itu adalah murid rekomendasi seperti mereka berdua bahkan gadis itu memiliki nilai nyaris tipis dengan Azriel sang juara pertama diujian masuk SMA Arya yang terkenal sangat sulit.


"Kenapa?"tanya Milan.


"Dia sekelas sama gue"kata Azriel cuek dan melanjutkan langkahnya berbelok menuju kelasnya.


Milan yang ditinggal mengedikkan bahu lantas berjalan menuju mading atau lebih tepatnya mendekati si gadis yang tadi ia bicarakan.


"Hebat ya Lo bisa di peringkat kedua"kata Milan mencoba mengajak berbicara si gadis.


"Kamu juga hebat diperingkat ketiga, itu"balas si gadis menunjuk nama Milan yang ada diperingkat ketiga dibawah nama si gadis.


Milan ikut melihat yang ditunjuk si gadis seraya terkekeh. "Gue banting tulang buat ngedapetin nilai segitu"kata Milan.


"Anna juga sama"kata gadis itu menatap Milan lantas tersenyum mengangguk dan pergi meninggalkan Milan disana yang melongo memperhatikan kepergian si gadis.


Berkedip-kedip bingung Milan jadi kepikiran sesuatu. "Matanya tadi berair atau emang sejernih itu sampe keliatan berkilau?"bingung Milan.


***


Seminggu menjalani kehidupan sebagai murid SMA Azriel dan Milan terkhusus Azriel sudah menjadi incara banyak murid, entah para cewek dari yang seangkatan sampai ke kakak kelas, ataupun cowok khususnya yang dikatakan si pentolan sekolah kakak kelas 12 yang ingin merekrut Azriel untuk bergabung dengan geng berandalan nya.


"Yo Azriel, Lo ada waktu?"tanya kakak kelas itu pada Azriel langsung mengambil duduk dikursi depan Azriel yang sedang mencoba untuk menikmati makanannya diwaktu istirahat ini.


"Gue gak punya"kata Azriel cuek dan dinging langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan si senior yang melongo karena lagi-lagi ajakannya ditolak begitu saja.


"Lo juga ada waktu? Atau enggak Lo bisa gak sih ngerayu si Azriel biar bisa gabung sama gue dan yang lainnya?"tanya senior itu pada Milan.


Milan menatap senior itu tajam. "Untuk apa gue ngerayu si Jiel buat join sama geng gak berguna Lo?"tanya Milan begitu berani, habisnya dirinya sudah muak dengan kakak kelas itu yang selalu menganggu Azriel juga dirinya.


"Lo?!"


Jam pulang sekolah, Azriel berjalan sendirian menuju parkiran karena Milan masih ada yang harus dilakukan laki-laki itu dan anak segera menyusul menyuruh Azriel untuk pulang duluan saja jika tak mau menunggu.


Sampai di parkiran tidak melihat ada tanda-tanda Milan yang muncul Azriel pun berpikir untuk pulang duluan saja, toh nanti sahabatnya itu akan pulang ke rumah yang sama dengannya juga Arjuna.


Naik ke motornya dan memundurkan motornya dan membelokkannya siap menyalakan mesinnya namun ada sesuatu yang membuatnya jadi berhenti bergerak.


Hap.


"Hai Jiel. Anterin gue pulang ya?"kata Vanessa yang tiba-tiba muncul dan sudah duduk di boncengan motornya bahkan memeluk pinggangnya menempelkan tubuh bagian depan cewek itu ke tubuh belakangnya.


Azriel sontak murka dan langsung mendorong kasar sampai jatuh Vanessa itu dari motornya.


Bruk.


Vanessa meringis kesakitan dan sudah menangis karena kakinya luka berdarah juga kedua sikurnya yang dijadikan tumpuan dan pantatnya sangat sakit karena menjadi bagian tubuhnya yang menghantam tanah dari ketinggian yang cukup tinggi dari motor sport Azriel.


"Astaga Jiel?!"seru Milan berteriak terkejut melihat kelakuan sahabatnya itu, dirinya sontak memeriksa kondisi Vanessa dan menatap Azriel yang terlihat tidak ada merasa kasihan atau bersalah sama sekali yang ada sahabatnya itu menatap berang dan murka Vanessa.


"Salah dia karena gak punya sopan santun"kata Azriel dingin memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya dan melaju kencang dengan deruan sangat kencang.


Milan menghela saja melihat tingkah laku sahabatnya itu, dirinya tahu jika Azriel sedikit berantakan dengan emosinya tapi dirinya tak menyangka jika Azriel akan seperti ini.


"Dua temen Lo mana?"tanya Milan melihat kesana kemari untuk mencari dua cewek yang selalu ia lihat bareng si Vanessa ini.


"Vanessa!!"


Panjang umur keduanya muncul berlari dengan raut khawatir menuju Vanessa.


"Nah Lo pada bawa temen Lo ini ke UKS sebelum pulang"kata Milan menyuruh mereka untuk membawa ke UKS, dirinya harus segera menyusul Azriel karena takut-takut sahabatnya itu berulah juga dijalan.


***


Adanya olimpiade cukup membuat satu sekolahan heboh apalagi para siswinya karena tahu jika Azriel akan memiliki pasangan untuk olimpiade yang merupakan seorang cewek teman satu kelasnya yang bernama Anna.


Semakin heboh saat Azriel yang terkenal tak memperbolehkan siapapun menaiki motornya sejak kejadian Vanessa itu, tak menyangka seorang Anna bisa dengan mudah dan nyamannya berada di boncengan motornya Azriel.


Milan yang sedang membolos itu memperhatikan bagaimana sahabatnya itu dengan cuek memberikan helm pada partner olimpiade nya dan membantu cewek itu untuk naik ke motornya.


Mendengus geli Milan melihatnya. "Keliatan cuek tapi pandangan gak bisa boong"kekeh Milan dari tempatnya yang berada dirooftop sekolah memperhatikan Azriel yang pergi bersama Anna untuk mengikuti olimpiade.


Milan jadi terkekeh sendiri mengingat bagaimana Azriel yang cukup terlihat pusing sendiri memilih helm untuk Anna kemarin malam sampai membuat Arjuna yang paling bungsu diantara mereka jadi harus terganggu tidurnya.


***


Azriel dan Milan terkenal berandalan tidak karena mereka sering berkelahi atau merokok atau menjadi penghuni tetap ruang BK seperti geng berandalan yang diketuai si pentolan sekolah itu.


Keduanya hanya sering membolos pelajaran bahkan hanya untuk menaruh tas mereka dikelas dan orangnya entah pergi kemana.


Walau begitu geng berandalan SMA Arya terlebih ketuanya kukuh dan tertarik sekali untuk merekrut keduanya untuk join dengan gengnya.


Semua cara dilakukan si pentolan sekolah itu sampai cara terlicik dan terburuk sekalipun pernah ia lakukan salah satunya mengirim orang untuk menghajar Azriel dan Milan atau pernah hampir membuat keduanya kehilangan nyawa karena kecelakaan.


Namun semua usaha itu gagal total dan si kakak kelas semakin ngebet ingin membuat Azriel dan Milan join gengnya.


Si pentolan sekolah begitu terkesima dengan cara keduanya menghajar balik orang-orang suruhannya tanpa luka sedikit pun dan bagaimana lihainya mereka berkelahi dan menang telak.


Dan mengenai kecelakaan buatan si pentolan sekolah berhasil dilewati keduanya dengan aman dimana Azriel dengan kemampuan mengendarai motornya cukup gesit mengelak dan selamat, sedangkan Milan yang hebat namun tidak sehebat Azriel harus sedikit merasa lega karena dirinya hanya memar-memar karena ditabrak mobil yang membuatnya terpental terseret dan berguling-guling diaspal dengan motornya yang ringsek.