
Azriel membuka matanya dilihat disekitarnya hanya ada kegelapan, dirinya ingin beranjak namun terasa tubuhnya tidak bisa digerakkan, dirinya diikat.
"Apa-apaan–"
Berhenti berbicara karena terkejut karena mendengar suara bocah. Melihat kesana kemari mencari sosok bocah itu namun tidak ada siapa-siapa disana, dirinya seorang diri.
"Sialan jangan bercanda!–"
Kembali terdiam dan dirinya menyadari jika suara bocah itu adalah suaranya sendiri dan Azriel menyadari jika dirinya melihat tubuhnya yang terikat itu nyatanya adalah tubuh seorang bocah.
Tubuh bocah yang dipenuhi oleh luka dan memar bahkan dibalik ikatan yang mengikatnya sangat kencang itu terlihat memar yang membengkak dan juga berdarah.
Didalam otak cerdasnya Azriel bertanya-tanya apa dirinya ini sedang bermimpi? Namun rasa sakitnya sungguh nyata, Azriel bisa merasakan rasa sakitnya.
"Sialan"geram Azriel bersikeras untuk lepas dari ikatan namun nihil ikatan itu sangat kuat dan bukannya lepas malah semakin melukainya bahkan Azriel bisa melihat ada aliran berwarna merah yang keluar dari lukanya itu.
Ceklek.
Suara kunci yang dibuka terdengar membuat tubuh Azriel sontak menegang melihat kearah gagang pintu yang terlihat bergerak dan perlahan pintu tersebut terdorong membuat segaris cahaya dari luar sedikit menyinarinya.
Nafasnya perlahan memburu dan terasa sesak beserta jantungnya yang semakin cepat berdetak membuat dadanya nyeri kala melihat sosok wanita bermata biru disana dengan seorang anak kecil disampingnya.
"Jangan–"gumam Azriel ketakutan. Gadis kecil itu tidak boleh kemari.
"Lari–"gadis kecil itu harus lari, disini berbahaya.
"PERGI DARI SINI!!!"
Sraakk.
"Hah.. hah.."
Azriel terbangun dengan nafas tersengal melihat kesekitar dirinya berada dikamarnya membuat Azriel yakin jika tadi dirinya bermimpi.
Apa-apaan tadi, mimpi yang sangat buruk dan juga terasa cukup nyata.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Azriel bahkan piyamanya sudah basah kuyup seperti dibanjur oleh air.
Nafasnya masih tersengal dan jantungnya masih berdetak sangat cepat.
Tok tok.
Sontak melihat kearah pintu kamarnya Azriel berseru dengan waspada. "Siapa?!"
"Saya Ravi tuan"
Mendengar jika yang mengetuk adalah orang kepercayaannya membuat Azriel sedikit bernafas lega.
"Masuk, tidak dikunci"
Ravi pun membuka pintu kamar Azriel dan masuk memastikan sang tuan baik-baik saja. Sedikit khawatir karena dirinya mendengar suara teriakan dari kamar sang tuan.
"Anda baik-baik saja tuan?"tanya Ravi kala melihat kondisi Azriel yang cukup mengkhawatirkan, sepertinya sang tuan baru saja bermimpi buruk.
Begitu keluar bisa Ravi lihat tuannya itu sudah bertelanjang dada dan memperlihatkan seluruh tubuh bagian atasnya yang polos.
Ravi sedikit terdiam kala melihat tubuh bagian atas sang tuan yang penuh dengan bekas luka. Setiap melihat bekas luka ditubuh Azriel selalu membuat Ravi kembali merasa sangat bersalah.
"Ravi piyamaku"pinta Azriel.
Ravi yang tersadar pun sontak meminta maaf dan segera memberikan piyamanya pada Azriel.
Kembali terdiam kala melihat tubuh bagian atas Azriel yang kembali tertutup oleh pakaian menyembunyikan semua bekas luka disana.
"Hentikan rasa bersalahmu"kata Azriel pada Ravi membuat Ravi kembali tersentak karena lagi-lagi dirinya melamun.
"Maafkan saya, saya–"
"Jika kau merasa bersalah lakukan sesuatu untukku"kata Azriel menatap Ravi dengan serius.
"Ya?"bingung Ravi dengan sikap tuannya itu.
***
"Tuan Milan sedang tidak ada dirumah, jadi tolong setelah selesai dengan urusanmu segera pergi"kata seorang maid yang mengantar ke ruang kerja Milan pada Ravi.
Ravi mengangguk mengerti dan berterimakasih pada maid tersebut.
Sejujurnya dirinya memang menunggu sahabat sang tuan itu pergi karena dirinya disuruh melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Milan yang diperintahkan oleh Azriel.
"Kau pasti tau ruang rahasia yang digunakan Milan untuk menaruh barang-barang 'aneh' yang dikumpulkan nya kan? Dia juga pasti menyimpan barang-barang yang berhubungan dengan kecelakaan waktu itu, aku menyuruh kau untuk mengambilnya"
Ravi hanya bisa menghela nafas patuh dengan perintah sang tuan yang menurutnya cukup sulit itu karena dipastikan Milan menjaga ruang rahasia nya dengan sangat baik bukan, Ravi sedikit tidak yakin jika dirinya akan menemukan ruangan yang dimaksud.
Dirinya hanya sekedar mendengar jika sahabatnya Azriel itu memiliki ruang rahasia yang entah itu benar atau tidak kebenarannya.
Dan sepertinya mengenai ruangan rahasia itu benar adanya karena saat dirinya mengambil sebuah buku yang cukup mencolok diantara buku-buku dirak, rak buku itu terdengar seperti bergeser sedikit dan saat digeser dibaliknya ada sebuah lorong.
"Oke, ketiga laki-laki itu memang luar biasa"gumam Ravi tidak pernah berhenti terkesan kepada tiga laki-laki tersebut, Azriel, Milan dan juga Arjuna.
Melangkah masuk kedalam lorong Ravi akan mencari barang yang diinginkan sang tuan.
Berjalan cukup jauh dan sampai pada akhirnya diujung lorong ada sebuah pintu yang ternyata tidak terkunci dan bisa Ravi lihat isi didalamnya seperti sebuah museum, museum dengan barang-barang yang mengerikan karena semua yang ada disana entah dalam kondisi hancur atau berlumuran darah yang sudah menghitam.
Dan semua itu adalah barang-barang dari kejadian-kejadian yang menimpa ketiganya, semuanya tertulis mendetail disetiap kotak disana.
Tidak membuang waktu Ravi mendekati salah satu kotak yang tertulis kecelakaan yang dimaksud sang tuan dan bisa Ravi lihat isi kotak tersebut adalah pakaian yang digunakan Azriel saat kecelakaan terjadi yang sudah koyak dan berlumuran darah, tidak hanya pakaian ada beberapa benda lain disana yang berhubungan dengan kecelakaan waktu itu.
Mengambil kotak itu karena itu yang dipinta sang tuan Ravi akan segera pergi jika dirinya tidak melihat dan membaca sebuah tulisan untuk salah satu kotak disana yang didalam tulisannya tertulis nama Millisanna disana.
Hanya tertulis nama Millisanna membuat Ravi penasaran dan mendekati kotak tersebut dan sedikit terkejut kala melihat isinya.
Tidak menunggu lama, dirinya pun mengambilnya dan segera pergi dari sana.