Millisanna

Millisanna
Bab 105



'Anna, Miss akan mengurangi jam les mu, setidaknya kau cukup 5 hari dalam seminggu untuk les dan itu pun tidak sampai tengah malam juga. Tidak perlu takut pada ibumu, Miss akan membicarakannya dengan ibumu langsung.


Miss bukannya putus asa dalam mengajarimu karena kau tidak pernah menjadi juara satu disekolah mu seperti yang diharapkan ibumu tapi Miss kasihan melihatmu setiap hari belajar seperti belajar adalah bernafas bagimu.


5 hari dalam seminggu setiap kau pulang sekolah kau selalu belajar 9 jam penuh dan dihari Sabtu juga Minggu kau bahkan belajar selama 12 jam lamanya di tempat belajar milikku, dan ku yakin dirumah dan disekolah kau juga belajar, Miss benar-benar merasa bersalah dan juga kasihan.


Kau sudah sangat pintar Anna kau tidak perlu belajar sebanyak itu dan Miss akan membicarakannya dengan ibumu, kau tidak perlu takut biar Miss yang membela mu karena Miss takut jika kau terus seperti ini kehidupan mu akan hancur kedepannya.


Jadi tidak perlu belajar banyak-banyak dan bermainlah bersama teman-teman mu.


Melihatmu yang sehabis mengambil izin untuk tidak ikut dalam les atau bahkan kabur, kau terlihat lebih hidup dan ceria aku senang jika kau seperti itu karena bermain bersama teman-teman mu.


Miss rasa 5 hari dalam seminggu di hari Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at setelah pulang sekolah dengan durasi 6 jam setiap harinya dan juga di Sabtu selama 8 jam itu sudah sangat lebih dari cukup untukmu yang sejujurnya sudah sangat pintar dan tidak perlu belajar lebih keras.


Miss akan memberitahukannya pada ibumu dan Miss akan memastikan ibumu akan setuju dengan ini.'


Anna tersenyum kala kembali membaca pesan panjang yang dikirimkan oleh instruktur belajarnya di tempat bimbingan belajar yang ia ikuti, dirinya merasa terharu karena mendapatkan sekarang guru yang baik padanya dan mengerti dengan kondisinya bahkan menghargainya.


Anna sejujurnya sejak awal tidak menyukai jam belajarnya yang gila itu tapi karena ibunya yang galak dirinya selalu menerima dan melakukan itu tanpa mempertanyakan apapun.


Anna merasa senang karena ada orang luar yang mau membantunya menyadarkan sang ibu bahkan sudah bertindak membuat dirinya yang hanya bisa patuh dan tunduk pada sang ibu merasa amat-amat bahagia.


Ternyata disekitar Anna masih ada orang yang baik padanya.


"Hei senyum-senyum sendiri liatin apa sih?"tanya Aldres yang menarik Anna merangkul si gadis karena gadis itu berjalan dengan menunduk memainkan ponselnya dan hampir menabrak orang lain yang ada di mall itu.


Anna tersenyum malu saja pada Aldres seraya memasukkan ponselnya kedalam saku karena ia tersadar dirinya telah bersikap bodoh dengan berjalan sambil memainkan ponselnya dikeramaian seperti ini.


"Enggak bukan apa-apa"kata Anna mengelak.


Aldres sendiri menaikkan sebelah alisnya masih penasaran tapi tidak lama karena terinterupsi oleh Kiara yang berjalan didepan mereka itu bersama Mutia memanggil mereka.


"Hei mampir dulu ke sini ayo"kata Kiara menunjuk sebuah toko pakaian disebelahnya.


Mereka pun masuk kedalam toko tersebut dan mengikuti Kiara dan Mutia yang mulai terlihat berpencar melihat-lihat baju yang ada di toko pakaian itu.


"Kamu gak ikutan?"tanya Aldres kala melihat Anna di sampingnya tidak bergerak sedikitpun dan malah kelihatan kebingungan.


Anna menatap Aldres seraya terkekeh menggeleng. "Enggak, baju Anna banyak masih pada bagus juga jadi Anna merasa gak perlu"kata Anna tersenyum.


Aldres menatap Anna, dirinya mendapati sikap Anna yang seperti itu mengingatkannya pada cerita ibunya yang mengatakan saat Anna kecil dibawa ke mall untuk membeli baju Anna kecil hanya memilih satu pakaian saja dan saat sang ibu akan kembali menawarkan yang lainnya gadis kecil itu berkata semacam dengan kalimat yang dikatakan Anna remaja barusan.


'Makasih Tante, tapi ini udah cukup buat Mili, kalo kebanyakan nanti gak kepake terus nangis bajunya'


Ya walaupun pada akhirnya sang ibu tetap membelikan beberapa setel pakaian untuk Anna kecil saat itu setelah mengatakan sesuatu yang entah apa Aldres lupa namun gadis kecil itu menerima saja setelah mendengar perkataan ibunya.


"Aldres sendiri gak ikut nyari baju?"tanya Anna menyadarkan Aldres dari lamunannya.


"Al sama kayak Mili, lagi gak butuh baju baru"kata Aldres tersenyum.


"Masa sih? Kalo gitu biar kakak cantik ini paksa kalian buat butuh baju baru"kata Kiara yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka dengan membawa beberapa pakaian dikedua tangannya dan menyerahkan pada kedua remaja itu.


"Nih coba ini kalian berdua, gak ada penolakan!"kata Kiara tak terbantahkan.


Aldres dan Anna pun hanya bisa menuruti perintah wanita akhir 20an itu karena wanita itu bahkan menyeret mereka masuk kedalam kamar ganti yang ada di toko pakaian itu.


Srekk.


Kiara merasa puas karena kedua remaja itu masuk kedalam dan sedang mencoba pakaian yang dipilihkan nya itu.


Srekk.


Melihat bilik disebelah bilik yang dimasuki Anna terbuka dan keluar adiknya Kiara sontak mengangkat kedua jempolnya memuji betapa cantiknya Mutia itu.


"Kau benar-benar pandai memilih baju, kakak bangga"kata Kiara senang.


Mutia sendiri terkekeh saja berterimakasih, kakaknya itu selalu baik padanya membuatnya selalu sayang pada sang kakak.


"Mutia mau yang ini kalo gitu"kata Mutia senang.


"Bungkus aja, sekalian sama yang dipakai Al juga Anna biar kakak sekalian bayarnya"kata Kiara santai karena tujuannya mengajak anak-anak remaja itu ke mall tentu saja untuk mentraktir mereka.


Srekk. Srekk.


Dua bilik yang digunakan Aldres dan Anna pun dibuka bersamaan dengan keduanya yang menggunakan pakaian yang dipilihkan oleh Kiara.


"Gue bangga penglihatan gue tentang mode emang gak diragukan lagi, selalu perfect!"seru Kiara bangga sendiri.


"Aldres gue jujur kalo kakak gue gak bakal nikah sama abang lo udah gue pepet Lo dan Anna kalo gue laki-laki gue pasti bakal ngejar-ngejar Lo sampe dapet! Cantik banget Lo! Cantik manis another level ini mah!"kata Mutia berkomentar heboh.


Anna sendiri hanya bisa menunduk malu karena pujian yang diberikan oleh Mutia itu dan juga Kiara yang ikut memujinya betapa cantiknya dirinya.


Melirik ke arah Aldres karena sedari tadi laki-laki itu tidak bersuara dan Anna mendapati laki-laki itu yang terdiam menatapnya terpana.


"Bwahahaha si Al sampe gak bisa berkata-kata dong hahahaha"tawa Kiara terbahak-bahak melihat reaksi calon adik iparnya itu yang kentara sekali sedang terpana akan kecantikan Anna.


Aldres sontak tersadar dan menatap Kiara dengan kesal. "Puas banget Lo ketawa"sebal Aldres merasa malu karena Kiara.


"Hahaha santai boy, sana ganti lagi gue mau bayar pakaian kalian yang ini ayo ayo karena setelah ini kita makan"kata Kiara setelah reda tertawa.


***


Tadinya memang akan pergi makan tapi Mutia meminta untuk mampir dulu ke toko aksesoris untuk wanita membuat mereka pun masuk kedalam toko aksesoris itu dan mengikuti Mutia yang langsung melesat ke bagian toko yang menjajakan berbagai macam jepit rambut.


"Hehe gue jadi ingin pake jepit setelah liat Lo pake jepit kapan hari itu"kekeh Mutia pada Anna yang ada disebelahnya.


Anna sendiri terkekeh saja mendengarnya ternyata bukan hanya Melisa tapi Mutia juga ternyata sama.


Kiara sendiri wanita itu pergi ke bagian ikat rambut karena wanita itu bilang sedang membutuhkan ikat rambut yang baru.


Aldres sendiri mengikuti kedua remaja itu ikut melihat macam-macam jepit rambut dengan berbagai macam hiasannya.


Melirik Anna yang terlihat asik dengan Mutia dirinya pun mengambil sebuah jepit rambut seraya tersenyum lantas membawanya untuk ia bayar di kasir.


***


Keempatnya akhirnya pergi ke restoran jepang yang ada di mall itu, mereka masing-masing memesan ramen dan udon juga Kiara memesan daging yang akan mereka panggang karena restoran itu juga menyediakan pembakaran disetiap meja.


"Ayo anak-anak karena kalian masih dalam proses pertumbuhan makan yang banyak"kata Kiara bersemangat membakar daging dan sayuran di pembakaran lalu membagikannya pada ketiga remaja itu.


Berterimakasih Anna langsung memakan daging panggang itu dan tersenyum kala rasanya sangat enak.


Anna pun jadi ingin mencoba ramennya yang ia pesan yang cukup pedas. Sedikit menunduk untuk makan membuat rambutnya sedikit mengganggunya.


Padahal rambutnya telah ia ikat namun rambut-rambut pendeknya yang cukup panjang tapi tak bisa ia tarik untuk diikat.


"Tunggu bentar"kata Aldres menghentikan Anna yang makan dan Anna pun jadi melihat kearah Aldres.


Tap tap.


"Nah sekarang udah gak ngehalangin"kata Aldres memasangkan jepit rambut yang ia beli tadi pada rambut Anna dan juga menyempatkan diri untuk mengusap sudut bibir Anna yang terdapat biji wijen.


Anna tersenyum berterimakasih dan lanjut memakan ramennya.


Dan dua perempuan yang duduk disebrang pasangan itu pun tersenyum saja semakin tersenyum lebar meledek kala Aldres menatap mereka dengan sengit, malu pasti Aldres.


Apa ini apa akan ada pertempuran untuk mengambil hati Anna?kekeh Mutia dalam hati.


Ya walaupun Arjuna bilang Azriel masih suka sama temen masa kecilnya yang udah gak ada, tapi dilihat dari gelagatnya saja Azriel juga terlihat suka dengan Anna seperti Aldres ini, lanjutnya terkekeh.


"Kiara"


Keempat orang yang ada di meja itu pun sontak mengalihkan pandangan mereka untuk melihat seorang wanita yang menyapa Kiara dengan tersenyum.


"Oh Giselle kau disini? Ayo gabung atau sudah selesai?"tanya Kiara membalas ramah wanita yang menyapa itu, dilihat dari mana pun sepertinya Kiara mengenal baik wanita itu.


"Tidak terimakasih aku baru saja selesai ini"kata wanita itu tersenyum.


"Oh ya? sendiri?"


Wanita itu mengangguk menjawab pertanyaan Kiara dan pandangannya menatap ketiga remaja dengan seragam sekolah mereka yang bersama Kiara itu.


"Sepertinya kau sedang menjadi pengasuh untuk mereka"kekeh wanita itu membicarakan ketiga remaja SMA itu.


Namun untuk Anna tatapan wanita itu membuatnya tidak nyaman apalagi saat melihat anting-anting yang digunakan wanita itu juga sedikit tonjolan yang ada dilengan kiri wanita itu dibalik lengan dress yang dipakainya.


Membuatnya memilih untuk menunduk dan tak ingin kembali menatap wanita itu yang kembali bercengkrama dengan Kiara dan tingkah Anna itu disadari oleh Aldres.


Membuat Aldres bertanya-tanya kenapa dengan gadis disebelahnya itu.