
Anna yang berada dirumah walau kakinya yang diperban dan harus berjalan dengan dibantu kruk juga beberapa luka yang masih dibalut perban pun dirinya mengerjakan apa yang diperintahkan ibunya yang pergi berlibur ke rumah nenek dengan kedua adiknya, meninggalkan Anna dengan setumpuk pekerjaan rumah yang rasanya melelahkan berkali-kali lipat yang mungkin penyebabnya adalah karena Anna yang tidak bisa bergerak normal.
Menyapu, mengepel, mencuci, menjemur, memasak bahkan pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan Anna tetap harus melakukannya walau menggunakan kruk saat dirinya berjalan.
Bahkan Anna harus pergi ke tempat lesnya ditengah liburan sekolah.
Merasa malu saat orang-orang disekitar menatapnya kasihan juga jijik saat melihat dirinya yang memakai kruk.
Tapi jika dirinya hanya berdiam diri dirumah tidak melakukan apapun dirinya akan dimarahi habis-habisan oleh ayah juga kakaknya yang mengamuk karena keduanya yang bekerja tidak dilayani oleh Anna.
Semua pekerjaan yang biasanya dilakukan sang ibu semuanya dilimpahkan pada Anna yang bahkan berjalan pun sulit.
Tapi semua perasaan lelah sampai rasanya hampir mati itu hanya ia rasakan saat 3 hari pertama dan selanjutnya Anna mulai terbiasa.
Terbiasa dengan kruknya juga terbiasa dengan tatapan jahat orang-orang terhadapnya.
Dan kali ini Anna sedang menyirami tanaman depan rumahnya yang mana ini adalah pekerjaan terakhirnya di pagi hari yang mana membuatnya bisa beristirahat dan sorenya ia akan lanjut bekerja dengan dimulai membuat masakan untuk makan malam.
"Permisi"
Anna mengalihkan pandangannya kearah gerbang rumahnya dan bisa ia lihat ada sosok Melisa dibalik gerbang yang mengintip.
Anna yang terkejut karena keberadaan Melisa pun bergegas membukakan pintu pagar untuk Melisa masuk.
"Astaga Anna, gue kira Lo istirahat, kok malah disini panas panasan?"kata Melisa tak habis pikir melihat Anna dengan kruknya sedang menyirami tanaman dicuaca yang semakin panas ini.
Anna hanya bisa memberikan grin malunya, tidak tahu harus bereaksi bagaimana karena Anna masih terlalu terkejut melihat adanya Melisa dirumahnya.
Melisa adalah orang pertama yang merupakan teman sekolahnya yang datang ke rumahnya sejak dirinya SMP karena saat SMP tak pernah dirinya mendapatkan kunjungan dari teman-temannya.
"Kamu kok kesini?"tanya Anna sekenanya tidak bermaksud mengusir tapi dirinya memang penasaran.
Melisa yang mendengarnya mendengus sebal. "Gue kan mau jengukin temen gue, masa gue gak jengukin temen yang sakit sih"
Anna terkekeh malu mendengarnya. "Kalo gitu ayo masuk, diluar panas"kata Anna mengajak Melisa masuk kedalam rumah untuk menjamunya.
Melisa melihat keseluruhan ruang depan rumah Anna yang tidak bisa dibilang luar biasa hanya standar dan terlihat sederhana tapi bisa dipastikan beberapa diantaranya adalah barang mahal.
SMA Arya memang sekolah elit dengan para siswa juga yang elit dimana para siswa berasal dari keluarga menengah sampai keatas.
Tidak ada murid miskin beasiswa karena jika ada pastinya bukan Anna yang akan di bully geng Vanessa jika ada murid seperti itu disekolah.
"Aduh Anna, harusnya Lo panggil gue buat bawain ini"kata Melisa yang langsung bangkit mengambil alih nampan berisi minuman juga camilan yang dibawa Anna dengan susah karena gadis itu masih belum bisa berjalan dengan normal.
Anna hanya tersenyum menggeleng. "Gak mau ngerepotin malah jadi ngerepotin"kata Anna tidak enak.
Melisa memberengut tidak setuju. "Apa sih, sama gue biasa aja kali santai aja"kata Melisa yang meminum jusnya setelah meminta izin.
"Gue kesini mau jenguk Lo sekalian mau berterimakasih karena Lo udah nolongin gue bahkan melindungi gue"kata Melisa begitu tulus.
"Tadinya gue langsung ke rumah sakit setelah acara kemah dibatalin dan gue sempet pulang terus langsung cabut ke rumah sakit tempat Lo dirawat tapi lonya udah gak ada, dan baru bisa gue sampaikan kayak gini sekarang"lanjut Melisa.
Anna tersenyum menggeleng mengatakan tidak apa-apa. "Gak apa-apa Mel, makasih udah jengukin Anna"kata Anna merasa senang.
Melisa mengangguk seraya tersenyum. "Omong-omong Azriel juga udah sadar beberapa hari yang lalu, operasinya berhasil dan dia sekarang baik-baik aja bahkan udah boleh pulang, kata si Milan"kata Melisa.
Anna yang mendengarnya begitu merasa lega dan bersyukur jika laki-laki itu baik-baik saja. Mungkin saat masuk sekolah nanti dirinya akan langsung berterimakasih dan meminta maaf pada Azriel karena telah melindungi dan juga mendapatkan kemalangan karenanya.
"Syukurlah"senang Anna.
***
Sekolah kembali masuk setelah libur 2 Minggu setelah pembagian rapot.
Anna sendiri dirinya sudah pulih total membuatnya bisa berjalan normal tanpa bantuan kruk lagi membuat Anna merasa bebas.
Berjalan memasuki kawasan sekolah Anna melangkah dengan semangat menuju kelas.
"Semangat bener na!"
Anna memberhentikan langkahnya dan berbalik melihat Milan yang tadi berseru padanya.
Laki-laki itu melangkah mendekatinya bersama Azriel disebelahnya.
"Gimana kondisi Lo udah mendingan? Sorry gue gak jengukin lo"kata Milan merasa bersalah.
Azriel dan Milan yang melihat keceriaan Anna itu sedikit terkejut tapi setelahnya mereka ikut tersenyum karena melihat Anna yang sering terlihat murung itu menjadi lebih ceria.
"Azriel juga maaf Anna gak bisa jengukin kamu, tapi seneng liat Azriel baik-baik aja"kata Anna pada Azriel.
"Santai aja, keadaan kita sama, sama-sama hampir mati jadi santai aja"kata Azriel yang bahkan terlihat sangat akrab dengan Anna.
Hal itu membuat Milan jadi menyeringai. Bertanya-tanya sepertinya ada yang terjadi diantara Azriel dan Anna saat mereka hilang saat itu.
"Permisi"
Obrolan ketiganya terinterupsi karena seorang siswi yang tak pernah mereka lihat datang menghampiri mereka seraya tersenyum ramah.
"Gue anak baru, bisa minta tolong anterin gue ke ruang guru?"tanya siswi itu menatap Azriel.
Azriel yang tadi terlihat bersahabat mendadak kembali terlihat dingin dan mengabaikan siswi baru itu begitu saja berjalan duluan setelah pamit pada Anna.
"Gue duluan, sampai jumpa dikelas"kata Azriel singkat dan berlalu begitu saja.
Anna dan Milan yang melihatnya hanya bisa saling tatap lantas si laki-laki tiba-tiba memberikan cengirannya dan langsung kabur lari seraya berteriak.
"Lo aja na yang nganter, gue ada alergi sama ruang guru!!"teriak Milan sambil tertawa yang berlari menjauh memasuki koridor bangunan sekolah.
Anna yang ditinggal dengan orang asing yang baru ditemuinya itu mendadak tegang karena dirinya memang payah dalam bersosialisasi.
Berdehem menenangkan diri Anna siap melakukannya sekarang. "Ke ruang guru? Ayo Anna anterin"kata Anna setelah memberanikan diri dan bersorak dalam hati bangga pada dirinya sendiri karena telah berhasil mengatakan hal tersebut.
Siswi itu tersenyum dan mengangguk. Mereka pun pergi ke ruang guru dengan Anna yang memimpin.
***
Setelah mengantar murid baru ke ruang guru Anna bergegas menuju kelasnya dan begitu sampai dikelasnya Melisa langsung berteriak menyapanya.
"Pagi Anna! Keliatannya Lo udah bener-bener sehat, syukurlah"senang Melisa menghampiri Anna yang berjalan menuju kursinya dan Melisa mengikutinya sampai Anna duduk.
"Gimana masih sakit kaki Lo atau luka Lo yang lain?"tanya Melisa memastikan jika temannya ini sudah benar-benar baik-baik saja.
Anna menggeleng. "Gak ada, semuanya udah sembuh"kata Anna.
"Iyalah orang luka Lo gak seberapa! Harusnya Lo tau diri dong jangan nyusahin Azriel! Gara-gara Lo Azriel hampir aja mati ditembak!"seru salah satu teman sekelasnya yang sedang berkumpul di meja Azriel untuk memeriksa kondisi Azriel.
Anna dibuat menunduk karenanya, kenapa juga dirinya bisa lupa jika dirinya ini dibenci oleh hampir seluruh siswa disekolah.
"Heh tutup tuh mulut Lo yang sama kek mulut ibu-ibu komplek! Jangan asal bacot kalo gak tau gimana kejadiannya!"kesal Melisa berteriak yang dimana Anna hanya bisa menyuruh Melisa untuk tidak membalas perkataan orang itu dengan menarik-narik tangan Melisa pelan.
"Udah gak usah Mel, dia emang bener"cicit Anna dan itu malah membuat Melisa meradang.
"Lo ini kok lembek banget sih? Lawan mereka dong! Orang kayak dia tuh wajib banget Lo hajar sama salah satu teknik bela diri Lo itu"sebal Melisa.
Teng tong teng tong.
"Udah bel, sana ke meja kamu"kata Anna tak bermaksud mengusir dirinya hanya meminimalisir kelas yang akan menjadi ramai jika Melisa tidak dihentikan.
"Cih kalo Lo gak mau biar gue yang hajar tuh orang"kesal Melisa sambil berjalan menuju mejanya.
Anna menatap Melisa disana dengan terkejut. Tak menyangka jika gadis manis dan cantik itu yang Anna kira cewek yang tenang nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang dikiranya.
"Jadi beneran nih temenan?"kata Azriel pada Melisa.
Melisa melirik sebal Azriel. "Mestilah, malah udah jadi sahabat"kata Melisa berapi-api.
Azriel yang melihat tingkah Melisa itu hanya terkekeh remeh dan mengarahkan pandangannya kedepan kelas kearah guru yang datang dengan seorang siswi yang mana siswi itu adalah siswi yang sama yang muncul di area depan sekolah menghampiri dia dan Milan juga Anna yang sedang bercengkrama.
"Gue gak suka sama dia"celetuk Melisa tiba-tiba.
Azriel hanya melirik Melisa sebentar dan balik menatap kedepan memperhatikan cewek itu yang tersenyum semakin lebar menatap kearahnya.
"Nah sekarang perkenalkan dirimu"kata Bu Erna yang merupakan wali kelas 11-3.
Siswi itu mengangguk dan menatap yang akan menjadi teman-teman sekelasnya beberapa bulan kedepan.
"Hai, kenalin gue Michelle Gladisia semoga gue diterima jadi temen kalian semua"kata siswi itu yang bernama Michelle itu.