Millisanna

Millisanna
Bab 124



"Azriel?"


Begitu terkejut namun Anna yakin jika laki-laki yang menolongnya atau yang lagi-lagi menolongnya adalah Azriel.


Teman satu sekolahnya dulu, partner olimpiade nya dulu, dan juga orang yang paling ia benci selama sekolah karena laki-laki itu selalu mendapatkan peringkat satu.


Laki-laki itu terlihat lebih tinggi, lebih tegap, dan juga semakin tampan. Anna sangat yakin jika laki-laki itu adalah Azriel temannya saat sekolah dulu karena tatapan laki-laki itu masih sama, masih persis seperti beberapa tahun lalu saat laki-laki itu masih menggunakan seragam SMA yang sama sepertinya.


Bola mata sehitam jelaga itu yang menatapnya tajam dan dingin itu masih sama seperti dulu.


Namun Anna meragu jika laki-laki itu bukanlah Azriel karena saat itu tepat didepan matanya Anna melihat tubuh Azriel yang tertabrak mobil setelah menyelamatkannya.


Semakin yakin jika dirinya salah karena perkataan laki-laki itu padanya.


"Siapa? Apa aku mengenalmu?"kata laki-laki yang menyerupai Azriel itu pada Anna begitu dingin.


Anna membatu lantas menunduk menggumamkan kata maaf karena sepertinya ia salah, karena sekali lagi Azriel sudah tidak ada.


Ditunduknya Anna tersadar jika gadis yang diselamatkannya itu sedang kritis, harus segera ia tolong. Maka dari itu Anna mengabaikan sekitar nya dan dengan serius memeriksa anak kecil yang ada dihadapannya itu.


Si laki-laki yang melihat Anna yang sepenuhnya mengabaikan nya dan seolah dirinya tidak ada karena serius dengan anak kecil yang terluka itu menaikkan sebelah alisnya mengedikkan bahu lantas pergi dengan perasaan dongkol.


"Bahkan tidak berterimakasih? Cih, menyesal aku menyelamatkannya"gumamnya seraya melangkah menjauh dari wanita yang tidak tahu apa itu terimakasih.


"Tuan! Astaga kau benar-benar membuatku jantungan! Bagaimana bisa kau tiba-tiba pergi keluar dan berlari kearah mobil yang meledak itu?!"seru Ravi yang terlihat kacau menghampirinya.


Si laki-laki terlihat cuek mengabaikan bawahannya itu dan dilihat sebuah mobil pemadam kebakaran sedang mencoba memadamkan api dari ledakan mobil disana.


Melirik kesekitar nyatanya sangat ramai oleh orang-orang dan beberapa dari mereka ada yang tergeletak namun semuanya selamat dan sedang ditangani oleh para medis yang berdatangan dengan ambulan.


"Hey! Aku akan melakukan intubasi pada anak ini!!"


Ravi melirik karena suara yang cukup kencang dan nyaring dari seorang wanita yang sepertinya seorang dokter pada petugas medis yang bergegas membantunya disana.


Namun Ravi menegang kala dirinya melihat wajah wanita itu. Karena wanita itu seperti yang ia duga, wanita itu adalah seorang gadis yang dulu gagal ia selamatkan dan berakhir dengan kekacauan besar yang dialami tuannya.


Ravi sontak menatap tuannya ia ingin melihat ekspresi apa yang diperlihatkan oleh sang tuan yang sepertinya melihat kearah wanita itu yang sedang serius menangani gadis kecil korban kecelakaan itu.


Tak ada ekspresi khusus, hanya tatapan datar tak berminat dan berbalik berjalan pergi.


Ravi entah harus sedih atau senang melihatnya namun dirinya merasa sedikit bersalah pada sang tuan.


***


Anna keluar dari ruang operasi langsung melepas masker dan penutup kepalanya yang langsung ia buang ketempat sampah.


Operasinya telah selesai dan berjalan dengan lancar. Maka dengan ini tujuannya kembali ke kota ini telah selesai, tinggal menunggu progres pasien kedepannya yang akan ia awasi selama sehari.


"Semuanya berjalan lancar, terimakasih untuk kalian berdua, pekerjaan seperti ini memang membutuhkan orang seperti kalian"kata dokter bedah dirumah sakit tersebut yang bisa dibilang guru mereka karena sekali di universitas dokter tersebut pernah memberikan seminar.


"Hahaha anda terlalu memuji kami"kata Ray merasa malu Anna sendiri hanya tersenyum malu.


"Jadi kalian akan langsung kembali lusa?"tanya dokter itu.


Ray dan Anna saling tatap sebelum mengangguk bersama karena mereka masih ada urusan disini.


"Betah betah disini ya, atau mungkin sebaiknya kalian bekerja disini saja hahaha"tawa dokter itu pada mereka dan pergi mendahului mereka.


Kedua orang itu menatap kepergian sang dokter dengan malas.


"Kau mau bekerja disini?"tanya Ray pada Anna.


"Kau bertanya pada ku? Tentu saja tidak mau, disini sepertinya akan membuatku stress"kata Anna jujur seraya melangkah keluar dari ruang operasi.


Ray terkekeh mendengarnya. "Kau benar, memang paling aman bekerja dirumah sakit yang ada di daerah bukan dipusat kota seperti ini apalagi ibu kota"kekeh Ray berjalan bersisian dengan Anna.


Mereka berdua akan menulis laporan mereka diruang staff.


"Hey hari ini tugas kita sudah selesai. Kau mau jalan-jalan?"tanya Ray disela dirinya mengerjakan laporannya.


"Tidak, Anna mau pulang, udah lama gak pulang"kata Anna langsung.


Ray menatap si gadis cukup lama sampai akhirnya ia mengangguk dan kembali pada laporannya.


"Sepertinya aku akan pulang juga"kata Ray ikut-ikutan.


"Tentu saja kau ini, hitung berapa lama kau tidak bertemu orangtua mu hm? Mumpung masih dikota ini dan waktu kita juga sedang kosong"kata Anna terkekeh sendiri meledek Ray yang jarang pulang itu.


"Katakan itu pada dirimu sendiri gadis bodoh, kau bahkan sejak masuk universitas kau tidak pulang-pulang, bang toyib bukan"balas Ray.


Anna mengangkat wajahnya dan menatap Ray membuat Ray sedikit terjengit karena merasa dirinya sudah salah bicara.


Anna tersenyum manis. "Kau benar, Anna udah lama gak pulang"