
Michelle sepulang sekolah diajak teman-teman sekelas barunya untuk hangout bersama.
Mereka mendatangi cafe baru yang sedang naik daun dan terkenal dikalangan para remaja seperti mereka.
Mereka membicarakan apapun sekenanya mereka, sampai salah satu dari mereka mengatakan sesuatu yang membuat Michelle bingung.
"Kok Lo tadi mau maunya deket-deket sama si maniak pecundang angka dua itu sih"
Michelle mengernyit bingung. "Maksud Lo?"bingungnya.
"Anna yang dia maksud"jawab yang lain.
"Kok bisa dipanggil begitu?"kati Michelle masih bingung.
"Ya karena dia juara 2 mulu, mau diranking seangkatan lah, kelas lah, bahkan olimpiade yang dia ikutin selalu juara dua"kekeh orang pertama yang berkata membuat yang lainnya tertawa karena menurut mereka itu memang sangat lucu.
"Gak akan pernah bisa ngalahin Azriel"tambah yang lain.
Mendengar nama laki-laki yang sedang ia incar itu membuat Michelle bersemangat. "Azriel itu emang pinter banget ya?"
Teman-temannya mengangguk mengiyakan.
"Azriel itu definisi mendekati sempurna, kalo aja tuh cowok gak badboy tukang bolos udah sempurna dah tuh cowok"
"Oh iya?"Michelle semakin antusias mendengarnya.
"Gak belajar aja dia pinternya diluar nalar, ganteng pake banget pula"
"Tapi ya gitu dingin banget tuh cowok, keliatan bersahabat cuma pas sama si Milan anak kelas 11-1 itu yang sahabatnya"
"Tapi menurut gue tuh cowok sedikit bersahabat sama si Anna deh"kata satu dari mereka tiba-tiba.
"Gue juga sih ngerasa gitu, apalagi setelah insiden di acara kemah itu, makin keliatan akrab gak sih?"sahut yang lain yang juga disetujui oleh yang lainnya.
Michelle mengernyit tak suka mendengarnya.
"Jujur aja sih gue iri sama si Anna"
"Bener, gue juga. Si Anna doang yang gak di dinginin banget sama tuh cowok, mana si Anna doang seorang lagi yang pernah di bonceng Azriel"
"Hahaha gue jadi inget pas si Vannessa maksa buat nebeng pulang dibonceng Azriel tuh cowok langsung menghempaskan si Vanessa"
"Ya dan itu yang bikin si Anna di bully habis-habisan sama si Vanessa and Geng"
"Anna doang yang dibolehin duduk diboncengan motor tuh cowok?"tanya ulang Michelle takutnya ia salah dengar karena jika mendengar dari apa yang dibicarakan teman-temannya Anna sudah bisa dikategorikan sebagai seseorang yang spesial untuk Azriel.
"Iya, kan mereka berdua partner olimpiade dari pas kelas 10 sampe sekarang, dan mereka sering pergi keluar ke tempat olimpiade diadain jadi ya gitu, biar bareng ya Anna selalu dibonceng Azriel"
Michelle yang mendengarnya jadi terdiam. Otaknya bekerja keras untuk memikirkan cara agar dirinya bisa dekat dengan Azriel.
Dan otak encernya pun mendapatkan caranya, yaitu dengan memanfaatkan gadis payah dan bodoh seperti Anna.
***
"Pagi Anna"sapa Michelle semangat saat dirinya melihat Anna berjalan didepannya memasuki kawasan sekolah.
Anna yang terkejut disapa tiba-tiba itu membalas sapaan Michelle dengan kikuk.
"Pagi"cicitnya.
Keduanya pun berjalan bersisian dengan Michelle yang senantiasa berbicara karena Anna hanya diam dan bereaksi seadanya.
Masih terkejut jika ada seseorang yang menyapa nya dan berjalan bersama menuju kelas.
Berjalan memasuki kelas lewat pintu belakang kelas Michelle masih saja berceloteh mengikuti langkah Anna yang ternyata menghampiri meja Azriel dimana laki-laki itu sudah duduk manis dikursinya melamun menatap keluar jendela.
Michelle tentu saja dibuat terkejut saat melihat Anna yang dengan santainya menusuk pelan lengan atas Azriel dan langsung mendapatkan atensi dari laki-laki itu.
"Pak Sugeng bilang jangan lupa belajar buat olimpiade bulan depan"kata Anna singkat seperti yang dikatakan pak Sugeng lewat pesan yang dikirimkan guru itu pada Anna karena pak Sugeng sudah tahu jika dirinya mengatakan nya sendiri lewat pesan yang dikirimkan pada Azriel tak akan pernah dibaca oleh anak itu.
Azriel mengangguk saja dan kembali menatap keluar jendela menunggu bel masuk berbunyi dan mengalihkan pandangan dari cewek yang tak ingin ia lihat itu.
Pesannya sudah tersampaikan Anna pun melangkahkan kakinya menuju ke mejanya melupakan Michelle yang cengo ditempatnya masih disamping meja Azriel menatap ragu cowok itu yang benar-benar tidak melihatnya.
Ingin mencolek pelan lengan cowok itu seperti tadi Anna tapi dirinya ragu jadi dirinya mencoba untuk memanggil cowok itu.
"Azriel"cicit Michelle.
Dan tak diduganya cowok itu mengalihkan pandangannya menatapnya.
"Apa?"
Bahkan panggilannya pun dibalas sahutan membuat Michelle kegirangan.
"Selamat pagi"sapa Michelle bersemangat.
"Hm pagi"balas Azriel cuek.
Semakin kegirangan dibuatnya Michelle melebarkan senyumannya karena merasa Azriel memberikan atensi lebih padanya, tidak seperti pada Anna tadi yang terlihat sangat cuek dan dingin.
Ingin rasanya melanjutkan obrolan tapi bel masuk sialan yang berbunyi membuat Michelle mengumpat dalam hati, juga pada temannya yang meneriakkan namanya mengajaknya untuk mengganti seragam mereka dengan baju olahraga karena pelajaran pertama mereka hari ini adalah olahraga.
"Sampe ketemu di lapangan"dan pada akhirnya hanya itu yang bisa Michelle katakan yang merupakan kalimat terakhir untuk obrolannya yang belum sempat dimulai.
Azriel mengedikkan bahu tidak peduli membuka tasnya untuk mengambil pakaian olahraga nya namun terhenti sebentar karena mendengar suara cukup keras dari meja disebelahnya yang mana Melisa lah pelakunya.
Gadis itu yang baru datang bertepatan dengan bel masuk berbunyi menaruh tasnya dengan tidak santai diatas meja sambil menatap Azriel dengan satu alisnya yang naik.
Azriel yang tidak suka dengan tatapan gadis itu pun bertanya dengan tidak santai.
"Apaan?"
Melisa sendiri mengedikkan bahu tidak peduli lantas meninggalkan Azriel melangkah mendekati Anna dan mengajak Anna untuk ganti baju bersama.
Azriel yang diperlakukan seperti itu hanya berdecak sebal. Memikirkan betapa menyebalkannya gadis yang duduk disebelahnya itu.
***
Pelajaran olahraga menjadi pelajaran yang menyeramkan untuk Anna sejak dirinya naik ke kelas 11 dan menjadi bagian dari kelas 11-3 yang notabenenya memiliki murid ganjil.
Karena setiap melakukan pemanasan yang mengharuskan berpasangan, Anna selalu tersisihkan dan berakhir sendirian yang mana itu adalah penyebabnya pelajaran olahraga meja menyeramkan untuknya.
Namun kali ini berbeda. Seperti malaikat Michelle datang menghampirinya dan mengajaknya untuk pemanasan berpasangan dengannya.
"Ayo sama gue"ajak Michelle dengan wajah cantiknya yang menyilaukan dimata Anna, bak seperti malaikat yang baik hati.
Anna mengangguk antusias dan mulai melakukan pemanasan bersama dengan Michelle.
Dilain sisi ada dua pasang mata dari arah yang berbeda menatap seseorang yang biasanya pemanasan seorang diri itu menjadi memiliki pasangan pemanasan.
Azriel dan Melisa menatap Anna dan Michelle dengan serius dan tajam terlebih pada Michelle dimana mereka memiliki firasat jika cewek itu ada maunya.
Pelajaran olahraga kali ini adalah basket membuat para murid riuh terlebih para cewek karena mereka akan disuguhi pemandangan indah dari permainan apik salah satu Ace tim basket kebanggan sekolah yaitu Azriel.
Seperti biasa saat Azriel sedang bertanding para cewek akan heboh dan ramai menyorakinya mendukung si Ace sekolah.
Anna hanya diam menatap kosong Azriel yang terlihat begitu bersinar itu dengan diapit Michelle disebelah kirinya yang bersorak heboh seperti anak cewek lainnya dan disisi kanannya ada Melisa yang mendengus karena bosan dengan suasana tersebut.
Anna yang memperhatikan Azriel yang begitu bersinar dilapangan membuatnya kembali mengingat jika dirinya harus bekerja ekstra lebih keras untuk olimpiade yang akan datang, dirinya tak ingin kembali menjadi juara dua dan kembali membuat ibunya kecewa juga marah.
Biarkan aku tenang tanpa sinar sialanmu itu dasar, batin Anna menjerit lelah karena senantiasa kalah oleh orang yang sama.