
Ravi menjauhkan ponselnya dari telinganya setelah selesai melakukan panggilan dengan sang tuan, dan dirinya pun akan bergegas melaksanan perintah sang tuan yaitu menjemput Millisanna. Bergerak mengemudikan mobilnya menuju tempat yang dikatakan Azriel.
Sampai ditempat yang dituju betapa terkejutnya dirinya melihat gadis yang dimaksud dalam kondisi tak sadarkan diri dengan kepala yang mengalirkan darah dan juga sedang dibawa dengan digeret membuat kedua kaki gadis itu luka akibat gesekan dengan tanah.
"Hentikan! Lepaskan gadis itu!!"peringat Ravi yang langsung mengarahkan pistolnya kearah wanita yang membawa Millisanna begitu ia keluar dari mobilnya.
Wanita itu terlihat melepaskan Anna begitu saja membuat tubuh bagian atas Anna yang tadi ditarik-tarik menghantam tanah begitu saja.
"Kau!!!"
Dor!
Clak clak.
"Sialan"geram Ravi saat bahunya mengeluarkan darah menetes ke jalanan karena tertembak melihat kearah kirinya ia melihat kaki tangan wanita itu yang menodongkan pistol yang mengeluarkan asap bekas menembak.
Syuut. Tap tap.
Ravi berhasil menghindar dari kaki tangan lain wanita itu yang muncul di belakang nya akan melukainya jika Ravi tidak berhasil menghindari ayunan tongkat baseball besi itu.
Ada dua orang kaki tangan wanita itu yang terlihat tangguh masing-masing memegang senjata, lalu dirinya sedang terluka dan dilihat wanita itu kembali menggeret Anna membuat Ravi sontak berlari mengejar wanita itu karena prioritas nya adalah Anna.
Syuut. Duak! Brak!
"Argh!" Ravi meringis kesakitan kala ia menghantam sebuah pohon setelah didorong kuat.
Duak!
Ravi menghindari serangan lanjutan dari kaki tangan yang membawa tongkat baseball itu.
Nafasnya semakin memburu dan kesadarannya perlahan menghilang namun Ravi tidak akan jatuh pingsan, dirinya harus tetap tersadar karena dirinya harus menyelamatkan Anna.
"Hah tiga lawan satu apa kalian pengecut?"sarkas Ravi memanas-manasi musuhnya.
Dan benar saja ketiganya terprovokasi dan dengan serentak menyerangnya.
Duagh. Buk. Bak. Dugh.
Ravi sebisa mungkin menghindar dan menyerang mereka, merasa beruntung kala kaki tangan yang menggunakan pistol menyerangnya dengan tangan kosong membuatnya sedikit tidak perlu khawatir dengan sebuah tembakan peluru yang akan datang.
Dor! Stab.
Ravi melotot terkejut kala menyadari ada satu lagi orang disana yang menembakkan sebuah peluru tepat pada dadanya membuatnya mengumpat kesal dan semakin kesal kala melihat kaki tangan dengan tongkat baseball mengayunkan kuat senjatanya dan menghantam kepalanya.
Duak!
Ravi menyelesaikan ceritanya dan melihat sang tuan, dirinya benar-benar merasa bersalah pada sang tuan.
"Maafkan saya, seharusnya saya lebih kompeten dan dapat mengatasi mereka"kata Ravi benar-benar merasa bersalah.
Azriel menghela nafas panjang menatap sang bawahan. "Tidak masalah, terimakasih atas kerja kerasmu dan maaf karena membuatmu terluka seperti ini"kata Azriel.
Ravi menggeleng dirinya merasa tidak masalah sama sekali.
"Kau istirahat saja yang benar, biar aku sendiri yang menjemput Anna"kata Azriel tajam seraya berbalik melangkah keluar kamar rawat bawahannya itu.
"Tuan! Tunggu sebentar jangan gegabah! Sebaiknya anda meminta bantuan pada tuan Milan dan tuan Arjuna atau bahkan tuan besar tuan! Jangan bertindak sendiri! Akh!"seru Ravi terkejut bahkan refleks bangkit untuk duduk membuatnya meringis karena lukanya.
Azriel mengapa bawahannya itu. "Tidak, ini masalahku aku tidak mau orang lain ikut campur karena aku takut yang lainnya akan seperti Anna"kata Azriel serius.
"Sebaiknya kau diam dan beristirahat lah, aku akan pergi"kata Azriel membuka pintu kamar rawat itu dan menghilang setelah pintu tertutup.
Ravi sendiri hanya bisa melotot tercengang, dirinya tidak bisa menahan sang tuan.
"Sialan"keluh Ravi kala telapak tangannya penuh dengan darah, lukanya kembali terbuka.
***
Aldres menghentikan motornya didepan kediaman Azriel. Dirinya akan langsung bertanya pada laki-laki itu karena terkahir kali laki-laki itu lah yang bersama Anna.
Hendak menelpon Azriel namun terhenti kala melihat motor lain datang dan berhenti disampingnya dan dilihat itu adalah Milan.
"Nagapain Lo disini?"tanya Milan langsung begitu ia melepas helmnya diikuti laki-laki yang berada diboncengan laki-laki itu.
"Gue ada urusan sama Azriel, Mili sampe sekarang belum pulang dan terkahir kali sama Azriel"kata Aldres penuh emosi.
"Mili? Kak Anna?"tanya Arjuna dibelakang Milan seraya turun dari motor Milan dan berjalan menuju gerbang pintu rumah Azriel yang terbuka memperlihatkan seorang petugas keamanan disana.
"Bang Jiel ada pak?"tanya Arjuna pada petugas keamanan itu yang sedang membukakan gerbang untuk mereka.
"Tadi sore sih pergi tapi gak tau udah pulang apa belum, masuk dulu aja"kata petugas keamanan itu menyuruh mereka masuk termasuk Aldres.
Ketiganya masuk kerumah Azriel dan Arjuna langsung meneriakkan nama Azriel memanggilnya.
"Bang Jiel? Dirumah gak?"kata Arjuna berteriak semangat menaiki tangga menuju kamar Azriel.
"Lo udah coba hubungi Anna?"tanya Milan pada Aldres.
"Udah gue coba tapi gak pernah diangkat-angkat padahal dia lagi online"kata Aldres.
Milan menaikkan alisnya merasa ada yang tidak beres dan firasat buruknya semakin menjadi kala Arjuna berteriak.
"Bang Milan! Bang Jiel gak ada dikamarnya!"seru Arjuna dan bergegas turun menghampiri Milan dan Aldres.
"Den Jiel emang belum pulang, gak tau pergi kemana"kata mbok Mirna yang muncul sambil membawa camilan dan minuman untuk teman-teman Azriel.
"Wah rame, ada temen baru Jiel juga?"
Mereka berbalik dan melihat kedua orangtua Azriel muncul yang sepertinya baru pulang.
"Oh kamu adiknya Gio ya, mirip sekali kamu sama dia"kata Aryan pada Aldres mengenali Aldres sebagai adik Gio karena menurutnya Aldres sangat mirip dengan jaksa hebat yang sering membantunya itu.
Aldres mengangguk saja memperkenalkan diri pada kedua orangtua Azriel itu.
"Kenapa disini gak kekamar Jiel?"tanya Andari bingung.
"Jielnya gak ada bunda"kata Milan.
Kedua orangtua Azriel pun terkejut mendengarnya, melihat jam tapi ini sudah sangat larut. Pergi kemana anak mereka itu jam segini tidak ada dirumah.
Triing triing.
Ponsel Milan mendadak berbunyi dan sedikit mengernyit kala melihat si pemanggil adalah Ravi bawahan mereka atau bawahan pribadinya Azriel.
"Halo?"jawab Milan yang ia sengaja loud speaker.
"Tuan Milan! Tolong hentikan tuan Al! Dia sedang menyelamatkan Millisanna seorang diri dari wanita gila itu!!"