
Tidak terasa sudah hampir tengah semester genap dan sebentar lagi akan diadakan ujian tengah semester dan setelah ujian tersebut akan ada acara festival olahraga sekolah yang kebanyakan murid menunggu acara tersebut dibandingkan dengan ujian tengah semester.
Salah satunya Melisa, gadis itu memanggil Anna saat melihat Anna yang tengah berjalan menuju koridor baru sampai seperti dirinya dan Melisa langsung antusias membicarakan soal festival olahraga tersebut saat menyadari acara tersebut akan segera tiba.
Kebanyakan orang memang menunggu festival olahraga tersebut tapi Anna menjadi kelompok minoritas atau mungkin hanya Anna saja yang malah menunggu ujian tengah semester itu.
"Gue harus masuk tim basket kelas kita pokoknya"kata Melisa bersemangat benar-benar melupakan tentang ujian tengah semester dan juga melupakan jika gadis itu memiliki asma yang cukup parah.
Mungkin karena kecintaannya pada olahraga tersebut Melisa jadi memaksakan diri. Namun sebagai teman Anna mendukung saja dan ikut mendoakan harapan Melisa itu agar menjadi kenyataan.
Tapi Anna juga dengan baik hati mengingatkan sahabatnya itu soal ujian tengah semester. "Tapi Melisa harus gak remed kalo mau ikutan festival olahraga"
Melisa sontak menatap tak percaya pada Anna, Anna ini tidak tahu apa jika dirinya ini sedang mencoba untuk melupakan ujian tengah semester yang bak rintangan sebelum mendapati kemenangan itu.
Melisa pada akhirnya hanya bisa mendengus meratapi nasib.
Keduanya berjalan bersama menuju kelas yang sangat hening saat keduanya masuk dan mereka melihat kearah Anna.
Anna yang diperhatikan pun bingung lantas terkejut melihat kondisi mejanya dipenuhi dengan coretan spidol dan juga guratan-guratan yang isinya menghardiknya dengan kata-kata kasar disana.
Anna bergegas menuju mejanya dan mencoba menghapus tulisan dengan spidol itu tapi sayang sekali ditulis dengan spidol permanen dan lagi guratan makian dimejanya pun cukup dalam dan besar, jika begini dirinya harus mengganti meja, lagi.
Karena saat kelas 10 pun dirinya pernah mengalami hal seperti ini jadi sedikit tidak terkejut tapi tetap saja membuatnya syok.
"Heh siapa pelakunya sialan?!"teriak Melisa berang pada orang-orang disana yang hanya diam melihat.
Melirik tajam pada Michelle yang terlihat duduk santai bahkan tidak berbalik membuat Melisa berang.
"Heh Lo kan pelakunya?!"kesal Melisa menuduh Michelle, bukan menuduh tapi dirinya yakin Michelle lah pelakunya.
Michelle yang dituduh pun tidak terima balas membentak Melisa sambil mendorong tubuh Melisa kasar.
"Sembarang! Mana buktinya sialan?! Kalo nuduh tuh ada bukti jangan cuma modal ngomong doang!!"balas Michelle tak kalah keras dan marah pada Melisa.
Melisa semakin yakin jika Michelle lah pelakunya saat melihat ada sedikit noda hitam di telapak tangan kanan cewek itu.
"Apa Lo?! Kenapa diem?! Makanya jangan sembarang! Gak bisa kasih buktinya kan?! Makan diem aja dasar lon*e!"maki Michelle menyebut Melisa dengan sebutan ja**ng.
Melisa tentu saja marah pastinya dirinya disebut dengan sebutan yang begitu merendahkan. Michelle ini memang harus diberi pelajaran biar otaknya lurus sedikit.
"Anj*ng Lo sialan! Siapa Lo sebut lon*e hah?!"kesal Melisa benar-benar murka akan menghajar Michelle jika saja tidak ditengahi oleh Anna.
"Udah Mel, udah"kata Anna menghentikan Melisa yang mulai emosi itu.
Anna yang diantara Melisa dan Michelle tidak sadar jika dirinya ada disitu akan menjadi sasaran empuk untuk Michelle yang jelas-jelas membencinya itu.
"Akh!"jerit Anna tiba-tiba merasa nyeri karena rambutnya dijambak oleh Michelle.
"Eh sialan Lo malah nyerang Anna! Lepasin!!"kesal Melisa tidak terima Michelle melukai Anna.
"Apa masalah Lo hah?!"kesal Michelle yang tidak peduli masih menyakiti Anna semakin menarik kuat rambut Anna.
Ketiganya bertikai tapi orang-orang disana malah diam hanya menonton dan bahkan ada yang memvideokan pertengkaran tersebut.
Bruk.
Namun nyatanya Michelle sampai terhempas jauh karena didorong Anna. Anna syok karena dirinya merasa tenaganya tidak sekuat itu sampai membuat Michelle sampai terhempas seperti itu dan Melisa sendiri tersenyum senang mentertawakan Michelle yang kena batunya.
"Wah Anna Lo keterlaluan!"kata salah satu teman mereka memprovokasi yang lainnya untuk menyalahkan Anna karena membuat Michelle menangis dan jatuh.
"Minta maaf gak Lo?!"
"Berasa paling jago Lo hah kayak gitu?!"
"Michelle gak salah apa-apa tapi Lo sampe ngedorongnya segininya bener-bener keterlaluan Lo"
Anna kebingungan perasaan bersalahnya semakin menjadi-jadi apalagi saat melihat Michelle mulai menangis semakin keras disana sedang ditenangkan oleh teman-teman yang lain.
Melisa yang melihatnya merasa jijik. "Halah drama queen Lo! Berhenti playing victim Lo sialan!!"kesal Melisa meneriaki tingkah menyebalkan Michelle itu.
"Playing victim apaan Lo hah?! Jelas-jelas Michelle kesakitan gini gara-gara didorong Anna!"balas salah satu dari mereka yang menenangkan Michelle itu membalas perkataan Melisa tak kalah keras.
Melisa jadi terdiam jadi merasa tidak enak juga dan merasa menyesal tapi perasaan sesalnya menguap begitu saja karena menyadari Michelle yang menangis itu sedikit tersenyum miring membuat Melisa benar-benar murka.
"Lo!–"ingin melanjutkan memaki-maki Michelle namun terhenti karena Anna yang terlihat berjalan mendekati orang-orang disana yang menenangkan Michelle.
"Anna minta maaf, Anna gak sengaja"cicit Anna meminta maaf pada Michelle benar-benar merasa bersalah.
"Minta maaf apaan itu gak tulus! Minta maaf sambil sujud sialan!!"teriak salah satu dari mereka pada Anna.
Melisa yang mendengar hal gila dari salah satu teman sekelasnya itu benar-benar tidak habis pikir dan semakin murka.
Anna yang tak ingin memperpanjang masalah pun berpikir untuk patuh dan akan melakukan apa yang disuruh temannya itu, dirinya akan bersujud untuk meminta maaf pada Michelle.
"Ngapain Lo? Emang dia Tuhan Lo?"
Pergerakan Anna dicegah oleh Azriel yang tiba-tiba muncul dan berkata seperti itu pada Anna dan seketika mereka semua hening.
"Berdiri"suruh Azriel pada Anna.
Anna patuh saja karena dirinya sejak mendengar cerita Milan tentang Azriel dirinya jadi takut pada Azriel.
Azriel menatap teman-teman sekelasnya itu yang sepertinya sudah dicuci otaknya oleh nenek sihir seperti Michelle itu, yah mau bagaimana lagi karena teman-teman sekelasnya itu sama bejatnya dengan Michelle.
"Tidak bisa kah kalian tidak bertingkah? Ini terlalu pagi untuk drama kalian"kata Azriel dingin pada mereka dan berlalu pergi menuju mejanya seolah tak terjadi apa-apa.
Semuanya terdiam karena Azriel, dan Anna pun tersadar jika dirinya harus segera mengganti mejanya dengan yang baru.
"Anna mau ganti meja, kalo guru nanyain bilang lagi ganti meja ya"kata Anna pada Melisa seraya menaruh tasnya dibangku dan mengangkat mejanya dengan mudah keluar kelas untuk mengganti mejanya.
Melisa melongo saja melihat Anna yang terlihat lebih memilih memikirkan mejanya itu, ya bagus lah kalau begitu, melirik Azriel disana sedikit merasa berterimakasih karena laki-laki itu sudah menghentikan kegilaan Michelle dan teman-temannya itu.
Melirik Michelle sudah ia duga cewek itu memasang ekspresi tidak terima dan marah karena Anna kembali dibela oleh Azriel.
Yah pokoknya masalah kali ini sudah selesai dan jika nenek sihir itu berulah lagi Melisa akan maju paling depan untuk melindungi sahabatnya Anna.