
"Selamat pagi Kinan, bagaimana dengan jantung barumu? Apa dia sudah berteman denganmu?"
Anak kecil bernama Kinan yang sedang bermain dengan puzzle nya terkekeh kala dokter yang melakukan operasi padanya datang dan mengatakan hal yang lucu.
"Dokter ini bagaimana, tentu saja jantung ku yang baru menyukainya, ibuku bilang aku anak yang baik jadi pastinya jantungku ini akan berteman baik denganku"kata Kinan menunjuk dada bagian kirinya.
Sang dokter pun ikut senang mendengarnya membuatnya tersenyum, mengusap-usap puncak kepala gadis itu sang dokter merasa senang dan juga lega melihat pasien yang ditangani nya lambat laun membaik dan sehat kembali.
"Dokter Anna terimakasih untuk segalanya, anda sudah susah payah mencarikan jantung untuk Kinan dan bahkan memasangkannya sendiri untuk Kinan, saya benar-benar berterima kasih"kata ibu Kinan benar-benar berterimakasih pada dokter yang telah membuat anaknya itu menjadi normal seperti anak sebayanya.
Kinan memiliki kelainan jantung sejak gadis itu lahir yang membuat Kinan tidak bisa hidup dengan normal, namun masih ada harapan untuk Kinan menjadi normal dengan melakukan transplantasi jantung baru yang cocok untuk si gadis.
Sulit mencari jantung baru, entah karena biaya nya yang sangat mahal ataupun kecocokan yang mungkin saja sangat sulit karena tidak cocok sedikit saja itu akan berakibat fatal.
Orangtua Kinan sempat akan menyerah namun disuatu hari mereka dipertemukan dengan dokter yang baru pindah ke rumah sakit tempat Kinan dirawat, dokter yang terkenal sangat handal dan luar biasa.
Dan benar saja dokter tersebut benar nyata sangat luar biasa bukan sekedar nama belaka, dokter itu mengambil alih perawatan untuk Kinan dan pada akhirnya mendapatkan jantung yang sangat cocok untuk Kinan dan akan melakukan prosedur tranplantasi untuk Kinan dan semuanya itu selesai dalam waktu satu bulan, dari mencari jantung yang cocok sampai operasinya dilakukan semuanya sudah terlewat dua Minggu dan Kinan sekarang anak itu sudah sangat sehat dan dapat hidup normal, tinggal beberapa hari sebelum Kinan akan diperbolehkan pulang setelah waktu perawatannya.
"Saya dan ayah Kinan benar-benar berterimakasih pada anda dokter Anna"kata ibu Kinan tak habis-habisnya berterimakasih karena rasanya terimakasih saja tidak akan pernah cukup karena sang dokter telah memperbaiki kehidupan anaknya Kinan.
"Sudah kewajibanku dan dokter lainnya untuk mengembalikan senyuman dan juga harapan para pasien kami"kata dokter wanita itu tersenyum riang.
Ibu Kinan tersenyum kagum dan mengangguk mengiyakan perkataan sang dokter.
"Dokter Anna, berapa umurmu?"tanya si kecil Kinan tiba-tiba.
"Aku? 23 tahun"kata sang dokter seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"tanya dokter.
Gadis kecil itu hanya terkekeh saja seraya mengangguk namun menjawab pertanyaan sang dokter.
"Paman temannya Kinan seumuran sama dokter, dia jomblo terus ganteng juga, dokter Anna jomblo juga kan?"tanya Kinan antusias.
Sang dokter hanya bisa membisu dengan menaikkan alisnya tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya dan ibu Kinan segera memperingati gadis kecil itu jika gadis kecil itu tidak sopan.
"Maafkan saya dokter, Kinan memang suka tiba-tiba seperti ini, tolong jangan dianggap"kata ibu Kinan meras tidak enak.
"Tapi mami para perawat bilang dokter Anna itu jomblo dari lahir, Kinan kasian sama dokter Anna cantik begitu kok jomblo"
Sang dokter merasakan sesuatu yang menusuk hatinya dan sangat menyakitkan kala si gadis kecil berkata seperti itu.
Dengan wajah polos dan suara imutnya itu si gadis mengingatkan sesuatu yang menyedihkan untuknya yaitu sebagai jomblo ngenes.
Sang ibu melotot tak percaya pada anaknya itu sedang sang dokter hanya tertawa kikuk.
"Ya begitulah, aku sedang tidak ingin mencari pasangan"kata dokter Anna pada akhirnya agar pembicaraan semacam ini segera selesai.
"Heh kenapa? Padahal dokter Anna cantik sekali, oh atau jangan-jangan sebenarnya dokter Anna udah punya pacar cuma diem-diem ya?"kata gadis kecil itu dengan pemikiran liarnya.
"Haha tidak tidak, aku tidak punya pacar"
***
"Dah Kinan, jaga kesehatan ya"kata dokter Anna yang pamit keluar ruangan rawat Kinan.
"Dokter Anna juga sehat sehat ya"
Menghela nafas panjang Anna merasa mendadak merasa lelah. Tidak menyangka bocah kecil berumur 6 tahun itu sudah tahu tentang pacaran dan lainnya membuat Anna kewalahan sendiri.
Srekk.
Membuka bungkusan permen tongkatnya Anna membutuhkan asupan gula.
Berpikir dirinya akan kembali ke ruangannya untuk menunggu kunjungan pemeriksaan pasiennya yang lain.
Tap.
Menghentikan langkahnya dibalik tembok berdiam sebentar bersembunyi karena lorong yang akan ia lewati itu ada beberapa perawat juga dokter muda sepertinya yang sedang menjalani masa percobaan sedang membicarakannya.
"Bukan kah tidak masuk akal dokter Anna di usianya sekarang sudah menjadi dokter bedah umum yang sangat luar biasa?"
"Sejujurnya tidak masuk akal"
"Tapi hal yang tidak masuk akal itu nyatanya nyata, bukan kah dia berhasil melakukan operasi transplantasi jantung pada pasien berumur 6-7 tahun yang bahkan menderita hemofilia"
"Benar-benar tidak masuk akal memang"
"Tapi apa kalian pernah dengar jika dokter Anna itu membunuh teman sekelasnya waktu dulu karena tidak bisa mengalahkan nya?"
Krak.
"Ah benar juga, itu sudah menjadi topik hangat diseluruh sudut rumah sakit ini sejak kedatangan dokter Anna kemari"
"Seorang dokter muda yang melakukan percobaan dirumah sakit ini satu angkatan dan satu kampus dengan dokter Anna pernah menceritakan tentang itu"
"Tidak perlu mendengarkan cerita dokter muda itu, kalian bisa tanyakan padaku karena aku satu SMA dengan dokter Anna"
"Hah?! Yang benar?!"
"Ya aku satu sekolah dengannya walau tidak pernah satu kelas"
"Jadi benar yang dikatakan dokter muda itu kalau dokter Anna membunuh teman sekelasnya sendiri?"
"Ya seperti itulah kabar yang beredar karena orang yang dimaksud dulunya emang orang yang luar biasa, selalu menempati peringkat pertama dalam hal apapun dan dokter Anna dibawahnya, selalu sampai orang itu dinyatakan meninggal dan akhirnya selama dua tahun sekolah selalu menduduki peringkat kedua, dokter Anna akhirnya menduduki peringkat pertama"
"Astaga apa dokter Anna gak diadili? Jika begitu adanya berarti dia pembunuh–"
Tap tap.
"Selamat siang dokter Anna"sambut mereka gelagapan kala melihat dokter Anna yang muncul dari ujung lorong melangkah kearah mereka dan melewati mereka.
"Ah iya selamat siang, mari"sapa balik dokter Anna seraya melewati mereka dengan ramah mengangguk menyapa mereka.
Kumpulan orang-orang itu mendadak membisu dan menegang saling tatap satu sama lain.
"Dia gak dengerin omongan kita kan?"
"Hahaha enggak dong, ya kan?"
Dokter Anna sendiri berjalan menjauh dari mereka dengan tatapan datar dan mulutnya yang senantiasa mengunyah menghancurkan permen tongkatnya melampiaskan perasaan kalutnya pada permen tersebut.