Millisanna

Millisanna
Bab 23



Anna tersadar mendadak tubuhnya menggigil kedinginan membuka matanya mematai sekitar, tersadar ia tak menggunakan apapun.


"Ya Tuhan"lirih Anna mematai tubuhnya yang penuh memar dan luka goresan polos tanpa pakaian hanya menyisakan ********** saja.


Mendadak ia membayangkan hal buruk melihat kondisinya membuatnya menggigit bibir bawahnya menahan isakan saat air matanya mengalir.


"Hiks"satu isakan lolos diikuti dengan isakan lain menyadari jika dirinya sudah kotor terlihat dari kondisinya saat ini.


Memungut pakaiannya yang tersebar dengan pandangan buram karena air mata. Senantiasa menggumamkan kata maaf untuk keluarganya, Tuhan dan calon suaminya dimasa depan karena dirinya begitu kotor.


Berhenti tiba-tiba karena terkejut melihat kondisi Azriel yang tak jauh darinya. Bergegas menghampiri melepaskan ikatan mengabaikan dirinya yang masih belum berpakaian.


"Azriel?"ditepuk-tepuk pipi pucat itu setelah merubah posisi Azriel menjadi terlentang dilantai.


Tak ada tanda-tanda pria itu akan sadar, membuat khawatir sekaligus lega karena pria itu masih bernafas dan luka-lukanya sudah diobati yang sepertinya menggunakan benda-benda yang berasal dari kotak P3K miliknya.


Tersadar bahwa dirinya belum berpakaian, Anna bergegas memakai pakaiannya kembali sembari mencoba untuk menerima dirinya dengan keadaan yang sekarang.


Anna tahu sekarang dia sudah tak lagi suci, Anna menyesal sudah lalai menjaga diri sendiri tapi ia akan menerimanya dan jika orang-orang tak menerima dirinya yang sekarang tak apa, ia akan hidup sendiri nanti menjalaninya dengan penuh syukur karena masih diberikan hidup lebih baik.


Memang agak gila karena ini kedua kalinya ia dilecehkan, membuat Anna merasa hidupnya agak sedikit tidak beruntung.


Kedua kelopak mata Azriel perlahan terbuka, langit-langit ruangan yang pertama ia lihat, memiringkan kepala kekiri ia melihat Anna membelakanginya sudah kembali berpakaian.


"Anna"


Anna berbalik menatap syukur pada Azriel yang telah sadar disana. Segera ia menghampiri Azriel mematai kondisi pria itu.


"Kamu gak apa-apa?"tanya Anna khawatir dengan Azriel yang menerima hantaman besi di kepalanya oleh pemburu gila itu.


Azriel menggeleng lantas mendudukkan dirinya menghadap Anna.


"Gue minta maaf, karena gue Lo ngalamin hal kayak gini"kata Azriel menyesal.


Anna diam-diam meringis kecil mengetahui maksud dari perkataan Azriel. Yah sepertinya mereka sedang sial.


"Harusnya gue gak nolongin harimau itu"sesal Azriel.


Anna menggeleng tak setuju. "Kamu bener soal nyelametin harimau itu, kitanya aja yang lagi sial sampe harus ketemu pemburu gila itu, tangannya gak apa-apa?"tanya Anna mengingat Azriel mendapatkan tusukan dalam di lengan kanannya.


Anna terkejut melihat perban yang melilit di luka tusukan itu berwarna merah dan terlihat basah.


"Lukanya kebuka lagi"kata Azriel santai.


Anna menatap tak percaya Azriel yang begitu santai itu, jika dibiarkan Azriel bisa kehilangan banyak darah.


"Jangan santai gitu, itu lukanya harus diobatin"kata Anna gusar melihat kesana kemari tak ada yang bisa ia gunakan untuk memperbaiki perban Azriel.


Click brak.


Suara kunci dan pintu yang terbuka memperlihatkan ketua pemburu disana dengan wajah senang sekali.


Azriel mendadak memasang sikap waspada dengan menjaga Anna dibelakangnya.


"Udah pada sadar Lo pada hm"kekeh ketua pemburu itu masuk keruangan.


Berjalan santai menatap Azriel yang terlihat akan membunuhnya saat itu juga membuat si ketua terkekeh.


"Santai boy, gue gak minat sama barang bekas"katanya santai.


Anna menegang dibelakang Azriel meremat jaket nya ketakutan. Sedangkan Azriel benar-benar akan membunuh pria kurang ajar itu saat ini juga walau ia sedikit terkejut dan bingung mengenai maksud 'barang bekas' yang dikatakan pria pemburu itu.


Heug!!


Azriel memberontak saat tiba-tiba ia dipaksa berdiri dengan tangan kotor ketua pemburu itu mencengkram kuat rahang dan lehernya membuatnya kesulitan bernafas.


Anna bergegas hendak menyelamatkan Azriel jika saja ketua pemburu itu tidak menodongkan pistol kearah kepala Azriel yang sedang ia cekik membelakangi Anna.


"Heh wanita bekas mending Lo diem atau temen Lo ini mati"ancam pemburu gila itu main-main tentu saja karena jika bocah laki-laki itu mati hilang sudah 100 miliar miliknya.


Dugh.


"Arrgghh!!!"jerit Azriel saat luka dilengannya dihantam kuat oleh belakang pistol milik ketua pemburu itu.


Bruk.


Anna bergegas menghampiri Azriel yang dihempaskan menghantam dinding meringis kesakitan dengan terbatuk-batuk karena kehabisan oksigen.


"Lukanya"gumam Anna merasa khawatir melihat luka di lengan Azriel yang semakin parah dengan darah yang mengalir dari lilitan perban berwana merah itu.


"Cih bikin repot aja"dengus ketua pemburu itu melihat luka Azriel yang malah kembali terbuka itu.


Bergerak keluar ruangan untuk kembali dengan membawa kotak p3k dan menghampiri kedua remaja itu dimana si remaja cewek itu begitu terlihat waspada membuatnya terkekeh rendah.


Anna dengan bergegas mengambil kotak p3k tersebut setelah menyenderkan tubuh Azriel ke dinding dan bergegas memperbaiki perban untuk menutupi luka di lengan Azriel.


Si ketua pemburu tertawa merendahkan melihat kelakuan remaja gadis itu. "Ya ya betah-betah dah Lo pada sampe bokap Lo datang dengan uang tebusan"kekeh ketua pemburu itu menatap songong Azriel yang meliriknya tajam.


"Ish"ringis Azriel saat tak sengaja Anna sedikit menekan lukanya.


Anna jadi ikut meringis dan meminta maaf dengan segera. "Maaf gak sengaja"cicit Anna.


Anna selesai memperbaiki perban Azriel dan sedang membereskan bekasnya sampai pergerakannya dihentikan oleh Azriel yang menahan tangannya.


Azriel menatap serius Anna membuat Anna sedikit gugup.


"Kita kabur dari sini"bisik Azriel serius.


Dan itu membuat Anna semakin gugup.


***


Didepan pintu masuk hutan lindung sedikit ramai dengan banyaknya mobil polisi dan beberapa kepala keluarga dari warga sekitar yang diminta bantuannya.


Bruuumm.


Sebuah mobil sedan mewah tiba dan parkir tepat disebelah mobil kepala polisi dan orang yang datang adalah Aryan ayah dari Azriel melangkah langsung mendekati adik iparnya yang menatapnya.


"Bagaimana kau bisa tahu tempat mereka bersembunyi?"kata kepala polisi itu yang juga paman Azriel yang bernama Amar.


Aryan tidak menjawab hanya diam dan berbalik dan membuka bagasi mobilnya untuk memperlihatkan banyak koper berisi uang disana.


Amar dan para bawahannya menatap terkejut Aryan disana.


"Anakku disandra oleh para pemburu itu, dan mereka meminta tebusan dan tentu saja aku akan mendapatkan anakku dengan keadaan baik tak peduli dengan semua uang ini"kata Aryan serius.


Amar yang melihat keseriusan suami kakaknya itu hanya bisa menghela nafas karena dirinya paham dengan arti ekspresi yang ditampilkan kakak iparnya itu.


Menghela Amar menatap Aryan. "Bagaimana rencananya?"tanya Amar langsung.


Aryan menatap Amar dengan seringaian yang perlahan terbit dari wajah tampannya.


"Mereka akan mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan"kata Aryan tajam.


***


Anna ragu menatap Azriel yang baru saja selesai mengatakan rencananya untuk kabur dari sini. Ingin mengatakan pendapatnya tapi Anna ragu dan takut-takut.


"Gimana Lo sanggup?"kata Azriel serius kembali memastikan jika Anna setuju dengan rencananya.


Anna menggigit bibir dalamnya ragu, dirinya jujur saja tidak setuju dengan rencana Azriel karena rencana yang dibilang Azriel sangat tidak menguntungkan untuk Azriel, salah sedikit saja laki-laki itu bisa saja terluka atau lebih parahnya lagi laki-laki itu bisa saja meninggal.


Tap.


"Percaya sama gue"kata Azriel serius menatap tepat pada bola mata indah Anna yang terlihat sekali gadis itu ragu juga takut, sedikit mengusap kedua pipi tembam Anna meyakinkan gadis itu jika semuanya akan baik-baik saja.


Anna semakin kuat menggigit bibir dalamnya, mengangguk ragu karena dirinya tak bisa menolak Azriel.


Azriel tersenyum melihatnya.


Keduanya berdiri mempersiapkan diri saling meyakinkan diri masing-masing jika mereka akan baik-baik saja dan kabur dengan selamat.


"Ayo kita lakukan"


***


"Om Aryan!"


Aryan menatap Milan yang langsung memanggilnya menghampirinya begitu dirinya datang ke tenda milik para pembina perkemahan disana.


"Milan minta maaf, Milan lagi-lagi gagal, Milan–"


Hug.


Aryan memeluk anak sahabatnya itu dengan erat menenangkan anak itu yang mulai menangis karena rasa bersalah.


"Tenanglah, ini bukan salah kamu"kata Aryan menenangkan Milan.


"Kali ini biar om benar-benar membasmi orang-orang jahat itu"lanjut Aryan dengan tatapan tajam dibalik tubuh Milan yang ia peluk itu.


Dirinya bertekad akan benar-benar membuat para penjahat itu akan menerima ganjarannya yang setimpal karena berani bermain-main dengannya.


Hukuman yang setimpal adalah mati.