Millisanna

Millisanna
Bab 104



Milan sampai di sekolah dan ternyata Azriel pun telah sampai disekolah dilihat laki-laki itu bahkan selesai memarkirkan motornya hendak pergi ke kelas namun oleh Milan dengan refleks memanggilnya untuk menghentikan Azriel.


"Jiel tungguin elah!"kata Milan semakin mempercepat laju motornya dan dengan singkat sudah memarkirkan motornya disebelah motor Azriel seperti biasa.


"Kenapa?"tanya Azriel sewot melihat sahabatnya itu yang terlihat terburu-buru tidak tahu kenapa.


Milan dengan kilat langsung berhadapan dengan sahabatnya itu menatap Azriel dengan ekspresi yang membuat Azriel ingin menabok wajah Milan.


"Jijik gue, apaan sih?!"kesal Azriel menggeplak wajah Milan.


Yang dipukul hanya terkekeh menggelikan dan menaikturunkan alisnya membuat Azriel semakin ingin rasanya menghajar lebih sahabatnya itu yang pagi-pagi sudah mulai kumat gilanya.


"Gak usah sok bego sialan, gue tau lo–"


"Azriel"


Perkataan Milan terpotong oleh seseorang yang tidak terduga yang datang menghampiri Azriel dengan memanggilnya dan semakin membuat Milan melongo kala melihat bagaimana Azriel dengan santainya bersikap.


"Ini tempat pensil Lo"kata Azriel memberikan tempat pensil Anna yang tertinggal dirumahnya.


"Makasih"kata Anna senang akhirnya tempat pensil ternyata benar-benar tertinggal dirumah Azriel bukan hilang.


Milan menatap interaksi keduanya dengan syok. Kenapa ini? Kenapa tidak sesuai ekspektasi nya? Ekspektasi nya kan akan melihat bagaimana Azriel dan Anna yang terlihat malu-malu kucing kala bertemu setelah kejadian ciuman di perpustakaan rumah Azriel itu.


"Heh Lo berdua kok biasa-biasa aja?!"seru Milan pada akhirnya menyerukan ketidakpuasannya.


Azriel dan Anna pun keduanya menatap Milan, Anna yang bingung dan Azriel yang memutar matanya malas karena sahabatnya itu sedang kumat gilanya.


"Abaikan dia emang lagi gila"kata Azriel cuek membawa Anna pergi ke kelas bersama meninggalkan Milan yang benar-benar melongo disana.


Milan mendadak melipat kedua tangannya di dada seraya menatap kedua orang itu yang pergi meninggalkannya itu. "Hem~"


"Yah setidaknya Jiel gak terlalu kepikiran soal 'orang gila' itu, biar gue membalas kesalahan gue di masa lalu dengan mengenyahkan orang itu untuk selama-lamanya"kata Milan tatapannya berubah menjadi sangat tajam dan mengerikan.


***


"Hey"


Anna yang sedang merapihkan mejanya karena sudah masuk jam istirahat melirik kearah kirinya karena merasa Azriel memanggilnya.


"Ya?"tanya Anna pada Azriel karena benar saja laki-laki itu menyodorkan sebuah kotak bekal padanya.


"Dari bunda tanda terimakasih untuk Lo di hari minggu kemarin"kata Azriel singkat menyodorkan kotak makan yang disiapkan bunda nya itu.


Anna jadi diingatkan lagi dengan kejadian hari Minggu itu membuatnya mendadak memerah, padahal tadi pagi kan biasa saja kenapa kali ini dirinya merasa sangat malu.


"Kalo malu gak usah bagi-bagi"omel Azriel pada Anna karena dirinya pun jadi ikut merasa malu mengingat kejadian di hari Minggu itu.


"Ini cepet ambil, abisin nanti bunda gue marah"kata Azriel memaksa Anna untuk menerimanya.


"Ah iya makasih"kata Anna menerima kotak bekal itu.


Anna membuka kotak bekal itu dengan ragu namun seketika dirinya terpana dengan isinya sangat imut dan menggugah selera karena bunda Azriel menyiapkan kotak bekal karakter.


Anna pun refleks mengambil ponselnya dan memotret bekal itu Azriel sendiri yang sudah mulai memakan bekalnya itu menatap datar Anna yang sepertinya sama saja seperti cewek lain yang suka memotret sebelum makan.


"Dimakan bukan difoto-foto doang"kata Azriel mengingatkan.


Anna pun hanya terkekeh memberikan cengiran malu dan berdoa sebelum makan. Mengambil satu buah sosis berbentuk gurita dan melahapnya membuat Anna berseru kecil.


"Ada kejunya didalem"kata Anna antusias dengan makanannya.


Azriel tersenyum saja mengangguk dan memakan makanannya.


"Hei kalian janjian bawa bekal kok gak ajak-ajak sih"kata Melisa yang muncul diikuti Mutia, keduanya tadi mau mengajak Anna ke kantin tapi sepertinya tidak bisa karena gadis itu bahkan sudah memakan bekalnya.


Keduanya memperhatikan bekal Anna dan Azriel dan mereka pun terkejut karena bekal mereka sama bahkan kotak bekal mereka sama hanya saja berbeda warna.


"Anna Lo ngebuatin bekal buat Azriel?"seru Melisa antusias dan Mutia juga tak kalah antusias karena keduanya sejenis, sama-sama pencinta romansa sekolah.


Anna bergegas menggeleng karena bukan seperti yang kedua temannya duga. "Bukan ini dibuatin ibunya Azriel"kata Anna tanpa beban.


"Itu lebih mengejutkan lagi!"seru Melisa sangat terkejut.


"Kok bisa Anna? Heh~ jangan-jangan.."kekeh Mutia mulai menaikkan alisnya menggoda Anna.


"'Jangan-jangan' enak ini bola dagingnya"kata Anna membelokkan arah pembicaraan dengan melahap bola-bola daging yang ada di bekalnya.


"Beneran enak lho"seru Anna.


"Ih gue juga mau"kata Melisa dan Mutia karena sejujurnya mereka sangat tergiur dengan bekal yang di makan Anna.


"Ahaha ini satu satu"kata Anna memberikan kedua temannya merasakan bekal yang didapatnya dan merasa lega jika kedua temannya itu teralihkan perhatiannya.


Azriel sendiri mendengus terkekeh melihat kelakuan Anna dan kedua temannya itu, benar-benar dasar cewek.


***


Milan tersentak disela dirinya mengunyah makanannya karena terkejut dan menatap tajam si pelaku yang membuatnya terkejut itu duduk santai menempati kursi disebrangnya dengan temannya itu.


"Biasa aja bisa gak?"sewot Milan setelah meminum minumannya meredakan keterkejutannya menatap tajam Melisa yanga hanya terkekeh tidak merasa bersalah sama sekali.


"Hehehe. Tapi daripada itu ada yang paling penting! Anna sama Azriel! Mereka kok makin deket aja keliatannya, Lo tau gak kenapa?"kata Melisa penasaran.


"Ya tanya aja sama mereka"jawab Milan cuek.


"Yeh gimana sih Lo kan sahabatnya Azriel"kata Melisa tidak puas.


"Ya maka dari itu karena gue sahabatnya Jiel jadi gue gak akan ember"kata Milan benar-benar cuek tidak mengindahkan Melisa yang berakhir mendengus karena jawabannya itu.


"Ngomong-ngomong Lo itu yang deket sama Arjuna kan? Yah sepertinya Lo jenius sampe bisa satu angkatan sama kita padahal Lo seumuran sama Arjuna"kata Milan mengalihkan pembicaraan dengan mulai membicarakan teman yang dibawa oleh Melisa itu.


Mutia yang dibicarakan pun hanya mengangguk saja, dirinya tidak tahu ternyata Arjuna dan Milan benar-benar sangat dekat yang berarti dengan Azriel juga.


"Eh beneran Lo lebih muda dari kita? Lo masuk sekolah awal satu tahun apa?"tanya Melisa jadi ikut penasaran dengan Mutia.


"Enggak, gue lompat kelas sekali pas kelas 3 SD"kata Mutia jujur.


"Oalah pantes aja Lo selalu diperingkat lima besar seangkatan, gue juga baru sadar nama Lo selalu di peringkat keempat atau kelima"kata Melisa merasa diingatkan.


"Iya soalnya 3 terbaik selalu dia, Anna sama Azriel"kata Mutia menunjuk Milan.


"Nyebelin emang, tampang kek begini tapi rangking 3 seangkatan terus emang gak masuk akal"kata Melisa yang malah meledek Milan.


"Apa maksud Lo? Ngajak ribut hah?"kata Milan tidak terima.


Dan Mutia tidak terkejut jika kedua orang itu jadi meributkan hal yang tidak perlu karena sering kali dirinya melihat mereka meributkan sesuatu hal disaat dirinya belum sedekat ini dengan keduanya, dan begitu sudah dekat seperti ini Mutia merasa telinganya bisa saja menjadi tuli.


***


Anna berjalan pulang, waktu sekolah telah usai dan dirinya akan pergi ke tempat les.


"Mili!!"


Anna tidak terkejut dengan seruan itu yang dipastikan adalah Aldres yang memanggilnya yang terlihat kembali datang untuk menjemputnya.


"Gimana sekolahnya hari ini?"tanya Aldres bersemangat.


"Lancar"balas Anna yang menghampiri Aldres.


Tin tin.


Sebuah mobil berhenti tidak jauh disamping Aldres memarkirkan motornya. Dan keduanya bisa melihat Kiara yang memunculkan diri keluar dari mobil tersebut.


"Eh kebetulan nih, Mili ayo jalan-jalan, katanya mau janji jalan-jalan me time sama kakak khusus untuk para cewek tanpa laki-laki"kata Kiara ceria namun sedetik sempat melirik Aldres dengan tatapan 'Lo gak akan diajak'.


"Anna ikut kak?"tanya Mutia yang muncul bergabung dengan mereka.


"Ya tentu kenapa tidak"kata Kiara santai.


Mutia sudah kesenangan dan Anna merasa ragu dirinya ada les tapi menolak ajakan Kiara akan sangat tidak sopan.


Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk Anna pun membukanya dan melihat pesan tersebut yang membuatnya merasa ingin menangis.


"Gue ikut kak"kata Aldres ingin ikut.


"Lo cewek?"tanya Kiara cuek dan itu membuat Aldres memberengut.


"Gue bilangin bang Gio lho kalo gue gak diajak sama Lo"kata Aldres memberikan ancaman.


"Bilang aja karena Gio pasti bakal pro ke gue bagiamana pun caranya"kata Kiara tidak takut ancaman dari adik iparnya itu.


Aldres sudah kehabisan akal bagiamana caranya agar dirinya bisa ikut, karena dirinya pun ikut jalan-jalan bersama Anna.


"Nanti gue yang bawain belanjaan kalian gimana?"kata Aldres begitu kukuh ingin ikut.


Kiara sendiri sudah tidak tahan dan berkahir tertawa karena calon adik iparnya itu benar-benar sesuatu.


"Yaudah ayo ikut, gue jadi merasa bersalah sama Lo"kekeh Kiara akhirnya luluh.


Aldres sudah semangat empat lima karena diperbolehkan untuk ikut, akan mengajak Anna untuk pergi bersamanya namun dicegah oleh Kiara dan juga adiknya Mutia.


"Lo mau ngajakin Anna panas-panasan huh?!"tanya Kiara tak habis pikir.


"Enggak-enggak, Anna sama kita pake mobil Lo sendiri"lanjut Mutia.


Aldres mendecih saja pada akhirnya dan mengalah membiarkan Anna bersama kedua perempuan itu. Ya dirinya juga tidak mau Anna kepanasan sih.


Pada akhirnya Aldres mengikuti mobil yang membawa ketiga perempuan itu dari belakang menggunakan motornya, menerimanya saja karena Kiara sudah berbaik hati memperbolehkannya untuk ikut.