Millisanna

Millisanna
Bab 107



Anna pulang ke rumahnya setelah dari jalan-jalan diantar oleh Aldres. Melangkah masuk kedalam rumah seraya mengucapkan salam dan seperti yang diduganya sang ibu sudah menunggunya dengan tangan terlipat didada dan juga tatapan yang begitu tajam kentara sekali sedang murka.


Ya pastinya ibunya murka, guru lesnya mengatakan akan mengurangi jam belajarnya lalu dirinya pulang jalan-jalan.


"Kau benar-benar ya"kata ibu benar-benar tak bisa lagi mendefinisikan kemarahan nya yang sekarang sedang meluap-luap yang bukan murka lagi tapi sudah ditaraf paling atas dari kemarahan itu sendiri.


Anna hanya bisa diam menunduk menatap kosong kearah lantai, sekarang pikirannya kosong dan kemarahan sang ibu tidak nampak untuknya.


Ibunya yang mulai mengomel itu terdengar hening ditelinga nya, semuanya terlihat hitam putih dan tanpa suara keluar sedikitpun seperti pantomim.


Yang terlihat oleh nya hanya sosok samar yang terlihat diam berdiri disana dan perlahan sosok samar itu perlahan terlihat jika sosok itu adalah seorang anak kecil dan perlahan Anna bisa menyadari jika anak itu terlihat tersenyum namun senyuman nya begitu mengerikan dan anak itu terlihat mengucapkan sesuatu.


'Aku membencimu'


Plak!


Anna tersadar kala dirinya mendapat tamparan keras dari ibunya yang terlihat begitu murka padanya.


"Sepertinya kau tidak mempedulikan ibumu ini, kalau begitu ibu tidak akan peduli denganmu juga dasar anak sialan!!"marah ibu dan berlalu pergi meninggalkan Anna sendirian disana.


Anna sendiri hanya diam menyentuh pipinya yang terasa sakit dan kebas juga panas, namun ia tidak mempedulikannya karena Anna hanya memikirkan satu.


Siapa anak tadi?


***


Anna bangun dari tidurnya dengan kosong, dirinya berpikir sosok itu akan datang ke mimpinya karena dirinya begitu memikirkan sosok samar yang tiba-tiba muncul itu dan mencuri semua perhatian dan pikirannya.


Tidak ada, sosok itu tidak datang ke mimpinya membuat Anna menghela saja, mungkin memang harus ia cari sendiri dalam kondisi sadar sosok samar yang tiba-tiba muncul dalam benaknya itu.


Turun dari ranjang Anna akan melupakan tentang sosok itu karena dirinya akan bersiap untuk pergi ke sekolah.


Keluar dari kamar setelah selesai bersiap dan sudah berseragam Anna berjalan turun menuruni tangga dan mendapati seluruh anggota keluarganya sedang sarapan.


Berjalan akan bergabung namun perkataan sang ayah membuatnya urung.


"Siapa kamu? Enyah saja anak durhaka sepertimu itu"kata ayah tajam.


Anna terdiam ditempatnya menatap keluarganya dengan kosong. Ya dirinya memang salah dan ini adalah balasannya atas kesalahannya kalau begitu Anna akan menerima akibat dari kesalahannya.


Bergumam maaf dan mengucap salam dirinya pamit pergi ke sekolah dan begitu dirinya berbalik bisa dirinya dengar jika keluarganya itu mulai mencemoohnya.


Yah namanya juga hukuman, Anna hanya berharap hukumannya hanya sampai sini tidak sampai selamanya yang berarti dirinya telah dibuang dari keluarganya.


Melangkah keluar rumah Anna merogoh sakunya saat menyadari dirinya tidak memiliki uang cash untuk membayar angkot, mencari di tasnya pun tidak ada, membuat Anna berpikir dirinya harus mencari ATM untuk menarik uang cash.


***


"Anna Lo gak apa-apa? Katanya Lo diserang sama orang gak dikenal"seru Melisa saat Anna sampai dikelas, temannya itu pasti mengetahuinya dari Mutia yang berada disebelah gadis itu.


Anna terkekeh saja seraya memegang lehernya yang diperban. "Ya begitulah"kata Anna seadanya.


"Astaga padahal baru aja sembuh tuh leher udah luka lagi itu"keluh Melisa tak habis pikir.


"Kakak gue ngelaporin hal ini ke polisi dan katanya bakal diselidiki lebih lanjut na"kata Mutia serius.


"Bener Lo? Kalo gitu gue juga mau bantu cari tuh penjahat sialan"kata Melisa bersemangat, akan ia gunakan kehebatan nama keluarganya untuk mencari penjahat yang telah menyakiti sahabatnya itu.


Anna yang mendengarnya tersenyum berterimakasih namun dirinya berpikir itu terlalu berlebihan. "Gak apa-apa Anna, itu cuma orang iseng bukan penjahat beneran"kata Anna tidak masalah.


Mutia dan Melisa menatap Anna syok. "Lo gila?!"seru mereka berdua kompak.


Anna yang mendapat semprotan itu hanya bisa tersenyum kikuk dan mundur selangkah karena terkejut.


Bruk.


"Maaf"kata Anna kala dirinya merasa menabrak seseorang yang sepertinya akan masuk kedalam kelas.


Dan orang itu Azriel yang menatap Anna datar juga kedua teman gadis itu, dirinya merasa aneh kenapa ketiga cewek itu menghalangi jalan.


"Kalian ngehalangin jalan"kata Azriel cuek melewati ketiga cewek itu begitu saja menuju ke kursinya.


Melisa dan Mutia mencebik sebal karena Azriel, padahal mereka lagi dipembicaraan serius tapi laki-laki itu sangat menyebalkan.


"Mau Lo anggep ini masalah sepele atau enggak tapi gue bakal tetep dukung kakak gue buat ngelaporin hal ini ke kepolisian"kata Mutia masih kukuh.


Melisa ikut mengangguk. "Ya bener, gue juga dukung, biar gue cari juga tuh penjahat yang udah ngelukain Lo itu pake privilege yang dipunya keluarga gue"kata Melisa serius.


Anna terkekeh kikuk saja melihat kesungguhan kedua temannya itu dan berpikir dirinya tidak akan ikut campur.


Bel masuk berbunyi ketiga cewek itu pun bergegas menuju ke kursi mereka masing-masing.


Dan Anna memberikan senyumnya sebagai sapaan dan sopan santun pada Azriel karena laki-laki itu memperhatikan nya sejak tadi.


"Baik semuanya selamat pagi"kata guru yang masuk kedalam kelas siap memberikan pelajaran pada mereka.


Azriel mengabaikannya karena fokus dirinya tertuju pada leher Anna yang kembali diplester dan saat dirinya mengetahui penyebabnya dari mencuri dengar pembicaraan ketiga cewek tadi Azriel merasakan firasat buruk.


Dan semakin buruk kala dirinya mendapatkan pesan dari seseorang yang tak terduga.