Millisanna

Millisanna
Bab 78



"Milan!!"


Azriel langsung menukik memutar arah motornya berbalik saat melihat sahabatnya itu 'tidak selamat'.


"Ish sialan"keluh Milan meringis nyeri disekujur tubuhnya langsung melepas helmnya dan melempar pada mobil tersangka yang membuatnya kecelakaan seperti ini.


"Lo oke?!"seru Azriel langsung turun dari motornya untuk memeriksa kondisi sahabatnya.


Milan mengangguk saja mengatakan dirinya baik-baik saja walau lecet disana-sini tapi itu tidak lebih dari lecet ringan semata, tapi motornya disana sudah tidak berbentuk membuat emosi Milan kembali naik.


"Sialan ini pasti ulah si kakak kelas sialan itu"kesal Milan saat dirinya dibantu bangun oleh Azriel.


Azriel melihat sahabatnya itu, bagaimana sahabatnya itu tahu jika ini ulahnya kakak kelas itu?


"Tadi yang bawa mobil-mobil itu semuanya orangnya si kakak kelas itu"kata Milan menjawab karena dari ekspresi wajah Azriel sangat jelas jika dirinya tidak tahu.


Milan melihat kelas dari dua mobil yang menyerang mereka itu dua duanya dikendarai oleh orang-orang dari gengnya si kakak kelas itu.


Azriel terdiam dibuatnya, kakak kelas nya itu sudah terlalu bertingkah kelewatan, bahkan sampai melukai Milan sahabatnya, tak akan ia biarkan mereka hidup dengan tenang sebelum menerima balasannya.


"Langsung kerumah aja jangan kerumah sakit"kata Milan namun Azriel tentu saja tidak setuju karena dirinya menginginkan Milan yang harus mendapat pemeriksaan yang lebih baik dan teliti oleh tenaga profesional.


"Kerumah sakit atau gue aduin ke nyokap Lo"kata Azriel santai menahan Milan yang akan kabur dan langsung berdiri kaku saat mendengar ibunya disebut-sebut oleh Azriel.


"Apapun asalkan jangan nyokap gue"kata Milan begitu menurut. Karena Milan tetaplah seorang anak yang takut pada orangtuanya terlebih pada ibu nya.


***


Parkiran yang tak jauh dari arena balapan sedikit ramai karena empat orang disana sedang menongkrong bercengkrama sambil merokok menunggu ketua mereka datang dan bertanding.


Keempat orang yang juga merupakan pelaku dari penabrakan seorang siswa tadi siang terlihat tidak ada rasa bersalahnya sama sekali dan malah membicarakan si korban.


"Napa juga ya si bos sampe segitu nya ingin kedua cowok banci itu join sama geng kita?"kata salah satu dari mereka memulai obrolan.


"Bener kan? Diliat darimana juga tuh dua adik kelas keliatan kayak yang ngondek gak sih? Kulit mereka kek kulit cewek cuy!"sahut yang lain membuat mereka terkekeh.


"Putih kinclong, masa depan gue aja kayaknya gak sebersih kulit mereka kayaknya hahaha"


"Tampang kayak mereka gak ada apa-apa nya pasti, cuma anak sok keren yang mentingin penampilan"lanjut yang lain yang diangguki mereka semua yang tertawa terbahak karena mereka mengolok-olok kedua adik kelasnya itu yang seperti banci.


Brum brum.


Keempat cowok itu mendadak berhenti tertawa dan terdiam karena seseorang yang bukan bosnya itu datang dan turun dari motornya tanpa melepas helmnya seraya memegang tongkat baseball dari besi.


Satu dari keempat cowok itu turun dan mendekati sosok itu yang sepertinya datang untuk berkelahi itu.


"Siapa Lo? Mau jadi jagoan huh?!"kata cowok itu pada si sosok yang memakai helm itu.


"Bukan. Gue mau balas dendam!"


Duak.


Si cowok terkejut dan tidak bisa mengelak dari ayunan tongkat baseball yang begitu cepat dan tiba-tiba itu yang langsung menghantam tepat ke samping kepalanya.


Ketiga teman cowok itu yang melihatnya tidak tinggal diam dan marah melihat teman mereka diserang tiba-tiba itu.


Ketiganya pun dengan bersamaan menghajar sosok berhelm itu dengan membabi-buta.


Namun bak ahli bela diri handal sosok berhelm itu dengan mudah dan cepat menghindari dan membalas serangan.


Syuut. Buk. Buak. Tap. Bugh. Bruk.


Keempat cowok itu keempatnya tersungkur ditanah dengan banyak luka dan satu diantara mereka bahkan sampai kehilangan kesadarannya.


Sosok berhelm itu menatap mereka dengan datar dan dingin, tongkat baseball disampingnya yang menggantung ditangannya meneteskan darah hasil dari pertarungannya.


"Siapa Lo anjing?!"berang salah satu cowok disana benar-benar murka pada sosok tersebut.


Tak menjawab sosok itu melepas helmnya dan ketiga cowok yang masih tersadar pun terkejut dan seketika membatu menatap tak percaya pada sosok tersebut.


"Kenapa? Terkejut karena kalah dari 'banci' kek gue? Sebaiknya kalian jangan coba-coba untuk berurusan dengan gue atau sahabat gue"kata Azriel santai dan sangat serius dengan peringatan nya.


Azriel pun berbalik dan meninggalkan orang-orang berengsek seperti mereka begitu saja sedikit merasa puas setelah menghajar mereka sampai babak belur seperti itu.


Walau dirinya masih belum terlalu puas karena dalang dibalik hal ini belum ia hajar.


***


Milan tadinya tidak akan pergi ke sekolah karena luka nya masih sedikit nyeri karena kecelakaan kemarin, tapi hari ini dirinya benar-benar harus sekolah untuk mengawasi Azriel.


Karena kemarin malam saat Milan pulang kerumahnya setelah dari rumah sakit untuk pemeriksaan, Arjuna yang masih tinggal bersama dengan Azriel dirumah khusus mereka bertiga memberitahunya kalau Azriel kemarin keluar saat malam dan menghajar pelaku yang membuatnya kecelakaan itu.


"Aden yang harus hati-hati itu masih luka kan?!"seru supir keluarga Milan itu sedikit ngilu sendiri melihat Milan yang bergerak ceroboh dan tergesa-gesa padahal masih sakit.


Pada akhirnya sang supir hanya bisa menggeleng dan kembali melajukan mobilnya untuk pulang karena tugasnya kali ini sudah selesai dan sore akan ia jemput tuan mudanya itu nanti.


Milan bergerak cepat ke area parkiran dan melihat ada motor Azriel yang terparkir lantas langsung melesat berlari ke koridor memperhatikan sekitar berpikir tidak ada yang aneh atau bekas kegaduhan membuatnya sedikit menghela, kalau begitu berarti Azriel tidak mengamuk atau mungkin belum.


Jam istirahat seperti biasa Milan dan Azriel berada di kantin dan memakan makanan mereka di meja khusus mereka.


Mengabaikan kantin yang semakin ramai karena sang pentolan sekolah muncul beserta gengnya dengan kasar menabrak juga mengenyahkan segala hal yang menghalangi jalan mereka membuat suara ribut.


"Heh Lo!!!–"


Sreek. Duak. Bruk.


Kanting semakin ribut dengan suara teriakan dari para siswa dan siswa yang terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu dimana sang pentolan sekolah yang tiba-tiba datang dengan ribut itu langsung menghajar Azriel sampai terjatuh ke lantai kantin.


"Jiel!!?"seru Milan hendak menolong atau mungkin menghentikan Azriel namun dirinya dicekal oleh dua orang gengnya kakak kelas itu.


"Lepas bangsat!!"kesal Milan berontak ingin lepas karena jika seperti ini terus bisa-bisa si pentolan sekolah itu akan mati.


Sreek.


Seragam bagian depan Azriel ditarik oleh si pentolan sekolah melotot berang menatap Azriel yang terlihat datar itu.


"Lo cari masalah sama gue hah?! Berani-beraninya Lo nyerang temen-temen gue!!"teriak si pentolan sekolah keras sambil melayangkan pukulan lain ke wajah Azriel.


Bugh.


Cuih.


Wajah Azriel sampai beralih dan meludahkan darahnya yang terasa amis itu balas menatap si pentolan sekolah itu datar nan dingin.


"Lo duluan yang cari masalah sama gue bahkan ngelukain sahabat gue"dingin Azriel.


Duak! Bruk bruk brukk!!


Azriel menendang si pentolan sekolah dengan keras sampai terlempar dan terdorong merubuhkan beberapa meja kantin.


Orang-orang yang ada dikantin mendadak menahan nafas mereka dan menatap ngeri pada Azriel si pelaku yang terlihat bangkit dengan wajah bengis menatap si pentolan sekolah seragam menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


Hendak menghampiri si pentolan sekolah yang terlihat meringis disana itu namun terhenti karena beberapa teman si pentolan sekolah yang tidak menahan Milan mulai menghadang Azriel tidak terima bos mereka dihajar seperti itu.


"Lo adik kelas gak tau diri!!"seru salah satu dari mereka menjadikan sinyal untuk mereka menyerang Azriel bersamaan.


Azriel tersenyum miring, sepertinya gaya berkelahi mereka sepertinya berani keroyokan. Sayang sekali tapi dirinya sedang tidak ada urusan dengan mereka yang mana Azriel langsung menghajar mereka dengan sekali serangan langsung tumbang.


Bugh bugh bugh duak!


Keempat cowok yang menghadang Azriel pun satu persatu terlempar menghantam meja-meja kantin meringis kesakitan dan tidak bisa berdiri lagi.


Sraat.


Orang-orang disana semakin menahan nafas saat melihat pentolan sekolah yang tiba-tiba menyerang Azriel dengan pisau lipat yang entah keluar dari mana, melukai sedikit leher Azriel yang menghindar itu.


"Lo bakal mati bangsat!!"murka pentolan sekolah itu berteriak dengan menodongkan pisau kearah wajah Azriel.


Azriel membiarkan luka sayatan dilehernya mengalirkan darah dan menatap kakak kelasnya itu yang terlihat menyedihkan dimatanya itu.


"Lo yang bakal mati sialan!"


Syat. Duak. Krang.


Kembali pentolan sekolah itu terlempar oleh tendangan Azriel itu dan melepaskan pisau lipatnya.


Tak menyia-nyiakan waktu Azriel langsung menahan pergerakan si pentolan sekolah yang ingin kembali bangkit itu dengan menindihnya dan menghajarnya bertubi-tubi.


Bugh bugh duak bugh dugh.


Setiap orang disana senantiasa ikut meringis setiap terdengar suara pukulan yang dilakukan Azriel disana, mereka ketakutan setengah mati melihat bagaimana brutalnya Azriel menghajar kakak kelasnya.


Milan berekspresi ngeri menatap sahabatnya itu yang kalap. Dirinya harus segera menyadarkan sahabatnya itu sebelum benar-benar ada yang mati.


"Lepasin gue bangsat!!!"teriak Milan menarik kedua tangannya dari cekalan kedua kakak kelasnya itu yang tidak terlalu kuat seperti diawal karena sepertinya mereka juga syok.


Tak mempedulikannya Milan langsung melesat menuju Azriel untuk menyadarkan dan menghentikan Azriel.


"Jiel berhenti!!"