Millisanna

Millisanna
Bab 160



Triing triing.


Ray yang baru menyelesaikan operasinya pada pasien yang mengalami kecelakaan lalulintas dan mengalami patah tulang itu pun langsung mengambil ponselnya dari saku dan melihat ada pesan pemberitahuan dari Maria sang kepala perawat.


Pesan yang membuat Ray sontak berlari untuk pergi ke bagian ruang perawatan isolasi. Ya tempatnya Anna selama ini berada.


Selama perjalanannya ke ruang rawat isolasi Ray bisa melihat beberapa pekerja rumah sakit terlebih para pekerja yang setahunya akrab dengan Anna terlihat bergegas sepertinya.


"Dokter Ray apa benar pesan itu? Jantung dokter Anna kembali berdetak?!"tanya salah satu perawat yang pergi bergabung bersamanya menuju ruangan isolasi yang ada dirumah sakit itu.


"Pesan itu harus beneran, karena jika tidak akan ku hajar orang yang menyebarkan pesan itu"kata Ray begitu serius dengan perkataannya.


Beberapa perawat yang mengikuti Ray pun sontak merasa ngeri sendiri dan tanpa sadar menjaga jarak dari satu satunya dokter tulang yang ada dirumah sakit ini.


Brakk.


Ray membuka pintu menuju kamar rawat isolasi dan bisa dirinya melihat ada kakeknya yang merupakan direktur rumah sakit itu dan disebelahnya ada seseorang yang paling Ray benci itu.


Yaitu Azriel ada disebelah kakeknya bersama Ravi tangan kanannya terlihat begitu serius menatap pada dinding kaca yang menghubungkan dengan kamar rawat Anna.


Ray melangkah mendekati sang kakek yang disadari oleh pria tua itu.


Sang direktur melihat cucunya itu yang terlihat seperti habis melakukan operasi karena belum mengganti seragam operasinya dan bahkan maskernya yang digunakan masih tersampir dilehernya. Pria tua itu menebak pasti sang cucu langsung berlari kesini tanpa sadar begitu terburu-buru.


"Buang maskermu Ray, kau berlarian disekitar rumah sakit dengan masker bekas mengoperasi? Apa kau bodoh?"peringat pria tua itu.


Ray pun sontak melepas maskernya dan memasukkannya kedalam saku celana karena dirinya harus membuang maskernya ditempat sampah yang diharuskan.


Pandangannya tak pernah lepas dari memperhatikan dokter dan dua orang perawat memeriksa kondisi Anna.


Brak.


Pintu kembali dibuka dan memperlihatkan Maria yang muncul.


"Mbak kamu gak bohong soal detak jantung Anna kembali kan?!"seru Ray bertanya pada kepala perawat itu.


Maria mengangguk saja. "Ya tadi tuan Azriel sendiri yang mengetahuinya dan langsung menyalakan alarm nya dan kau bisa lihat, Anna benar-benar telah kembali"kata Maria melihat kedalam dibalik dinding kaca itu yang melihat dokter didalam mengangguk pada mereka semua sebelum pergi keluar menghadap mereka meninggalkan dua perawat yang masih didalam untuk melakukan penyesuaian baru untuk Anna yang telah kembali mendapatkan detak jantungnya.


Dokter yang memeriksa Anna pun keluar dan menghadap mereka semua, memperlihatkan senyumannya yang tidak terhalang oleh masker.


"Keajaiban telah terjadi. Jantung dokter Anna telah kembali yang berarti otaknya kembali hidup, ini benar-benar mukjizat"kata dokter itu pada mereka.


"Jadi dokter Anna kembali hidup?"tanya Miria.


Dokter itu mengangguk. "Mudahnya begitu, namun kita harus mengkaji lebih dalam dan memastikan semuanya baik-baik saja dan mencaritahu apa yang terjadi. Namun untuk sementara saya pikir dokter Anna mengalami yang biasa kita sebut dengan mati suri yang sesungguhnya"kata dokter itu menatap pada Azriel.


Karena biasanya mati suri sering disamakan dengan seseorang yang koma. Namun dengan kasus yang terjadi pada Anna mungkin saja mati suri saat ini akan benar-benar disebut mati namun tidak jadi.


"Untuk sementara dokter Anna akan dimasukkan kedalam situasi sedang koma karena saya yakin dokter Anna akan kembali bangun"kata dokter itu tersenyum memberikan harapan pada mereka yang selama ini menunggu bangunnya dokter cantik yang begitu berbakat itu.


***


Orang-orang yang tadi ada semuanya pergi untuk kembali fokus pada pekerjaan mereka. Begitu juga dengan Ravi sang tangan kanan yang memiliki urusan dengan direktur rumah sakit menggantikannya.


Jantung Azriel masih berdetak kencang, terkejut, tidak mempercayainya dan juga Azriel merasa lega. Azriel benar-benar merasa sangat bahagia dan lega sekarang.


Dirinya begitu bersyukur dirinya tidak membuat Anna mati karena jika saja dirinya benar-benar merelakan Anna bisa-bisa dirinya menganggapnya sebagai pembunuh dan tidak akan tahu jika Anna masih belum menyerah untuk hidup.


Memikirkannya membuat Azriel benar-benar emosional. Bagaimana bisa dirinya ini tidak mempercayai kesungguhan Anna untuk hidup.


Anna adalah gadis yang begitu bersikeras untuk hidup. Karena bisa dilihat gadis itu sampai sekarang masih hidup setelah melewati begitu mengerikannya kehidupannya.


"Sial, maaf meragukan mu"kekeh Azriel bergumam dengan segaris air mata yang keluar yang langsung ia hapus dengan tangannya.


Tap.


Mengangkat wajahnya dan melihat kesampingnya ada Ray disana. Sepertinya dokter tulang itu sengaja mengeraskan langkah kakinya untuk membuatnya sadar jika ada dirinya disana.


"Sorry dan thanks karena Lo percaya kalo Anna masih ada disini"kata Ray terlihat sedikit malu dan tidak terima karena harus berkata seperti itu karena dirinya yang diawal begitu membenci Azriel yang menahan Anna tetap disini.


Dulu Ray berpikir Anna memang sudah tiada makanya dirinya begitu berang mengetahui Azriel menahan Anna untuk tetap berada di dunia. Tapi nyatanya pilihan Azriel adalah benar karena Anna belum mati.


Azriel menatap datar Ray dan mengalihkan pandangannya kembali menatap Anna dibalik dinding kaca itu.


"Tidak perlu berterimakasih, gue bahkan hampir aja benar-benar membuat Anna mati"kata Azriel datar.


Ray mengangkat satu alisnya tidak mengerti dengan maksud Azriel.


"Gue tadi berencana melepas alat bantu hidup Anna, gue berpikir untuk merelakan gadis itu tapi sepertinya gadis itu marah dan mengatakan jika dia masih hidup"kekeh Azriel diakhir dengan tenang.


Ray menatap Azriel dengan diam. Melirik pada salah satu pergelangan tangan Azriel yang dihiasi sebuah gelang anyaman berwarna hitam itu membuat Ray tersenyum tipis.


"Lo cowok yang begitu beruntung"


Azriel beralih pada Ray karena tidak mengerti dengan perkataan dokter tulang itu.


Ray sendiri mengedikkan bahu saja seraya mendekat dan mengambil satu tangan Azriel dan menyerahkan sesuatu pada laki-laki itu.


"Gue iri karena Lo segitunya dicintai sama Anna"kata Ray memberikan sesuatu yang selama ini ia simpan, sesuatu yang terjauh dan ia pungut saat sedang mengoperasi Anna satu tahun lalu.


"Kalo gue liat Anna gak bahagia sama Lo, gue akan yang paling terdepan buat rebut Anna dari Lo"kata Ray yang berlalu pergi keluar meninggalkan Azriel.


Azriel sendiri hanya diam memperhatikan sesuatu yang diberikan oleh Ray itu. Sebuah gelang dengan anyaman yang sama berwarna hitam dengan beberapa bulatan manik-manik hiasannya berbentuk permen tongkat dan dua anak kecil diantaranya.


Kedua mata Azriel kembali memanas. Anna benar-benar membuatnya begitu merasa sangat bersalah pada gadis itu.


...*******...


Jika tidak masuk akal, jadikan masuk akal. karena ini untuk kepentingan kelanjutan cerita hehe