Millisanna

Millisanna
Bab 112



Anna yang merasa Azriel memberhentikan motornya, Anna pun perlahan membuka matanya dan menjauh dari Azriel melepaskan pelukannya.


Sedari tadi selama perjalanan yang menurutnya mengerikan Anna senantiasa menutup matanya dan berpegangan sangat erat memeluk pinggang Azriel kuat.


Jantungnya bahkan masih berdetak tak karuan karena Azriel yang mengendarai motornya tadi seolah mengajaknya untuk mati, Anna takut dan dirinya ingin pulang saja.


Dirinya tidak menyadari ada dimana dia sekarang.


"Jangan coba-coba untuk kabur"peringat Azriel kala merasakan Anna akan turun dari motornya.


Anna yang diberi peringatan yang menurutnya menyeramkan itu pun hanya bisa diam patuh menatap takut-takut Azriel yang turun dari motornya melihat pada Anna dengan tatapan tajam mengancam sebelum berbalik bergegas masuk ke sebuah apotek disana.


Anna tidak tahu dirinya ada dimana, ini daerah yang tidak ia kenali dan dirinya baru menyadari Azriel menghentikan motornya didepan sebuah apotek dan masuk kedalamnya, untuk apa Anna tidak tahu dan juga tidak peduli, ia hanya ingin pulang.


Niatnya untuk berbicara pada Azriel sepertinya akan ia pendam cukup lama dan mungkin saja tidak akan pernah tersampaikan karena Anna merasa Azriel saat ini sangat menyeramkan.


Mengalihkan pandangannya ke jalan raya disampingnya yang lain Anna melamun memperhatikan kendaraan yang lalu lalang disana dengan pikiran kosong.


"Kaki kiri Lo siniin"


Anna terkejut dan sontak terkejut kala Azriel mengambil kaki kirinya membuat posisi duduk Anna berubah menjadi membelakangi jalan raya dan menghadap Azriel yang terlihat memegang sebuah alkohol pembersih luka.


Laki-laki itu langsung mengguyur alkohol itu ke luka yang terlihat mengerikan di betis kiri Anna.


"Akh!"ringis Anna kesakitan dan merasa dirinya sampai menangis karena guyuran alkohol itu terasa sangat menyakitkan.


Azriel tidak bereaksi dirinya serius dengan luka di kaki Anna mengabaikan ringisan kesakitan gadis itu yang bahkan sampai menangis dan juga meremat kuat satu bahunya sebagai pelampiasan rasa sakit.


Anna mengernyit menutup matanya menggigit bibirnya sangat kuat untuk menahan rasa nyeri di kakinya yang luka itu. Luka yang entah bagaimana bisa ia mendapatkannya itu rasanya sangat menyakitkan.


Azriel selesai mengobati luka di kaki Anna itu dan selesai memakaikan perban untuk menutupi luka itu, menatap Anna yang masih saja menggigit bibir nya kuat membuat Azriel mengulurkan tangannya untuk menghentikan gadis itu melukai dirinya sendiri.


Anna sontak membuka matanya kala merasakan sentuhan lembut di bibirnya dan matanya langsung bertatapan dengan sepasang mata tajam Azriel yang juga menatapnya.


"Bibir Lo berdarah, berhenti menggigitnya"kata Azriel singkat pada Anna seraya menegakkan tubuhnya dan menjauhkan tangannya dari bibir Anna.


Azriel berbalik untuk membuang sampah bekas dirinya mengobati luka Anna itu melihat ke jempolnya yang memiliki noda darah Anna itu membuatnya menggeram kesal.


Kau masih saja menyakiti dirimu sendiri, batinnya kesal.


***


Anna tidak tahu Azriel akan membawanya kemana tapi setelah Azriel melajukan motornya cukup lama laki-laki itu kembali memberhentikan motornya dan memperbolehkan Anna turun dan menyuruh Anna untuk mengikuti laki-laki itu yang berjalan duluan.


Anna tidak tahu apa tujuan Azriel membawa Anna ke sebuah bukit yang dengan jelas memperlihatkan langit jingga yang sangat indah disana.


Anna yang asik menatap langit sore itu mengikuti suara langkah Azriel dan saat suara langkah tidak lagi terdengar Anna pun menurunkan pandangannya kedepan dan melihat Azriel yang berhenti disana diujung jalan karena didepan sana adalah sebuah jurang yang dibawahnya memperlihatkan pemandangan kota yang perlahan setiap bangunan mulai menyalakan setiap lampu milik mereka karena hari menjelang malam.


Anna menatap Azriel yang tidak bergeming disana membelakanginya. Anna sendiri menjaga jarak dari laki-laki itu cukup jauh dibelakang.


"Kenapa Lo disitu? Kesini"perintah Azriel tanpa membalikkan badannya untuk melihat Anna.


Anna dengan ragu mendekat dan berdiri disebelah Azriel dan begitu terpana dengan pemandangan yang disajikan didepan sana.


Pemandangan kota dengan lampu-lampu disana seperti bintang-bintang, sangat cantik.


"Lo keliatan kayak mau nanya sesuatu sama gue, gak jadi?"kata Azriel tiba-tiba.


Anna terjengit dan melirik Azriel takut-takut, ditanya seperti itu Anna jadi meragu dan rasa ingin tahunya kembali membuncah dan berakhir akan ia utarakan sesuatu yang mengganggunya.


"Dulu pas masih kecil apa Anna sama Azriel pernah ketemu?"tanya Anna takut-takut.


Anna yang mendapati Azriel yang diam merutuki dirinya, dirinya ini pasti sok tahu padahal jelas-jelas pertemuan pertama mereka itu saat mereka masuk SMA karena ditempatkan dikelas yang sama, lalu dari mana pikiran jika dirinya ini pernah bertemu Azriel di masa lalu.


"Jadi Lo ngerasa kita pernah kenal sewaktu kecil?"tanya Azriel setelah diam menatap Anna.


Anna mengangguk ragu karena dirinya merasa tidak pernah kenal Azriel di masa lalu.


"Kenapa Lo ragu?"


Anna menatap Azriel. "Karena Anna emang merasa gak pernah kenal Azriel sebelum masuk SMA, Anna cuma ingin memastikan kalo Anna cuma berhalusinasi, soalnya anak kecil laki-laki yang dikenal Anna dulu cuma Al–"


Azriel menegang mendengar perkataan Anna namun sontak merasa berantakan menatap Anna tidak mengerti kala gadis itu menyebutkan nama Aldres.


"Al, Aldres Anna cuma kenal Aldres pas kecil jadi kayaknya cuma perasaan Anna aja kalo Anna pernah kenal Azriel dulu"kekeh Anna merasa lega karena rasa penasaran nya terpenuhi.


Dirinya yang merasa kenal dengan Azriel di masa lalu itu hanya perasaannya saja karena sedetik tadi ia mengingat jika sosok anak laki-laki yang wajahnya buram yang tiba-tiba muncul dibenaknya dan mengatakan jika dirinya membenci Anna seketika wajah anak laki-laki itu begitu jelas dan itu adalah Aldres.


Semakin yakin karena dulu Aldres memang sangat membencinya karena tiba-tiba muncul ditengah-tengah keluarganya dan merusak kebahagiaan nya.


"Sepertinya Lo merasa lega"kata Azriel yang menunduk.


Anna mengangguk senang karena dirinya memang merasa lega, semuanya telah jelas dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Azriel yang ia pikirkan beberapa waktu belakangan.


Haha pikirannya ini sepertinya sudah gila sampai mengkhayalkan jika dirinya pernah bertemu dengan Azriel dimasa lalu.


"Ngomong-ngomong Azriel tadi bilang mau ngomong sesuatu ke Anna, apa itu?"tanya Anna moodnya sudah membaik kala mengetahui siapa sosok anak laki-laki buram itu dan mengingat jika Azriel membawanya itu karena laki-laki itu mau menyampaikan sesuatu padanya.


Terkekeh sarkas mendengar betapa santai dan bahagianya disetiap nada bicara yang dikeluarkan si gadis membuat Azriel berpikir gadis disebelahnya ini memang sangat keterlaluan.


Mengangkat wajahnya dan menatap Anna yang menatapnya dengan senyuman dan ekspresi tidak sabar untuk mendengar apa yang ingin ia bicarakan dengan gadis itu membuat Azriel muak.


Sepertinya yang paling menderita disini hanya dirinya seorang, gadis itu bahkan tidak merasa bersalah sama sekali karena telah membuatnya menderita setelah kepergian gadis itu dulu.


Tersenyum tipis Azriel menghadap Anna menatapnya Azriel akan menyampaikan sesuatu yang sejak awal ingin ia sampaikan pada gadis itu sejak dirinya mengetahui segalanya.


"Aku membencimu"


Jantung Anna terasa berhenti berdetak kala Azriel mengatakan dua kata itu. Menatap kosong dengan kedua matanya memanas, Anna tidak tahu kenapa dengan dirinya.


"Aku benar-benar membenci mu, dan terimakasih untuk trauma yang kau berikan padaku, karenanya hidupku sangat berwarna"kata Azriel lagi terkekeh melihat ke arah langit yang mulai menggelap itu ia kembali menatap Anna yang dimana gadis itu sudah menangis.


Melihat Anna yang menangis dengan wajah bingung dan linglung itu membuat Azriel mendengus geli merasa jijik.


"Ya itu saja, semoga hidup Lo bahagia terus karena orang yang Lo tinggalin dulu sekarang juga sedang hidup bahagia"kata Azriel santai seraya melangkah meninggalkan Anna yang mematung disana.


Azriel melangkah dengan menunduk menatap setiap langkah kakinya yang ia ambil dan setiap jalan yang meninggalkan jejak setetes air karena Azriel tidak bisa menahan air matanya.


Dirinya merasa sakit hati. Dirinya sakit hati pada kehidupannya di masa lalu dan masa sekarang, juga pada gadis yang di masa lalu dan di masa sekarang yang ternyata orang yang sama dan sama-sama menyebalkan.


Gadis kecil yang dulu meninggalkannya sekarang telah berubah menjadi Anna yang bahkan tidak mengingatnya sama sekali dan bahkan tidak merasa bersalah sama sekali setelah meninggalkan dirinya dulu.


Padahal dari dulu sampai sekarang Azriel tetap mencintainya.


"Sialan mati aja sekalian!"umpat Azriel menyeka kasar air matanya yang tidak mau berhenti itu melangkah cepat menuju motornya terparkir.


Tak menyadari seseorang yang berdiri dibalik salah satu pohon disana tersenyum lebar seraya mengiyakan perkataan Azriel yang tadi ia dengarkan.


"Sesuai permintaan mu pangeran ku"gumamnya senang.