Millisanna

Millisanna
Bab 18



Anna memberanikan diri mengambil langkah maju kedepan untuk mencari jalan keluar. Berinisiatif mencari tempat yang sekiranya dirinya bisa ditemukan dengan mudah dan mungkin saja ia menemukan jalan pulang.


Berjalan dengan ragu melihat kesekitar yang rasanya semakin ngeri karena hampir menjelang petang dilihat sinar matahari yang masuk dari sela-sela dedaunan berwarna jingga.


Berjalan terus sampai rasanya ia menemukan jalanan setapak yang sepertinya jarang dilalui karena rumputnya tinggi-tinggi.


Mengikuti jalan setapak itu terus sampai ia menegang saat didepannya dari salah satu pohon ia seperti melihat sesuatu disana.


Dengan takut-takut dan menyiapkan kuda-kuda waspada ia mendekat ke pohon tersebut dan seketika ia duduk bersimpuh mengambil kotak P3K nya dihadapan seseorang yang terduduk tak berdaya dipohon itu dengan nafas sesak yang putus-putus.


"Melisa?!"seru Anna memanggil si gadis yang terlihat mulai kehilangan kesadarannya dan terlihat sangat kesakitan.


Melissa tak bisa menjawabnya, sesak nafas yang dirasakannya begitu menyiksanya.


Anna buru-buru mengeluarkan inhaler dan beberapa obat yang sekiranya bisa membantu teman sekelasnya itu.


Memegangi Melisa membantu untuk memudahkan gadis itu menggunakan inhaler dengan tepat dan nyaman.


Berhasil Melisa tak sesesak tadi dan gadis itu mulai terlihat biasa walau matanya masih terpejam.


Anna menghela lega, untung saja ia menemukan Melisa dan membantunya dengan cepat dan begitu bersyukur karena sikapnya untuk menyiapkan obat-obatan untuk penderita asma seperti Melisa sangat berguna walau ia tak memiliki penyakit tersebut.


Duduk menghela nafas lega menunggui Melisa yang terlihat tertidur. Ia akan kembali bergerak begitu Melisa merasa baikan dan mereka akan mencari jalan untuk pulang bersama nanti.


Menyeletingkan jaket Melisa karena hutan menjelang petang semakin terasa dingin padahal belum malam.


"Gadis baik memang harus menjaga teman nya"


Anna berbalik menatap terkejut seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakangnya itu.


"Inggrid?"tanya Anna tak percaya melihat sosok dibalik pakaian serba hitam itu yang menurunkan masker hitamnya sebatas dagu memperlihatkan seringaian menyeramkan.


"Ya inget nama gue karena gue bakal jadi malaikat maut Lo!"desis Inggrid mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku jaketnya berjalan mendekati Anna.


Anna refleks siaga menjaga Melisa yang lemas dibalik punggungnya membuat Inggrid tertawa lucu.


Melempar pisau itu yang membuat lengan Anna tergores karena menjaga Melisa dan membuat pisau itu menancap tak jauh dari tempatnya.


Darah segar mengalir dari luka itu tapi Anna tak gentar mempertahankan posisinya melindungi Melisa.


Inggrid menatap lucu Anna yang masih berpikiran kalau dirinya akan melukai cewek lemah dibelakangnya itu membuat Inggrid tertawa keras sembari mengambil pisaunya membuat Anna semakin waspada.


"Lo goblok atau gimana sih? Gue gak ada urusan sama cewek penyakitan itu, gue maunya Lo!"kata Inggrid langsung menyerang Anna.


Anna yang memang handal dalam bela diri menahan serangan itu dan membalas Inggrid dengan menendang gadis itu sampai terjatuh memegangi perutnya yang sakit karena ditendang Anna.


"Sialan Lo!"umpat Inggrid kembali bangkit sembari memegangi perutnya yang sakit.


Inggrid tidak tahu Anna ahli bela diri yang handal. Anna memang tak pernah diturunkan digelanggang tapi bisa dipastikan Anna lebih hebat dari pada orang-orang yang bermain digelanggang.


Mengumpat melihat Anna yang waspada dengan kuda-kuda yang siap kapan saja kembali menyerangnya.


"Urus cewek sialan itu!"umpat Inggrid menyuruh dua orang suruhannya yang sedari tadi hanya memperhatikan.


Kedua orang itu mengangguk dan mulai menyerang Anna seperti perintah boss mereka. Kedua laki-laki kekar itu menghajar Anna habis-habisan tapi memang Anna yang memang memiliki kemampuan bela diri, dengan mudah Anna mengatasi kedua pria besar serba itu hitam itu walau sesekali terkena pukul atau tendang.


Inggrid mendesis kesal melihat Anna yang terlihat tak kesusahan menandingi kedua orang suruhan nya itu.


"Gak berguna"umpatnya lantas melihat cewek yang terlihat lemah bersender dibatang pohon yang sejak awal dilindungi Anna tapi gadis itu sekarang sendirian tak ada yang menjaga membuat Inggrid mengeluarkan seringaian licik.


"Berhenti!!"teriakan Inggrid membuat ketiga orang yang sedang berkelahi itu diam menatapnya dan satu gadis disana memelotot tak percaya pada Inggrid yang tersenyum menang menyeramkan.


"Atau temen Lo mati"lanjutnya terkekeh dengan ujung pisau dileher Melisa.


Anna menerima tendangan tepat diperut membuatnya mundur beberapa langkah dan terkejut dibelakangnya ada sebuah jurang disana.


Inggrid berjalan mendekat dan membiarkan salah satu orangnya menggantikannya dengan memegangi pisau siap kapan saja menghabisi Melisa.


Inggrid menatap Anna dengan rendah dan menyeringai. "Lo itu gak pantes sama Azriel"desis Inggrid memandang Anna rendah.


Anna menatap Inggrid jengah, entah darimana keberaniannya untuk menatap Inggrid seperti itu. Mungkin karena cewek gila itu membawa-bawa nama Azriel yang jujur saja Anna membenci pria itu walau akhir-akhir ini pria itu bersikap baik padanya.


Walaupun benci tapi Anna diajarkan orangtuanya dulu untuk bersikap baik pada siapapun termasuk orang yang dibenci sekalipun.


"Memang"jawab Anna seadanya karena ia sadar diri ia memang tak pantas dengan Azriel begitu juga gadis gila didepannya saat ini, walau Anna membenci Azriel tapi ia juga tak ingin Azriel mendapatkan cewek gila seperti Inggrid, jika disuruh memilih lebih baik Azriel dengan Vanessa daripada cewek gila didepannya.


Inggrid menatap berang Anna yang masih saja berani menjawabnya. "Lo itu bener-bener minta dihabisi!"umpat Inggrid menyerang Anna dengan pisaunya.


Refleks Anna menghindar dan sepertinya sial sedang ada padanya, Anna kehilangan pijakannya membuatnya tersungkur kebelakang dan terjatuh kedalam jurang.


Inggrid sempat terkejut melihat sosok Anna yang menghilang karena terjatuh kejurang tapi sesaat kemudian ia terkekeh menutup mulutnya tak percaya menyembunyikan tawa senangnya.


"Ups! Sorry~"kekehnya kembali menegakkan tubuhnya setelah melihat sosok Anna yang tak terlihat dibawah sana, sepertinya jurangnya cukup dalam dan berharap Anna langsung mati saja dan jasadnya tak ditemukan.


Berbalik dan menatap kedua orangnya. "Kita pergi"kata Inggrid.


"Tapi nona sepertinya jurangnya tak terlalu dalam, bisa saja cewek tadi selamat walau kecil"kata orangnya yang ikut melongok kebawah ketempat Anna jatuh.


"Gue gak peduli, walau selamat pun gak akan bisa bertahan sampe besok"kata Inggrid malas.


"Cewek ini?"tanya salah satu orangnya yang menjauh dari Melisa.


Inggrid menatap tak minat cewek penyakitan yang sepertinya tak sadarkan diri disana itu. "Gak peduli gue, sejak awal emang udah pingsan"katanya santai.


Kedua pria itu mengangguk saja mengikuti sang nona menjauh dari sana menghilang dihutan yang gelap karena petang sudah datang dan matahari sudah digantikan dengan bulan.


***


"Anna dari kelompok kami hilang pak!"seru Putri sudah hampir menangis.


Beberapa guru pembimbing serasa mendadak terserang penyakit jantung mendengar ada siswa mereka lainnya yang menghilang.


"Vanesa? Syukurlah Lo ada sama mereka"lega Dilan melihat Vanessa bersama dengan kelompok yang datang terkahir itu.


Vanesa mengangguk mengiyakan saja.


"Jadi yang hilang Melisa dan Anna, kalian melihat Melisa diperjalanan pulang kalian?"tanya salah satu guru pembina disana.


Anggota kedua kelompok itu saling pandang lantas menggeleng karena merasa mereka memang tak melihat Melisa.


Milan menghela gusar, sekarang sudah mulai gelap dan Melisa belum ditemukan dan lagi ditambah Anna yang ikut menghilang.


"Yasudah kita akan membentuk kelompok untuk mencari dua orang itu"kata guru pembina yang diangguki yang lainnya.


"Saya ikut cari Anna pak!"seru Putri yang diangguki mantap Laras dan Intan.


"Gak usah berlebihan, tuh cewek pegang peta lagian ngapain cariin cewek egois yang ninggalin temen sekelompok nya"sinis Fani yang diangguki semangat oleh Rena.


"Apa maksud Lo?"pertanyaan dengan nada dingin dari Azriel yang sedari tadi hanya diam menyimak sempat membuat orang-orang disana meringis.


Tapi kedua cewek itu tak gentar untuk menjelaskan. "Ya dia ninggalin kita pas kita minta anterin buang air, pas kita selesai dia gak ada"kata Rena yakin.


"Untung aja kita ketemu Vanesa yang sendirian ketinggalan kelompoknya dan untungnya dia yang pegang petanya"tambah Rena berbicara seolah Vanesa adalah penyelamatnya.


Tanpa sadar kelompok 14 dan 15 membenarkan karena ketiga cewek itu bergabung saat mereka menyadari anggota mereka menghilang dan menghela lega saat dua orang kelompok mereka yang hilang kembali dengan satu orang kelompok lain dan panik saat satu orang kelompok mereka tak ada diantara ketiganya yang membuat mereka bergegas pulang dan melapor.


"Yasudah kembali ke tenda kalian masing-masing, kembalikan peta kalian pada kami, biar kami para pembina dan kelompok yang kehilangan anggotanya untuk mencari dua siswa hilang itu"jelas ketua pembina disana.


Kedua kelompok yang anggotanya hilang mengangguk mengiyakan dengan pasti entah perempuan atau prianya mereka menerima keputusan itu karena mereka pun merasa bersalah dengan anggota mereka yang hilang itu.


"Saya ikut"seru Azriel meminta izin untuk ikut mencari Anna dan Melisa membuat orang-orang disana terlebih para murid terkejut mendengarnya.


"Tidak boleh–"


"Semakin banyak orang semakin mudah!"potong Azriel.


"Benar pak, saya juga akan ikut mencari"tambah Dilan yang membuat para laki-laki disana ikut mengangguk.


Para guru menghela nafas pasrah. "Yasudah bersiap kalian semua yang ingin ikut mencari, sebelum semakin gelap"