
Anna duduk diatas brangkarnya menatap ke lua jendela membelakangi pintu ruangan rawatnya.
Setelah mengetahui jika Azriel selamat membuat Anna merasakan perasaan yang begitu lega dan tenang.
Dan melihat banyak orang yang menunggui laki-laki itu dengan ekspresi yang begitu kentara khawatir juga takut yang berubah menjadi lega dan senang membuat Anna ikut merasa senang.
Laki-laki itu memiliki banyak orang-orang disekitarnya membuatnya sedikit iri.
Anna sendiri dirinya tak bisa seperti itu, membayangkan dirinya yang dikelilingi oleh orang-orang yang menyukainya dan merasa sedih juga khawatir saat kehilangannya rasanya tidak mungkin.
Yang ada saat dirinya menghilang orang-orang akan merasa lega.
Terlebih sang ibu, ibunya tidak akan lagi senantiasa marah-marah dan menambah keriputnya karena dirinya yang selalu tidak bisa diandalkan dan tak bisa menjadi seperti yang diinginkannya.
Anna juga jadi bingung bagaimana caranya agar dirinya ini berguna dan membanggakan sang ibu, apa dirinya kurang berusaha atau bagaimana sebenarnya.
Menghela nafas Anna kembali bangkit dan berjalan tertatih menuju jendela dengan menggunakan kruk yang diberikan dokter dan perawat setelah mereka memeriksa nya dan mengatakan dirinya baik-baik saja dan sudah diperbolehkan berjalan dengan bantuan kruk, infusnya saja bahkan sudah dilepas.
Berhenti dijendela saja dirinya memandang ke bawah sana, dimana memperlihatkan suasana diarea parkir rumah sakit yang begitu ramai disana, bahkan ada ambulan yang datang dan segera mengeluarkan pasien kritis yang mereka bawa untuk penanganan selanjutnya.
Pandangan Anna tertuju pada keluarga si pasien yang dari jaraknya yang jauh ini terlihat jelas olehnya bagaimana mereka mengkhawatirkan seseorang yang menjadi pasien itu membuat Anna refleks berdoa agar pasien tersebut selamat dan orang-orang yang terlihat khawatir itu berubah menjadi tersenyum lega dan bahagia.
"Kau anak payah menyusahkan orang saja bisanya"
Anna langsung berbalik dan melihat sang ibu disana diambang pintu ruang rawatnya menatapnya jengkel.
Anna yang ditatap seperti itu hanya bisa menundukkan kepalanya takut dan merasa bersalah.
"Bereskan barang-barang mu dan ganti pakaianmu! Kita pulang!"kesal sang ibu dengan membentak dan langsung keluar dari ruang rawatnya.
Anna mengangguk patuh dan bergegas melaksanakan yang diperintahkan sang ibu.
***
Melisa datang ke rumah sakit yang menjadi tempat Anna dan Azriel dirawat, mereka ditempatkan dirumah sakit yang dekat dengan lokasi perkemahan mereka.
Dan soal perkemahan mereka tentu saja langsung dihentikan begitu para polisi datang dan para pembina pun memutuskan untuk menghentikan acara dan memulangkan semua siswa.
Dan Melisa disini karena dirinya begitu mengkhawatirkan kondisi Anna. Sedikitnya dirinya mengingat kejadian ketika diambang kesadaran dirinya melihat Anna yang melindunginya dan melawan orang asing yang tak ia kenali.
Bahkan Melisa ditengah kesadarannya yang mulai menghilang saat itu melihat jelas bagaiman Anna yang jatuh ke jurang karena cewek yang tak dikenalnya.
Lama dengan pemikirannya sendiri sampai tidak sadar sedari tadi dirinya tetap berdiri di depan pintu.
"Masuk atau diem?"
Melisa terkejut sendiri dan begitu berbalik dirinya melihat Milan disana.
"Ngapain Lo disini?"tanya Melisa langsung.
Milan mengangkat satu alisnya. "Gue mau jenguk Anna"katanya santai.
"Gue juga mau jenguk Anna"balas Melisa sebal dan langsung membuka pintu ruang rawat Anna dan membuat keduanya terkejut saat mendapati semua ranjang di ruang rawat tersebut kosong.
Tak ada Anna disana.
"Anna kemana?! Salah kamar apa?!"heboh Melisa gadis itu bahkan bolak balik masuk keluar melihat nomor dan nama kamar memastikan jika dirinya tidak salah kamar.
"Ini bener atau gue yang gak bener?!"masih kalap Melisa terkejut karena tidak mendapati Anna.
"Tenang bego nanti Lo kumat, bener ini kamarnya Anna"kata Milan bahkan sampai menahan kepala Melisa agar gadis itu diam dan tidak kalap yang berakhir bisa saja gadis dengan asma akut itu kumat.
"Lepasin! Kalo gitu kemana Anna?"kesal Melisa mengenyahkan tangan Milan yang merusak tatanan rambut nya.
Menatap Melisa sebentar lantas menghentikan seorang perawat yang lewat. "Pasien dari ruangan ini kemana ya?"tanya Milan langsung.
Perawat itu melihat kamar yang dimaksud berpikir mengingat sebentar lantas menjawab. "Jam 10 pagi tadi saja sudah pulang dengan ibunya"kata perawat itu lantas pamit karena harus melanjutkan pekerjaannya.
Milan dan Melisa terkejut mendengarnya bukannya jam 10 pagi tadi berarti 4 jam setelah Anna sadarkan diri.
Melisa saja datang kerumah sakit sore ini karena dirinya menyempatkan pulang terlebih dahulu dan langsung kemari diantar supirnya.
Sedangkan Milan sendiri dirinya belum pulang ke rumah sama sekali karena dirinya langsung pergi kerumah sakit dan menunggui Azriel yang sampai sekarang belum sadarkan diri setelah melakukan operasi pengambilan peluru di dadanya.
Keduanya terdiam lantas saling pandang.
"Lo balik aja, cape"kata Milan.
"Gue juga mau jenguk Azriel"kata Melisa.
Milan terdiam sebentar lantas mengangguk dan mengajak Melisa untuk menjenguk Azriel.
Azriel ditempatkan diruangan VIP yang terlihat lebih sepi dan nyaman. Keduanya berjalan ke arah pintu ruangan dengan nama Azriel disampingnya.
Milan yang hendak menggeser pintu tersebut telah tergeser sendirinya dan memperlihatkan Andari disana yang sama-sama terkejut melihat keduanya.
"Milan? Kamu kok gak pulang? Pulang dulu kerumah mama kamu udah nanyain terus ke tante"kata Andari.
Andari yang melihat keseriusan sahabat sang anak pun tersenyum. "Makasih tapi dokter bilang kan Jiel sadarnya nanti malam"kata Andari.
"Milan tungguin"kata Milan lagi begitu serius.
Andari tidak bisa lagi menyuruh Milan pulang jika begini adanya. Lantas menatap sosok gadis yang sedari tadi diam dibelakang Milan.
"Siapa cantik ini? Pacar kamu?"kekeh Andari pada Milan dan menatap Melisa juga.
Melisa yang dibilang seperti itu langsung menggeleng heboh sedangkan Milan yang dibilang seperti itu dengan keren terkekeh remeh.
"Dia cantik? Dia bocah tan, bukan tipe Milan"
Plak.
Melisa mencebik sebal menggeplak punggung Milan sebal karena dikatai bocah.
Andari terkekeh melihat tingkah pasangan remaja dihadapannya. "Kalian udah ketemu Anna? Gadis itu ikut jadi korban insiden itu kan?"kata Andari tiba-tiba.
"Tante mau jenguk dia juga"lanjut Andari.
Milan dan Melisa dibuat menjadi saling pandang.
"Anna udah pulang tan dari pagi"kata Milan membuat Andari terkejut.
Pagi kapan? Jangan bilang saat ibu anak itu datang kerumah sakit bersamanya, ibu anak itu pun langsung membawa anaknya pulang.
"Tapi dia baik-baik aja kan? Udah bisa pulang kan?"tanya Andari merasa khawatir jika Anna tidak mendapatkan perawatan yang baik.
"Anak itu tidak terlalu parah jadi diperbolehkan pulang oleh dokter setelah pemeriksaan"
Ketiganya langsung menatap Aryan yang muncul yang berbicara mengambil atensi ketiganya.
"Jika benar begitu syukurlah"kata Andari lega mendengarnya.
Aryan mengangguk mendengarnya lantas menatap kedua remaja dihadapannya. "Kenapa kalian masih disini? Pulang"suruh Aryan.
"Tapi om, Milan–"
Aryan menggeleng memotong perkataan Milan dan dengan tegas menyuruh anak itu untuk pulang.
"Pulang, ayahmu sudah mengirimkan supir untuk menjemputmu. Lagipula tak ada yang bisa kau lakukan disini"kata Aryan serius.
Milan yang melihat keseriusan ayah dari Azriel itu pun dibuat tak bisa berkutik dan hanya bisa berdecak kesal karena Aryan benar.
"Kalau begitu Milan pamit"kata Milan sedikit tidak ikhlas bahkan saat salim pada kedua orangtua Azriel pun dengan malas-malasan tanda jika dirinya merajuk.
Andari terkekeh melihat tingkah sahabat anaknya itu. "Nanti tante kasih tau kalo Jiel udah sadar, nanti kamu boleh ke sini"kata Andari membuat Milan berbinar.
"Janji ya tante, bohong dosa lho tante"kata Milan.
"Iya tante janji"kekeh Andari.
***
Milan dan Melisa berjalan bersisian menuju parkiran rumah sakit berjalan ke mobil jemputan mereka yang ternyata saling bersampingan.
"Gue minta alamat rumah Anna, gue mau jengukin dia langsung ke rumahnya kalo tau gini akhirnya"kata Melisa tiba-tiba.
Milan yang mendengarnya sontak menghentikan langkahnya membuat Melisa ikut berhenti dan menatap Milan yang menaikkan alisnya tidak mengerti.
"Kenapa ke gue? Kenapa gak ke guru TU?"tanya Milan.
Melisa mendengus mendengarnya. "Gak usah sok bego, TU gak mungkin nyebarin alamat siswa gitu aja, gue cari cara mudah dan itu dari Lo"kata Melisa.
"Terus?"
Melisa lagi-lagi berdecak, menyebalkan sekali laki-laki yang berputar-putar seperti ini.
"Gue tau Lo dengan mudah bisa cari tau apapun, ngedapetin alamat rumah Anna itu pasti hal mudah buat Lo"kata Melisa santai dan melanjutkan langkahnya ke mobil jemputan nya.
Milan mendengus terkekeh dan ikut melangkah menuju ke mobil jemputannya.
"Heh cowok"
Milan yang hendak masuk ke mobil pun urung karena panggilan Melisa untuknya. "Apa?"balasnya.
"Jangan lupa kirim alamat Anna ke gue secepatnya"kata Melisa serius dan masuk kedalam mobilnya.
Milan lagi-lagi dibuat terkekeh dengan tingkah gadis itu yang pergi dengan mobilnya itu. Masuk kedalam mobilnya lantas melihat pada sang supir.
"Nyebelin banget ya cewek tadi"kekeh Milan yang fokus dengan tab yang diberikan sang supir yang peka terhadap apa yang akan dia lakukan saat ini.
Sang supir hanya tersenyum mengangguk dan menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya menuju kediaman Milan dan keluarga.