
Setelah dari kantin Michelle memisahkan diri dengan alasan untuk pergi ke toilet. Keluar dari toilet menatap sebal gelang pemberian Anna yang ada ditangannya yang mana langsung ia lepas dan tarik sampai putus dan ia buang gelang itu ketempat sampah.
"Jijik banget gue, sok baik banget Lo Anna"kesalnya menatap gelang butut itu yang cocok sekali dengan tempat sampah.
"Haha, gue suka gaya Lo"
Michelle berbalik dan melihat seorang cewek yang menurutnya sangat nyentrik dengan seragam ketat dan pendeknya juga sweater rajut yang dipakainya.
"Lo anak baru itu ya gue suka Lo, gue Vanessa, Lo?"kata cewek itu memperkenalkan diri sebagai Vanessa.
Michelle jadi ingat jika tadi teman-temannya menyebutkan nama Vanessa, jadi ini yang namanya Vanessa, yang menbully Anna.
Semakin menarik, batin Michelle menyeringai.
Menerima perkenalan Vanessa Michelle pun memperkenalkan dirinya.
"Gue Michelle"
Vanessa mengangguk menerima perkenalan mereka itu lantas memberikan sesuatu yang membuat Michelle terkejut juga sedikit bingung pasalnya Vanessa menyodorkan sebuah pass card Dufan yang entah rasanya hari ini orang-orang disekitarnya membicarakannya.
"Buat Lo sebagai tanda pertemanan kita, tadinya mau dikasih ke gebetan si Dilan tapi ternyata si doi juga dapet dari temen satu kelompoknya pas kemah kemarin, jadi buat Lo aja karena Dilan bilang terserah gue"kata Vanessa santai.
Michelle yang mendengarnya senang bukan main, jika begini adanya bukan kah dirinya akan semakin mudah dekat dengan Azriel, Vanessa ini satu kelompok dengan Azriel saat acara kemah di liburan semester kemarin.
Menerimanya dengan ragu-ragu untuk memberikan kesan jika dirinya merasa tidak nyaman namun nyatanya Michelle benar-benar seperti sedang berada di festival, sangat bahagia.
"Kalo gitu jangan lupa hari Minggu Minggu ini, tukeran nomer aja lah biar gak berabe nanti"kata Vanessa mengeluarkan ponselnya diikuti Michelle yang mengangguk mengerti dan mereka pun bertukar nomer telepon.
Setelahnya Vanessa pergi duluan dan tersisa Michelle yang masih ditempatnya langsung meninju udara jingkrak-jingkrak kecil kegirangan jika dirinya sangat dipermudahkan untuk dekat dengan Azriel.
Michelle pun bergegas kembali ke kelas karena sebentar lagi bel masuk akan segera berbunyi.
Tanpa menyadari sosok yang sedari tadi dibelakangnya sejak awal bahkan sebelum Vanessa datang bersembunyi dibelokkan koridor saat kedatangan Vanessa.
Sosok itu berjalan keluar dari persembunyiannya dan berhenti didepan tempat sampah menatap gelang yang putus disana terlihat sangat menyedihkan.
"Ada juga orang yang begonya kebangetan kek Lo na"gumamnya merasa kasihan pada seseorang yang telah memberikan gelang tersebut pada cewek semenyebalkan Michelle.
***
Hari Minggu hari dimana Anna akan pergi ke Dufan akhirnya tiba. Anna benar-benar bersemangat karenanya.
Pertama di hari minggu tersebut lesnya libur membuat Anna tidak merasa ragu karena tidak ada alasan untuk ragu, kedua Anna bergerak cepat menyelesaikan pekerjaan rumah di setiap hari minggu.
Ia menyapu, mengepel, mencuci piring dengan kecepatan tinggi agar dirinya tidak terlambat dari jam yang dijanjikan bersama yang lain.
Selesai dengan semua pekerjaannya tersebut Anna langsung mandi dan bersiap, menatap penampilannya di cermin dan mengangguk dirinya sudah siap.
Mengambil tas kecilnya yang memuat ponsel dan dompetnya bersiap keluar kamar namun ia urungkan karena dirinya kembali membuka tas kecilnya itu dan mengeluarkan dompet dan juga mengeluarkan kartu atm-nya.
Dirinya merasa uang tunai yang ada didalam dompetnya lebih dari cukup membuat Anna berpikir tidak membutuhkan kartu atm-nya, kartu tersebut ia simpan begitu saja diatas meja belajar karena terkejut melihat jam dinding yang memperlihatkan jika waktu yang dijanjikan semakin dekat.
Anna harus bergegas agar tidak membuat yang lainnya menunggu.
Menuruni tangga berjalan menuju ayah dan ibunya yang sedang bersantai diruang tengah menonton acara tv pagi.
"Ma pah Anna izin berangkat main"pamit Anna meminta izin.
"Main? Enak banget kamu mau main gitu aja, kalo les kamu libur ya kamu bantuin mama dirumah"sewot Lia sang ibu.
Anna mendadak ciut namun dirinya sudah berjanji pada yang lainnya akan ikut datang lagipun kalau dirinya tidak datang kasihan Jihan jadi mubadzir kebaikannya.
Lia menatap anaknya itu tajam, memperbolehkan Anna pergi dengan sewot
"Yaudah lah terserahlah, punya anak kok gak bisa diandelin"sebal Lia.
Anna hanya bisa tersenyum getir mendengarnya, berpamitan menyalami orangtuanya dan berangkat pergi.
Beberapa saat setelah kepergian Anna, muncullah Sarah dengan masih menggunakan piyamanya terlihat baru bangun tidur menghampiri kedua orang tuanya yang menyambutnya.
"Mah Sarah mau keluar jalan-jalan, beli beberapa barang, boleh ya?"kata Sarah.
"Boleh lah, uangnya ada? Ini uang dari mama aja, uang punya kamu simpen aja"kata Lia yang bersemangat bangkit untuk mengambil uang untuk sang anak.
"Mau papah anter gak? Atau mau bawa mobil sendiri?"tawar sang kepala keluarga yang berucap, padahal tadi anak keduanya muncul dan berpamitan laki-laki itu hanya cuek dan mengabaikan.
Sarah menggeleng tersenyum. "Sendiri aja pah, pake ojek online aja, lagian Sarah kan belum bisa nyetir mobil pah"kekeh Sarah.
Sang kepala keluarga itu dibuat tertawa mendengar perkataan sang anak. "Kalo papah beliin kamu mobil pasti bisa dong ya nyetir"kata ayah menaik turunkan alisnya dengan tersenyum menggoda Sarah.
Sarah yang digoda sang ayah dengan diiming-imingi dibelikan mobil pun terkekeh senang. "Ya pasti dong, tapi gak usah mobil pah, motor aja juga udah cukup"serunya bersemangat.
Ayah tersenyum melihat sang anak senang. "Yaudah nanti papa beliin kamu motor"katanya berjanji.
Sarah yang mendengarnya senang bukan main. Akhirnya dirinya tidak perlu lagi harus naik angkot dan ganti angkot untuk sampai ke sekolahnya.
Melangkah kembali ke kamarnya dengan riang Sarah benar-benar bersemangat karena acara belanjanya dibayarkan oleh sang ibu dan sang ayah berjanji akan membelikannya motor, astaga menjadi anak ketiga dan anak kedua perempuan dari keluarga ini benar-benar sangat menyenangkan.
Mendadak menghentikan langkahnya dan mundur untuk mengintip ke kamar sang kakak yang pintunya terbuka sedikit, iseng dirinya pun masuk kedalam kamar sang kakak yang kosong itu, sepertinya sang kakak sudah pergi ke tempat lesnya atau mungkin tidak karena tas ransel sang kakak ada di kamarnya.
Tak mempedulikan kemana sang kakak pergi fokus Sarah tertuju pada kartu ATM bergambar karakter lucu disana diatas meja belajar sang kakak, diambilnya kartu ATM tersebut dan membaliknya dan betapa lucunya sesuatu yang tertulis dibalik kartu tersebut.
Dibalik kartu tersebut ada semacam kertas kecil dengan ditempeli isolasi, dan dikertas kecil tersebut yang diyakini sebagai pin ATM tersebut tertulis jelas disana membuat Sarah terbahak.
"Bego bego, kalo gini kan gampang buat dipakenya, bikin seneng aja dah si kakak bego itu"kekeh Sarah membawa kartu ATM tersebut dan keluar dari kamar Anna dengan santai.
Sarah berpikir dirinya akan berpesta hari ini. Hari ini adalah hari yang terbaik untuknya.
***
Anna turun dari ojek onlinenya dan bergegas mengembalikan helm yang digunakan nya tadi pada si tukang ojek, berterimakasih dan berjanji akan memberikan bintang lima Anna melesat menuju pintu masuk taman bermain.
Anna telat 15 menit dari waktu yang dijanjikan membuatnya ketakutan jika dirinya akan ditinggal, apalagi selama perjalanan tadi banyak pesan masuk dari Intan, Laras dan Putri yang menanyakan dirinya masih dimana.
Menemukan kelompoknya yang masih berkumpul disekitar area pintu masuk membuat Anna merasa lega.
"Maaf telat"kata Anna saat dirinya sampai dihadapan mereka.
"Santai aja, kita lagi nunggu yang lainnya juga"kata Jihan membuat Anna bingung.
Pasalnya kelompok mereka sudah lengkap, Intan Laras Putri Indra Saman Jihan bahkan Bimo dan dirinya sudah sampai jadi apa yang mereka tunggu.
"Itu tuh ada yang baru jadian kemarin jadinya kita bakal barengan sama kelompoknya si doi"kata Putri menunjuk pada Intan yang berakting tidak dengar dan sibuk dengan ponselnya.
Anna semakin dibuat bingung, memang apa hubungannya. "Intan jadian sama siapa?"tanya Anna bingung.
"Dilan si ketua OSIS, noh orangnya sama kelompoknya datang juga"kata Saman menunjuk sekelompok remaja yang berjalan kearah mereka.
Anna pun berbalik dan itu membuatnya menjadi tak sengaja saling tatap dengan Azriel yang berada dalam kelompok Dilan itu.