Millisanna

Millisanna
Bab 90



Anna pulang kerumahnya mengucap salam melangkah masuk dan dirinya sudah ditunggui oleh kedua orangtuanya, ya ayah dan ibunya dengan kompak menatapnya dengan tajam.


"Bagus ya kamu main sama cowok nyampe malem kayak gini?!"bentak ayahnya langsung memarahi Anna.


Anna diam saja tidak menjawab atau mencoba untuk memberikan alasan sesungguhnya karena semua itu tidak berguna.


"Kamu ini jadi kurang ajar ya sekarang?"kata ibu benar-benar sudah lelah dengan Anna.


"Kenapa kamu gak liat Sarah hah?! Dia gak macem-macem kayak kamu! Sudah tau bodoh tapi ingin semakin bodoh dengan pacaran? Kamu percaya diri dengan dirimu hah?!"kesal ibu murka.


Anna hanya diam, benar-benar diam karena jika dirinya diam mungkin kedua orangtuanya akan segera bosan memarahinya dan membiarkannya pergi ke kamar.


"Buat hukuman sebulan ini gak ada uang jajan! Biar kamu sadar kamu itu salah!"kata ayah mengakhiri omelannya dan bersama ibu meninggalkan Anna disana sendirian.


Anna menghela lega karena orangtuanya selesai memarahinya, melirik ke arah jendela sebelah pintu masuk dirinya berharap begitu dirinya masuk kerumah Aldres sudah pergi dan tidak mendengar perkataan orang tuanya tadi karena jika laki-laki itu mendengarnya Anna merasa sangat malu.


Melangkah pergi ke kamarnya Anna akan bersih bersih dan mungkin belajar karena dirinya belum mengantuk.


Tidak mempermasalahkan tentang dirinya yang tak mendapatkan uang jajan bulan ini karena Anna bisa menggunakan uang hasil menggambar fanartnya yang tak pernah ia sentuh itu, mau memakai uang hasil kerja kerasnya di olimpiade tidak mungkin karena Sarah saat itu benar-benar menghabiskan semua uangnya.


Anna jadi berpikir harus berapa kali lagi dirinya mengikuti olimpiade agar bisa kembali mendapatkan uang sebanyak yang ia kumpulkan kemarin.


***


Duduk di meja belajarnya belajar untuk mempertahankan nilainya Anna teralihkan pada sepasang jepit rambut disana yang ia lupa belum disimpan dikotak khusus yang ia gunakan untuk menaruh pernak pernik hiasan rambutnya dan lainnya.


Mengambil jepit rambut itu dan menatapnya penuh dengan rasa campur aduk saat kembali dirinya mengingat dengan jelas masa lalunya dan bagaimana Aldres yang ternyata menyimpan jepit rambutnya selama ini selama bertahun-tahun.


"Sarah! Sarah! Sarah dimana?!"teriak Anna kecil melihat kesana kemari mencari adiknya yang hilang.


Tadi keduanya sedang berjalan bersama ke depan pintu masuk perumahan untuk jajan di minimarket sebelah jalan raya besar disana, namun saat Anna sedang membayar belanjaan mereka Sarah hilang.


Anna yang kebingungan mencarinya dan bertanya-tanya pada orang-orang sekitar namun tak ada yang melihat Sarah membuat Anna langsung melesat pulang, dirinya harus memberitahu ibunya jika Sarah hilang.


Anna pulang sembari menangis mengadu pada ibunya jika Sarah hilang dan Anna mendapat murka sang ibu yang memukuli Anna memarahinya mungkin sebagai pelampiasan rasa bingung terkejut dan khawatirnya mengetahui anak bungsu nya hilang.


"Kamu kakaknya bukan hah?! Kenapa bisa ilang?! Dasar anak gila!!"marah ibunya memukuli Anna.


Anna kecil hanya bisa menangis histeris meminta maaf, merasa takut dan sakit karena ibunya itu.


"Cari pokoknya cari Sarah sampai ketemu! Kalo belum ketemu gak boleh pulang kamu!!"suruh ibunya sambil mendorong tubuh Anna sampai anak kecil itu terjatuh.


Si kecil Anna mengangguk brutal dirinya bergegas mencari seperti yang disuruh ibunya itu.


Anna masih mencari adiknya sampai larut malam karena belum menemukan adiknya Anna belum bisa pulang kerumah.


Mengabaikan betis dan bahu kanannya yang terluka dan berdarah-darah, tidak tahu bagaimana bisa dirinya mendapatkannya namun Anna kecil tetap kukuh mencari adiknya Sarah.


"Sarah! Sarah dimana?!"teriak Anna kecil tenggorokannya terasa sakit dan dirinya sangat haus juga lapar namun dirinya tidak membawa uang untuk membeli makanan atau minuman.


"Adek, adek kenapa?"tanya seorang pria berumur pada Anna.


"Saya cari adik saya pak, Sarah namanya bapak liat adik saya?"tanya Anna merasa sangat putus asa dan mulai kembali menangis.


Pria paruh baya itu terlihat tersenyum mengerikan namun Anna kecil yang polos tidak menyadarinya.


"Ayo bapak bantu cari adik kamu"kata pria paruh baya itu ramah mau membantu Anna.


Anna mengangguk antusias sangat berterimakasih pada pria itu yang mau membantunya mencari Sarah.


Anna dituntun pria itu dan membawanya mendekati beberapa pria lain disana.


"Anak siapa ini? Gila cantik banget"kata salah satu laki-laki disana.


"Anak ilang kayaknya, lumayan lah"kata laki-laki yang menggenggam tangan Anna.


Ketiga laki-laki itu pun saling terkekeh dan tersenyum penuh arti dan Anna kecil yang memperhatikan hanya menatap mereka dengan bingung.


"Hey nak ayo om bantu cari adik kamu"kata laki-laki lain disana sambil berjongkok menghadap Anna.


"Iya om, adik saya namanya Sarah tolong bantuin cari ya om"kata Anna kecil penuh harap.


Anna pun dibawa mereka kesebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mereka disana dan menyuruh Anna untuk masuk kedalam diikuti oleh ketiga laki-laki itu.


Anna tidak tahu kenapa perasaannya mendadak tidak enak saat dirinya yang duduk diantara dua laki-laki dewasa itu dan satu laki-laki yang duduk didepan mengarahkan ponselnya seperti sedang merekam Anna.


"Om mau ngapain?!"pekik Anna terkejut saat satu laki-laki mulai mengusap-usap pahanya.


"Udah kamu diem aja, kalo berisik nanti dipukul"kata laki-laki pertama yang katanya mau membantu Anna mencari Sarah memegangi kedua tangan Anna menahan Anna agar tidak berontak.


"Lepasin! Anna gak mau!!"pekik Anna gelagapan saat celananya ditarik turun beserta dengan **********.


Anna sekuat tenaga berontak dan kakinya pun menendang wajah laki-laki yang menarik celananya dan terkuat laki-laki itu terlihat murka.


Plak.


Anna mendapat tamparan diwajahnya oleh laki-laki itu namun tidak membuat Anna berhenti dan dirinya semakin berontak meminta dilepaskan.


Laki-laki itu yang sudah tidak tahan dengan Anna pun mulai memukuli Anna untuk menyuruhnya diam begitu juga dengan laki-laki lain yang memegangi tangan Anna ikut menghajar Anna namun lagi-lagi Anna kukuh berontak meminta dilepaskan.


"Diam bangs*t!!"kesal salah satu laki-laki disana yang mengeluarkan sebuah pisau lipat dan menusukkannya ke paha dalam Anna yang sedikit mengenai *********** dan membuat banyak darah yang keluar dan Anna yang berteriak kesakitan.


"Aaaaa sakit!!!!"teriak Anna menangis merasa kesakitan.


"Udah keterlaluan Lo"peringat laki-laki yang merekam pada temannya itu.


"Bodo amat! Nih bocah memang minta dihabisin!"kesalnya akan benar-benar menghabisi nyawa Anna.


Anna yang tahu nyawanya benar-benar akan terancam dengan sekuat tenaganya menendang dan mendorong kedua laki-laki disekitarnya sampai menghantam pintu mobil dan satu laki-laki bahkan sampai tersungkur keluar mobil.


Anna berlari sekuat tenaga mengabaikan lukanya yang meninggalkan jejak darah disetiap ia berlari itu dijalanan.


Anna berlari menuju ujung jalan sepi itu yang terlihat beberapa orang lewat disana menggunakan kendaraan yang mungkin saja disana adalah jalan raya.


"Berhenti sialan!!"peringat salah satu laki-laki yang mengejarnya.


Anna tidak mendengarkan dan semakin berlari kencang untuk kabur tidak mengetahui jika salah satu dari mereka mengeluarkan pistolnya dan menembak Anna dari belakang.


Dor. Bruk.


Ckiiit. Brak.


Sebuah sepeda motor dengan dua orang pengendaranya harus terjatuh karena menghindari sesuatu yang tiba-tiba jatuh didepan jalan mereka.


"Sayang kamu gak apa-apa?"tanya si pria pada wanita yang merupakan istrinya itu.


Si wanita menggeleng tanda tidak apa-apa namun matanya melotot tidak percaya dengan sesuatu yang dilihatnya.


"Sayang! Anak itu!!!"pekik si wanita menunjuk Anna yang tergeletak dijalanan dengan darah yang menggenang dari punggungnya.


"Panggil ambulan cepat!"perintah sang suami seraya bergegas memeriksa kondisi si anak.


Si laki-laki merinding takut melihat kondisi anak kecil itu yang terlihat sekarat itu dengan banyak luka dan yang paling mengerikan selain lubang dipunggung nya adalah luka dipaha dalamnya yang polos tak menggunakan apa-apa.


Srak.


Mendengar suara gesekan kaki dengan jalanan laki-laki mengangkat pandangannya dan melihat kesana ada tiga laki-laki yang terlihat mencurigakan langsung berbalik berlari kabur begitu dirinya menyadari keberadaan mereka.


Memicingkan mata dan akan mengejar mereka namun terhenti karena mendengar suara ambulan yang datang.


"Sayang anak ini beruntung karena ada rumah sakit didekat sini"kata sang istri melihat ambulan datang dan para petugas pun bergegas membantu si anak dan membawanya ke rumah sakit.


***


Anna perlahan membuka matanya dan melihat kesekitar dan dirinya tidak tahu ada dimana, namun terakhir kali ingatan ingat dengan kejadian yang membuatnya sangat takut membuatnya menangis.


"Huweeee! Mama! Mama!"Anna kecil menangis histeris dirinya sangat ketakutan.


Anna tidak tahu dirinya ada dimana dan dirinya ingin pulang, diinjak takut tapi dirinya belum menemukan Sarah tapi dirinya benar-benar ingin pulang.


Ceklek.


Pintu kamar rawat yang ditempati Anna itu terbuka dan beberapa orang bergegas masuk, dokter dan perawat langsung memeriksa kondisi Anna dan menenangkan Anna yang masih terus menangis.


Dan pasangan suami istri yang menolong Anna itu hanya menatap kasihan pada gadis kecil itu yang menangis sangat kencang tidak berhenti-berhenti.


Si wanita pun dengan ragu maju untuk menenangkan si gadis kecil, sifat keibuannya sedikit terluka melihat seorang anak yang menangis dan ingin segera menenangkannya karena kasihan.


"Cup cup, udah gak usah nangis, anak cantik gak boleh nangis, kamu dirumah sakit kamu baik-baik aja, ada ibu yang jagain kamu"kata wanita itu penuh perhatian.


Anna kecil pun perlahan menghentikan tangisnya dan berakhir hanya sesegukan dan sepenuhnya berhenti menangis.


Si wanita itu tersenyum senang melihatnya.


"Siapa nama kamu gadis cantik?"tanya si wanita.


"Anna"jawab Anna.


Si wanita itu pun tersenyum. "Anna bisa kau bisa memanggilku ibu sampai kami tahu dimana rumah mu"


Anna mengangguk saja mengerti dan patuh.


Anna pun dirawat dirumah sakit sampai kondisinya benar-benar pulih, tidak tahu berapa lama tapi Anna setelah dirawat dirumah sakit dirinya dibawa pulang oleh ayah dan ibu yang menolongnya kerumah mereka.


Anna kecil bersembunyi dibalik kaki ibu saat ada dua orang sosok asing yang tidak dikenalnya.


"Kenalin Anna, mereka anak-anak nya ibu, yang besar namanya Gio terus yang seumuran sama kamu namanya Al, ayo kenalan"suruh ibu pada Anna dan mendorong Anna untuk berkenalan dengan kedua anaknya.


Anna dengan gugup dan takut-takut mengulurkan tangannya karena setahunya jika mau berkenalan dirinya harus mengulurkan tangannya seraya mengatakan siapa namanya.


"Anna, Anna"kata Anna memperkenalkan dirinya.


Gio yang melihatnya terkekeh merasa gemas membalas uluran tangan kecil itu dan berkenalan juga.


"Hai manis, kau bisa memanggilku kak Gio"kata Gio senang.


Anna mengangguk mengerti, melirik sosok lain yang sepertinya seumurannya itu yang melihatnya sangat tajam dan penuh kebencian padanya.


"Apa liat-liat hah?! Dasar jelek!!!"teriak anak laki-laki kecil itu yang langsung berlari kabur sambil menangis karena dibentak ayah.


"Hei Al gak boleh gitu kamu!!"


Anna terkekeh mengingat masa lalunya itu sembari mengusap air matanya karena dirinya pun menangis karenanya.


Masa lalu yang campur aduk, kebahagiaan karena bertemu dengan keluarga Aldres dan kemalangan karena dirinya saat itu mendapatkan pengalaman yang sangat tidak mengenakkan yang mana siapapun tidak mau mengalaminya termasuk Anna sendiri.


Tapi mau bagaimana lagi mungkin memang takdirnya seperti itu. Kembali memperhatikan jepit rambut itu saat dirinya menyadari sesuatu.


"Ini punya Mili, diliat kamu masih punya pasangannya beruntung Al nyimpen pasangannya yang lain"


Anna jadi teringat dengan kalimat Aldres dan dirinya pun jadi ingat jika pasangan jepit yang dimaksud Aldres adalah jepit yang didapatkan nya dari Azriel.


"Kenapa bisa begitu?"bingung Anna karena menyadari sesuatu yang sangat janggal.


Bagaimana bisa Azriel memiliki jepit rambut dimasa kecilnya disaat dirinya pertama kali bertemu dengan Azriel saat masuk SMA.