Millisanna

Millisanna
Bab 19



"A-aakh!"


Anna mengerang kesakitan merasakan seluruh tubuhnya remuk. Membuka mata perlahan dan melihat sekitar sudah gelap.


"Ish"ringisnya saat menggerakkan sedikit lengannya.


Tak ada yang patah tapi digerakkan sedikit saja sakit membuat Anna memilih diam sebentar menenangkan tubuhnya yang sepertinya terkejut karena terjatuh dari ketinggian.


Untung saja ia masih selamat tanpa tertusuk apapun yang bisa saja merenggut nyawanya, bersyukur karena hanya beberapa luka goresan perih yang tak terlalu sakit yang mengakibatkan pakaiannya compang-camping.


"Ish–"kembali berdesis kesakitan saat mencoba untuk duduk saat merasa tubuhnya mulai enakan.


Melihat sekitar hanya gelap yang ia lihat dengan sedikit cahaya bulan yang sedikit meneranginya mencoba bangkit kembali dengan ringisan lainnya untuk mendekati tas ransel kecilnya yang sepertinya terlempar saat ia berguling-guling jatuh tadi.


Menghela nafas saat mendapati tasnya dalam keadaan baik-baik saja walau agak sobek dibeberapa bagian dan isinya yang berantakan tapi masih aman.


Membuka satu botol air untuk diminumnya karena merasa sangat haus. Menghela lega saat menghabiskan setengah air mineral dan mengambil ponselnya yang sialnya mati.


Menghela nafas menyenderkan punggungnya kepohon terdekat menatap sedih cahaya bulan yang sedikit masuk dari rindangnya dedaunan pohon diatasnya.


Meratapi nasibnya yang harus merasakan jatuh ke jurang karena berurusan dengan cewek gila seperti Inggrid sedikit lega karena adiknya tak merasakan hal seperti ini dari Inggrid yang katanya membullynya disekolah karena Anna.


"Syukur masih bisa hidup"lega Anna beristirahat sebentar dan setelah enakan ia akan mulai berjalan untuk mencari jalan kembali atau mungkin mencari tempat yang sekiranya mudah menemukannya.


***


Grup pencari siswa hilang sudah bersiap. Semuanya sedang berkumpul untuk pengarahan dan lainnya. Setiap grup memiliki guru pembina dengan beberapa murid yang menawarkan diri untuk membantu.


"Baiklah ini sudah gelap, jangan terlalu jauh dari masing-masing terlebih kalian para gadis"kata ketua pembina menunjuk beberapa siswi yang ikut dalam pencarian.


Putri, Intan, Laras dan ketiga cewek dari kelompok 7 mengangguk mengerti karena selain mereka ikut mencari bisa saja mereka yang menjadi hambatan yang lainnya karena yang lainnya harus ikut menjaga mereka juga.


"Peta sudah dikembalikan semuanya, kita akan membagikannya pada kalian masing-masing satu orang, walau ada peta jangan bertindak semaunya"lanjut sang ketua pembina.


Pembina perempuan yang membawa peta dibantu satu lainnya maju dan akan membagikan peta tersebut sebelum pembina itu berbicara.


"Sebentar pak, ada yang ganjil"kata pembina perempuan itu membuat yang lainnya penasaran.


"Jika salah satu murid yang hilang itu memegang peta, harusnya peta yang terkumpul dari para murid kurang satu, tapi ini pas"jelasnya.


Azriel yang mendengarnya mengeratkan kepalan kedua tangannya menahan emosi untuk tidak menghajar Vanesa cs juga menahan rasa khawatirnya yang semakin menjadi saat tahu Anna diluaran sana tanpa peta.


"Maaf bu sebelumnya apa ada 3 peta dengan tanda bintang bertinta biru disudut kanan bawah dibelakang peta?"tanya Intan saat mengingat ia meninggalkan tanda pada tiga peta untuk kelompoknya saat mencari jejak tadi.


Sudah menjadi kebiasaannya untuk meninggalkan ciri disetiap benda yang memang menjadi miliknya karena trauma sempat kehilangan benda tanpa ciri membuat benda itu diaku-aku oleh orang lain.


Kedua pembina perempuan itu mengecek yang dikatakan intan dan benar saja ada 3 peta dengan tanda yang dimaksud.


"Mereka berbohong"umpat Dilan merasa diingatkan jika ketiga cewek itu membenci Anna, terlebih Vanesa ketua dari ketiganya.


"Sudah kita urus mereka nanti, kita cari teman kalian dulu, ketiga remaja itu biar pembina yang tersisa yang mengurusnya"kata ketua pembina yang diangguki yang lainnya.


***


Azriel masuk kedalam grup yang cukup sedikit anggotanya hanya berisi satu guru pembina dimana grup lain dengan dua guru pembina, Milan dan 2 orang anggota prianya, Saman dan Indra juga intan sendiri ceweknya dari kelompok Anna.


Berjalan beriringan melewati jalur 1 dengan mengandalkan cahaya pada lampu senter yang dibawa oleh guru pembina dan 3 siswa lainnya, meneriakkan nama Anna dan Melisa.


Azriel benar-benar merasa khawatir membuat ia melupakan jika ia sedang berada ditengah kegelapan sekalipun yang sangat dibencinya mengabaikan Milan yang berjalan disampingnya dengan khawatir karena Azriel yang ikut mencari digelapnya hutan saat ini.


Satu tangan memegangi senter dan satu lagi memegangi lengan kanan Azriel yang mendingin padahal laki-laki itu menggunakan jaket tebal.


"Kenapa juga Lo ikut hah?"tanya Milan pelan pada Azriel tak ingin didengar yang lainnya.


Azriel sangat takut gelap dan bisa-bisanya pria itu ikut bergabung dalam tim pencarian Anna dan Melisa.


Azriel hanya menatap Milan dengan wajah pias dan terkekeh geli yang malah terlihat ketakutan. "Gak tau gue juga"


"Gue takut tapi entahlah rasa takut gue kali ini lebih menyiksa, tapi gue hadepin"lanjutnya.


Milan menatap bingung Azriel tapi tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa mengeratkan pegangannya pada lengan Azriel dan mengikuti orang-orang timnya.


Hutan gelap disekitarnya membuat Azriel mengkhayalkan yang tidak-tidak.


'Anak nakal harus diberi pelajaran~'


'Alfha nakal, ini pelajaran untuk anak nakal'


Ia harus menahannya, itu semua hanya khayalannya semuanya itu tak pernah terjadi padanya. Sedikit ringisan keluar ia akan semakin tersiksa dan membuat Milan semakin khawatir padanya dan itu tak boleh terjadi.


Tim pencari itu pun semakin jauh dan berhenti saat menemukan sosok yang terduduk bersender pada salah satu batang pohon disana agak jauh dari jalur yang seharusnya, berada diantara jalur 3 dan 1 yang seharusnya dilewati para murid.


Milan refleks melepaskan pegangannya pada Azriel dan langsung mendekati Melisa yang terlihat sangat lemah itu.


"Melisa? Mel?!"seru Milan mengguncang tubuh Melisa yang sedikit dingin itu.


Azriel berdiri agak jauh dari mereka berdiri mematung menatap sahabatnya itu yang begitu ketakutan melihat kondisi gadis yang terduduk lemas disana.


Melihat sekitar hanya gelap yang ada tapi sesuatu membuatnya bergerak kearah sinar senter dari Saman yang tak dimatikan kearah jurang disebelah mereka.


"Tak ada luka apapun dia hanya tak sadarkan diri, kedinginan dan lemas"jelas guru pembina yang memeriksa keadaan Melisa dan akan memberitahu kelompok lain dengan walkie talkie ke kelompok lain karena mereka menemukan satu orang yang sedang dicari.


Milan segera melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada tubuh lemas Melisa membuat Melisa agar hangat.


Intan mendekat karena merasa mengenal sesuatu yang berceceran didekat Melisa dan meminta Saman yang memegang senter untuk menyenter pada yang ditunjuknya.


Azriel mengambil sesuatu yang tak lagi tersinari itu, sedikit kain yang tersangkut dari ranting yang mencuat dari tanah disana semakin khawatir saat melihat kebawah kalau dibawah adalah jurang yang sangat gelap.


Intan mengambil benda-benda itu yang membuatnya tak percaya. "Ini punya Anna!"seru Intan tak percaya.


Seruan heboh Intan membuat Azriel refleks berlari mencari jalan untuk sampai kebawah sana meninggalkan timnya.


Berlarian ditengah hutan gelap tanpa sadar jika dirinya benar-benar takut gelap.


"Anna!!"teriak Azriel saat merasa ia sudah disekitaran yang sekiranya tempat jatuhnya Anna.


Jauh dari jalur dan orang-orang setimnya. Berlari seperti kesetanan saat mengetahui jika gadis itu jatuh ke jurang.


"Anna!!!"teriak Azriel lagi seperti kesetanan ia harus mencari Anna secepatnya, takutnya gadis itu luka serius yang mengancam nyawanya.


"Anna!!"


"Anna!!!!"


'Pergi!! Pulang kerumahmu! Aku tak apa!'


Beberapa khayalan mulai menyerang Azriel membuatnya mendadak ketakutan setengah mati melihat sekitarnya hanya ada gelap.


'Ta-tapi'


'Pergi! Pergi dari sini cepat! Tinggalkan aku!!!'


Tubuh Azriel mendadak menggigil hebat, menggigit bibir dalamnya ketakutan dan tanpa sadar segaris air mata turun melewati pipi kanannya jatuh ketanah.


"Jangan pergi–"cicitnya ketakutan melihat sekitar.


"Jangan tinggalin gue!"raung Azriel ketakutan setengah mati.


Terjatuh terduduk merasakan kedua kakinya melemas. Memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil hebat, semakin histeris ketakutan.


"Gue mohon jangan tinggalin gue"isaknya.


"Gue takut"isakan semakin terdengar jelas dengan Azriel yang sesegukan menjenggut rambutnya menutup kedua telinganya mengenyahkan khayalan aneh yang datang.


'A-fha nanti Ii' balik lagi sama polisi, Afha tunggu ya'


"Argh!!!"


Azriel mengerang menginginkan khayalan yang membuatnya kesakitan itu segera hilang.


"Lo bohong–"lirih Azriel yang mulai menikmati rasa sakitnya dan rasa sesak yang mulai timbul.


Rasa sakit dan sesaknya semakin menyiksa rasanya Azriel ingin tidur karena merasa lelah. Matanya ingin terpejam dan tubuhnya ingin istirahat, istirahat yang membuatnya tak lagi dihantui khayalan-khayalan yang menyiksa mental dan tubuhnya.


Mata yang masih mengalirkan cairan bening itu mulai tertutup dengan tubuh yang mulai limbung.


Bruk.


Mata sembab itu semakin deras mengalirkan cairan bening dan isakan kecil kembali terdengar dengan senyuman tipis penuh kelegaan, sesegukan dibalik bahu mungil yang memeluknya erat.


"Jangan tinggalin gue, gue mohon Ii'"