
Pada akhirnya Anna tidak jadi mengembalikan jaket Azriel karena kedua jaket itu basah karena air matanya dan akan ia cuci kembali sebelum benar-benar akan dikembalikan.
Menangisi ketidakmampuannya untuk menjadi yang terbaik dan membanggakan orangtuanya karena tidak bisa mengalahkan Azriel.
Menangis semalaman sampai tertidur dengan berbantalkan kedua jaket Azriel yang bahkan Anna tertidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman, dimana dirinya tertidur dengan posisi terduduk dengan bagian dada keatas berada di ranjang.
Dan berakhir dengan dirinya yang pegal-pegal saat bangun tadi dan sekarang pun masih sedikit terasa pegal.
Namun hal itu tak membuatnya merasa terganggu untuk mengerjakan tes ujian percobaan sebelum olimpiade.
"Nah anak-anak kalian siap mencoba soal-soal latihan olimpiade yang biasa dikerjakan oleh dua Ace kita dalam olimpiade?"kekeh Bu Erna siap membagikan soal latihan tersebut.
"Dari ekspresi ibu kayaknya soal-soal itu berbahaya bu, saya menyerah"kata salah satu diantara mereka.
"Bener Bu, yang ikut olimpiade biar Azriel sama Anna aja kayak biasa, saya mah gak usah"sahut yang lainnya yang menjadi awal keluhan anak-anak yang tidak ingin mencelakakan diri mereka sendiri dengan mengerjakan soal-soal yang dari judulnya saja sudah membuat mereka merasa sakit di jantung.
Bu Erna menikmati keluhan anak-anak muridnya itu terkekeh karena hanya dua orang diantara yang lain yang terlihat biasa saja, Anna dan Azriel pastinya.
"Tidak tidak, kalian harus sportif dong anak kelas lain juga sedang mengerjakan soal-soal nya, jadi kalian juga harus mengerjakannya juga"kata Bu Erna yang mulai membagikan soal dan kertas jawabannya pada anak-anak dikursi depan yang akan membagikan kebelakang secara estafet.
Keluhan-keluhan masih saja terdengar dari mereka yang dengan berat hati membagikan soal latihan itu untuk mereka masing-masing.
"Siapa tau kan ada plot twist orang lain yang maju buat olimpiade nanti, kan gak ada yang tau"kekeh Bu Erna hitung-hitung memberi dukungan kepercayaan diri pada anak-anak muridnya.
Anna yang mendengarnya mendadak gugup, jika orang lain yang dimaksud dipastikan dirinya yang akan diganti karena Azriel tidak mungkin, membuat Anna benar-benar harus serius dalam mengerjakan soal latihan olimpiade ini agar dirinya kembali menjadi wakil untuk olimpiade mendatang dari sekolahnya.
"Oke, waktu mengerjakan soal 1 jam 30 menit dimulai"kata Bu Erna.
"Satu jam setengah?! Buat 100 soal campuran matematika, fisika, kimia, bahkan biologi?! Ibu mau jadi pelaku pembunuhan masal?!"
Kembali anak-anak disana ribut dan itu membuat Bu Erna terhibur. "Waktu sudah dimulai anak-anak"kata Bu Erna menunjuk jam dinding dan memberi isyarat untuk melihat dua Ace disana yang sudah mulai mengerjakan.
"Kalau jelek jangan diketawain Bu, kita semua udah usaha"kata salah satu dari mereka masih mendrama.
"Iya Bu, kita harus dapet apresiasi karena kita kuat hanya untuk membaca semua soal ini"tambah yang lain lagi membuat Bu Erna tertawa saja tak habis pikir.
***
"Baik waktunya selesai"kata Bu Erna dan itu membuat kelas tersebut diramaikan dengan suara erangan panjang merasa hampir gila karena 100 soal yang bahkan rasanya itu semua soal hanya bisa dikerjakan oleh Einstein yang disebut-sebut sebagai orang terpintar didunia.
"Ayo estafet dari belakang"perintah Bu Erna menyuruh murid yang duduk paling belakang memulai mengumpulkan soal dan lembar ujian yang telah diisi.
Anna menghela nafas lega, dirinya merasa tadi sangat lancar dan percaya diri jika dirinya akan mendapat hal yang memuaskan setidaknya dirinya percaya diri jika jawabannya akan benar semua atau mungkin tidak.
Entahlah Anna hanya ingin berpikir positif dan membanggakan dirinya sendiri.
"Nih"kata orang yang duduk dibelakang Anna memberikan lembar soal dan jawaban yang telah diisi.
Anna menerimanya dan menaruh kertas jawabannya dipaling atas yang diurut sesuai duduk mereka yang berarti nanti diakhir lembar jawaban yang duduk didepan yang paling atas.
"Michelle"panggil Anna agar gadis itu segera menerima lembar jawaban yang sudah dikumpulkan.
Namun gadis itu tidak menggubris dan masih serius mengerjakan soalnya.
Padahal waktunya telah selesai, batin Anna.
Padahal dulu saat pertama kali mengikuti olimpiade dirinya masih mencoba menyempurnakan jawabannya padahal waktunya sudah habis langsung dimarahi habis-habisan dan begitu dirinya menang juara dua dirinya dihujat habis-habisan oleh peserta lain yang jika rangkum kalimat-kalimat hujatan mereka adalah 'ya pantes dapet juara dua orang korup waktu, udah selesai waktunya tapi masih ngerjain'.
Ah benar ini hanya latihan, batin Anna menyadari hal tersebut.
Melamun Anna tak menyadari kertas yang disodorkannya pada Michelle membuat gadis itu merasa terganggu.
Michelle yang terganggu berdecak sebal berbalik dan langsung merebut kertas jawaban itu. "Ini gue lagi usaha lho"sentak Michelle kesal.
Anna dibuat tersadar dari lamunannya karena tarikan kasar Michelle merebut lembaran kerja jawaban ditangannya itu.
Anna hanya bergumam meminta maaf kecil karena terkejut dan juga merasa dirinya mendapatkan banyak tatapan menghakimi karena ulahnya itu yang mengganggu Michelle.
"Baiklah anak-anak hasil tes latihan kalian ini akan ditempelkan di mading besok berurutan dari nilai tertinggi"kata Bu Erna sebelum meninggalkan kelas.
"Gak kaget lagi karena Azriel pasti yang pertama"kata salah satu dari mereka membuat Azriel menjadi pusat perhatian anak-anak dikelas.
Azriel yang menjadi pusat perhatian cuek saja mengabaikan mereka melihat keluar jendela menatap langit biru nan indah itu yang harusnya sangat indah namun Azriel dibuat mengernyit merasa nyeri di kepala karenanya dan memilih untuk menelungkupkan wajahnya diatas meja dilipatan tangannya.
Mendengus kasar Azriel benci seperti ini.
***
Jam istirahat Anna tidak lagi memaksakan dirinya untuk belajar karena tes latihan untuk olimpiade telah selesai, itu yang dikatakan Melisa yang juga menjadi pelaku yang membawanya keruang kesenian yang juga menjadi tempat ekskul seni rupa diadakan.
Melisa begitu bel istirahat berbunyi dirinya langsung menarik Anna membawanya keluar dan berakhir diruang kesenian itu membiarkan Anna memperhatikannya yang sedang melukis itu sambil memakan Snack bar yang dirinya bawa.
"Lo yakin bakal kepilih lagi?"tanya Melisa tanpa melihat Anna.
Anna yang ditanya mengangguk saja walau dirinya sekarang sedikit ragu jika dirinya akan kembali menjadi si nomor 2.
"Anna yakin bakal kepilih tapi kalo soal peringkat paling ke dua lagi"kata Anna pesimis.
Melisa yang mendengarnya pun jadi menatap Anna dan dirinya tidak mau berbohong jika dirinya setuju dengan Anna. "Tapi peringkat kedua itu kan bagus juga, gue aja gak pernah rangking 3"kekeh Melisa.
Anna yang mendengarnya terkekeh kecil, jika sang ibu menganggap peringkat 2 sudah cukup bagus seperti Melisa mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini.
Melihat Anna yang sepertinya sangat menginginkan menjadi peringkat satu itu membuat Melisa jadi tak enak karena dirinya merasa menganggap remeh Anna.
"Oke gue punya ide!"kata Melisa bangkit dari kursinya berjalan untuk mengambil kanvas baru begitu juga dengan dudukan untuk kanvas dan peralatan lukis simpanannya yang ada di laci ruang penyimpanan ekskul seni rupa yang ia ikuti.
"Nih, lo gak suka kan sama Azriel karena juara satu mulu? Ayo gambar dia! Gue pernah gambar orang yang gue benci dan itu berhasil membuat gue merasa lega karena gue ngegambar dia jelek banget, sama kek kelakuannya yang jelek banget"kata Melisa menggebu-gebu karena teringat dengan seseorang yang sangat dibencinya saat SMP dulu.
Anna yang melihat tingkah Melisa itu jadi ragu sendiri. "Tapi Anna belum pernah coba ngelukis di kanvas, paling juga gambar digital di tab"
"Itu lebih bagus, Lo sedikit punya keahlian, gue yakin Lo bisa, mau pakai cara apapun melukis itu bebas"kata Melisa senang.
Anna pun mengangguk saja dan melihat apa saja yang diberikan Melisa itu padanya dan setelah menimang dan membayangkan bagaimana kedepannya Anna mengangguk yakin pada Melisa.
Melisa yang melihatnya tersenyum senang dan mempersilahkan Anna untuk mulai melukis. Dirinya merekomendasikan melukis pada Anna karena menurutnya melukis akan mengalihkan pikiran Anna dari apapun yang membuat gadis itu gelisah dan merasa tenang, seperti yang terjadi pada dirinya sendiri yang tenang karena melukis.