
Aldres berhasil dengan persidangannya, dan dirinya tentu saja menang, jelas-jelas kliennya tidak bersalah tentu saja akan ia dukung sampai keadilan sebenarnya terkuak dan seperti yang ia duga kliennya menang orang baik.
Setelah menyelesaikan tugasnya dipengadilan Aldres tentu saja akan kembali ke ibu kota karena di kota ini dirinya hanya datang untuk menghadiri persidangannya.
Berpikir akan berpamitan dengan Anna karena tentu saja dirinya harus berpamitan dengan gadis itu yang pastinya saat ini sedang berada di rumah sakit karena gadis itu benar-benar loyal terhadap pekerjaannya.
Memarkirkan mobil di parkiran rumah sakit Aldres keluar dan melihat seperti biasa rumah sakit tempat bekerja Anna itu selalu ramai dengan pasien yang Aldres yakini tidak hanya dari kota ini saja tapi dari luar kota bahkan luar negeri pun ada disini.
Tentu saja karena mereka ingin diobati oleh dokter Anna yang sangat terkenal akan kemampuannya itu.
"Kuharap gadis itu memiliki waktu untuk mengobrol sebentar sebelum aku kembali"kata Aldres melihat jam tangannya seraya berharap.
Melangkahkan kakinya hendak masuk namun terhenti kala mendapati sosok yang tidak disangka-sangka sedang berjalan didepannya tak jauh darinya masuk kedalam gedung rumah sakit.
"Heh gak salah liat kan?"gumam Aldres terkejut sontak sedikit berlari memasuki gedung rumah sakit takut kehilangan jejak sosok yang tadi ia lihat.
Begitu masuk ke dalam lobi dirinya benar-benar kehilangan sosok itu membuatnya berdecak kesal. Dirinya tidak tahu kearah mana orang itu pergi.
"Pengacara Al?"
Aldres yang namanya dipanggil pun berbalik dan melihat seorang wanita dengan pakaian perawat yang Aldres kenal sebagai kepala perawat UGD yang cukup dekat dengan Anna karena Anna pernah memperkenalkannya padanya.
"Ah hallo selamat pagi"kata Aldres menyapa wanita bernama Maria itu.
Maria tersenyum saja balas menyapa Aldres. "Kesini untuk bertemu Anna?"tanya wanita itu.
Aldres mengangguk saja. "Iya mau pamit, persidangannya telah selesai"kat Aldres.
"Oh iya kah? Pasti menang ya"kekeh Maria karena dirinya tahu laki-laki yang seumuran dengan Anna ini benar-benar seorang pengacara hebat dan terkenal.
Aldres tersenyum malu saja menanggapinya.
"Kebetulan, Anna sebentar lagi akan selesai melakukan pemeriksaan pada pasiennya yang kemarin dibawa langsung oleh Anna dengan menggunakan helikopter"kata Maria.
Aldres menaikkan sebelah alisnya terkejut mendengar perkataan Maria itu. "Anna mengendarai helikopter?"tanya Aldres.
Maria terkekeh saja mendengarnya lantas menggeleng. "Bukan Anna tentu saja pilot, Anna hanya ikut untuk mengevakuasi pasien yang rumahnya berada digunung belakang sana menggunakan helikopter karena kondisi pasien dan medannya sedikit menyulitkan"jelas Maria.
"Untung saja orang yang mendanai operasional rumah sakit ini secara menyeluruh sedang berada disini saat itu dan mengirimkan helikopter untuk membantu membawa pasien kemari, beliau bahkan pergi sendiri ke rumah si pasien"jelas Maria terlihat sangat kagum dengan orang itu.
"Apa kau mengenalnya? Donatur dan sponsor utama rumah sakit ini? Anna mengenalnya dan mungkin saja kau mengenalnya juga karena kau dan Anna sangat dekat juga sang donatur seperti seumuran dengan kalian"kata Maria.
Aldres jadi bertanya-tanya memang siapa orang yang dimaksud oleh Maria itu.
"Ah itu Anna dan juga tuan Azriel kebetulan sekali"
Azriel? Dirinya tidak salah dengar kan? Sontak berbalik ikut melihat kearah Maria melihat dan benar saja sosok itu yang dirasa ia melihatnya ternyata memang Azriel dan laki-laki itu sedang berjalan bersama Anna disampingnya dan menjadi melihat kearahnya karena Maria yang memanggil mereka.
Anna dan Azriel yang berbincang tentang kondisi ibu Firman yang perlahan membaik itu pun mengalihkan pandangan mereka dan melihat Maria yang memanggil Anna dan disamping Maria ada Aldres disana.
Membuat Anna mendadak bertanya-tanya apa Azriel juga tidak ingat dengan Aldres juga?
"Nah Anna sudah disini, aku akan kembali ke UGD"pamit Maria pada Aldres.
Aldres mengangguk berterimakasih pada wanita itu yang mau menemaninya menunggui Anna walau secara tidak langsung.
Anna sontak terkejut sendiri ia lupa jika Aldres dan Azriel dulunya adalah rival dalam tim basket SMA.
"Ah Al Anna belum bilang ya Azriel itu–"
"Lo kenal sama dia? Kok bisa?"potong Azriel yang bertanya pada Anna.
Anna dan Aldres kedua terdiam saling pandang dengan Aldres yang tidak mengerti sedangkan Anna sepertinya sedikit tahu jika mungkin saja Azriel benar-benar melupakannya begitu juga tentang hal-hal yang berhubungan dengannya.
"Azriel sendiri kenal Al?"kali ini Anna yang bertanya pada Azriel.
"Pastilah, dia itu sangat menyebalkan saat dipertandingan dulu"kata Azriel penuh dendam pada Aldres.
Aldres sedikit merasa terlusut, Azriel mau yang dulu atau yang sekarang laki-laki itu tidak pernah berubah, bahkan setelah hampir mati pun laki-laki itu masih menyebalkan saja.
Aldres tentu saja tahu jika Azriel tidak mati melainkan sekarat dan dibawa pergi orang tuanya keluar negeri untuk mendapatkan perawatan.
Aldres sudah sepakat akan tutup mulut mengenai Azriel pada siapapun terlebih pada Anna seperti yang disuruh Milan padanya saat itu.
Tidak diduganya Azriel sudah bertemu Anna duluan tanpa sepengetahuannya dan juga sepertinya laki-laki itu selamat dari kematian.
"Lo sendiri kenapa baru muncul sekarang? Kalo Lo udah sehat seharusnya Lo langsung muncul dan–hmph!!"Aldres menatap Anna terkejut kala gadis itu mendadak membekap mulutnya dengan tangannya menghentikannya berbicara.
"Suutt suutt!"peringat Anna pada Aldres dan membawa Aldres pergi.
"Azriel langsung ke ruangan Anna aja, Anna mau bicara sebentar sama Aldres"kata Anna langsung pada Azriel dan bergegas membawa teman masa kecilnya itu pergi.
Azriel sendiri menatap tajam keduanya terlebih pada Anna. Bagaimana bisa gadis itu terlihat sangat dekat dengan Aldres, apa yang telah ia lewati?
***
Anna membawa Aldres pergi kelorong yang sepi dekat ruang ganti para staff rumah sakit, menatap Aldres dengan kesal.
"Jangan coba-coba buat cerita masa lalu ke Azriel"kata Anna memeringati.
Aldres mendengus saja mendengarnya. "Tapi kan kamu bertahun-tahun menderita karena tuh orang, harusnya kalo gak mati ya muncul lah biar orang-orang gila itu gak menghakimi kamu!"kesal Aldres karena dirinya benar-benar tidak terima Anna yang melewati masa yang sangat sulit atas tuduhan telah membunuh Azriel.
Anna terdiam menatap Aldres, mencerna perkataan laki-laki itu membuatnya berpikir jika laki-laki itu tahu sejak awal Azriel tidak meninggal.
"Al tau dari awal Azriel gak meninggal ya?"
Pertanyaaan Anna itu membuat Aldres sontak membisu dan mengalihkan pandangannya seolah dirinya ketahuan yang memang dirinya ini telah ketahuan.
Anna menghela saja sepertinya memang benar Aldres sejak awal tahu jika Azriel tidak meninggal, dan itu sudah tidak berguna lagi karena situasinya seperti ini.
"Azriel kehilangan ingatannya dan dia lupa semuanya tentang Anna"kata Anna pada Aldres.
Aldres sontak kembali menatap Anna tidak menyangka. "Yang bener? Dia gak inget apa-apa soal kamu?"kata Aldres benar-benar tidak percaya.
Anna mengangguk saja. "Iya maka dari itu Al gak usah ngomongin soal masa lalu yang terjadi karena Azriel yang menghilang itu"kata Anna.
Aldres terdiam bukannya patuh dirinya hanya tidak setuju dengan keputusan Anna. Walaupun Azriel hilang ingatan dan tidak mengingat Anna laki-laki itu tetap harus tahu apa yang Anna alami selama laki-laki itu dinyatakan 'mati'.