
Tak.
"Jadi ada apa Milan kesini?"tanya Anna kala dirinya menaruh secangkir teh dan juga camilan diatas meja pendek depan Milan duduk disofa sedangkan dirinya mengambil duduk dikursi dihadapan Milan.
Milan terdiam sejenak menatap secangkir teh yang diberikan Anna itu, mengangkat wajahnya dan menatap pada sebuah toples kaca yang berisi permen tongkat itu Milan merasa Anna tidak pernah berubah, setelah segala masalah yang menimpanya, membuat Milan merasa lega dan juga tenang.
Menatap Anna Milan tersenyum miris. "Lo pastinya tau Jiel belum mati, dia masih hidup dan kehilangan ingatannya"kata Milan.
"Ya, beberapa kali Anna ketemu Azriel, diawal-awal Azriel kayak gak kenal Anna, di pertemuan ke empat Azriel datang kesini terus minta bantuan buat mengembalikan ingatannya"kata Anna.
"Dia minta bantuan Lo? Disaat dia ngelupain segala hal tentang Lo? Ironis sekali"kekeh Milan miris.
Anna menatap Milan yang terlihat lesu itu. Seperti dugaannya Azriel memang melupakan dirinya seorang karena saat itu saat bertemu Aldres laki-laki masih mengingat laki-laki itu sedangkan padanya Azriel tidak mengingatnya.
"Ini salah gue, sejak awal ini salah gue"
Anna menaikkan wajahnya menatap Milan yang terlihat berantakan dan sangat bersalah itu.
Milan menatap Anna dengan penuh rasa bersalah. "Kalo aja gue dulu gak ngebiarin Jiel diculik sama wanita gila itu, Jiel bahkan lo gak akan mengalami hal-hal mengerikan itu"keluh Milan merasa sangat bersalah.
"Apa maksud Milan?"tanya Anna tidak mengerti.
Milan menyeringai miris. "Dulu Jiel bantuin seorang cewek yang nangis, dia ngehiburnya, memberikan sapu tangannya buat menghapus air matanya tanpa tau kalo tuh cewek akan jadi mimpi buruknya selama bertahun-tahun karena cewek itu bukan cewek baik-baik"
"Cewek itu nyatanya penguntit gila yang terobsesi sama Jiel, tuh cewek nyulik Jiel butuh waktu lama untuk mencari Jiel karena cewek itu bener-bener nyembunyiin Jiel dengan baik, dan seperti yang kamu tau selanjutnya"kata Milan menatap Anna.
Anna mengangguk saja selebihnya ia memang tahu keseluruhan kejadian karena Anna pun tidak terduga ikut diculik saat itu.
"Ya, Anna waktu itu lagi cari Sarah terus tiba-tiba ada perempuan matanya biru nyamperin Anna bilang mau bantu cari Sarah dan Anna pun patuh aja ngikutin wanita itu karena wanita itu bilang ada sesuatu yang tertinggal dirumahnya"kekeh Anna saat mengingatnya merasa lucu dan bodoh juga tidak menyangka begitu lugunya Anna waktu itu.
"Bukannya kerumah wanita itu, wanita itu malah bawa Anna pergi kesebuah rumah terbengkalai, Anna saat itu udah ngerasa gak enak tapi ya namanya anak kecil lawan orang dewasa mana bisa"kekeh Anna miris.
"Dan disitulah Anna ketemu Azriel, waktu itu Azriel nyebut dirinya dengan nama Alfha jadi Anna gak tau kalau Azriel yang satu SMA dulu itu Alfha, lagipula Anna emang lupa soal kejadian waktu kecil itu, inget-inget pas setelah insiden waktu itu"
"Sudah pasti Anna gak akan inget karena orangtua gue bikin dia lupa segalanya tentang waktu itu dibantu psikiater"
Anna dan Milan keduanya sontak menengok dan melihat Aldres disana yang muncul.
"Al kesini lagi? Ada kasus lagi apa?"bingung Anna merasa bukannya kemarin Aldres baru saja menyelesaikan persidangannya tapi sekarang sudah muncul lagi.
"Enggak, biasa tuan putri menyuruhku untuk datang ke lokasi pemotretan nya yang lokasinya di kota ini"kata Aldres santai mengambil duduk tepat disamping Milan yang Aldres tatap sangat tajam itu.
"Jadi ini semua salah Lo huh? Lo yang udah bikin Anna hampir mati waktu itu dan juga hampir diperkosa dan dibunuh saat kecil sampe trauma itu semua gara-gara Lo?"kata Aldres begitu tajam pada Milan.
"Al tunggu dulu–"Anna ingin menghentikan Aldres berbicara namun laki-laki itu tetap berbicara yang membuat Anna terdiam.
"Pantes aja gue ceritain tentang kemalangan Anna waktu kecil si Azriel gak paham orang Lo penyebabnya tuh orang bahkan harus sampe kayak Anna dihapus beberapa memorinya agar enggak gila karena trauma dan semakin tidak masuk akal sekarang karena Anna dan Azriel benar-benar hampir mati dan bahkan Azriel benar-benar melupakan keseluruhan tentang Anna"kata Aldres benar-benar tidak menyangka.
Anna sontak bangkit melerai kedua laki-laki itu, memisahkan keduanya dengan Anna yang mengambil alih tempat Aldres dan Aldres Anna suruh untuk duduk dikursi tempatnya tadi.
Aldres mendengus kesal. "Cerita biasa, kalo tuh cowok udah bikin hidup Anna menderita dari kecil sampai SMA karena gue ceritanya pas kita masih pada di SMA"
Milan terdiam. "Lo cerita sebelum insiden dihutan bukit itu?"tanya Milan.
Aldres mengangguk saja karena memang di waktu itu dirinya menceritakan semua yang ia ketahui pada Azriel, dengan tujuan agar Azriel sadar kalau laki-laki itu membuat hidup Anna yang sudah buruk karena keluarganya semakin buruk karena keberadaan laki-laki itu.
"Azriel kayaknya inget semuanya pas nolongin Anna waktu itu"celetuk Anna membuat kedua laki-laki itu menatap padanya.
Milan mengangguk saja karena dirinya pun menyetujuinya dan setelahnya kesialan terjadi kala Azriel yang menyelamatkan Anna dirinya tertabrak sampai sekarat dan berakhir koma juga mengalami amnesia penuh tentang Anna.
Ya Anna pun jadi ingat dengan jelas bagaimana Azriel yang saat itu mendorongnya untuk menyelamatkan nya laki-laki itu juga mengatakan jika dirinya sangat membenci Anna.
"Tapi ini semua bukan salah Milan"kata Anna karena merasa tidak perlu ada yang merasa bersalah.
Semua insiden yang terjadi beberapa tahun terakhir adalah murni karena takdir yang tidak baik. Mereka semua hanya sial karena harus mengalami semua hal mengerikan saat itu.
"Gak ada yang perlu disalahkan dan tidak perlu ada yang merasa bersalah, semuanya ini murni karena takdir"kata Anna melihat Milan dan juga Aldres.
"Seharusnya kita bersyukur karena semuanya selamat dan tidak ada hal yang lebih mengerikan terjadi pada kita"kata Anna meyakinkan mereka.
Aldres pada akhirnya menghela saja, jika Anna sudah menganggap seperti itu ya sudah dan lagipula semua itu hanya masa lalu untuk apa selalu diungkit-ungkit.
"Ya gue sih ikut Anna, kalo dia gak masalah ya gue juga, Lo beruntung karena Anna benar-benar orang baik"kata Aldres pada Milan seraya meminum teh milik Anna.
"Al!! Kok diminum?!"seru Anna tidak terima.
"Salah siapa gak nyiapin buat Al juga?"kata Aldres cuek membuat Anna hanya bisa mendengus dan pergi untuk membuat teh untuknya sendiri.
Milan yang melihat tingkah keduanya pun hanya bisa menghela lega dan berterimakasih karena dirinya diperkenankan untuk berteman dengan orang-orang yang begitu baik seperti mereka.
"Gue masih gak terima Jiel harus lupain Anna karena secara Anna adalah orang yang dia cintai"kata Milan tenang meminum tehnya.
Splash!!
"Blehh"
"Al!! Ya Tuhan!!"seru Anna kaget melihat Aldres yang menyemburkan teh dimulutnya tepat pada Milan yang ada disebrangnya membuat Milan sedikit basah.
Milan membuka matanya menatap tajam pada Aldres yang masih sibuk mengusap tetesan air teh pada dagunya. "Gue anggap ini sebagai pelampiasan kekesalan Lo"kata Milan tajam.
Aldres yang mendengarnya terkekeh saja dan bergumam meminta maaf. Habisnya dirinya sangat terkejut mendengar jika Azriel mencintai Anna.