
Anna tahu semua anak yang bersekolah di SMA Arya itu adalah anak orang kaya semua, begitu juga dirinya bisa dibilang keluarganya pun termasuk kaya, namun sepertinya untuk Azriel sudah another level kekayaannya.
Saat ini saja Anna hanya bisa melongo didepan gerbang yang begitu tinggi, megah dan luar biasa. Dari gerbangnya saja sudah seperti ini lalu bagaimana isinya nanti.
Benar-benar sultan pun lewat jika begini adanya.
Azriel memang memberikan alamatnya lewat pesan tadi malam namun Anna tidak tahu jika alamat singkat itu akan membawanya kesebuah kediaman yang bahkan sebutan rumah tidak layak disebutkan karena yang pantas dan cocok untuk menyebutkan kediaman keluarga Azriel adalah sebuah istana.
Triing triing.
Anna terkejut oleh suara dering ponselnya sendiri yang membuatnya terjengit dan sontak mengambil ponselnya yang berbunyi ada panggilan masuk dari Azriel.
"Iya?"jawab Anna ragu.
"Dimana?"tanya Azriel setelah Anna menjawab.
"Depan rumah–"
Ceklek sraakk.
"Oh–"
Bertepatan dengan itu Azriel membuka pintu gerbang kecil seukuran pintu digerbang besar itu dengan ponsel yang menempel disalah satu telinga.
"Lo sampe juga"kata Azriel terdengar di ponsel Anna sebelum panggilan diakhiri dan Anna menghampiri Azriel.
"Hallo"sapa Anna refleks bahkan membungkuk sangat sopan dan hal itu membuat keduanya mendadak diam mematung menatap satu sama lain.
Anna sendiri menyadari tindakan bodohnya ini dan dirinya merasa sangat malu dengan wajah yang memerah.
"Pfft– hahaha"
Semakin merasa malu kala Azriel tertawa terbahak karena tingkah bodohnya tadi.
"Hah, ayo masuk"kata Azriel yang menghela setelah puas tertawa dan kembali menjadi dirinya seperti biasa.
Anna mengangguk saja masih merasa malu namun mengikuti Azriel untuk masuk kerumahnya.
Dan seperti yang Anna duga bahkan dibalik gerbang besar dan megah tadi didalamnya lebih mewah dan sangat luar biasa.
Benar-benar seperti istana, dan jujur saja menurutnya tempat tinggal Azriel ini seperti tempat tinggal keluarga kerajaan yang sering diilustrasikan di setiap manga dan manhwa yang suka Anna baca.
Berjalan disamping Azriel yang santai sembari memainkan ponselnya, Anna malah asyik celingak-celinguk kesana kemari memanjakan matanya dengan taman depan rumah Azriel yang begitu luas dengan banyak bunga yang sepertinya sangat dirawat.
Tapi Anna merasa aneh saat menyadari sesuatu, tempat tinggal Azriel begitu sepi, ditempat seluas ini tidak ada seorang pun disekitar mereka, hanya ada mereka berdua membuat Anna bertanya-tanya apa kedua orangtua Azriel sendiri yang merawat rumah sebesar ini? Apa mereka tidak lelah?
"Gak ada orang?"gumam Anna sebenarnya untuk dirinya sendiri tapi sepertinya ia berucap terlalu keras sampai terdengar Azriel yang dijawab oleh laki-laki itu.
"Para penjaga lagi pergi begitu juga para pelayan, bokap nyokap lagi nyiapin acara ditempat lain jadi semua orang mereka bawa"kata Azriel cuek menjawab gumaman Anna.
Anna hanya ber oh ria saja. Sampai membawa pekerja milik sendiri berarti orangtua Azriel adalah tipe orang yang sulit untuk percaya dengan orang asing.
***
Azriel membawa Anna ke kamarnya yang luas untuk tempat mereka mengerjakan tugas kelompok mereka.
Tak ada obrolan dan serius dengan tugas masing-masing mereka mengerjakannya, duduk saling berhadapan lesehan diatas karpet dengan meja pendek diantara mereka sebagai alas untuk mereka menulis.
"Kayaknya disini ada buku yang bisa dijadiin bahan buat bagian ini, tunggu sebentar gue bakal balik–"
"Anna ikut?"kata Anna ingin ikut yang membuat Azriel yang hendak bangkit dari duduknya itu tertahan dan menatap Anna sebentar sebelum menjawab.
"Enggak usah, Lo disini aja"kata Azriel cuek melangkah keluar kamar meninggalkan Anna sendirian di kamarnya.
Anna yang ditinggalkan sendirian disana malah semakin gugup karena entah kenapa Anna merasa sedikit terintimidasi(?) dengan tempat tinggal Azriel ini.
Karena bukan hanya sekedar mewah namun sangat mewah kediaman keluarga Azriel ini, memang terlihat simpel dan modern tapi kata mahal senantiasa menjerit dari setiap sudut ruangan dari benda-benda yang disetiap sudut ruangan ini.
Kamar Azriel benar-benar sangat luas, mungkin dua kalinya ruang kelas di SMA Arya dengan ranjang yang begitu besar dan empuk, bahkan ada set sofa lengkap dengan TV berlayar besar dan juga konsol game, lalu ada juga dua meja yang sepertinya dibedakan menjadi meja belajar dan meja kerja, entahlah kamar Azriel benar-benar membuat Anna terperangah.
Dan lagi aroma Azriel benar-benar sangat melekat di kamar ini dan Anna yang merasa ada kesempatan pun bangkit dan berjalan ke lemari pajangan disebelah TV itu yang sejak awal telah merebut perhatiannya karena didalamnya ada semacam berbagai action figure disana.
Benar saja didalam lemari itu terpajang banyak sekali action figure disana dan ada sebuah figura yang terlihat dibalikkan membuat Anna semakin penasaran kenapa figura itu dibalikkan.
Tangan nakalnya pun dengan ragu berniat membuka lemari itu untuk melihat apa yang ada di figura itu dan semakin lancar niatannya itu kala pintu lemari itu bisa di buka.
BRAAKKK!!!
Suara keras dari luar membuat Anna terkejut dan bergegas keluar kamar setelah menutup lemari, berlari sampai ke pagar sisian lantai dua melihat-lihat ke bawah mencari tahu dari mana asal suara keras itu.
"Azriel??"Anna mencoba memanggil Azriel namun tidak ada sahutan membuat Anna semakin merasa ada yang tidak beres.
Dirinya pun menuruni tangga akan mencari Azriel dan asal suara keras tadi yang menurutnya dari lantai bawah.
"Azriel?!"Anna masih meneriakkan nama Azriel berharap laki-laki itu menjawab panggilannya.
"Azriel!!"
"Azriel!!"
Anna mengelilingi lantai satu rumah keluarga Azriel itu yang begitu luas dengan berlari kemana saja untuk mendapati sosok Azriel.
Tanpa menyadari jika pintu depan terbuka lebar.
"Azriel!!"Anna masih mencari keberadaan Azriel merutuki kenapa rumah Azriel ini sangat besar sekali.
Sampai dirinya berhenti dan kembali mundur kala melihat diujung lorong yang dilewatinya tadi terlihat ada sebuah pintu yang terbuka.
Anna pun langsung berlari kearah pintu itu dan begitu terkejutnya dibalik pintu yang terbuka itu adalah sebuah perpustakaan berbentuk lingkaran dengan berak-rak buku sampai kelangit-langit dengan banyak buku yang berhamburan terjatuh dilantai.
Dan disana Anna menemukan Azriel yang terduduk meringkuk dengan nafas yang tersengal-sengal terlihat ketakutan.
"Azriel!!?"seru Anna akan menghampiri Azriel dengan memasuki perpustakaan itu.
"Jangan!!!"teriak Azriel.
Duak! Bruk!
Anna yang begitu melewati pintu langsung dihantam oleh sebuah buku tebal keras dari samping membuat Anna langsung terjatuh setelah sedikit terlempar tadi.
"Ish!!"ringis Anna kala merasa kepalanya pening sehabis dihantam oleh buku.
"Kumohon hentikan!!"
Sraakk.
"Hah.. hah.."
Anna merasa adrenalinnya tiba-tiba memuncak kala dirinya berhasil menghindari ayunan pisau yang dilayangkan oleh sosok tidak dikenal dengan balutan serba hitam itu membawa pisau dapur yang wajahnya tertutupi masker juga topi.
Kalau saja Anna telat sedikit saja tadi saat menghindar bisa-bisa dirinya terluka sangat parah.
Anna berdiri saat selesai mematai sosok misterius serba hitam itu, jika dirinya boleh menduga sepertinya sosok itu walau sedikit lebih tinggi darinya sosok itu adalah seorang wanita.
Astaga dunia sepertinya sudah gila karena lihat saja seorang wanita begitu berani masuk kedalam rumah seseorang dengan membawa-bawa pisau dapur yang mungkin saja didapatkannya dari dapur rumah ini.
"Siapa kamu?! Perampok?! Pembunuh?!"tanya Anna memasang kuda-kuda siap melawan sosok misterius itu, sebut saja dirinya gila karena berpikir akan melawan penjahat dihadapannya itu tapi itu lebih baik daripada dirinya dan Azriel terluka lebih dari ini dan Anna tidak akan membicarakan penjahat seperti orang dihadapannya ini berkeliaran bebas.
Tak menjawab sosok itu malah berlari menyerang Anna dengan pisau nya.
Anna yang terlatih dengan mudah menghindar dan menyerang balik sosok misterius itu.
Bugh.
Pukulan diperut yang begitu telak sampai tubuh lawannya terlihat melengkung dan terangkat sebelum terjatuh dengan terbatuk-batuk dan menjatuhkan senjatanya.
Bruk. Crang. Sreet.
Anna langsung menjauhkan pisau dapur yang terjatuh itu dari si penjahat akan ia ikat penjahat yang terlihat sudah lemas itu sampai polisi datang dan menangkap penjahat ini.
"Jangan melawan jika–"
Syaatt. Brukk. Tes tess.
Anna terkejut kala penjahat itu ternyata tidak menyerah dan mengayunkan pisau lipat padanya dan menggores pipinya kala dirinya menghindar sampai terjatuh.
Penjahat yang melihat kesempatan pun langsung berlari setelah sempat melihat pada Azriel yang sontak mematung dengan jantung yang seolah lepas dari tempatnya kala tatapannya dan si penjahat beradu.
'Hai pangeranku. Aku datang untuk membawa mu agar kita bisa hidup bahagia bersama'