
Para murid sudah masuk ke tenda masing-masing, sudah waktunya untuk tidur. Beberapa tenda sudah terlihat sepi tapi entah didalamnya mungkin para penghuninya masih membuka mata mereka.
Tak terkecuali tenda terbesar yang berisi 3 kelompok disana, bagian ceweknya. Anna tak bisa tidur karena ia tak kebagian selimut karena Vanessa tak cukup dengan selimut yang dibagikan oleh penyelenggara.
Tak ingin semakin gaduh dan putri semakin muak dengan Vanessa akhirnya Anna memilih mengalah yang menyebabkannya tak bisa tidur karena kedinginan.
Duduk memilih bangkit melihat teman-teman satu tendanya sudah lelap tertidur membuat Anna tersenyum tipis.
Bangkit berdiri, melangkah mengendap-endap hati-hati berjalan keluar tenda dengan perlahan membuka dan menutup resleting tenda.
Begitu keluar sepi yang dirasa Anna karena semua orang sepertinya memang sudah tidur semua disaat jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.
Memakai sepatu berjalan sedikit lebih kedepan agak jauh dari tenda sampai ke pagar pembatas yang dimana dibawahnya adalah sebuah tebing yang tak terlalu tinggi yang dibawahnya ada jalan setapak buatan dan memilih berjongkok disana melamun menatap kedepan sesekali menatap langit hitam yang dipenuhi bintang mengabaikan dirinya yang hanya menggunakan jaket yang tak terlalu tebal.
Daripada melamun menatap langit cantik diatas membuat lehernya pegal, Anna lebih memilih memandang kedepan hutan gelap disana untuk melamun.
Merenungkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu yang malah membuatnya semakin tak mood.
"Kenapa Lo belum tidur?"
Anna melihat kebelakang menengadahkan wajahnya dan mendapati Azriel berdiri disana dengan jaket tebal dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku jaket.
Mengabaikan, Anna kembali menatap kedepan. Tak terlalu terkejut lagi dengan aura Azriel yang beberapa kali membuatnya gugup atau takut itu yang dimana sosok itu dihari ini sering kali muncul tiba-tiba disekitarnya.
Sedikit kesal karena diabaikan tapi Azriel tetaplah Azriel sekalinya tak peduli ia pun tak peduli. Lantas berdiri disamping Anna melihat keatas dimana langit begitu cantik dengan ribuan bintang disana.
"Lo lebih milih hutan gelap itu daripada langit cantik diatas sana, aneh"celetuk Azriel masih asik menatap langit malam yang jarang sekali dilihat diperkotaan.
Anna terdiam. Dibilang seperti itu Anna seperti dikatai bodoh. Tapi Anna tak masalah, lagipula jika ia menatap langit indah disana ia merasa tak pantas, langit disana terlalu indah untuk Anna yang selalu rendah itu.
Anna bangkit berdiri membuat Azriel memperhatikan si gadis yang menatap langit sebentar kemudian dirinya.
"Lihat keatas terus pegel tau dan Anna merasa gak pantes buat langit diatas sana"perkataan Anna diakhiri dengan senyuman yang membuat Azriel bingung ditambah kalimat Anna yang membuatnya merasa ingin menyadarkan gadis itu dengan memukulnya mungkin agar Anna cepat-cepat sadar dan tak berpikiran kekanakan seperti itu.
Anna mengangguk pamit pada Azriel yang tak bereaksi sedikit pun itu. Berbalik untuk kembali kedalam tenda mencoba untuk tidur karena ia harus tidur untuk kegitan pagi nanti yang sepertinya cukup melelahkan.
Bruk.
Anna terkejut dengan sesuatu yang menubruk belakang tubuhnya dengan refleks berbalik dan memegangi yang benda itu sebuah jaket dan dilihat Azriel tanpa jaket hanya memakai kaos hitam lengan pendek, berjalan mendekati Anna dan berhenti tepat didepannya menatap jengah.
"Bego Lo kebangetan"desis Azriel seraya menoyor pelan dahi Anna.
Anna berkedip mendapati kelakuan Azriel. Tak marah hanya terkejut pria didepannya itu bisa sampai seperti ini, padahal saat di sekolah mereka seperti tak kenal satu sama lain, saling berinteraksi saat ada olimpiade saja.
Azriel menghela melihat reaksi Anna dan dirinya yang kebingungan dengan perilaku tiba-tibanya terhadap Anna, Azriel salah tingkah sendiri.
Menjaga image mengabaikan hal yang baru saja ia perbuat, ditatapnya Anna seperti biasa.
"Pake jaketnya buat tidur, balikin udah bersih"kata Azriel seraya berlalu berjalan menuju tendanya meninggalkan Anna yang menatap bingung Azriel.
"Dia Azriel?"gumamnya tiba-tiba karena terkejut dengan perilaku Azriel belakangan.
Perilaku aneh Azriel dimulai dari keberangkatan mereka menuju perkemahan, semuanya membuat Anna terkejut tapi sedikit lebih baik karena Azriel yang seperti itu seperti Azriel yang sama saja seperti anak lainnya membuat kegugupannya menghadapi pemuda itu sedikit berkurang.
Pria itu menyuruhnya untuk menggunakannya tapi apakah pria itu tak akan kedinginan saat jaketnya ada di Anna.
"Ah ada selimut, lagian pasti dia bawa jaket banyak kan?"pikir Anna mengingat setiap murid kebagian selimut dan para murid pun membawa beberapa jaket seperti Anna yang membawa jaket 3 untuk diganti setiap hari.
"Ah kan Anna ada jaket lain kenapa gak kepikiran?"keluh Anna saat mengingat ia memiliki jaket lain.
Awalnya ingin tak menggunakan jaket Azriel karena merasa segan tapi dipikir lagi kalau Anna menggunakan jaket yang lain bisa-bisa cuciannya akan semakin banyak bukan, ia malas mencuci.
"Maaf"gumam Anna saat memakai jaket Azriel karena ia merasa bersalah menggunakan jaket pria itu.
Aroma parfum dari jaket Azriel begitu kental saat jaket itu sudah melekat ditubuh Anna yang kecil membuat Anna seperti tenggelam.
"Hangat"gumam Anna senang meremat kedua tangan jaket yang membuat kedua tangannya tenggelam.
Merebahkan diri menutup matanya mencoba untuk tidur dengan aroma Azriel yang membuatnya tenang. Anna harus berterimakasih pada Azriel nanti karena bantuan pria itu dirinya bisa tidur.
***
"Kegiatan pagi kita kali ini adalah memasak sarapan"kata pembina didepan.
"Kalian akan memasak sendiri dengan bahan yang sudah disediakan dan mencari kayu bakar sendiri untuk menyalakan api"tambahnya.
Intan mengumpulkan kelompoknya untuk pengarahan setelah penjelasan dari pembina selesai. Gadis itu akan membagi tugas untuk anggotanya.
"Cowok cari kayu bakar yang cewek masak, gitu kan?"tanya putri yang diangguki intan.
"Iya inginnya gitu, gimana?"tanya intan pada para laki-laki dikelompok nya.
Keempatnya mengangguk mengerti. "Kalo kalian mau makan ramuan nenek sihir sih biar gue aja yang masak"kata Indra enteng mengatakan jika ia yang memasak akan jadi sebuah ramuan sihir bukannya makanan.
"Gue gak mau makanan illegal, dah kita cari kayu bakar aja"kata Bimo membawa Indra dan lainnya agar segera mencari kayu bakar meninggalkan para cewek kelompoknya yang terkekeh dengan para laki-laki yang begitu humoris.
"Kalo gitu, ayo bawa bahan-bahannya"kata Laras mengajak yang lainnya ketempat pengambilan bahan makanan untuk para murid.
Pembagian tugas sepertinya sangat cocok, lihat saja kelompok 15 adalah kelompok yang sepertinya memiliki masakan terenak karena ketelatenan para anggota perempuan nya yang ternyata semuanya bisa memasak.
"Kalo nanti ada kemah lagi gue harus sekelompok lagi sama Lo pada, titik"kekeh Saman menatap lapar masakan sederhana diwajan yang sedang dimasak Anna dan Putri.
"Iya harus, Lo pada hebat bikin nasi tanpa rice cooker, gue salutnya disitu tuh"kata Bimo menatap kagum intan dan Laras yang mahir memasak nasi di panci.
Ia saja memasak nasi di rice cooker sering gagal, tapi kedua cewek itu berhasil membuat nasi yang sempurna disebuah panci diatas api. Luar biasa, Bimo sangat kagum dengan yang seperti itu.
"Harus ada Anna pokoknya, kan gara-gara dia kita jadi ada tambahan makanan enak gara-gara ngejawab kuisnya dengan benar"kata Laras menyahuti perkataan Saman.
Bahan makanan mereka lebih banyak dan lebih menggugah selera karena mereka yang mengambil challenge yang berhadiah bahan makanan tambahan yang dimana semua challenge dijawab mudah oleh Anna yang challenge nya berupa pelajaran.
"Menurut gue sih ini kelompok goals banget, kalian hebat bisa dapet kayu bakar banyak banget, yang ceweknya juga jago masak, dan plusnya ada Anna yang bisa bikin kelompok kita jadi sempurna, tepuk tangan dong gengs gue seneng banget nih!!"kata Putri semangat membuat yang lainnya tertawa dan ikut tepuk tangan juga membuat kelompok mereka ramai dan menjadi pusat perhatian.
"Udah ayo dimakan, udah jadi semua. Apinya tolong matiin dulu ya para cowok"kata Intan sembari membagikan alat makan sekali pakai untuk para anggotanya.
Mereka pun kembali membagi tugas, para cowok mematikan api dan para cewek menyajikan masakan mereka untuk mengisi piring mereka semua masing-masing.