
Milan sedang berada didalam ruang kerjanya sedang mengerjakan beberapa pekerjaannya yang sedikit tertunda karena tadi bahkan dirinya pergi ke luar kota untuk pergi kerumah sakit tempat Anna bekerja dan tidak terduga dirinya pun bertemu dengan teman-temannya yang lain.
Tidak terlalu lama mereka mengobrol namun sedikitnya dirinya bisa kembali bertemu dan berkumpul bersama mereka karena sudah hampir bertahun-tahun dirinya tidak bertemu dengan mereka.
Sejak kejadian itu dirinya ikut pindah sekolah ke luar negeri karena Azriel yang dirawat diluar negeri dan untuk menemani Azriel yang begitu bangun melanjutkan sekolahnya diluar negeri untuk mencegah kondisinya semakin memburuk.
Karena saat itu dokter melarang Azriel untuk pulang ke Indonesia karena takutnya banyak sekali hal yang membuatnya mengingat traumanya dan masa lalunya yang mana akan membuat laki-laki itu mungkin saja drop, baru saja bangun dari komanya jadi Azriel masih rentan saat itu.
Namun bukannya Milan tidak tahu sahabatnya itu beberapa kali mencoba mencari tahu tentang masa lalunya, Milan tahu dan tentu saja Milan adalah salah satu dari mereka yang mencoba agar Azriel tidak mengingat masa lalunya.
Dan waktunya untuk berhenti menutup-nutupi nya sudah selesai dan semuanya akan kembali normal dan yang seharusnya tidak ada akan pergi dan yang ada harus kembali.
Brak.
Milan mengangkat wajahnya dari berkas diatas mejanya dan melihat sang sahabat datang dengan tidak santainya membuka pintu dengan sangat brutal.
Tersenyum tipis kala sang sahabat berjalan kearahnya dan membanting apa yang dibawanya keatas meja kerjanya.
Sebuah buku yang begitu Milan kenali karena buku itu memang miliknya dan ia sendiri yang menulis isinya.
"Kau kurang ajar!"murka Azriel pada Milan.
Milan semakin tersenyum mendengar perkataan Azriel itu. "Benarkah? Bukankah kau yang kurang ajar menyuruh bawahanmu masuk dan mencuri barang-barang yang ada diruangan pribadiku?"kata Milan tenang.
Azriel berdecih sebal mendengar balasan sang sahabat lantas mengambil duduk disofa yang ada diruang kerja sahabatnya itu melipat kedua tangan didada dan juga melipat kakinya kesal.
"Kau seharusnya tidak perlu merasa bersalah bodoh, itu semua kan hanya takdir buruk yang menimpaku, lagian ya bukan salahmu atau salah siapapun disini. Ini murni ketidakberuntungan aku, kau dan cewek bernama Anna itu jadi tidak perlu merasa bersalah sialan"kata Azriel tajam.
Milan terkekeh saja sudah menduga jika sahabatnya itu tidak pernah menyalahkannya, tapi dirinya lah yang selalu merasa bersalah atas segalanya yang telah terjadi.
"Eehh?! Azriel udah inget Anna?!"
Kedua laki-laki yang ada didalam ruangan pun mengalihkan pandangannya mereka melihat seorang wanita yang muncul dengan blousenya.
"Sudah selesai dengan pameranmu sayang?"tanya Milan pada wanita itu yang terlihat mengambil duduk disofa sebrang Azriel menatap Azriel serius.
"Ya sudah"cuek wanita itu menjawab Milan dan terfokus pada Azriel memelototi laki-laki itu.
"Lo beneran udah inget Anna?"tanya wanita itu begitu serius.
Azriel menaikkan sebelah alisnya mendapati pertanyaan seperti itu dari tunangan sang sahabat itu.
Mendapati reaksi Azriel yang seperti itu membuat si wanita mendengus sebal. "Cih sampe kapan kamu tuh mau lupain Anna? Dasar Azriel bego! Keburu sama baru tau rasa loh"kata wanita itu sebal dengan Azriel.
"Paling juga kita yang kena nantinya, kena imbas dari galaunya Azriel yang ngegalau karena Anna yang diambil orang"tambah Milan yang bergabung duduk disofa samping tunangannya itu.
Azriel memutar mata malas selalu merasa kesal jika dirinya ini berbicara dengan pasangan didepannya ini.
Si wanita yang mendengarnya terkejut bukan main. "Lo udah inget gue? Berarti Lo udah inget tentang Anna?"tanya Melisa serius.
"Enggak, gue masih gak inget siapa Anna itu"kata Azriel langsung.
Melisa yang mendengarnya menghela kecewa, dirinya memang senang Azriel jadi ingat padanya tapi yang ia tunggu-tunggu dan ia harapkan Azriel yang mengingat Anna.
"Hah kapan coba Lo inget Anna lagi"keluh Melisa lelah menjatuhkan dirinya ke bahu Milan bersender.
"Paling juga kalo Anna udah jadian sama dokter tulang dirumah sakit tempat mereka bekerja baru dah tuh inget"kata Milan santai sambil memainkan rambut depan Melisa.
Azriel berdecih sudah kelewat kesal melihat pasangan itu selalu saja mengumbar kemesraan didepannya itu.
"Dari tadi gue pikir-pikir Lo berdua seolah-olah bilang cewek yang nama Anna itu sama, sama si dokter bedah bernama Anna itu"kata Azriel sebal.
"Ya emang sama! Azriel ini kok bodoh banget!"seru Melisa yang jadi kesal sendiri.
Azriel terkejut sendiri diteriaki oleh tunangannya Milan itu dan Milan sendiri hanya terkekeh menahan tawanya melihat reaksi sang sahabat.
"Tapi gadis dokter itu bilang dia gak kenal gue, dia bilang cuma sebatas tau"kata Azriel.
Melisa dibuat diam dan menatap Milan, yang ditatap hanya menghela nafas tidak mengerti kenapa Anna bersikap seperti itu pada Azriel. Apa gadis itu marah pada sahabatnya atas semua hal yang menimpanya karena sang sahabat?
"Entahlah, mungkin saja dokter itu bukan Anna yang kita maksud"kata Milan.
Melisa syok mendengar sang tunangan mengatakan hal seperti itu. Jelas-jelas dokter itu adalah Anna sahabatnya, teman mereka semua dan cewek yang disukai Azriel dari dulu sampai sekarang.
Kalau sekarang Melisa juga tidak pasti karena saat ini bahkan Azriel sudah memiliki tunangan.
Azriel melihat sahabatnya itu, kenapa berubah? Bukannya sejak tadi Milan dan Melisa sangat kukuh mengatakan jika dokter bedah bernama Anna itu memang Anna yang dilupakan olehnya tapi kenapa tiba-tiba berubah?
Triing triing.
Ponsel Azriel tiba-tiba berbunyi dan memperlihatkan panggilan dari Ravi. Mungkin saja laki-laki itu sudah menyelesaikan apa yang ia perintahkan tadi.
"Yasudah, aku akan pulang saja"kata Azriel bangkit dari duduknya tak langsung pergi namun menatap Melisa.
"Kau, apa kau menjual lukisan itu? Jika dijual jual padaku, akan kubeli dengan harga berapa pun"kata Azriel lantas pergi untuk pulang.
Melisa berkedip-kedip terkejut sendiri sedangkan Milan penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Azriel tadi.
"Lukisan?"tanyanya.
"Lukisan yang dilukis sama Anna pas masih sekolah dulu"jawab Melisa langsung.