
Jantung Bisma terasa copot saat tadi dirinya menjemput Anna ke kelasnya itu. Tidak tahu ternyata Anna bahkan dekat juga dengan Azriel, dirinya kira Anna hanya dekat dengan Milan tak tahunya gadis itu dekat dengan keduanya.
Apalagi Bisma sangat menyadari bagaimana tajamnya Azriel menatapnya yang berinteraksi dengan Anna tadi, jika tatapan bisa membunuh mungkin dirinya sudah mati terbunuh karena tatapan Azriel tadi.
Gue emang harus jaga jarak sama tuh cowok, serem cuy, batin Bisma.
***
Keesokan harinya, hari H olimpiade diadakan Azriel dan Michelle tentu saja dispen diakhir jam pertama.
Melihat Azriel yang berdiri membuat guru yang sedang mengajar pun mengerti jika murid itu akan segera pergi untuk olimpiade.
"Ayo Michelle"ajak laki-laki itu seraya melangkah keluar kelas.
Michelle yang disebutkan namanya itu oleh sang most wanted tentu saja senang bukan main. Melihat kearah teman-temannya yang menyemangatinya mendoakannya agar sukses dan beberapa siswi yang ikut kegirangan karena Michelle sepertinya mulai dekat dengan Azriel.
Michelle pamit pada guru dan berbalik menyusul Azriel yang keluar lewat pintu belakang kelas dan dirinya pun menyempatkan diri memberikan tatapan penuh kemenangan pada Anna yang bahkan mungkin saking sedihnya tidak jadi wakil sekolah di olimpiade dan tidak lagi dekat dengan Azriel sampai tidak mau mengangkat wajahnya dan senantiasa mencatat materi disana.
Berjalan dengan kesenangan Michelle berjalan bersisian dengan Azriel, mengingat bahkan semalam laki-laki itu mengiriminya pesan jika dirinya harus membawa helmnya sendiri walau hanya itu saja dan Michelle mencoba untuk memperpanjang chatting mereka namun tak berhasil itu tidak masalah karena dirinya benar-benar menang kali ini, menang dari para wanita penyuka Azriel dan juga Anna.
"Gue ke pos keamanan dulu ya, gue nitipin helm disana"kata Michelle bergegas menuju pos satpam digerbang untuk mengambil helmnya.
Tak mengindahkan Azriel dengan cuek berjalan menuju parkiran menuju motornya diparkir yang disana sudah ada pak Sugeng dan Bu Lia menunggunya.
"Gimana rasanya beda partner?"tanya Bu Lia iseng.
"Gak suka"jawab Azriel serius.
Bu Lia jadi kikuk mendengar jawaban Azriel itu, tidak menyangka muridnya itu sangat jujur membuatnya jadi tak bisa berkata-kata.
Pak Sugeng sudah menduganya saat melihat Azriel yang benar-benar tidak berminat sama sekali dengan olimpiade kali ini, sedikit membuatnya khawatir jika muridnya itu akan setengah-setengah dalam mengerjakan soal olimpiade nanti.
"Jangan setengah-setengah loh nanti, kalo bapak ngeliat kamu tidak niat bapak kasih hukuman kamu"kata pak Sugeng memperingati.
Azriel menatap mentor olimpiade nya itu. "Siapa bilang saya akan setengah-setengah?"kata Azriel sangat sarkas.
Dan kali ini pak Sugeng yang dibuat tidak bisa berkata-kata karena Azriel.
Keduanya hanya bisa memperhatikan bagaimana Azriel menaiki motornya dan menyalakan mesinnya dan memakai helmnya juga.
Michelle pun datang dan langsung memakai helmnya melihat Azriel yang siap berangkat itu, dirinya pun naik saat Azriel telah mengeluarkan motornya dari jajaran motor yang terparkir.
Azriel menatap kedua gurunya itu. "Karena saya sudah berjanji jadi tidak akan ada yang setengah-setengah"kata Azriel lantas melajukan motornya meninggalkan kedua guru itu yang masih saja tak bisa berkata-kata dan keduanya sadar saat Azriel telah meninggalkan sekolah bersama Michelle diboncengannya.
"Pak, Azriel masih anak sekolah kan ya?"tanya Bu Lia menanyakan sesuatu yang tidak penting karena jelas-jelas Azriel masih seorang pelajar, namun perangai Azriel tadi benar-benar terlihat seperti seseorang yang sangat tinggi yang tak tersentuh dan tidak ada yang berani mendekatinya.
Pak Sugeng menghela saja. "Ya dia masih pelajar, pelajar biasa yang masih labil. Ayo kita juga harus segera pergi ke sekolah tempat olimpiade diadakan"kata pak Sugeng berjalan menuju mobilnya mengajak Bu Lia.
***
Milan menatap jauh kearah langit biru yang cerah diluar sana, fokusnya tertuju pada Azriel karena dirinya was was jika sahabatnya itu bertemu dengan seseorang yang membuatnya kesal dikejuaraan basket terakhir kali karena setahunya seseorang itu bersekolah disekolah yang menjadi tempat diadakan olimpiade kali ini.
Gak mungkin ketemu kali ya, peluangnya satu banding sama semua siswa disana ya pasti gak mungkin ketemu lah ya, batin Milan mencoba berpikir positif, karena jika Azriel benar-benar bertemu dengan seseorang itu cukup bahaya juga apalagi dirinya sebagai pawang tidak menemani sang sahabat.
***
Motor Azriel memasuki kawasan sekolah yang menjadi tempat diadakan olimpiade kali ini. Memarkirkan motornya diparkiran melepas helmnya dan menatap bangunan sekolah itu, dengan titik pandangannya ke nama sekolah tersebut.
SMA Negeri 13.
Sedikit tidak nyaman karena memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan tim basket sekolah tersebut karena dikejuaraan terakhir di final tim SMA Arya cukup kewalahan melawan tim SMAN 13 walau akhirnya SMA Arya yang menang dengan skor tipis 97-98.
Berjalan masuk kedalam sekolah Azriel mengabaikan orang-orang yang menatapnya juga mengabaikan Michelle yang entah kenapa sangat berisik menurutnya.
"Woah ini sekolah walau negeri tapi gak kalah elit sama SMA Arya"gumam Michelle terkesan dengan sekolah yang menjadi tuan rumah olimpiade sekarang.
Gadis itu bahkan tidak memikirkan sedikit pun soal olimpiade, gadis itu malah kesenangan sendiri melihat sekolah orang lain.
Tak menyadari jika ada sebuah tali yang memanjang dari beberapa murid yang tadi melewati mereka membuat Michelle tersandung karenanya namun tak sampai jatuh karena seseorang memeganginya.
"Ups, hati-hati"kata laki-laki yang menolongnya itu yang sepertinya murid sekolah ini.
Michelle menatap tercengang melihat betapa tampannya laki-laki yang menyelamatkannya itu walau Azriel lebih tampan namun laki-laki itu tidak kalah tampan dari Azriel.
Azriel berbalik saat mendengar jeritan tertahan Michelle dan mendapati seseorang yang sejujurnya tak ingin ia lihat itu sedang menahan tubuh Michelle agar tidak jatuh.
"Makasih"kata Michelle malu-malu pada laki-laki itu namun diabaikan karena laki-laki itu melangkah mendekati Azriel.
"Dia cewek loh temen Lo juga perhatiin napa"kekeh laki-laki itu tak habis pikir pada Azriel.
Azriel mendengus sebal mendengarnya, apa urusan laki-laki itu. "Bukan urusan gue"kata Azriel tak peduli.
Laki-laki itu tertawa mendengarnya. "Hahaha Lo emang gak cocok sama cewek manapun memang, pasti cewek cewek bakal pergi kalo tau sifat asli Lo yang kayak gini"kekeh laki-laki itu merendahkan Azriel.
Azriel yang mendengarnya mengepalkan kedua tangannya sangat kuat. Perkataan laki-laki dihadapannya ini benar-benar membuatnya murka karena mengingatkannya pada sosok gadis kecil yang meninggalkannya bahkan sampai saat ini gadis itu tak muncul-muncul bak mati ditelan bumi.
Menyeringai laki-laki itu saat mendapati provokasinya berhasil, jujur saja dirinya masih kesal karena tim basket sekolahnya kalah di final karena laki-laki dihadapannya ini.
"Res woylah malah diem–"
"Hei ada apa ini?!"
Azriel dan laki-laki itu pun terinterupsi oleh kedatangan seorang murid laki-laki lain yang memanggil si laki-laki itu namun terpotong karena kehadiran pak Sugeng dan Bu Lia yang terlihat tergesa-gesa menghampirinya.
Pak Sugeng menatap murid SMAN 13 yang menurutnya mencari masalah dengan Azriel dan si murid yang dilihatin pak Sugeng itu hanya tersenyum simpul mengedikkan bahu dan berjalan pergi bersama temannya itu.
Menghela karena tidak menjadi masalah pak Sugeng pun menatap Azriel. "Jangan cari masalah disini. Cepet segera ke ruangan kalian, olimpiade akan segera dimulai"kata pak Sugeng memerintah kedua muridnya untuk bergegas.
***
Perasaan jengkel terhadap laki-laki tadi masih ada pada Azriel namun segera ia enyahkan karena ada hal yang lebih penting daripada memikirkan laki-laki menyebalkan tadi.
Dirinya harus menepati janjinya pada Anna jika dirinya akan menjadi juara utama dengan nilai sempurna dan menyabet seluruh piala dan piagam dalam olimpiade kali ini.
Menghela nafas Azriel harus fokus, karena ada janji yang harus ia tepati.
Diruangan lain Michelle terlihat kewalahan dengan soal-soal disana, dirinya merasa kepalanya kosong saat melihat soal-soal disana.
Jika begini adanya sia-sia dirinya bersusah payah mencuri jawaban Anna saat latihan soal waktu itu.
Menghela nafas Michelle berpikir pasrah saja, semampunya saja ia mengerjakannya semua soal yang tidak masuk akal ini toh dirinya tak menang pun tetap ada Azriel yang pastinya jadi juara umum seperti biasanya.
Gelagat Michelle itu tidak terlewat sedetik pun oleh Sugeng yang memperhatikan. Guru itu menjadi salah satu tim pengawas dan tatapannya tak pernah lepas dari Michelle dan mendapati siswi itu telah menyerah bahkan baru 15 waktu berjalan.
Menghela nafas dirinya tahu akan jadi seperti ini akhirnya.
Waktu mengerjakan soal telah selesai dan para peserta menghela lega karena mereka selesai mengerjakan soal-soal disana.
Mereka membereskan barang-barang mereka dan keluar satu persatu untuk beristirahat menunggu hasil usaha mereka beberapa jam lagi.
Michelle keluar dari kelasnya berjalan mendekati Bu Lia yang menungguinya juga Azriel.
"Gimana lancar?"tanya Bu Lia ramah.
Michelle mengangguk saja mengatakan semuanya lancar, hendak menanyakan keberadaan Azriel namun urung karena laki-laki itu muncul tepat saat dirinya akan bertanya.
"Lancar?"tanya Bu Lia kali ini pada Azriel.
Azriel mengangguk saja menjawabnya.
Tersenyum lega melihatnya Bu Lia pun menyuruh mereka untuk beristirahat saja karena seperti biasa pengumuman hasil olimpiade akan diumumkan setelah para panitia selesai memeriksa hasil kerja keras para peserta.