
Anna yang mendengar Milan yang bercerita di UKS tentang Azriel saat kelas 10 mereka membuatnya jadi kepikiran, tidak menyangka jika Azriel ternyata cukup mengerikan.
Anna dalam perjalanan menuju kelas, guru UKS menyuruh mereka untuk segera kembali ke kelas masing-masing karena mereka sudah melewatkan jam pertama mereka.
Anna yang baru saja melangkah masuk kedalam kelasnya yang cukup ramai karena guru yang mengajar di mata pelajaran selanjutnya belum datang, dan dengan kedatangannya itu kelas seketika hening dan mereka semua menatap pada Anna.
Anna dengan kikuk kembali melangkahkan kakinya ke kursinya dan duduk menyadari kursi tempatnya Michelle yang ada didepannya kosong, tas Michelle pun bahkan tidak ada.
"Anna Lo oke? Astaga mereka masih aja berani ngebully Lo, padahal Lo gak salah apa-apa"kata Melisa keras menghampiri Anna yang ada dikursinya untuk memeriksa kondisi Anna dan sedikit meringis melihat sudut bibir Anna yang terluka.
Anna menggeleng tersenyum tanda jika dirinya baik-baik saja.
"Michelle kemana?"tanya Anna membuat Melisa mendengus sebal kenapa juga Anna mencari orang yang sudah melukainya.
Mengedikkan bahu merasa tidak peduli. "Tau tuh, tadi mah dia dateng ke kelas sambil marah-marah bahkan nendangin meja sama kursi kamu sebelum pergi lagi bawa tasnya"kata Melisa menjawab pertanyaan Anna.
Anna mengangguk saja sedikit merasa lega karena Anna belum siap untuk bertemu dengan Michelle, dirinya masih merasa sangat canggung.
"Azriel juga belum ada tuh"kata Melisa tiba-tiba mengarah pada meja milik Azriel yang juga kosong, tasnya pun tidak ada.
Anna ikut melihat kearah yang dilihat Melisa sedikit tidak terkejut karena sepertinya Azriel sedang mempertanggungjawabkan perbuatannya yang membuat gaduh tadi pagi seperti Michelle, atau entahlah.
***
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi dan hari sekolah yang kali ini cukup mengerikan akhirnya berakhir. Azriel dan Michelle sampai pulang pun mereka tidak muncul.
Anna dan Melisa berjalan bersisian menuju ke gerbang sekolah untuk pulang seperti yang lainnya karena keduanya libur ekskul hari ini.
Keduanya berjalan sambil bercengkerama bersama sampai saat di gerbang sekolah mereka sedikit bingung karena melihat sepertinya ada sesuatu yang membuat para siswa terlihat mengumpul dan melihat sesuatu.
Melisa yang kepo pun ikut penasaran dan menarik Anna juga untuk ikut memeriksa ada apa gerangan.
Dan hal yang tak diduga adalah Aldres disana yang dengan santai duduk diatas motornya memainkan ponselnya mengabaikan orang-orang yang memperhatikannya.
"Ngapain Aldres kesini?"tanya Melisa pada Anna karena menurutnya Anna mengetahui sesuatu.
Anna menggeleng juga karena tidak tahu apa-apa, baru akan menjawab tidak tahu tapi ponselnya tiba-tiba berbunyi dan dilihat panggilan dari Aldres.
"Mili!"
Anna semakin terkejut karena teriakan Aldres yang meneriakkan namanya saat menyadari diantara kerumunan itu ada sosok Anna yang memang ditunggunya.
Melompat turun dari motornya dan langsung berlari untuk memeluk teman masa kecilnya itu namun harus terhenti karena seorang cewek menahannya dengan berdiri dihadapan Anna yang terlihat bersembunyi dibalik punggung si cewek.
"Lo itu ya kasian Anna nya tau"kata Melisa tak habis pikir dengan cowok kelebihan gula itu, alias pecicilan.
Aldres menatap cewek itu sebal. "Siapa Lo?"kekinya menanyakan siapa Melisa.
Melisa yang mendengarnya syok berat, apa laki-laki itu sudah lupa? Padahal kemarin mereka baru saja berkenalan, sialan sekali cowok ini langsung melupakannya.
"Gue Melisa! Inget itu baik-baik karena gue sahabatnya Anna!"kesal Melisa jadinya karena dilupakan.
Aldres yang mendengarnya terlihat tidak peduli dan mengabaikan Melisa memilih melirik melihat Anna yang tidak lagi bersembunyi dibalik Melisa dan berdiri di samping Melisa.
"Jangan peluk"peringat Anna saat Aldres kukuh ingin memeluknya dan seketika ekspresi Aldres seperti anak kecil yang dilarang main oleh orangtuanya.
Anna yang melihatnya jadi merasa bersalah dan bergegas memberikan alasan. "Anna malu tau, Al gak malu diliatin sama orang-orang?"
Aldres menggeleng karena dirinya memang tidak merasa malu. "Gak tuh, ngapain juga malu?"kata Aldres tidak peduli.
Anna menepuk jidatnya tapi kan yang malu dirinya. Menghela dan menggeleng menyerah akhirnya Anna menanyakan perihal keberadaan Aldres didepan sekolahnya itu dan menjadi tontonan anak-anak SMA Arya.
"Al ngapain kesini?"tanya Anna.
Aldres tersenyum lebar karena akhirnya mendapatkan pertanyaan itu dari Anna.
"Jemput Mili dong, ayo pulang bareng"kata Aldres bersemangat dengan senyuman cerahnya namun perlahan senyuman itu memudar dan hilang berubah menjadi ekspresi menyeramkan saat menyadari Anna terluka.
"Kenapa bibir Lo? Siapa pelakunya?"tanya Aldres begitu tajam dan dingin sarat akan kebencian memeriksa luka Anna dengan tangannya.
Anna menghindar dan melepaskan tangan Aldres dari wajahnya seraya tersenyum menenangkan temannya itu. "Gak apa-apa, udah diobatin sama guru"kata Anna.
Aldres diam saja menatap Anna sedikit tidak puas karena Anna tidak mengatakan siapa pelakunya, jika begitu dirinya akan mencari tahu nya sendiri.
"Ah jemputan gue udah datang na, gue duluan ya"kata Melisa tiba-tiba dan langsung melesat menuju mobil jemputannya.
"Dadah Anna gue duluan ya"kata Melisa lembut sambil melambaikan tangan dan masuk kedalam mobil jemputan nya.
Anna balas melambaikan tangannya pada mobil Melisa yang pergi itu, sedangkan Aldres menatap keki cewek yang sok menyuruhnya itu, tidak usah disuruh pun dirinya akan menjaga Anna dengan sangat baik.
"Mau langsung pulang atau mampir dulu?"tanya Aldres pada Anna.
Anna tersenyum saja menggeleng. "Anna harus les dulu"kata Anna.
"Kalo gitu Al anter Mili ke tempat les ayo"kata Aldres bersemangat.
***
Aldres sampai ke tempat les Anna dengan selamat, dirinya membantu Anna turun dari motor sport nya.
"Makasih Al"kata Anna sangat berterimakasih pada Aldres yang mau mengantarnya.
Aldres tersenyum mengangguk. "Nanti Al jemput, jam berapa pulangnya?"tanya Aldres.
Anna sontak menggeleng langsung bukannya menolak namun memang harus ditolak karena dirinya selesai les kan jam 11 malam.
"Gak usah Anna pulangnya malem"kata Anna memberikan alasan.
"Gak apa-apa, jam berapa? Biar Al jemput"kata Aldres kukuh merasa tidak keberatan.
Anna kembali menggeleng, dirinya benar-benar tak ingin merepotkan Aldres.
"Anna pulangnya jam 11 malam loh jadi gak usah, gak apa-apa"kata Anna mencoba membujuk Aldres untuk tidak menjemputnya.
Dengan mengetahui jam pulang les Anna saja sudah sangat lebih dari cukup jika Aldres memang wajib menjemput Anna.
"Tuh apalagi jam 11 malem, Al bakal jemput pokoknya jangan larang-larang lagi"kata Aldres serius tak ingin dibantah.
Anna pun akhirnya menyerah dan mengalah membiarkan Aldres menjemputnya nanti.
"Yaudah makasih kalo gitu"
***
Aldres duduk disebelah Hino dengan tidak minat pada balapan yang sedang berlangsung diarena depannya itu.
Aldres jadi kepikiran sesuatu tentang Anna, mendengar gadis itu yang les sampai hampir tengah malam seperti ini apa selama ini kehidupannya Anna tidak berubah?
Jujur saja Aldres sedikit bisa menebak bagaimana kehidupannya Anna, mengingat apa yang ia lihat saat kecil yang sebelumnya tidak mengerti dan saat dirinya semakin dewasa dirinya jadi paham.
Jika hidup Anna tidak terlalu menyenangkan dan sepertinya sampai saat ini Anna tidak memiliki hidup yang menyenangkan.
Cerita oleh Gio kakaknya yang bercerita bertemu dengan Anna kepada dirinya juga orangtua mereka nyatanya tidak sepenuhnya benar, memang jika dilihat Anna terlihat tumbuh dengan baik menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan sehat tapi dibalik itu semua sepertinya tidak ada yang berubah dari keluarganya.
Aldres jadi ingat saat dirinya masih kecil mengikuti motor kakaknya dulu menggunakan sepedanya saat mengantar Anna pulang saat keluarganya tahu jika Anna memiliki keluarga lain.
Gadis itu menyuruh Gio untuk berhenti beberapa rumah dari rumahnya dan turun disana lantas berjalan dengan tersenyum pada Gio yang telah mengantarnya.
Aldres kecil saat itu tidak langsung pulang seperti kakaknya dan bersembunyi saat kakaknya lewat dan kembali keluar saat menurutnya kakaknya sudah pergi jauh dan keadaan aman.
Aldres kecil mengikuti Anna kecil yang terlihat sangat ketakutan yang berjalan menuju salah satu rumah disana.
Dan saat itu lah Aldres kecil mencap jika orangtua Anna adalah orang terjahat didunia.
"Res!!"
Aldres tersadar dari lamunannya saat Hino menyenggolnya.
"Apaan sih Lo ngelamun? Beneran Lo gak akan turun?"tanya Hino perihal balapan pada Aldres.
Aldres tersadar lantas menggeleng apalagi saat melihat jam tangannya dirinya pun bangkit. "Enggak, gue gak turun hari ini"kata Aldres santai berjalan menuju motornya yang diparkir.
Hino mengikuti saja langkah Aldres dan dirinya kembali bertanya-tanya paper bag berisi jaket Aldres yang ada disalah satu stang motornya laki-laki itu sebenarnya untuk apa.
"Mau kemana Lo?"tanya Hino saat melihat sahabatnya itu seperti akan pergi.
"Jemput Mili, bentar lagi dia pulang dari les nya"kata Aldres cuek dan langsung menggas motornya pergi.
Hino dalam berdirinya diam dan kebingungan melihat jam tangannya yang menunjukkan hampir jam 11 malam. "Les macam apa yang sampe jam segini?!"syok Hino.