Millisanna

Millisanna
Bab 97



Anna yang tidak pergi ke sekolah berada dirumah mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga yang biasa ibunya kerjakan, karena hari ini ibu dan ayahnya pergi ke sekolahnya karena mereka dipanggil oleh pihak sekolah.


Karena itu juga Anna dimarahi begitu keduanya mendapatkan surat pemanggilan untuk datang ke sekolah dari komisi kedisiplinan sekolah yang isinya tentang dirinya yang berbuat salah.


Itu hanya asumsinya karena Anna tidak tahu apa isi surat pemanggilan tersebut dan juga melihat kedua orangtuanya yang sangat marah setelahnya mungkin saja karena dirinya berbuat nakal disekolah sampai kedua orangtuanya harus dipanggil benar kan.


Yah mau bagaimana lagi sejak kemarin-kemarin sepertinya dirinya memang selalu membuat masalah dan puncaknya adalah dirinya yang sampai dibawa kerumah sakit dan terluka dilehernya, tidak aneh jika kedua orangtuanya sampai mendapatkan surat pemanggilan dari sekolah.


Ting tong.


Bel rumahnya berbunyi membuat Anna meninggalkan pekerjaan mencuci piringnya dan bergegas membukakan pintu karena sepertinya orangtuanya sudah pulang.


"Sebentar–"gumam Anna seraya membukakan pintu.


"Oh"


Anna terkejut saat yang dibalik pintu adalah seseorang yang tak dikenalnya.


"Siapa kamu?"tanya Anna pada laki-laki yang berdiri didepannya itu.


"Ngapain sih? Masuk aja kali"


Perhatian Anna teralihkan saat mendengar suara adiknya Sarah dan melihat adiknya itu datang dan melewati mereka.


"Ayo masuk gak usah sungkan"kata Sarah santai melewati Anna begitu saja.


Anna sendiri mematung diambang pintu melihat adiknya membawa laki-laki ke rumah.


Apa ini? Temannya Sarah mau kerja kelompok apa? Atau jangan bilang pacarnya Sarah?


Anna mengikuti dengan ragu kedua orang itu dan memperhatikan laki-laki yang dibawa Sarah disuruh duduk di sofa ruang tengah rumah mereka.


"Heh malah diem! Bikinin minum kek siapin apa kek"sentak Sarah menyadarkan Anna yang terjengit dan mengangguk saja pergi ke dapur untuk membuat jamuan tamu Sarah yang datang.


Sarah meninggalkan laki-laki yang dibawanya karena gadis itu mau mengganti seragamnya, sedangkan laki-laki yang ditinggalkan memperhatikan Anna yang sedang menyiapkan camilan untuknya.


"Kakaknya Sarah ya? Gak sekolah?"tanya laki-laki itu.


Anna yang selesai menaruh camilan dimeja pun menatap laki-laki itu. "Kamu sendiri? Kenapa kalian udah pulang? Kabur ya?"tanya Anna menyelidik.


Laki-laki itu terkekeh menggeleng. "Enggak lah ada rapat jadinya pulang cepet"kata laki-laki itu santai.


"Terus kakaknya belum jawab pertanyaan gue tadi"lanjut laki-laki itu.


Anna menghela saja dan menjawab. "Iya aku Anna kakaknya Sarah, sakit jadi gak sekolah"kata Anna singkat.


Laki-laki itu yang mengetahui nama Anna terlihat semakin antusias. "Sekolah dimana kak Anna? Pastinya bukan di SMA Nusa kan, gak pernah liat soalnya"kata laki-laki itu lagi ingin banyak mengobrol dengan Anna.


Karena ayolah Sarah tidak memberitahunya jika memiliki kakak yang sangat cantik, tahu begitu kan dia tidak akan mempacari Sarah, mending sama kakaknya kemana-mana.


"Bukan, sekolah di SMA Arya"jawab Anna polos selalu menjawab pertanyaan teman Sarah itu dengan jujur.


Laki-laki itu sedikit terkejut mengetahui jika Anna ternyata sekolah di SMA Arya, SMA para elit dengan kecerdasan diatas rata-rata.


"Pasti pinter banget ya kak Anna"kekeh laki-laki itu.


Anna mengangguk saja, merasa tidak ada yang bisa dibicarakan lagi dan merasa laki-laki itu bukan anak nakal atau lainnya Anna akan menurunkan kewaspadaan nya pada laki-laki itu, dirinya pun berbalik hendak melanjutkan pekerjaan mencuci piringnya.


Tap.


"Tunggu dulu, belum selesai lho ngobrolnya"tahan laki-laki itu menahan Anna dengan memegangi tangannya.


"Kurang ajar banget Lo godain cowok orang!"


Anna sontak mengenyahkan tangan laki-laki itu yang juga laki-laki itu menarik tangannya terkejut saat mendengar teriakan Sarah yang begitu membahana membuat mereka terkejut.


"Lo sebenarnya punya masalah apa sih sama gue hah?!"kesal Sarah memarahi Anna dan mendorong-dorong bahunya keras.


"Lo marah pas uang Lo gue pake padahal gue adik Lo, Lo ninggalin gue pas kecil sampe gue ilang dan sekarang Lo mau rebut cowok gue?! Gak punya otak Lo hah?!"kesal Sarah benar-benar murka.


"Sarah tenang dulu, kakak Lo gak mau rebut gue dari Lo kok tenang aja, gue sukanya cuma sama Lo, kakak Lo tadi cuma nemenin gue ngobrol sebentar"kata laki-laki itu mencoba menenangkan Sarah pacarnya dan mengakhiri kesalahpahaman ini.


Sarah menatap Anna dengan sangat tajam sebelum akhirnya percaya pada perkataan pacarnya itu.


"Sana Lo pergi aja"usir Sarah pada Anna.


Anna yang tidak mau menambah masalah pun berpikir untuk pergi ke kamarnya saja, pekerjaannya bisa ia selesaikan setelah teman laki-laki Sarah pulang.


Duduk dikursi belajarnya Anna jadi dibuat melamun memikirkan tentang perkataan Sarah untuk dirinya yang telah ia lakukan pada Sarah, jika dipikirkan dirinya ternyata seperti seorang kakak yang jahat.


Marah karena uangnya dipakai sang adik, meninggalkan adik sampai hilang, kakak macam apa dirinya ini?


"Hah hidupmu tidak pernah benar Anna, apa kau benar seorang manusia? Bukan pembuat onar?"gumam Anna menaruh kepala nya diatas meja belajar dan menatap sepasang jepit yang tergeletak disana.


Memainkan jepit itu Anna tidak menyadari atau mungkin memang bodoh untuk mencari tahu jika dicari tahu lebih dalam sejujurnya dirinya yang paling menderita, tapi Anna yang bodoh malah termakan dengan perkataan orang-orang yang hanya tahu awalnya tanpa tahu penyebab dan akibat atas 'kesalahan' yang Anna perbuat itu.


Yang paling mengerikan adalah insiden saat Sarah yang hilang saat mereka masih kecil.


Yang membuat kehidupan Anna menjadi seperti ini, kehidupan yang sangat menyedihkan.


***


Sarah kecil sedang berbelanja ke minimarket seperti yang disuruh ibunya bersama sang kakak. Menunggu dengan sabar sang kakak yang sedang mengantri itu Sarah kecil melihat keluar dan melihat ada seseorang yang dikenalnya disana.


Temannya bersama sang ibunya terlihat melambaikan tangan mereka padanya dan menyuruhnya untuk mendekat.


Sarah kecil pun dengan semangat berlari keluar minimarket untuk menghampiri keduanya.


"Sarah, Ica mau mandi bola, Sarah mau ikut?"tanya temennya itu bersemangat.


"Sarah boleh ikut Tante?"tanya Sarah pada ibu temannya itu.


"Tentu saja boleh, tapi sudah izin kan?"tanya ibu Ica memastikan.


Melihat kearah kakaknya yang masih mengantri didalam minimarket sebentar kembali berbalik seraya mengangguk jika dirinya sudah memiliki izin.


"Sudah Tante"semangat Sarah.


"Kalau begitu ayo"ajak wanita berumur itu menggiring kedua anak perempuan itu yang terlihat sangat bersemangat masuk kedalam mobilnya.


***


Sarah pulang ke rumah hampir menuju magrib dengan perasaan senang dan bahagia gadis itu berjalan masuk ke pekarangan rumahnya, memencet bel dan menunggu ibunya membukakan pintu untuknya.


"Ya Tuhan! Sarah!"


Sarah kecil terkejut saat mendapati ibunya langsung memeluknya sembari menangis dan juga senantiasa mengucap syukur jika dirinya sudah kembali.


Apa harus sampai sebegitunya menyambutnya yang habis mandi bola itu?


"Syukurlah, ayo masuk, mama mau ngasih tau ayah kalau kamu udah ketemu"kata ibu membawa Sarah masuk kedalam rumah.


***


Sarah kecil sedikit bingung saat beberapa hari tidak melihat sang kakak perempuan tapi melihat kedua orangtuanya begitu juga kakak laki-laki nya yang terlihat biasa saja membuatnya urung bertanya kemana kakak perempuannya itu dan berpikir untuk bersikap biasa saja juga dan tidak mempedulikan soal kakak perempuannya itu.


Sampai suatu hari Anna pulang dengan membawa ransel menggunakan pakaian yang berbeda yang sepertinya baru dan juga beberapa paper bag berisi tas dan sepatu baru juga kue brownies yang langsung dimarahi oleh ibu dan ayah.


"Dasar anak tidak tahu diri kemana kau selama seminggu hah?! Kau tidak menemukan Sarah tapi malah– apa ini?! Apa yang kau lakukan sebenarnya hah?!"murka ibu memarahi Anna, melempar semua paper bag yang dibawa Anna membuat kotak brownies itu pecah dan menghamburkan isinya tak bisa dimakan lagi.


Kakaknya itu terlihat menangis kencang karena dimarahi oleh orangtuanya itu. Namun Sarah kecil berpikir jika itu pantas untuk kakaknya itu, pergi keluar bahkan sangat lama sekali tapi tidak bilang-bilang, sudah sepantasnya kena marah.


Sarah kecil sepertinya tahu kondisinya. Anna kakaknya itu disuruh mencarinya namun tidak ketemu dan malah menghilang seminggu dan muncul-muncul dengan keadaan seperti itu.


"Marahin aja terus ma, emang pantes dapet itu"gumam Sarah kecil dibalik jendela menikmati sang kakak yang dimarahi habis-habisan oleh sang ibu.