
Anna menyelesaikan operasinya hari ini. Masih pagi namun sudah ada jadwal operasi, tidak bisa mengeluh karena ini memang pekerjaannya.
Anna akan terus bekerja sama semua orang sehat dan baik-baik saja.
"Lo beneran gak mau ikut reuni?"tanya Sisilia yang belakangan ini kukuh sekali mengajak Anna untuk pergi ke reuni yang pastinya tidak akan membuat Anna merasa nyaman.
"Enggak, dihari itu aku sangat sibuk"kata Anna tanpa menatap Sisilia karena ia fokus dengan laptop yang ada diatas meja perawat.
Sisilia berdecih. Seperti yang ia duga akan sangat sulit mengajak Anna ke reuni bahkan jika harus dipaksa pun itu tidak akan berhasil. Sepertinya Sisilia harus menerima kenyataan jika hidupnya akan sedikit berantakan karena ancama Michelle dan Vanessa, ya tak masalah dirinya akan menganggap hal ini sebagai penebusan dosa dirinya pada Anna karena dulu dirinya membenci gadis yang sejujurnya dan sejak awal tidak salah sama sekali.
"Aku akan kembali ke ruangan ku"kata Anna pada Maria.
"Tentu, kerja bagus untukmu"balas Maria tersenyum dan memperhatikan Anna yang pergi keluar dari UGD.
Sisilia melihat Anna yang pergi seraya menghela nafas, sepertinya dirinya benar-benar akan sial karena hal ini.
Dirinya akan pergi ke kantin saja untuk mengubah moodnya. Berjalan keluar UGD Sisilia akan pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli sesuatu yang bisa merubah moodnya.
Tap.
Sisilia terdiam kala dirinya melihat sesuatu yang membuatnya tercengang didepannya itu. Seperti dejavu namun kali ini Sisilia melihat orang lain dan orang lain itu adalah Milan yang terlihat muncul dan sedang membicarakan sesuatu dengan Anna.
Sisilia memerhatikan saja sampai melihat keduanya pergi dan sepertinya pergi keruangannya Anna.
Mendengus Sisilia semakin merasa tidak mood. "Satu persatu orang-orang pada muncul, ya terserahlah bukan urusan gue"kata Sisilia yang mulai berpikir ini bukan masalahnya dan dirinya tidak peduli.
***
Anna keluar dari UGD melangkah menuju ruangannya dengan memainkan ponselnya berhenti kala seseorang memanggil namanya.
"Anna"
Mengangkat wajahnya dan bisa Anna lihat sosok Milan disana yang bangkit dari duduknya di kursi tunggu dilobi dan berjalan mendekatinya seraya tersenyum padanya.
"Apa kabar?"sapa Milan kala sudah dihadapan Anna.
Anna mengangguk kikuk, masih terkejut saja mendapati orang-orang dimasa SMA nya yang beberapa tahun ini tiba-tiba menghilang itu sekarang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Baik, ada apa ya?"tanya Anna langsung.
Milan terkekeh saja melihat Anna yang selalu langsung seperti ini tanpa basa-basi. "Hanya ingin mengobrolkan sesuatu denganmu, kau ada waktu?"kata Milan.
Anna mengangguk saja, waktunya saat ini sedang kosong. "Keruangan Anna ayo"
Milan pun mengikuti gadis itu yang melangkah menuju ruangannya yang tadi disebutkan di gadis.
"Dokter Anna"
Keduanya terhenti kala nama Anna dipanggil oleh seseorang dan bisa Milan lihat seorang laki-laki yang penampilannya hampir sama dengan Anna yang memakai jubah dokter itu mendekati mereka.
Milan sendiri menaikkan sebelah alisnya kala menyadari tatapan tajam dari rekan kerja Anna itu.
Apaan dah?batin Milan sedikit tersinggung.
"Oh Ray kau sudah datang? Bukankah kau sangat telat?"kata Anna yang melihat jam diponselnya.
Keduanya dan mungkin saja setiap tenaga medis yang bekerja dirumah sakit seperti mereka pastinya akan diharuskan datang jika dipanggil walaupun belum waktunya mereka datang atau belum waktunya mereka pulang mereka harus tetap ada.
"Oh benar juga"kata Anna seadanya.
Ray melirik tajam pada laki-laki disebelah Anna. Merasa tidak nyaman kala menyadari beberapa hari belakangan ini selalu muncul laki-laki tampan dan keren satu persatu yang ternyata laki-laki yang Anna kenal sejak SMA.
Soalnya Ray yang hanya seorang teman dari universitas tidak tahu sama sekali tentang Anna saat SMA membuatnya agak terkejut mengetahui Anna gadis yang famous semasa sekolahnya dulu.
Ray tentu saja yakin Anna begitu famous saat sekolah dulu karena lihat saja Anna saat ini.
Gadis itu begitu pintar, hebat, cantik, tinggi, dan yang paling penting sangat baik yang pastinya dengan kepribadian seperti itu banyak orang yang menyukainya.
"Siapa dia?"tanya Ray sedikit sewot melirik Milan bertanya pada Anna.
Ray benar-benar merasa kesal dengan laki-laki yang tidak ia kenali itu.
"Dia Milan, sahabatnya pak Azriel pemilik yayasan pemilik rumah sakit ini"kata Anna memperkenalkan Milan pada Ray.
"Dan Milan, ini Ray, rekan kerja Anna dokter tulang satu universitas juga sama Anna"lanjut Anna memperkenalkan Ray pada Milan.
"Oh si Jiel jadi mengakuisisi yayasan itu?"kata Milan antusias dengan perkataan Anna bukan karena dirinya yang sekarang mengenal Ray.
Anna sedikit tidak mengerti namun ia mengangguk saja karena sepertinya pertanyaan Milan itu benar adanya.
"Lo temen SMA nya Anna? Kayak cowok bernama Azriel itu?"tanya Ray mengintrogasi Milan.
Milan menatap Ray terdiam sebentar lantas tersenyum manis seraya merangkul pundak Anna.
"Ya, gue suka Anna tapi sahabat gue udah cinta duluan jadinya gue menyerah dan memilih sahabatnya aja"kata Milan santai.
Ray terkejut sendiri begitu juga Anna yang syok dengan wajahnya yang memerah.
"Ey malunya masih sama"kekeh Milan seraya menarik pipi Anna gemas kala melihat gadis itu masih saja menunduk dan sangat memerah kala merasa malu itu.
"Kamu juga masih sama tukang bercanda"keki Anna melepaskan tangan Milan menyuruh laki-laki itu berhenti menarik-narik pipinya dan juga melepaskan rangkulan si laki-laki.
Ray semakin syok melihat kedekatan dua orang dihadapannya itu. Menurutnya bahkan Milan ini nyatanya terlihat lebih akrab dengan Anna dibandingkan Anna yang bersama dengan Azriel yang terlihat tidak sedekat ini.
"Dokter Ray! Apa yang kau lakukan? Ada pasien yang patah tulang tahu!"seru seorang perawat yang muncul sambil marah-marah pada Ray apalagi saat melihat dokter tulang itu nyatanya sudah datang tapi malah mengobrol.
"Tunggu sebentar aku–"kata Ray yang tidak terima dirinya ditarik oleh perawat itu karena dirinya harus memastikan sesuatu pada Milan dan Anna itu.
"Apa lagi? Sebaiknya kau pergi dan jangan ganggu pasangan ini"kata perawat itu tersenyum pada Anna dan juga Milan.
Anna hanya bisa menghela nafas lelah dan Milan sendiri terkekeh merasa terhibur melihat rekan-rekan kerja Anna yang cukup mengasyikan itu apalagi pada perawat yang menarik Ray dengan sekuat tenaga dan berakhir berhasil membawa Ray pergi.
"Disini menyenangkan?"
Anna menatap Milan. Perkataan tadi bukan sebuah pernyataan untuk kejadian barusan melainkan pertanyaan untuk Anna yang mana Milan memastikan padanya apa Anna merasa senang disini.
Anna tersenyum mengangguk. "Ya disini sangat menyenangkan, Anna suka disini"
Milan tersenyum mendengar. "Gue ikut seneng dengernya"