
Anna berjalan dengan tertatih karena tubuhnya menjeritkan kata sakit dibeberapa luka yang sudah ia obati itu.
Berjalan tak tentu arah dikegelapan hutan, berjalan asal karena sejauh mata memandang semuanya terlihat sama, gelap.
Menghela merasa lelah karena sudah berjalan cukup lama tapi tak kunjung menemukan jalan setapak yang sekiranya itu jalan untuk kembali ke perkemahan, atau mungkin saj sudah terlewat tapi Anna tak menyadari itu adalah hal yang paling bodoh yang ia lakukan jika itu sampai terjadi.
Tapi bisa saja itu terjadi dilihat semuanya terlihat sama saja dan Anna merutuki diri sendiri saat mengiyakan sepertinya ia tanpa sadar melewati jalur yang seharusnya.
Menyebalkan. Tapi hanya bisa pasrah.
Berjalan lagi yang dengan tujuan berbeda, tak mencari jalan pulang tapi mencari tempat yang sekiranya aman dan cocok untuk Anna menghabiskan malam.
'Anna'
Sayup-sayup Anna mendengar suara yang memanggilnya yang membuat Anna merinding tiba-tiba. Sendirian dihutan gelap yang tiba-tiba terlihat angker dimatanya membuat Anna tak berani untuk melihat kesekitar selain kedepan dan berjalan dengan takut-takut.
'Anna'
Lagi, semakin membuat Anna benar-benar merinding ia bahkan menggumamkan doa doa yang sekiranya bisa mengusir makhluk halus.
'Anna!!!!'
Anna refleks berbalik saat menyadari jika yang barusan seseorang meneriakkan namanya. Menajamkan pendengaran dan benar saja ada seseorang yang meneriakkan namanya entah dimana.
'Anna!!!'
Anna berlari kearah yang sekiranya asal suara tersebut, dengan bergegas dan berdoa agar yang meneriakkan namanya itu adalah salah satu orang yang mencarinya.
Anna berhenti sebentar saat merasa mendengar isakan, merasa jika itu adalah makhluk halus yang sempat ditakutinya tadi.
Tapi kembali bergerak dan semakin mempercepat larinya saat isakan itu berganti dengan erangan kesakitan yang membuat Anna tiba-tiba merasa takut setengah mati jika seseorang itu sedang terluka.
Berlari terus kedepan dan semakin terdengar jelas suara erangan kesakitan dan isakan itu berasal dari sana.
Berhenti mendadak saat ia mengenal sosok didepan sana yang duduk bersimpuh menyakiti dirinya sendiri dengan menjenggut rambutnya sendiri terlihat menderita.
Langsung berlari mendekap memeluk tubuh Azriel yang hampir limbung itu.
"Azriel?"tanya Anna takut-takut dan sangat khawatir melihat kondisi laki-laki tersebut.
Azriel tak menjawab hanya menggumamkan kalimat yang tak jelas didengar Anna dan semakin mengeratkan pelukan padanya.
Anna kebingungan dengan Azriel yang menggigil didekapannya dengan suhu tubuh yang cukup panas dan nafas yang seakan susah bernafas.
"Kenapa?"tanya Anna.
Tak ada balasan dan sepertinya Azriel sudah berhenti menangis karena tak terdengar lagi isakan dari pria tersebut, malah semakin mengeratkan memeluknya dengan tubuh naik turun semakin jelas karena kesulitan bernafas.
Anna khawatir bukan main melihat kondisi Azriel yang seperti ini. Ini pertama kalinya Anna melihat Azriel yang seperti ini, ia tidak tahu jik pria itu bisa sampai seperti ini.
"Sesak–"lirih Azriel meremat pakaian belakang Anna kesusahan bernafas.
Anna mendengarnya. Dengan perlahan meluruskan kedua kaki Azriel yang terlipat dan perlahan juga melepaskan pelukan Azriel padanya dan mendekapnya sedikit renggang untuk memudahkan Azriel mengatur nafasnya.
Tak ada lagi peralihan rasa sakitnya Azriel meremat jaket bagian dadanya dengan kuat dan wajahnya masih terlihat mengernyit kesakitan.
Anna bingung dengan keadaan Azriel saat ini tapi dengan instingnya ia mengusap tangan yang meremat pakaian itu agar tak terlalu erat setelah sedikit mengendur Anna beralih mengusap wajah Azriel yang mengernyit kesakitan itu, mencoba membuatnya tenang.
Berhasil, Azriel sedikit tenang dan nafasnya mulai teratur juga rasanya suhu tubuh pria itu mulai ikut normal.
"Gue ngantuk"pernyataan yang sama seperti sebelumnya.
"Gak mati kan?"tanya Anna polos tapi ia benar-benar khawatir akan hal itu.
Dengan reaksi yang berbeda membuat Azriel terkekeh sangat kecil tanpa membuka matanya menggeleng menjawab pertanyaan Anna.
Anna pun sedikit tak terima karena masih khawatir Azriel akan mati mengangguk ragu mempersilahkan Azriel istirahat.
***
"Bagaimana bisa satu ketemu tapi tambah satu lagi yang hilang?! Satunya lagi belum ketemu!"gusar ketua pembina perkemahan itu kesal sendiri saat mendapat kabar dua siswi yang mereka cari satu ditemukan tapi satu siswa yang ikut mencari mereka malah hilang.
Mereka berkumpul diluar tenda kesehatan yang berisi Melisa yang sedang diperiksa oleh dokter dan perawat yang ikut dalam perkemahan.
Milan gusar bukan main. Menatap sekitar dengan gelisah dengan menggigiti kuku jari-jari kanannya yang menandakan dirinya benar-benar gelisah dan satu tangannya menggenggam ponselnya ragu untuk menghubungi orangtua Azriel.
Milan takut Azriel kumat, apalagi hutan sangat gelap tadi saja hanya disinari lampu senter Azriel sudah seperti ingin pingsan saja dan Azriel sekarang sendirian tanpa penerangan apapun hanya kegelapan disekitarnya yang bisa saja membuat Azriel meregang nyawa.
Sejak awal Azriel memang dilarang orangtuanya untuk ikut perkemahan karena khawatir dengan Azriel saat malamnya dan sepertinya hal yang dikhawatirkan kedua orangtua Azriel terjadi bahkan ada plusnya dengan Azriel yang hilang dikegelapan hutan sendirian.
Semua orang disana yang masih tegang dikejutkan dengan dokter yang memeriksa Melisa keluar dari tenda membuat dokter itu menjadi pusat perhatian.
Tersenyum manis dokter cantik itu mengangguk. "Melisa tak apa-apa disehat saja hanya lemas dan sepertinya ada yang ingin dia sampaikan"jelas dokter wanita itu yang diakhiri dengan mimik serius.
Beberapa guru pembina dan anggota kelompok Anna juga Milan ikut masuk kedalam tenda. Milan langsung berdiri disamping Melisa yang terbaring lemas diatas ranjang tidur minimalis itu mengusap surai Melisa tenang.
Melisa menatap Milan ketakutan.
"Kenapa?"tanya Milan.
"Anna–"kata Melisa gemetar.
"Lo liat Anna?!"tanya Putri langsung.
Melisa tiba-tiba menangis membuat orang-orang disana bingung.
"Jangan bikin kita mikir yang enggak-enggak dong"kata Saman kesal dengan sikap Melisa yang membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, seperti Anna yang diserang binatang buas, dibawa penunggu hutan, atau–
"Anna jatuh ke jurang"
Seketika semua orang disana shock mendengar kalimat Melisa yang sekarang menangis keras.
***
Anna asik dengan pikirannya sembari menatap wajah tenang Azriel yang tersinari cahaya bulan dan Anna senantiasa mengusap sayang surai dan punggung Azriel mengabaikan tubuhnya yang kram karena harus menahan tubuh Azriel yang tertidur.
Seperti anak kecil Azriel tertidur dipangkuan Anna bersandar pada bahunya dan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Anna.
Berterimakasih pada batang pohon yang menjadi sandaran Anna karena jika tak ada batang pohon itu bisa dipastikan Azriel akan menindih Anna yang tak kuat lagi menahan tubuh besar Azriel.
Entah sudah keberapa kali Anna menghela nafasnya karena bosan dengan keheningan hutan disekitarnya. Entah sudah jam berapa sekarang dan Anna tak boleh ikut tidur karena takutnya ada sesuatu yang tak diinginkan dan selebihnya Anna memang tak bisa tidur.
Menepuk-nepuk sayang lengan atas Azriel karena bosan dan sepertinya malam masih lama, menatap langit-langit yang ditutupi rindangnya dedaunan diatas sana.
Tanpa menyadari Azriel yang sudah terbangun tapi tak ingin pindah posisi karena posisinya saat ini benar-benar nyaman mengabaikan tubuh kecil Anna yang ditindihnya.
"Jam berapa sekarang? Gimana kita pulang nanti? Kamu lapar gak?"gumaman Anna masih menatap langit-langit.
"Gak tau"lirih Azriel menjawab Anna.
Mengeratkan pelukannya dipinggang Anna dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Anna karena malu untuk menatap Anna, tak seperti Azriel biasanya.
Anna yang polos hanya mengangguk menepuk-nepuk punggung Azriel yang bersembunyi dilehernya.
"Tunggu yang nyari aja kali ya?"kata Anna polos, lagi-lagi.
***
Setelah mendapatkan kembali sosok Azriel yang biasanya, keduanya memilih berjalan mencari jalan ditengah gelapnya hutan dengan Azriel yang memimpin menggenggam erat tangan Anna yang mengikutinya.
Azriel tak lagi takut dengan kegelapan disekitarnya entah kenapa, ia sekarang malah merasa takut Anna kembali hilang.
"Kamu punya peta?"tanya Anna setelah dirasa mereka berjalan cukup jauh dari tempat mereka tadi.
Azriel terdiam lalu merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan peta yang ia lipat sampai kecil itu.
"Lo tau yang mana yang dimaksud dipeta?"tanya Azriel menunjuk kesekitar seraya memberikan peta pada Anna.
Anna tersenyum kaku merasa telak lantas menggeleng tidak tahu.
Lantas mereka kembali berjalan tak tentu arah, tapi dengan tujuan menemukan jalan yang sekiranya sering dilewati orang.