Millisanna

Millisanna
Bab 40



Anna yang merasa lapar ditengah belajarnya memilih keluar perpustakaan membawa buku-buku nya dan pergi ke koperasi membeli roti dan susu.


Tak ada Melisa dan tidak berniat pergi ke kantin seorang diri Anna memilih membeli roti dan duduk dikursi taman samping sekolah.


Menaruh buku nya disampingnya Anna akan menghabiskan rotinya dulu begitu juga susunya karena pernah disuatu hari dirinya makan roti cokelat nya sambil mengerjakan tugas dan tugasnya jadi korban dari tetesan selai cokelat yang meleleh disana dan alhasil Anna harus mengerjakan ulang tugasnya dari awal.


Pengalaman yang menyeramkan dan menyedihkan.


Memakan rotinya dalam diam tanpa suara dan menatap ke depan tanpa fokus yang jelas Anna menikmati waktu istirahatnya.


Rasanya ini adalah hidupnya, seperti ini adalah hidupnya. Kegembiraan dan kesenangan saat dirinya pergi ke kantin bersama Melisa dan seringkali bercengkrama dengan gadis itu dikelas sejak acara kemah itu rasanya hanya mimpi.


Anna merasa ini lah hidupnya.


Menjadi pecundang nomor dua yang tidak disukai dikelas bahkan satu sekolahan karena betapa payahnya dirinya yang selalu mendapatkan juara dua dari semua olimpiade yang ia ikuti sejak kelas 10 itu.


Dan semua itu karena laki-laki di atas sana yang terlihat memperhatikan dari sana sambil memakan permen susu tongkat.


Tak lama bahkan mungkin hanya selewat saja Anna kembali menurunkan pandangannya dan menunduk tidak lagi menatap kedepan apalagi keatas sana, dirinya merasa minder untuk segala hal yang terjadi di kehidupannya.


Dan laki-laki diatas sana di rooftop sekolah itu menatap datar sosok gadis yang duduk sendirian di salah satu kursi taman itu menunduk setelah tiba-tiba gadis itu mengarahkan pandangannya ke arahnya sebentar sebelum menunduk seperti sekarang.


Mendengus lelah Azriel menggigit permen tongkatnya sampai hancur.


"Dia kembali seperti semula"


***


Jam pulang sekolah Anna melangkah berlawanan arah dengan siswa yang menuju gerbang sekolah untuk pulang.


Anna melangkah menuju deretan loker siswa untuk mengambil seragam ekskul bela dirinya karena hari ini ada jadwal ekskul.


Menutup pintu lokernya Anna terkejut karena begitu pintu lokernya tertutup disana memperlihatkan Azriel disampingnya bersender pada loker menatapnya serius.


"Lo kenapa?"tanya Azriel langsung.


Anna yang habis terkejut jadi bingung dan tak percaya karena tidak biasanya Azriel mendekatinya seperti ini mengajaknya berbicara tiba-tiba, karena biasanya mereka akan sering berbicara saat sedang bimbingan untuk olimpiade.


Jika diluar itu mereka bahkan tidak tegur sapa sama sekali.


"Anna?"bingung Anna menunjuk dirinya sendiri kebingungan.


"Gak kenapa-kenapa"lanjut Anna karena dirinya merasa tidak kenapa-kenapa.


Azriel menatap datar Anna, gadis itu sepertinya tidak ingin mengatakan apapun, lagipula Azriel siapa, dirinya bahkan tidak ada hubungan apapun dengan Anna.


Dirinya bertindak seperti ini pun kebetulan atau tidak terpikirkan sebelumnya, hanya karena melihat Anna yang menyendiri seperti biasanya tapi sampai bertindak seperti ini, sepertinya dirinya kurang fokus.


Azriel pun tanpa berbicara apapun lagi dirinya langsung pergi begitu saja meninggalkan Anna yang kebingungan melihat tingkah laku Azriel itu yang tak bisa dipahami nya.


Mengedikkan bahu tidak mengerti dan tidak peduli, Anna melangkahkan kakinya menuju gymnasium untuk bergabung latihan dengan teman-teman satu ekskulnya.


Lagi-lagi gymnasium yang sangat luas itu terasa sangat ramai karena banyaknya orang disana, jika sebelumnya hanya ada ekskul bela diri dan basket yang pernah memiliki jam yang sama sekarang ditambah ekskul cheers yang ikut latihan disana, mereka latihan untuk mendukung tim basket yang akan bertanding 2 bulan lagi.


Anna yang sedang beristirahat disisi sambil meminum airnya dirinya melihat sosok Michelle.


Anna sudah menduga gadis cantik itu pasti akan mengikuti ekskul cheers yang dapat dengan mudah mengeluarkan 100% kecantikannya itu.


Dan dilihat dari kepribadian Michelle yang mudah bergaul dan mudah disukai banyak orang karena pembawaannya, ekskul cheers memang cocok untuknya.


"Eh kok gak ada Azriel ya?"celetuk Alsa tiba-tiba yang duduk tak jauh disampingnya bersama temannya Mira.


"Napa Lo? Naksir gara-gara kena timpuk bolanya tuh cowok?"kekeh Mira tak habis pikir.


Alsa yang dikatai seperti itu membuat wajahnya memerah malu. "Ya mau gimana lagi, pas dia minta maaf cuek gitu bikin gue klepek-klepek"kata Alsa kegirangan karena dirinya memang menyukai cowok yang cuek cool semacam Azriel itu.


Alsa ini satu dari sekian banyak nya cewek yang naksir sama Azriel dan alasannya sama, karena Azriel tampan, mapan, keren, pintar dan lainnya.


Anna yang diam-diam menguping percakapan mereka hanya berkedip lantas menunduk memandangi botol airnya.


Apa hanya dirinya seorang yang memandang Azriel dengan pandangan yang berbeda dari cewek lainnya? Apa dia aneh karena hal itu?


Dirinya tidak aneh, melainkan dirinya pecundang karena menganggap Azriel adalah kesialan dalam hidupnya, padahal dirinya lah yang tidak mampu.


Tak dapat mencapai tujuannya dan berakhir menyalahkan sang saingan benar-benar membuatnya terlihat seperti sampah.


Brakk!!


"Anna!!!!"


Suara pintu yang dibuka tak santai diikuti teriakan yang menggelegar memenuhi gymnasium itu membuat beberapa orang terkejut terlebih sang pemilik nama yang diteriakkan tadi hampir saja menjatuhkan botol air nya.


Si pelaku pembuat kebisingan itu adalah Milan dengan seragam sekolah nya berjalan menuju Anna yang ia dapati keberadaannya disamping gymnasium sedang beristirahat.


"Oy Milan Lo bolos latihan apa?!"seru salah satu senior ekskul basket disana.


"Izin gue, udah bilang sama pelatih"kata Milan menjawab tak kalah keras tanpa menatap sang senior karena menurutnya tidak penting.


Yang penting sekarang adalah bertanya pada gadis yang menanggah menatapnya bingung saat dirinya sudah didepan si gadis.


"Jiel sama Lo?"tanya Milan langsung.


Pertanyaan yang membuat beberapa cewek yang mendengarnya menatap tajam Anna dan Anna yang ditanya bingung sendiri.


"Anna kan lagi latihan ini"jawab Anna seadanya dengan polos namun beberapa yang memperhatikan menganggap Anna berlaku songong pada Milan.


Milan berkedip mendengarnya, benar juga yang dikatakan Anna. Mungkin dirinya salah memberi pertanyaan pada gadis polos ini.


"Tapi tadi sebelum kesini emang ketemu sama Azriel di loker"kata Anna berpikir siapa tahu bisa membantu Milan yang sepertinya sedang mencari Azriel.


Milan yang mendengarnya mengangguk. Tadi Azriel memang mengiriminya pesan jika dirinya akan menemui Anna sebentar dan dibalas Milan dirinya akan menunggu di taman samping sekolah.


Namun setelah menunggu cukup lama Azriel tidak muncul juga membuat Milan berpikir sahabatnya itu langsung ke parkiran namun saat dirinya sampai di parkiran Azriel tidak ada tapi motornya masih ada, membuat Milan berpikir akan menyusul ke tempat Azriel.


Dan karena tidak tahu dimana Azriel Milan pun mengelilingi sekolah dan tak mendapatkan Azriel membuat dirinya langsung berlari ke gymnasium mencari dan bertanya pada gadis itu.


"Jangan bilang kita selisih jalan?"tanya Milan pada dirinya sendiri tak habis pikir dan sedetik kemudian ponselnya berdering dan menampilkan nama Azriel sebagai pemanggil.


Milan memiliki firasat mereka memang selisih jalan.


'Heh abang kemana Lo?! Lo gak niat kabur kan?! Cepet pulang, bang Azriel bentar lagi siap! Awas aja kalo bang Azriel sampe ninggalin Lo karena Lo kelamaan'


Dan suara Arjuna disana menjelaskan firasatnya yang benar.


Milan akhirnya hanya bisa mengangguk mengatakan iya dan akan segera pulang lalu mematikan panggilan.


"Hah selisih jalan kita"kata Milan tak habis pikir.


Anna yang mendengarnya sedikit bingung harus bereaksi bagaimana dan sepertinya Milan itu hanya bergumam sendiri.


"Omong-omong nih, biasanya kalo kecapean suka pengen yang manis-manis kan ya"kata Milan tiba-tiba memberikan sebungkus cokelat pada Anna yang ia ambil dari tasnya.


Anna menerimanya dengan ragu dan berterimakasih. "Makasih"


Milan mengangguk tersenyum lantas pamit pulang.


"Yaudah kalo gitu gue balik, si Jiel dah balik duluan ternyata. Maaf ganggu"kata Milan pamit dan langsung melesat keluar gymnasium.


Anna sendiri hanya berkedip tak mengerti dengan kejadian tadi dan hanya bisa menatap cokelat pemberian Milan dengan bingung.