
Brak.
Azriel tiba-tiba melompat turun dari loteng rooftop itu membuat Aldres terkejut juga kesal karena laki-laki itu tidak berkata apa-apa setelah dirinya memberikan hint jika dirinya meminta kejelasan dari laki-laki itu yang Aldres yakin jika Azriel lah orang digumamkan oleh Anna setelah diserang orang misterius.
Brak.
Aldres ikut melompat turun meraih bahu Azriel untuk meminta pertanggung jawaban laki-laki itu karena karena laki-laki itu yang sudah membuat hidup Anna menderita.
Plak.
"Singkirkan tangan Lo sialan!!"marah Azriel mengenyahkan tangan Aldres dari bahunya menatap tajam laki-laki itu.
Aldres yang mendapatkan reaksi Azriel pun menggeram marah. "Lo anj*ng!! Lo harus tanggung jawab hidupnya Anna udah menderita dan Lo nambahin penderitaannya bangs*t!"kesal Aldres meluapkan emosinya.
"Ada orang aneh yang hampir aja ngebunuh Anna sialan! Karena apa? Karena Anna deket sama Lo bangs*t! Kalo punya masalah gak usah bagi-bagi sialan!!"amuk Aldres.
Azriel terdiam mendengarkan luapan emosi Aldres itu namun ia tidak mengindahkannya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Aldres yang semakin murka.
"Bajing*n Lo!!–"
Tap.
Aldres yang akan mengejar Azriel terhenti karena begitu ia akan melewati ambang pintu loteng sebuah tangan menghentikannya menahannya dan dilihat tangan itu milik sahabatnya Azriel, Milan.
"Mau apa Lo sialan? Mau ngelindungin sahabat Lo yang jelas-jelas dia itu pembawa bencana hah?! Emang gue gak tau hah kalo kehidupan Anna disekolah menderita gara-gara sahabat Lo itu?!"marah Aldres pada Milan.
"Gue juga tau Anna bahkan nyampe jatuh ke jurang pas acara kemah itu dan juga hampir mati karena berurusan dengan para pemburu liar itu emang gue gak tau hah?!"
Milan menarik tangannya menatap diam Aldres yang benar-benar sedang dalam keadaan sangat emosi itu.
"Lo gak tau hah sekarang Anna jadi target orang aneh yang bakal ngebunuh dia gara-gara Anna berhubungan sama Azriel?!"murka Aldres.
"Ya gue tau"kata Milan santai dan tenang.
Aldres semakin membara kala melihat sahabat Azriel itu seolah tidak peduli dan dengan tenangnya mengatakan jika dirinya tahu tanpa beban dan tidak mencoba menyelesaikan masalah ini.
"Kalo Lo tau kenapa Anna bisa sampe diincar begini hah?! Mili gue gak salah apa-apa sialan!"geram Aldres.
"Ya, Anna cuma gak beruntung aja"
Duagh! Bruk!
"Bangs*t!! Mati aja Lo sialan sama sahabat pembawa bencana Lo itu!!"
Milan terjatuh kala mendapatkan bogeman keras dari Aldres yang tiba-tiba itu dan langsung berlari pergi meninggalkan Milan disana.
Milan sendiri hanya diam dan menyeka darah diujung bibirnya yang berdarah karena pukulan Aldres itu benar-benar sangat menyakitkan.
"Ya ini semua karena salah gue"gumam Milan benar-benar merasa bersalah.
***
Milan saat itu tidak tahu jika Azriel yang begitu baik melakukan kebaikan nya seperti biasa dan dirinya tidak tahu jika kebaikan Azriel saat itu malah akan mendatangkan sebuah bencana.
Ckiiit.
Milan yang melihat Azriel yang tiba-tiba mengeremkan sepedanya dan berhenti membuatnya ikut berhenti dan Arjuna yang berada diboncengannya pun bingung dan bertanya pada Azriel.
"Abang kenapa berhenti? Kedai es krimnya kan masih didepan sana"kata Arjuna bingung.
Azriel tidak langsung menjawab pandangan anak itu mengarah pada seseorang yang terduduk ditrotoar terlihat menunduk dan menyembunyikan wajahnya dikedua kakinya yang ia peluk itu.
"Dia menangis"gumam Azriel.
Milan yang mendengarnya hanya ikut melihat kearah orang itu lantas beralih ke Azriel yang melihat kearahnya lantas tersenyum.
"Tunggu sebentar, kakak itu kayaknya lagi sedih"kata Azriel dengan senyumannya dan mulai mengayuh sepedanya mendekati sosok itu.
Milan sendiri ikut mendekat kesana namun menjaga jarak dan bisa dilihat Milan sahabatnya itu turun dari sepeda berjongkok dihadapan sosok itu yang ternyata seorang perempuan yang sedang menangis.
"Kakak kenapa nangis? Ini hapus air mata kakak pake ini"kata Azriel memberikan sapu tangannya pada perempuan yang menangis itu.
"Terimakasih"kata perempuan itu menerima sapu tangan dari bocah laki-laki yang menurutnya sangat tampan dan menggemaskan itu.
"Jadi kenapa kakak nangis disini?"tanya bocah laki-laki itu dengan wajah polosnya juga imutnya.
"Kakak diejek temen kakak, katanya kakak gak cocok sama gaun ini, padahal kakak suka sama gaun ini"kata perempuan itu memberitahukan alasan mengapa dirinya menangis.
Azriel pun mematai penampilan perempuan itu lantas menggeleng kecil dan tersenyum lebar.
"Kakak cantik kok, warna biru sangat cocok dengan mata kakak yang biru itu"
Namun senyumannya perlahan memudar kala menyadari tatapan mata perempuan itu yang menatap sahabatnya begitu terpana yang seolah sangat berlebihan yang membuatnya jadi merasakan itu tidak logis untuk sebuah keterpanaan. Itu sudah diluar batas wajar.
"Abang! Huweee!!!"
Milan terkejut kala Arjuna tiba-tiba menangis dan begitu juga Azriel yang terkejut dan bergegas kembali bergabung dengan kedua temannya.
"Hei kenapa nangis?"gelagapan Milan melihat Arjuna yang baru berumur 4 tahun itu terkenal tidak gampang menangis, tapi kali ini mendadak sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu tiba-tiba menangis tanpa sebab begini membuatnya jadi merasakan firasat aneh.
"Abang mau pulang!! Huweee!!"kata Arjuna disela tangisnya yang semakin keras kala Azriel datang kembali bersama mereka.
"Gak jadi beli es krim?"tanya Azriel bingung.
"Gak mau!! Pulang!! Huweee!!"
Azriel dan Milan pun saling tatap dan setuju jika mereka akan pulang sesuai keinginan Arjuna.
"Yaudah ayo pulang, berhenti nangisnya kasian suara kamu itu"kata Azriel pada Arjuna.
"Hiks hiks mau sama abang Al"kata Arjuna meminta pindah menjadi diboncengan Azriel.
Milan pun menghela dan turun dari pedalnya ganti sepeda karena dudukan boncengan yang digunakan Arjuna terpasang permanen atau harus menggunakan obeng jika ingin dilepaskan, maka dari itu Milan dan Azriel pun berganti sepeda.
"Nah udah, ayo pulang"kata Azriel pada Arjuna kala dirinya sudah menggunakan sepeda Milan dan mulai mengayuhnya untuk pulang kerumah seperti yang diinginkan Arjuna.
Milan benar-benar hanya bisa menghela nafas tidak akan pernah terbiasa dengan sikap tiba-tiba yang tidak bisa ditebak dari sahabat termudanya itu.
Bagaimana bisa Arjuna tanpa sebab bisa menangis histeris seperti tadi.
"Ah dia pangeran, aku menginginkannya"
Milan mendadak merinding dan sontak berbalik menghadap kebelakang dan mendapati wanita bergaun biru itu sudah berdiri dan tersenyum padanya sambil menggenggam erat sapu tangan pemberian sahabatnya itu.
Senyuman dan tatapan perempuan itu benar-benar membuat Milan merasa merinding juga takut dan bergegas menaiki sepedanya dan mengayuh kencang untuk pergi dari situ.
***
Kejadian Azriel yang menghibur perempuan tidak dikenal dan juga ketiba-tibaan Arjuna yang menangis histeris tanpa sebab sudah terlewat selama seminggu.
Setelah Arjuna yang tiba-tiba menangis tanpa sebab anak itu keesokkan harinya menderita demam tinggi yang bahkan harus dirawat dirumah sakit.
Dan Milan yang tak sengaja mendengar dokter dan juga ayah Arjuna yang sedang mengobrol tentang kondisi Arjuna Milan jadi tahu jika Arjuna jatuh sakit karena anak itu mengalami syok berat yang datang secara tiba-tiba yang membuat anak itu jadi demam.
Milan tidak tahu pasti apa yang membuat Arjuna menjadi sangat syok sampai demam itu, tapi anehnya Milan jadi tertuju pada perempuan asing saat itu.
Ya bukan tanpa sebab karena setelah Milan memiliki firasat seperti itu, dua Minggu setelah kejadian dirinya merasakan jika selalu ada yang mengikutinya atau lebih tepatnya mengikuti Azriel.
Entah saat mereka pergi dan pulang dari taman kanak-kanak, atau saat mereka bermain, bahkan yang paling membuat Milan semakin yakin adalah karena dirinya merasa ada yang memperhatikan saat ketiga keluarga sedang makan malam bersama disebuah restoran privat.
"Silahkan"
Suara itu.
Syaatt.
"Astaga sayang!!"seru ibu Milan panik kala melihat jari tangan anaknya tersayat kala sedang menyisikan alat makan untuk mempermudah para pelayan menaruh makanan mereka.
"Ada apa denganmu?! Kenapa kau tidak fokus?"kata ayah Milan seraya memberikan pertolongan pertama pada hari anaknya yang terluka dengan membungkusnya dengan sapu tangannya.
Milan mengabaikan semua kekhawatiran orang-orang disekitarnya, dirinya hanya ketakutan karena bagaimana bisa orang itu bahkan sampai menjadi pelayan hanya untuk berdiri disebelah Azriel seperti saat ini.
Milan menatap horor pelayan yang berdiri disebelah Azriel itu, nafasnya memburu kala melihat ekspresi pelayan itu yang tertuju hanya pada Azriel.
Milan takut pada ekspresi pelayan itu saat melihat sahabatnya.
Tap.
"Hey nak!"
Milan melotot terkejut kala ayahnya mengambil atensinya dengan menepuk pelan pipinya.
Milan melihat kesekitar dan para pelayan sudah tidak ada.
"Kau baik-baik saja?"tanya ayahnya.
Milan berkedip-kedip menyadarkan diri memahami situasi nya lantas mengangguk tersenyum. "Iya pah, aku baik-baik saja hanya terkejut karena ini"kata Milan santai memperlihatkan jarinya yang terluka sudah berhenti mengeluarkan darah karena ayahnya.
"Nak kau yakin?"tanya ibu Azriel pada Milan.
"Tentu saja, maaf sudah membuat semua khawatir"kata Milan meminta maaf pada semua orang.