
"Bagaimana? Kau sudah selesai menyelesaikan tugasmu?"tanya Azriel yang telah sampai dirumahnya dan langsung duduk disofa ruang tengah kala Ravi menunggunya disana.
Ravi mengangguk saja dan memberikan sebuah kotak yang saat dibuka oleh Azriel berisi gelang yang utuh dimana itu tadinya adalah seutas tali yang putus.
"Ya seperti yang saya duga banyak sekali sidik jari yang terbaca dari gelang itu"kata Ravi melihat sang tuan yang sudah menggunakan gelang itu langsung.
"Lalu ada sidik jari siapa saja?"tanya Azriel menunggu.
Ravi mengangguk saja dan akan ia sebutkan beberapa orang yang sidik jarinya terbaca.
"Tentu saja ada milik tuan dan saya sendiri. Lalu Milan, kedua orang tua tuan, ...."
Azriel mendengarkan dengan seksama setiap nama yang disebutkan oleh Ravi, dirinya menunggu satu nama disebutkan oleh tangan kanannya itu.
"Dan terakhir sidik jadi nona Millisanna"kata Ravi menyudahi laporannya.
Azriel tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Dirinya merasa puas, jika begini mungkin tinggal memaksa gadis dokter itu untuk mengatakan yang sebenarnya karena mungkin saja dengan begitu ingatannya benar-benar kembali.
"Kalau begitu kosongkan jadwalku besok karena aku akan menemui Anna. Banyak sekali yang ingin kutanyakan padanya"kata Azriel bersemangat.
Ravi mengangguk saja akan melakukannya namun suara panggilan dari bawahannya membuat Ravi urung dan menjawab panggilan itu.
"Ada apa?"tanya Ravi langsung kala dirinya menerima panggilan tersebut.
"Tuan kami kehilangan jejak nona Millisanna! GPS yang kami pasang mendadak hilang dan alat sadap yang kami pasang pun mendadak terputus, lalu sampai saat ini nona Millisanna belum pulang kerumahnya"lapor bawahannya itu terdengar sangat khawatir.
Ravi jadi ikut merasa khawatir kala melihat jam sudah hampir tengah malam. "Cepatlah kalian cari, aku akan segera kesana secepat yang aku bisa"kata Ravi yang langsung mematikan panggilan.
"Tuan?!"kaget Ravi kala melihat Azriel tiba-tiba pergi keluar dengan terburu-buru membuatnya Ravi sontak mengejarnya.
"Tuan mau kemana?!"seru Ravi terkejut melihat Azriel langsung masuk kedalam mobil dan pergi dengan kecepatan sangat tinggi.
"Apa dia ikut mendengar kala aku sedang bertelepon? Sialan!"keluh Ravi bergegas menuju mobilnya untuk mengejar Azriel.
***
"Kerja bagus untuk hari ini, aku akan pulang duluan"kata Anna yang berpamitan pada rekan dokter nya berganti shift dengannya.
"Kau juga, hati-hati dijalan"balas rekannya itu.
Anna berjalan menuju pintu keluar rumah sakit untuk pulang.
"Kau akan pulang? Sebaiknya hati-hati, katanya belakangan ini begal sedang marak-maraknya"kata penjaga resepsionis kala Anna melewatinya.
"Tenang saja aku akan baik-baik saja"kata Anna berterimakasih karena sudah diingatkan dan berpamitan akan pulang.
Berjalan ke area parkir menuju mobilnya yang terparkir Anna hari ini membawa mobil saat pergi kerumah sakit, ini adalah bukti kerja kerasnya.
Tidak ada yang terjadi selama perjalanan pulangnya membuat Anna berpikir mungkin tidak semengkhawatirkan yang dikatakan oleh penjaga resepsionis tadi atau mungkin dirinya sedang beruntung saja sampai ke apartemennya tidak mengalami hal apapun.
Mobilnya terparkir rapi dibasement apartemen nya. Keluar dari mobil dan menguncinya Anna memikirkan akan makan apa untuk malam ini.
"Ah sepertinya aku akan makan rebusan saja"kata Anna bersemangat.
Tersenyum senang namun terkejut sendiri kala didepan sana pada pintu masuk kaca didepannya dirinya melihat bayangan orang dibelakangnya yang terlihat mengayunkan sesuatu kearahnya.
Anna berbalik dan itu bertepatan dengan kepalanya yang dihantam oleh tongkat baseball yang dibawa orang itu membuat Anna jatuh tak sadarkan diri.
Buakk. Brukk.
Tiit.
"Kami sudah melakukannya. Akan segera kami bawa kesana"kata satu dari mereka melaporkan jika mereka telah melakukan tugasnya pada seseorang disebrang panggilan.
"Kita bawa sekarang sebelum ada yang melihat"suruh orang yang sama setelah mengakhiri laporannya pada sang rekan.
Sang rekan mengangguk saja dan mulai membawa tubuh tak sadarkan Anna disalah satu pundaknya seolah membawa sebuah karung.
Mereka membawa Anna yang tak sadarkan diri dengan sebuah mobil yang tidak diparkirkan dekat mobil Anna terparkir.
Brak.
"Apa wanita ini diawasi?"kata orang yang membawa Anna yang juga yang menjadi supir saat melihat beberapa orang terlihat tergesa-gesa mendekati mobil mereka.
"Sepertinya, cepat pergi!"seru temannya menyuruhnya untuk bergegas.
Brrruuumm. Ngeeeennng.
Orang itu sontak menginjak gas sekuat tenaga untuk kabur dari orang-orang yang sepertinya mengawasi wanita yang mereka culik ini.
Ckiiitt. Bruk.
Dua orang yang mengejar hampir saja tertabrak jika mereka tidak gesit menghindar. Mereka pun saling tatap dan seolah mengerti satu sama lain mereka mengangguk dan berbagi tugas.
Satu dari mereka menyuruh rekan mereka yang lain untuk mengejar mobil tadi dan satu lainnya menghubungi bos mereka yaitu Ravi.
Sedangkan didalam mobil dua orang yang membawa Anna itu salah satu diantara mereka seperti sedang mengobrak abrik isi tas Anna takutnya ada sesuatu yang tidak beres karena sedari tadi mereka seolah selalu terkejar dan selalu ditemukan oleh orang-orang yang entah siapa itu.
"Sialan, apa disini ada GPS atau penyadap lainnya?"kesal orang itu yang lelah mengobrak abrik isi tas Anna namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan ia temukan.
"Buang saja tas sialan itu!"seru rekannya yang sudah jengah.
Menurut orang itu pun melempar tas Anna keluar jendela dan membuangnya. Dilihat tiga mobil yang mengejar mereka itu satu terlihat berhenti dan dua lainnya tetap mengejar mereka.
"Sepertinya memang ada GPS nya didalam tas tadi, sebaiknya kita mulai menghindar dan bersembunyi"kata rekannya yang berkendara itu.
"Ya kau benar terlihat mereka yang semakin mendekat seolah memang tak ingin kehilangan kita"
Mobil pun menambah kecepatannya dan semakin cepat untuk kabur dari kejaran.