
Milan datang ke rumah Azriel malamnya untuk mengembalikan motor Azriel yang tentu saja atas permintaan Azriel sendiri.
Penjaga rumah dengan baik hati membukakan gerbang besar milik kediaman Azriel itu dan mempersilahkannya masuk.
Berhenti didepan garasi yang tertutup disamping motornya yang ternyata ada diluar. Mematikan mesin dan parkir melirik kearah motornya yang terlihat siap untuk digunakan disana.
Mengedikkan bahu, Milan berpikir paling sahabatnya itu kalau dirinya lama datangnya Azriel akan menggunakan motor nya lagi untuk pergi yang entah akan kemana di jam hampir 11 malam ini.
Melangkah santai masuk kedalam rumah karena pintu depan pun terbuka lebar dan memperlihatkan di meja ruang tamu penuh dengan camilan dan bertepatan dengan mbok Mirna yang muncul dengan membawa sirup di nampan.
"Weh ada apa nih mbok? Bakal ada tamu apa?"tanya Milan langsung duduk di sofa dan mencomot sebuah risoles dan melahapnya.
Mbok Mirna terkekeh saja melihat kelakuan sahabat tuan mudanya itu. "Ya kamu tamunya"kekeh mbok Mirna.
"Aduh mbok repot repot, kalo Milan lapar kan langsung pergi ke dapur gak pake permisi"kekeh Milan.
Ya memang kelakuan Milan, Azriel bahkan Arjuna jika mereka sedang berkunjung kesalah satu rumah mereka, mereka akan membuat rumah yang lain seperti rumah mereka sendiri.
"Haha iya iya, kalo masih kurang ke dapur aja ya, suami mbok tadi sore bikin mie bakso masih ada tinggal dipanasin lagi"kata mbok Mirna.
Milan yang mendengarnya membelalak antusias mengangkat kedua jempolnya mengangguk. Tak sabar untuk memakan kembali bakso buatan suami mbok Mirna yang rasanya top markotop karena beliau sebelum menjadi supir keluarga Aryan adalah tukang bakso waktu dulu saat masih remaja.
Hebat ya masih remaja sudah berjualan bakso disela sekolahnya.
"Pasti mbok, Milan habisin ini dulu"kekeh Milan.
Mbok Mirna mengangguk dan pamit meninggalkan Milan diruang tamu karena dirinya masih ada pekerjaan didapur.
Milan menikmati semua camilan yang ada dimeja itu, segala jenis makanan di meja ia makan dan untuk bakso masih ada tempat dibagian ujung perutnya masih lega jadi tidak perlu khawatir.
Tak lama Azriel muncul dengan tampilan yang seperti hendak pergi.
"Kunci"
Milan langsung melempar kunci motor Azriel pada pemilik aslinya itu. "Mau kemana Lo?"tanya Milan.
"Jemput Anna, takutnya jadi sasaran begal lagi"kata Azriel santai melangkah keluar.
Milan mengunyah kue putu ayu nya memperhatikan Azriel yang pergi. "Ngapain mesti jemput? Orang semua begal di kota ini udah Lo habisin semua"gumam Milan tak habis pikir.
Tentu saja Milan dan Arjuna ikut membantu Azriel membasmi para pelaku kejahatan yang meresahkan itu. Hanya dua orang yang sampai mati karena ulah Azriel yang membuat motor yang digunakan dua penjahat itu meledak dan membakar keduanya.
Dan yang lainnya mereka masukkan kedalam penjara dengan bukti-bukti yang Arjuna kumpulkan, dan Milan kebagian sebagai seorang yang menjelaskan pada Amar paman Azriel yang seorang kepala kepolisian resor kota tempat tinggal mereka dan sekaligus ketua unit khusus kepolisian yang tentu saja pasti mencurigai mereka.
Merangkai kata-kata yang 80% bohong kepada kepala kepolisian itu hal yang sangat sulit tahu, namun selalu Milan yang kebagian di hal tersebut. Untung saja Milan pembicara yang ulung jadi Amar percaya saja dengan penjelasannya.
"Kayaknya gue berbakat jadi politikus, hebat bener tiap gue bicara"kekeh Milan berpikir di masa depan dirinya akan menjadi politikus saja.
Braakk!!
Suara gaduh dari luar membuat Milan sontak berdiri dan berlari keluar untuk mendapati asal suara keras itu karena motornya dan motor Azriel yang jatuh begitu juga Azriel yang tersungkur ditanah terlihat kesulitan bernafas.
Milan menghampiri Azriel gelagapan, sahabatnya itu sepertinya kambuh, namun apa penyebabnya.
"Jiel hey?!"seru Milan untuk menyadarkan Azriel namun sahabatnya itu tidak mendengarkannya dan semakin terlihat kesulitan bernafas dengan keringat dingin yang begitu banyak keluar dan tubuh yang gemetar.
"Atur nafas Lo Jiel!"perintah Milan kalap merasa tidak pernah terbiasa dan selalu merasa khawatir setiap melihat sahabatnya yang seperti ini.
"Hah hah hah!!"
Tak mendengarkan Azriel tetap kesulitan bernafas. Dadanya sakit terlebih jantungnya yang terasa seperti di cengkeram, kepalanya juga terasa sangat nyeri seperti dihantam sesuatu yang sangat keras.
"Jiel gue mohon! Atur nafas Lo!"kata Milan semakin ketakutan saat melihat Azriel semakin gawat.
Azriel tidak mendengarkannya, fokusnya sangat kacau. Orangtua Azriel tidak ada dirumah membuat Milan semakin kalap, rasanya ingin menangis saja melihat kondisi Azriel.
Dan sepertinya mbok Mirna begitu pula suaminya mendengarnya, keduanya datang dengan terpogoh-pogoh dimana suami mbok Mirna memberikan sebuah botol kecil yang selalu ia bawa untuk menenangkan Azriel disaat kondisi sang tuan muda seperti ini.
Milan langsung mengambilnya dan mengarahkannya pada hidung Azriel berharap sahabatnya itu bisa menghirupnya yang akan membuat laki-laki itu tenang karena isi botol kecil itu adalah obat penenang khusus yang diberikan oleh dokter pribadi Azriel.
Terlihat Azriel perlahan mulai bernafas dengan normal dan perlahan jatuh tak sadarkan diri yang ditahan oleh Milan.
Orang-orang disana mendesah lega melihatnya, setidaknya Azriel telah tenang dan tak lagi kesulitan bernafas.
"Ayo bawa den Jiel ke kamarnya, Tio ayo bantu saya"kata suami mbok Mirna pada penjaga rumah yang sedari tadi hanya diam mematung karena syok melihat kondisi tuan mudanya itu.
Dirinya bisa dibilang baru karena baru bekerja dengan keluarga Aryan selama setahun dan dirinya benar-benar terkejut melihat kondisi sang tuan muda tadi.
"Tio!"seru suami mbok Mirna lagi dan itu membuat Tio terkejut.
Menjatuhkan sebuah buket bunga mawar berwarna biru yang sedari tadi ia sembunyikan dibelakang tubuhnya karena sebelum Azriel terlihat aneh laki-laki itu sempat menolak keras bunga tersebut yang kemudian terjatuh dan hal tadi pun terjadi.
Ketiga orang disana melihat terkejut bunga mawar biru itu yang terjatuh dibelakang Tio.
"Darimana Lo dapet itu?!"sentak Milan jantungnya mendadak berdegup kencang karenanya.
Tio terkejut mendapati dirinya dibentak Milan namun dirinya segera menjawabnya. "Anu tadi ada tukang paket yang dateng ngasih ini bunga dia bilang buat tuan muda"jelas Tio sembari memungut kembali buket bunga yang jatuh itu.
Milan semakin menegang mendengarnya. Firasatnya mengatakan orang itu kembali.
"Lo kalo ada kiriman gak jelas yang berwarna biru apalagi mawar biru jangan diterima"kata Milan sangat serius.
Tio mengangguk mengerti dan terkejut saat melihat Milan mengangkat tubuh Azriel dengan mudah didepan tubuhnya dan membawa Azriel masuk.
"Kasih ke saya bunganya, kamu bantuin den Milan cepet"kata mbok Mirna menyuruh Tio untuk segera menyusul Milan yang membawa Azriel sekaligus menyusul sang suami yang sontak mengikuti Milan tadi.
Tio mengangguk dan memberikan bunga itu pada mbok Mirna.
Mbok Mirna sendiri diam ditempatnya menatap buket bunga mawar berwarna biru ditangannya itu dengan datar.
"Tidak ada kapoknya"gumam mbok Mirna melangkah memasuki rumah seraya menenteng bunga tersebut dan melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumah melewati dapur untuk mengambil sebuah korek api.
Ia nyalakan korek api itu dan ia dekatkan pada buket bunga tersebut yang langsung ia buang begitu saja membiarkan buket bunga itu terbakar sampai menjadi debu.
***
Anna keluar dari gedung tempatnya les seraya memainkan ponselnya memeriksa notifikasi jika saja dirinya menerima pesan dari Azriel jika laki-laki itu jadi akan menjemputnya, namun tak ada notifikasi pesan dari Azriel membuat Anna tersenyum lega.
Ya dirinya senang karena Azriel mengurungkan niatnya untuk menjemputnya. Anna hanya tidak ingin Azriel kelelahan apalagi terganggu waktu tidurnya karena harus menjemputnya di malam yang larut seperti ini.
Berjalan menyusuri trotoar dalam karena mengikuti pengalaman yang sebelumnya dirinya berjalan ditrotoar sisi luar dekat jalan membuatnya hampir dijambret Anna jadi semakin waspada.
Membuka satu bungkus roti pemberian Azriel memakan nya sambil jalan, setidaknya tak masalah Azriel tidak jadi menjemputnya, toh laki-laki itu telah memberikan amunisi agar dirinya tidak kelaparan ditengah jalan nanti.
***
Paginya Azriel datang bersama Milan dengan menggunakan mobil yang dijalankan Milan.
"Harusnya kita gak perlu pake mobil segala, gue bisa pake motor kayak biasa"kata Azriel seraya membuka seatbeltnya.
"Enggak, Lo gak bisa, beberapa hari ini sampe Lo bener-bener normal Lo berangkat bareng sama gue atau dianter supir pake mobil"kata Milan tidak terbantahkan.
Azriel mendengus dan membuka pintu lalu turun begitu saja. "Terserah"cuek Azriel menutup pintu mobil dengan tidak santai.
Milan yang melihatnya hanya menghela nafas panjang. Dirinya harus ekstra menjaga Azriel mulai hari ini, karena sahabatnya itu kembali sangat sensitif.
jangan lupa like, comment and share hehe