
"Cepet berdiri!"kata Rena memaksa Anna untuk segera berdiri.
Anna pun mau tak mau berdiri karena pakaiannya ditarik, takut sobek dirinya pun patuh pada mereka.
"Ayo ikut kita!"lanjut Fani akan menarik Anna namun dengan mudah Anna melepaskan dirinya dan mengenyahkan tarikan Fani.
"Gak mau"kata Anna entah dari mana keberanian nya datang namun dirinya sedang tidak ingin menerima perlakuan buruk mereka, dirinya harus belajar dengan benar agar dirinya tidak lagi dimarahi sang ibu.
Untuk sekarang tiap detik dalam hidupnya harus ia isi dengan belajar karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menjadi peringkat pertama seperti keinginan sang ibu.
Ia tatap para perempuan yang selalu merundungnya itu juga pada Michelle yang tidak disangkanya gadis itu pun akan merundungnya, ia kira gadis itu temannya.
"Anna gak mau"kata Anna lagi mantap pada mereka si perundung dirinya.
Plak.
Orang-orang yang berkumpul melihat pun terkejut dengan suara keras tersebut, Vanessa cs yang sangat dekat pun terkejut bukan main melihat Michelle yang begitu berani menampar Anna dihadapan orang-orang.
Wajahnya teralih karena tamparan tersebut dan Anna melotot terkejut tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Michelle terhadapnya.
"Dasar sampah! Kenapa Lo gak ilang aja dari muka bumi hah?! Lo itu cuma sampah yang gak berguna kenapa Lo bertingkah seolah Lo itu berlian yang bisa mendekati cowok manapun sesuka hati Lo hah?! Sadar diri sialan!!"umpat Michelle berteriak memaki-maki Anna mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini terpendam untuk Anna itu.
Michelle benar-benar benci pada Anna, cewek jelek itu berpikir seolah para laki-laki hanya berputar disekitarnya itu sangat menyebalkan.
Plak.
Tes.
Anna yang tak fokus karena makian Michelle pun kembali mendapat tamparan sampai ada rasa amis disudut bibirnya yang sepertinya tak sengaja ia gigit karena terkejut Michelle yang kembali menamparnya dan lebih kuat dari sebelumnya.
"Mati Lo sialan!"teriak Michelle benar-benar memaki Anna dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Jiel!!!"
Srak. Duak. Bruk bruk.
Orang-orang disana semakin terkejut bukan main karena tindakan Azriel yang tiba-tiba muncul itu dan bagaimana hasilnya.
Milan dan Michelle ambruk dilantai karena Milan yang menahan serangan Azriel namun tendangan Azriel itu sangat kuat membuatnya terpental dan menubruk Michelle sampai jatuh yang ingin ia lindungi dari serangan Azriel.
"Ohok ohok"Milan terbatuk-batuk karena dadanya yang tepat mendapat tendangan Azriel itu membuatnya merasa eneg dan nyeri.
"Lo yang harusnya mati *****!!!"berang Aaron akan kembali menghajar Michelle karena tadi sahabatnya menghalanginya.
Dan sekarang pun Milan tetap menghalanginya dengan mencoba menahan pergerakannya menghalanginya dari Michelle yang menatapnya takut yang terduduk dilantai itu.
"Awas bajingan! Cewek gila itu harus dibasmi!"kesal Azriel mengenyahkan Milan dari langkahnya namun laki-laki itu tetap ngotot menghalanginya.
Milan walau menahan nyeri dirinya tetap mencoba untuk menahan Azriel karena jika tidak ditahan bukan hanya dirinya yang merasakan nyeri tapi Michelle pasti akan kehilangan nyawanya.
"Enyah sialan!!"kesal Azriel pada Milan yang kukuh menahannya itu mencoba mengenyahkan sahabatnya itu yang melindungi Michelle.
"Tenang anjing! Lo mau jadi pembunuh?!"kata Milan ikut merasa kesal pada Azriel.
"Kalo jadi pembunuh bisa basmi cewek gila kayak dia gue jabanin sialan!!"kesal Azriel benar-benar akan menghabisi Michelle.
Michelle semakin gemetar ketakutan melihat Azriel yang murka.
"Awas anjing!!"kesal Azriel masih mencoba mengenyahkan sahabatnya.
"Anjing Lo pada!! Bantuin napa?!! Malah nonton doang sialan!!!"gusar Milan mulai kewalahan menahan Azriel.
Orang-orang disana bukannya tidak mau menolong namun mereka takut, takut jadi salah sasaran atau pengalihan sasaran karena buktinya saja tadi Milan mendapat tendangan keras tepat didadanya.
Anna sendiri hanya bisa mematung gemetar menatap ngeri sosok belakang Azriel yang benar-benar terlihat mengerikan itu.
"Azriel jangan"cicit Anna takut-takut sangat kecil meminta Azriel untuk berhenti. Entah terdengar atau tidak Anna hanya ingin Azriel berhenti.
Namun sepertinya tak ada yang bisa menghentikan Azriel, laki-laki itu lolos dengan menjatuhkan Milan dengan menghantam dadanya dengan lututnya.
"Argh!!"
Milan sontak ambruk meringis kesakitan dan orang-orang disana menahan pekikan syok mereka saat melihat Azriel yang menerjang Michelle akan menyerangnya.
"Azriel!!!"
Sret. Krak. Bruk.
Azriel tidak sampai pada Michelle dan laki-laki itu sudah bersatu dengan lantai karena Bisma yang datang langsung menghentikan pergerakan Azriel dengan ilmu bela dirinya dengan sangat mudah.
"Lepasin anjing!!!"berang Azriel pada Bisma menatap tajam meminta dilepaskan oleh laki-laki itu.
Bisma menggeleng tidak patuh tentu saja, dirinya semakin mengunci pergerakan Azriel dengan kedua tangan laki-laki itu dipunggung dan ditahan oleh tubuhnya membiarkan Azriel terlungkup menempel dengan lantai.
"Kalo gue lepasin Lo bakal buat sekolah ini masuk berita karena kasus pembunuhan"kata Bisma tak habis pikir, melihat Anna yang terlihat mematung terkejut dan gemetar dengan sudut bibir yang berdarah jadi merasa kasihan namun menurutnya yang perlu dikasihani sepenuhnya adalah Milan yang membungkuk meringis terbatuk-batuk memegang dadanya.
Bisma jadi ngilu sendiri melihatnya. "Lo oke? Ke UKS nanti periksa"kata Bisma pada Milan.
Milan mengangguk saja sembari mengangkat jempolnya pada sang senior.
Lantas Bisma pun melihat 3 cewek yang diketahuinya sebagai badut Ancol dari kelas 11 itu yang saling berdiri berdekatan terlihat ketakutan lalu melihat ke cewek terakhir yang menjadi biang masalahnya, yang telah melukai Junior kesayangannya dan juga membangunkan raja iblis yang sedang tenang.
"Lo udah cukup lama disini kenapa belum ngerti juga dan malah berani banget hm?"tanya Bisma tak habis pikir dengan cewek bernama Michelle itu.
Michelle yang dikatai tak bisa berkata-kata dan hanya bisa gemetar ketakutan apalagi menyadari Azriel menatapnya sangat tajam dan dingin seolah laki-laki itu tetap akan membunuhnya nanti.
"Jaga matanya Azriel"kata Bisma menutup pandangan Azriel dan mengalihkannya agar tidak menatap Michelle.
"Ada apa ini?! Bubar bubar! Ayo bubar!!"seru guru yang datang.
"Gue gak bisa nemuin pak Sugeng tapi gue bawa beberapa guru laki-laki"lapor Rio yang tadi memang langsung mencari guru dan Bisma langsung maju untuk menghentikan kegaduhan.
Karena semua orang tahu Azriel cukup patuh pada guru pembimbing olimpiade nya.
"Pak Sugeng masih dijalan belum sampe"kata salah satu guru yang dibawa oleh Rio mengeluarkan penutup mata dan memasangkannya pada Azriel.
"Lo udah nyerah?"tanya Bisma pada Azriel yang terlihat patuh.
Tak menjawab Azriel hanya bergerak sesuai instruksi guru karena matanya ditutup.
Bisma melepaskan kunciannya dan membiarkan Azriel yang digiring oleh dua guru laki-laki dan cowok itu terlihat tenang jadi tidak perlu lagi ada tenaga lebih untuk menghentikan Azriel.
"Lo berdua ke UKS sana"kata Bisma mendekati Milan dan membantunya bangkit dan juga melihat pada Anna.
"Ayo gue anter"kata Rio membawa Anna yang terlihat syok itu. Kedua senior itu pun membawa Anna dan Milan yang terluka menuju UKS.
Guru yang tersisa yang juga seroang guru kesiswaan pun menatap Michelle yang masih terduduk dilantai itu. "Kau ikut saya ke kantor, begitu juga kalian"kata guru itu menyuruh Vanessa cs juga.